Jumat, Februari 26, 2021

#10YearsChallenge dan Kondisi Penegakan HAM Kita

Kolonialisme Primitif di Papua

Papua tidak pernah ikut dalam arus nasionalisme Indonesia. Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Papua tidak ada di sana. Ketika para elite Indonesia, dengan arahan dan...

Jangan Ganggu Lalu Muhammad Zohri

Kurang dari dua puluh empat jam, Lalu Muhammad Zohri, sprinter Indonesia ini sudah menjadi selebritis. Lalu semua orang ingin memanfaatkan dia. Orang berlomba-lomba meromantisasi kemiskinannya...

RUU Pertanahan yang Kalah Pamor, tapi Turut Penting untuk Dikritisi

Seperti yang kita ketahui secara bersama, belakangan ini sedang terjadi kekacauan di dalam masyarakat kita atas berbagai peristiwa yang terjadi. Mulai dari peristiwa asrama...

Tentang Gairah Nyinyir yang Tak Sudah-sudah

Bagaimana kita bisa menjelaskan sebuah tubuh bisa membuat seisi negara membicarakannya.   Dari peristiwa VA ini, kita bisa menyaksikan betapa kekuasaan mampu menggapai, menembus dan...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Warganet sedang ramai merayakan #10YearsChallenge. Sebuah tantangan di mana kita menyajikan foto diri 10 tahun lalu dan hari ini. Tujuannya untuk melihat sejauh mana perubahan yang telah kita alami. Ini hal yang menyenangkan tentu saja, sebagai sebuah klangenan ia menyajikan nostalgia. Siapa sih yang tidak bahagia melihat foto diri 10 tahun lalu? Saat masih cupu dan polos?

Tapi tentu tidak semua yang merayakan #10YearsChallenge ini bahagia. Ada yang melihat betapa kondisi diri jauh lebih buruk, ada yang mengingat tragedi, ada yang melihat kenangan menyakitkan. Demikian juga dengan kondisi politik kita. Pertanyaan ini bisa jadi tantangan menarik bagi pemerintah untuk bisa mengukur sejauh mana bangsa ini berkembang. Sudahkah Indonesia jauh lebih baik dari 10 tahun yang lalu?

Bangsa apa yang dalam 10 tahun tidak berbuat apa-apa? Jika tidak gagal, tentu pemerintahnya magabut betul. Tidak melakukan perbaikan, tidak melakukan terobosan, dan yang lebih buruk stagnan menjadi bangsa yang itu-itu aja. Tapi tenang, Indonesia membaik kok. Di banyak indikator yang dibuat lembaga internasional Indonesia membaik. Mulai dari nilai mata uang, kualitas produksi barang ekspor, hingga jaminan investasi. Harusnya senang dong? Lagipula Sudah banyak kan yang bisa kita lihat perubahannya?

Bukankah sekarang jalan tol sudah panjang? Bukankah di Papua infrastruktur membaik? Bukankah gaji PNS sudah membaik dengan adanya THR dan gaji ke-13? Lalu apa lagi yang diinginkan? Perbaikan sudah mulai ada, menyebar, dan bisa dirasakan. Mungkin 10 tahun lalu membayangkan internet tanpa buffering adalah hal yang mustahil, hari ini ia realitas yang dekat. Lantas apa yang belum berubah?

Tentu tergantung dari perspektif mana anda melihatnya. Kondisi ekonomi kita mungkin lebih baik dari 10 tahun yang lalu. Jumlah orang miskin dan pengangguran menurun. Standar hidup, kondisi kesehatan, akses jalan, infrastruktur, serta pendidikan kita berkembang dari 10 tahun yang lalu. Hal ini perlu diakui dan diapresiasi. Lantas apa yang salah?

Tidak ada yang salah dan tak perlu dicari kesalahannya juga. Tapi, ini jika anda peduli, mungkin kita bisa main ke depan istana negara, hari kamis ini. Kenapa? Mungkin karena ini bertepatan dengan 12 tahun kamisan. Bayangkan sejak 12 tahun terakhir, mereka yang mencari keadilan hingga hari ini masih berdiri tiap kamis tanpa bisa mendapat jaminan jika kasus pelanggaran HAM yang mereka alami atau dialami keluarganya akan diselesaikan.

Kamis, 18 Januari 2007 adalah hari pertama berlangsungnya Aksi Diam yang menjadi cikal lahirnya Kamisan. Saat itu Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), yaitu sebuah paguyuban korban/keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menginisiasi gerakan bersama JRK (Jaringan Relawan Kemanusiaan) dan KontraS.

Detilnya mungkin anda bisa cari sendiri, tapi yang membuat perih mungkin berapa lama seseorang bisa menunggu. Bagaimana diingatkan bahwa 12 tahun perjuangan kamu menabrak tembok ketidakpedulian bernama politik praktis. Bagaimana kamu berharap kepada presiden agar keadilan ditegakkan sementara orang-orang yang ada di sekitarnya bermasalah.

10 tahun bukan waktu yang pendek. Jika #10YearsChallenge berupaya menghadirkan imaji perubahan diri 10 tahun yang lalu dengan hari ini, mungkin rupa pemerintah kita nyaris sama. Penegakan Hak Asasi Manusia masih jadi sebuah komitmen yang susah dipenuhi. Banyak peserta aksi Kamisan hanya bisa menunggu, diam, di depan istana setiap Kamis sore berharap bahwa pemerintah punya nyali untuk mewujudkan janjinya.

Janji apa? Mungkin banyak dari kita yang lupa. 10 tahun lalu peserta kamisan berdiri di depan istana menuntut keadilan ditegakkan. Mereka diam, menunggu keberanian pemerintah atau presiden mewujudkan keadilan. Presiden baru datang, menjanjikan nawacita. Bertahun kemudian, presiden ini menemui peserta Kamisan untuk kemudian dikecewakan dengan janji yang lain.

Mungkin tantangan 10 tahun ini perlu dijawab juga oleh pemerintah. Apa yang mereka lakukan untuk keadilan dan hak asasi manusia? Apakah pemerintah hari ini lebih baik dari 10 tahun yang lalu. Atau malah jauh lebih buruk dan lebih takut dalam komitmen penegakan HAM?

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.