OUR NETWORK

Yang Keluar, yang Masuk Lagi

Di sebuah planet yang dihuni oleh hanya seorang alien saja, Lionel Messi mencetak gol ke-400-nya di La Liga.

Setelah pertandingan yang berkesudahan 0-0 antara Cardiff City melawan Huddersfield Town, dua pelatih menyatakan ingin keluar. Yang pertama tak sabar menunggunya, yang kedua segera melakukan keesokan harinya.

Neil Warnock, The Gaffer, demikian ia disebut, seorang tukang ribut yang tak punya rasa sungkan, tipikal pelatih Inggris Raya gaya lama terakhir yang masih bertahan di sepakbola level tertinggi, menyatakan tak sabar menunggu keluarnya Inggris dari Uni Eropa. “Sejujurnya, aku tak sabar ingin keluar. Aku pikir kita akan menjadi lebih baik kalau keluar dari tetek bengek macam ini. Untuk segala hal. Termasuk untuk kebaikan sepakbola, tentu saja. Persetan apa kata dunia!”

Di sisi lain, David Wagner, orang Jerman yang pernah bermain untuk timnas Amerika, menginginkan keluar dari pekerjaannya, setelah ia merasa gagal bersama Huddersfield musim ini. Dalam 22 pertandingan, The Terriers hanya mampu mengumpulkan sebelas angka, dan karena itu terbenam di dasar klasemen. Ini menjadikan Wagner sebagai manajer ketiga yang terlempar dari pekerjaannya, menyusul Mark Hughes dan Jose Mourinho.

Yang sedikit berbeda dari dua nama lainnya, Wagner sangat dicintai di Stadion John Smith—“Kami tak punya rencana memecatnya,” begitu bahkan kata Chairman Huddelsfield, Dean Hoyle. Tentu saja. Bagaimana bisa mereka memecat seseorang yang mengangkat mereka ke Premier League, untuk pertama kalinya dalam sejarah klub? Dan bagaimana bisa mereka mengusir seseorang yang memberi klub kecil macam Huddersfield kegembiraan dan kebanggaan? Sebuah sepakbola menyerang dan menekan dengan dan oleh pemain-pemain tak dikenal dan berharga picisan?

Wagner dianggap sebagai Jurgen Klopp-nya klub kecil. “Aku lebih kenal Klopp lebih dari aku mengenal istriku,” katanya, suatu kali. Ia membantu Klopp melatih tim cadangan Dortmund saat tawaran dari Inggris datang. Huddersfield Town memang pernah menjadi juara Liga Inggris tiga kali berturut-turut, tapi itu sudah lama sekali: 1923-1926. Ketika Wagner menanganinya, orang di luar Inggris Raya pertama yang menangani klub itu, Huddersfield ada di Championship, dan menjadi salah satu klub dengan anggaran paling cekak. Dua musim kemudian, Huddersfield mencecap Premier Leage untuk pertama kalinya.

“Ini hari yang menyedihkan,” Dean Hoyle menambahkan.

Lebih dari semingu sebelumnya, hari yang sepertinya juga menyedihkan dialami Cesc Fabregas di pertandingan yang sepertinya menjadi yang terakhir baginya di sepakbola Inggris. Usai pertandingan Piala FA antara Chelsea melawan Nottingham Forest, yang ditandai dengan kegagalannya mencetak gol dari titik penalti, ia melambaikan tangannya kepada penonton di Stamford Brigde dengan mata berkaca. Dan empat hari kemudian, ia telah berfoto dengan seragam AS Monaco. Usianya masih 31, tapi ia seperti orang dari masa lalu.

Diklaim sebagai pengumpan terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepakbola Inggris, bahkan di lima besar Liga-liga Eropa, Fabregas dianggap sebagai salah satu yang kurang dihargai—ia hanya dua kali masuk dalam nominasi Pemain Terbaik semusim. Tumbuh bersama Messi dan generasi emas La Masia, ia justru mekar sebagai kapten masa depan Arsenal usai kepindahan Patrick Viera dan mulai habisnya generasi The Invincible. Kerinduan akan gelar juara membawanya pulang ke Barcelona, untuk kemudian kembali ke London tiga musim berikutnya, meskipun bukan ke tempat semula.

Penonton di Stamford Bridge melepasnya dengan menyanyikan namanya. Klub secara resmi merilis video berisi umpan-umpan terbaiknya selama memperkuat tim Biru. Mereka bilang, “Tak ada yang meragukan tempat Fabregas di buku sejarah Chelsea.” Tapi semua tahu, Chelsea tak menyesali kepergiannya sebagaimana dulu Arsenal meratapinya.

