Banner Uhamka
Sabtu, September 26, 2020
Banner Uhamka

100 Dokter: Berlanjut atau Berhenti?

Kubah di Angkasa Vienna

Tahun 2017, saya mendapatkan sebuah anugerah dan kehormatan: terpilih sebagai international fellow di King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID)....

“Cebong vs Golput” atau “Memburu Golput, Mengharap Suara”?

Semenjak Jokowi menggandeng Ma'ruf, suara-suara golput mengemuka. Ada banyak kalangan menyerukan golput karena Jokowi (dan, ingat, koalisinya!) menggandeng sosok yang dikenal menjadi simbol intoleransi,...

Nasib Fatwa dan Kemungkinan Herd Immunity

Fatwa PP Muhammadiyah ditimbang. Transportasi dan jalan umum mulai dibuka, pun dengan pasar-pasar, sekolah dan ke rumunan lainnya termasuk saran MUI kepada pemerintah untuk...

Tidak Ada Anak Nakal, Yang Ada Adalah Orang Tua Abai

Dua hari mengikuti kasus AY, seorang siswi SMP di Pontianak yang mengalami perundungan. Tidak perlu saya ceritakan detailnya, semua sudah gamblang dan bisa diakses...
Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_

Sudah 100 Dokter gugur dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. Entah berapa lagi untuk membuat kita sadar dan sedikit berempati. Dengan rasio dokter dan penduduk yang berbanding terbalik, masa depan kesehatan Indonesia bisa jadi suram.

Covid-19 setidaknya menunjukan betapa entengnya negara dalam berurusan dengan nyawa, mungkin yang terlintas di pikiran adalah jumlah penduduk Indonesia sudah banyak, hilang satu pun negara bisa angkat tangan.

Namun, satu nyawa yang hilang bisa berarti lebih bagi keluarga dan kolega yang ditinggalkan, hal-hal yang penuh arti tersebut bisa jadi dalam bentuk memori yang dibangun bersama, cinta dan kasih yang dirawat, dan pengalaman yang dirasakan.

Pandemi pun menyadarkan betapa jauh jarak antara ilmu pengetahuan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Pengambilan kebijakan yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan sampai sikap sinis terhadap sains menjadi semakin lazim dalam kehidupan di tengah pandemi ini.

Dari awal pandemi di Indonesia, masyarakat disuguhi informasi dagelan yang bertujuan agar masyarakat tidak panik terhadap wabah. Mulai dari banyolan Menteri Kesehatan yang mengatakan bahwa orang yang sakit akan sembuh sendiri, sampai ke Kementerian Pertanian yang membuat kalung untuk menangkal virus. Informasi yang dilontarkan oleh pejabat publik justru dapat menimbulkan rasa aman palsu, alih-alih merasa tidak panik.

Sikap sinis dan cenderung anti terhadap sains pun lumrah ditemui dalam masyarakat di akar rumput. Ada yang meyakini bahwa Covid-19 tidak berbahaya dan hanya permainan tenaga kesehatan agar mendapat tambahan dana. Ada pula yang menuding bahwa media terlalu membesar-besarkan isu.

Ada juga yang percaya bahwa Covid-19 adalah konspirasi Cina, Yahudi, AS, Bill Gates, dan pihak-pihak besar lainnya. Sikap-sikap tersebut dapat membuat masyarakat menjadi tidak mengikuti protokol kesehatan dan membuat prasangka terhadap kelompok yang dianggap sebagai liyan.

Pandemi Covid-19 pun menunjukan mana yang menjadi prioritas negara dalam menghadapi wabah yang terjadi. Pengesahan undang-undang yang dianggap menguntungkan para pengusaha besar oleh parlemen, jumlah tes terhadap masyarakat yang rasionya kecil, pelonggaran sektor ekonomi dan pariwisata di kala angka kasus semakin meningkat, dan janji manis yang belum ditepati berupa insentif terhadap tenaga kesehatan merupakan contoh gambaran prioritas negara.

Bagi saya, angka 100 bukan sekadar statistik kematian, tetapi tamparan untuk menyadarkan bahwa pandemi masih berlangsung dan perlu berhati-hati. Mungkin bagi yang lain dianggap berbeda. Terserah.

Audi Ahmad
Sarjana Psikologi Unair Dapat dihubungi lewat akun instagram: audiahmad_
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.