OUR NETWORK

Yang Kekal dan Yang Dikocok Ulang

Apakah akan ada juara baru di sepakbola Eropa?

Sebelum prei jeda internasional, yang oleh pelatih Liverpool Jurgen Klopp disebut sebagai kompetisi yang tak masuk akal, sepakbola Eropa sudah mulai terlihat bentuknya. Beberapa sama sekali tak menyimpang dari apa yang dipasang bandar-bandar taruhan di awal kompetisi. Namun, beberapa liga menunjukkan sedikit geronjalan. Beberapa lagi tampak akan menimbulkan kocok ulang, jika bukan guncangan besar.

Perancis jelas akan masih terus dikuasai PSG. Kylian Mbappe mencetak empat gol dalam 13 menit saat PSG melawan salah satu pesaing terkuatnya, Lyon, dalam pertandingan yang berjalan timpang, 5-0. Dengan demikian, sejauh ini, mereka tidak saja menyapu semua pertandingan dengan kemenangan, tapi juga dengan skor-skor besar. Dalam sembilan pertandingan, mereka mencetak 32 gol, yang berarti mereka mencetak tiga setengah gol di setiap laga. Selisih gol mereka mencolok (26) jika dibanding para penguntitnya di peringkat dua (10) dan tiga (5). Dan mereka memimpin delapan poin di atas Lille di peringkat kedua. Ligue 1 tampaknya telah selesai di awal Oktober.

(Jika Florentino Perez mengalami kepanikan di jendela transfer Januari, kemudian melakukan segala cara untuk menjambret Mbappe sekaligus Neymar dari Paris ke Madrid, PSG akan tetap juara di musim panas mendatang.)

Yang mungkin menarik adalah melihat kebangkitan Lille, setelah di musim sebelumnya mesti menghabiskan setengah musim terakhirnya untuk tak terdegradasi. Pelatih Christophe Galtier mengembalikan marwah Lille, usai ditelantarkan Marcelo Bielsa. Tapi Bielsa tak semata meninggalkan kekacauan, yang mesti diberesi Galtier; ia juga mewariskan Nicolas Pepe.

Masih mentah ketika diangkut Bielsa dari Angers, Pepe (23), seorang penyerang berkaki kiri yang beroperasi di sisi kanan, dan punya kelenturan menggiring bola ala Zinedine Zidane dan kecepatan menyisir tepi lapangan seperti Neymar, sekarang adalah batu mulia berikutnya yang dihasilkan Lille setelah Hazard. Dan, oleh karena itu, tak mengherankan jika para pemandu bakat dari klub-klub besar sudah mengerubutinya.

Di Italia, seperti yang pernah ditulis di kolom ini sebelumnya, Juventus akan memperoleh gelar Liga kedelapan berturut-turutnya musim ini, dan kesembilan di musim berikutnya, dan kesepuluh di musim berikutnya lagi—dan setelah itu sebaiknya Serie A dihentikan saja, lalu biarkan Juve mengambil seluruh bintang di langit Italia untuk ditempelkan di atas logo barunya yang gampangan itu.

Cristiano Ronaldo, seperti sebelum-sebelumnya, menunjukkan hal yang berlawanan dengan sangkaan dan harapan-harapan buruk para pembencinya—dan para pencinta Liones Messi, tentu saja. Kalian lihat golnya ke gawang Udinese di akhir pekan lalu? Bajingan! Ya, itu yang saya teriakkan ketika pertama kali melihat gol itu; dan masih mengucapkan umpatan yang sama ketika menonton ulangannya.

Tapi gol-gol Ronaldo hanya satu hal—toh ia baru mencetak empat gol, belum separuhnya dari capocannoniere sementara Serie A, Krysztof Piatek (pernah dengar namanya sebelumnya?). Yang mungkin lebih menggembirakan bagi para Juventini, dan berpotensi membuat Juventus lebih berbahaya dari semestinya, adalah tampilan secara keseluruhan Ronaldo di lapangan.

Ia sesekali bermain menepi, beroperasi di sayap, sebagaimana dulu saat ia masih menjalani musim-musim pertamanya di Inggris. Ia mencetak gol, tentu saja, tapi kini ia juga seorang pengumpan andal. Mario Mandzukic yang mendapat berkahnya. Tapi yang lebih penting, ia terlihat jauh lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya. Senyum dan kegembiraan saat merayakan gol Rodrigo Bentancur, yang seharusnya menjadi golnya, adalah pemandangan langka selama 9 musim ia bermain di Bernabeu.