Fabregas mendapatkan trofi Liga Inggris-nya bersama Chelsea (dua kali!); hal yang gagal didapatnya di Arsenal. Tapi Chelsea, tempat ia empat setengah tahun mengabdi, bukanlah tempat ia bisa dikenang sebagai legenda, sebagaimana klub itu mencatat nama Terry, Lampard, atau Drogba.

Monaco jelas pilihan yang sedikit mengejutkan banyak orang. Itu klub besar di Prancis, tapi saat ini sedang salah urus, dan karena itu ada di tempat kedua terbawah di Ligue 1. Maka, hanya sedikit penjelasan. Fabregas datang ke sana untuk kembali ke masa lalunya: Thiery Henry, striker hebat yang dulu membantunya tumbuh menjadi pengumpan hebat di Emirates.

Di belahan London yang lain, seorang Prancis, yang juga berasal dari masa lalu Fabregas, justru sedang menuju ke arah yang berlawanan. Samir Nasri, anak perantau Aljazair, berbadan kecil dan bermulut besar itu, muncul lagi di kota yang membuatnya dicintai sekaligus dibenci. Setelah terbuang dari Manchester City-nya Pep Guardiola, dipinjamkan ke Sevilla, lalu terlunta-lunta di Turki, tempat ia jadi pesakitan karena memakai zat terlarang, ia kini kembali ke Liga Inggris.

Terlihat sedikit kegendutan, dan terengah-engah ketika pertandingan baru saja melewati waktu satu jam, tapi giringan dan jaga bolanya tak pernah pergi dari kakinya. Manuel Pellegrini, mantan pelatihnya di Man City, memaksa klub yang kini dilatihnya mengontrak Nasri, dan para pendukung West Ham sepertinya sedang ketiban rezeki.

Dengan kaki Zidane dan perangai Cantona, ia datang dari Marseille ke Arsenal pada 2008 dan segera menjadi salah satu yang dicintai di sana. Pada 2011, ia memilih pindah ke klub kaya baru, Manchester City. Dan rasa cinta itu pun segera berubah jadi caci maki. Ia bilang, ia pindah untuk gelar. Tapi para pendukung Arsenal percaya itu semata soal uang.

Nasri kembali ke London di saat yang tak mungkin lebih baik lagi. Ia melakukan debut kembali di Liga Inggris dengan melawan klub yang dulu mendatangkannya dari Prancis dan membencinya. Dan seluruh penonton di London Stadium menjadi saksi, siapa yang jadi bosnya. Sebuah gerakan la pausa di babak pertama, yang menghasilkan peluang untuk Felipe Anderson, dan umpan pendek di awal babak kedua yang kemudian diubah jadi gol oleh Declan Rice, menandai bahwa Samir Nasri masih ada, dan masih berbahaya. Senyum nakal kanak-kanaknya menandai kemenangan pertama West Ham atas Arsenal setelah 13 tahun.

Nasri tidak sendiri. Pogba juga sedang menuju kembali ke titik dimana dia dikenal, yang membuatnya menjadi gelandang termahal di Liga Inggris. Di Wembley, yang banyak disangka akan menjadi tempat terhentinya laju kemenangan United pascapemecatan Mourinho, MU justu menjadi tim yang biasa ditakuti oleh “just” Tottenham. Mereka tidak spektakular, seperti MU yang biasa kita tahu, tapi mereka jelas tampak lebih kuat dari yang bisa kita lihat di sepanjang paruh pertama musim ini. Dan yang pasti, tak gampang dikalahkan.

Semua orang memang membicarakan 11 penyelamatan David De Gea, tapi Pogba dan senyumnya, dan umpan-umpan hebatnya, dan trio Rashford-Lingard-Martial di depan (hal yang sangat jarang kita lihat di era Mourinho, apalagi jika melawan tim yang lebih kuat) adalah penanda yang paling bisa dibaca: MU sedang menuntut tempat yang selayaknya; mereka memaksa untuk masuk lagi ke persaingan.

Sementara itu, di sebuah planet yang dihuni oleh hanya seorang alien saja, Lionel Messi mencetak gol ke-400-nya di La Liga. Rasanya, tak ada makhluk lain, dari planet mana pun, yang akan menghuni tempat yang sama. Selamanya.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…