Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

200 Mubaligh Biasa Saja, Yang Hebat Itu Umat Islam Indonesia

Saat UI Takut Pada Ade Armando

Seperti sudah saya duga, saya akhirnya ditolak menjadi guru besar di Universitas Indonesia. Sebenarnya tidak ada kata resmi ‘ditolak’, tapi Dewan Guru besar UI...

Membangun yang Pernah Patah

"Pemikiran selalu ada, tetapi tidak semua dalam bentuk yang rasional" kutipan surat dari Marx kepada Arnold Ruge di Dresden. Tulisan singkat ini lahir dari opini...

Kala “Gerungisme” Mendungukan Manusia

"Apa artinya menjadi manusia?" Barangkali ada banyak interpretasi terhadap pertanyaan itu. Orang-orang di seluruh dunia memiliki jawaban dan sudut pandang yang berbeda mengenai pertanyaan...

Perayaan Natal di Tahun Politik

Suasana Natal tahun ini terasa sedikit berbeda. Tidak terdengar perdebatan tahunan soal halal-haram mengucapkan selamat Natal oleh kaum muslim. Setidaknya tidak sengit seperti tahun-tahun...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Jauh sebelum ada 200 Mubaligh, saat saya kuliah dulu, saya ingat sekali, Bapak memberi buku 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia. Pesannya satu, jangan bergabung dengan mereka, apalagi percaya omongan mereka. Orang-orang itu, kata bapak, adalah perusak akidah. Mereka pengusung ide sekularisme, pluralisme, dan liberalisme alias sepilis yang berniat menghancurkan Islam dari dalam.

Bapak tidak tahu, saat itu saya baru saja tamat membaca buku Ahmad Wahib, mulai membaca buku Soe Hok Gie, dan jatuh cinta pada pemikiran Gus Dur—orang yang Rizieq Shihab sebut “Buta mata, buta hati”, di televisi nasional. Tapi tentu bukan soal Gus Dur dan ejekan Rizieq Shihab saya menulis ini, ada hal lain yang perlu kita pahami.

Perkara membikin daftar, muslim Indonesia jagonya.

Beberapa tahun terakhir, kelompok yang tak jelas identitasnya membuat daftar ulama, cendikiawan, atau tokoh muslim yang dianggap Syiah atau bersukutu dengan Syiah. Dalam daftar itu ada Profesor Quraish Shihab, Haidar Bagir, Jalaludin Rakhmat, hingga Muhsin Labib. Tujuannya? Mendiskreditkan hingga perintah untuk menjauhi serta tidak mendengarkan apa yang mereka sampaikan.

Maka saat Kementerian Agama merilisi daftar 200 Mubaligh yang direkomendasikan sebagai penceramah, itu bukan hal baru, bukan hal luar biasa, apalagi perlu dibikin panik. Jika sebelumnya sudah ada daftar pendukung Liberalisme dan Sekulerisme serta Syiah, apalah artinya daftar yang dibuat oleh Kementerian Agama itu?

Bukan apa-apa, ini bukan whataboutism, Kementerian Agama hanya meneruskan tradisi Islam Indonesia yang gemar memberi label, tanda, atau daftar. Perkara label itu membuat sebagian orang marah, ya bodo amat. Saat beredar daftar 50 Tokoh Islam Liberal atau Ulama-Ulama Syiah itu memangnya tidak ada yang marah?

Almarhum Gus Dur dan Nurcholis Majid adalah sosok yang paling sering dihina, dilabeli, dan dituduh macam-macam. Sejarah membuktikan bahwa keduanya tidak seperti yang dituduhkan. Mereka menjadi inspirasi generasi baru intelektual muslim yang mendorong perubahan dalam kajian Islam.

Label sesat juga sering ditimpakan kepada Profesor Quraish Shihab yang sudah jelas keilmuan, rujukan ilmu, dan riwayat gurunya. Label liberal kepada Buya Syafi’i Maarif yang menolak mendukung gerakan tolak pemimpin kafir. Jangan lupakan bahwa Gus Mus sering diejek di internet. Bagaimana Cak Nun dibenci karena memberikan pandangan berbeda dari kebanyakan orang.

Atau yang langganan dituduh ulama palsu: KH. Said Aqil Siraj.

Soal bikin daftar, 200 Mubaligh versi Kementerian Agama bukan satu-satunya yang komikal. Jangan lupa daftar ciri-ciri pengguna narkoba yang dibuat oleh BNN, atau ciri-ciri teroris yang disusun oleh BNPT: berniat dirikan khilafah di bumi NKRI, pengujar kebencian etnis, gemar mengkafir-kafirkan orang lain, dan anti-Pancasila, antipersatuan bangsa.

Pernah dengar yang demikian? Sering. Enggak usah jauh-jauh, tinggal buka Youtube, ketik kata kunci “Ahmadiyah”, “Syiah”, “Liberal”, akan muncullah para ulama atau ustadz jenis label BNPT tadi. Masalahnya, ini bukan muncul satu-dua hari. Dulu ada orang yang bilang membunuh Ahmadiyah itu boleh, enggak usah peduli Hak Asasi Manusia, sekarang giliran ustadz panutannya dimasukkan ulama anti-NKRI, eh, dia ngamuk.

Memang susah ngomong sama kanebo yang dikasih nyawa.

Kesal disebut kanebo? Kanebo itu dikasih air lembek, dikeringkan jadi kaku. Alias tergantung suasana. Meminjam istilah Soe Hok Gie, menginjak jika berkuasa, mengemis jika ditindas. Umat semacam ini susah berpikir dan berbuat adil, gemar menyatakan diri sebagai korban dalam banyak siatuasi, dan mengedepankan kemarahan daripada akal sehat. Umat seperti ini memang doyan bikin daftar, dari yang awam hingga elitenya.

Mantab jaya.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.