Rasa bahagia, dan cara bermain yang membuat orang mengingat remaja berjerawat dari Madeira yang didatangkan Alex Ferguson lima belas tahun silam itu, membuatnya tampak lebih muda dari usianya. Ini tentu kabar gembira bagi Manchester United dan para Manchunian yang tengah gelisah. Ketika nanti kontrak Ronaldo dengan Juventus telah habis, MU bisa memulangkannya kembali. Toh, saat waktu itu datang, ia masih 37.

Untuk saat ini, MU jauh lebih membutuhkan seorang bek—atau dua, sebagaimana yang direngekkan Jose Mourinho sejak musim ini dimulai. Biar Eric Bailly tak diganti di menit ke-20, sebagaimana yang dialaminya saat tertinggal 0-2 dari Newcastle United, Sabtu lalu, karena ia semestinya tak turun sama sekali. Kalau yang muda macam Harry Maguire atau yang telah cukup matang macam Toby Alderweireld tak didapat, yang sudah bangkotan macam Andreas Granqvist juga tak apa.

Tidakkah sebenarnya yang dibutuhkan MU adalah pelatih baru? Tentu saja tidak. “Mourinho adalah juara. Woodward-lah pecundangnya,” demikian sebuah baner yang muncul di Old Trafford begitu Alexis Sanchez mencetak gol kemenangan ke gawang Martin Dubravka, di akhir pekan silam. Jadi, jelas karena salah Ed Woordward, sekarang MU hanya bisa melihat dari kejauhan pertarungan perebutan puncak klasemen antara Manchester City dan Liverpool dan Chelsea.

Dan, yang sedikit mengejutkan, juga Arsenal. Unai Emery diremehkan ketika datang ke Emirates untuk menggantikan seorang maestro manajemen yang sekaligus ekonom andal macam Arsene Wenger. Ketika mereka mengawali musim dengan dua kekalahan, jelas sekali para Gooners patut dikasihani. Tapi Emery mengubah Arsenal dalam diam. Lalu mereka memenangkan semua pertandingan berikutnya, dan tiba-tiba tampak memungkinkan untuk jadi penantang gelar. Catatan sembilan kemenangan beruntun di semua ajang kini membuat Emery disejajarkan dengan Herbert Chapman, George Graham dan Arsene Wenger, para pelatih terbesar Arsenal.

Yang jauh lebih mengejutkan terjadi di Glasgow. Rangers, juara terbanyak Liga Skotlandia, yang baru saja menunjuk Steven Gerrard sebagai pelatih memang masih terus berusaha mengais-ngais kejayaan, setelah sempat terlempar ke divisi tiga pascakebangkrutan di 2012. Selama itu, Celtic merajalela sendirian, menjadi juara selama tujuh musim berturut-turut.

Awal musim ini, Celtic sepertinya menghadapi jalan yang lebih berliku untuk memperoleh gelar kedelapannya, yang itu berarti lebih dekat dengan rekor 9 in a row, seperti yang pernah dicatatkan Celtic (dan Rangers) sebelumnya. Tapi, juga bukan Rangers yang memimpin kompetisi; Gerrard dan tim pertama yang dilatihnya masih terpeleset di peringkat ke-6 (dari 12 tim). Duo Old Firm sama-sama absen dari puncak klasemen liga. Heart dan Hibernian, dua klub yang biasanya cuma jadi bayang-bayang, sebagaimana 10 klub lainnya, kini ada di urutan pertama dan kedua. Sementara itu, klub-klub seperti Kilmarnock dan Livingstone ikut dalam persaingan gelar.

Memperkirakan akan ada juara baru di Liga Skotlandia bukan saja tergesa-gesa, tetapi juga menunjukkan sama sekali tak tahu soal liga ini. Liga ini tak pernah dimenangkan oleh tim selain Celtic dan Rangers sejak musim 1984-1985, ketika Aberdeen menjadi juara Liga untuk kedua kalinya secara berturut-turut bersama seorang pelatih muda bernama Alex Ferguson. Tapi, munculnya juara baru tentu saja bukan sesuatu yang mustahil. Dan itu pasti akan menggembirakan.

Juara baru juga sedang sangat memungkinkan muncul di Jerman. Borussia Dortmund bersama pelatih barunya, Lucien Favre, disebut-sebut sedang menunjukkan tanda-tanda pengulangan kejayaan yang dulu ditorehkan bersama Jurgen Klopp. Mereka memimpin klasemen, tak terkalahkan, dan menghujani tim lawan dengan gol-gol. Dan perhatian sedang sangat tertuju kepada seorang remaja bernama Jadon Sancho, bocah Inggris yang merantau ke Jerman. Produk akademi Manchester City ini konon akan dibawa pulang ke Inggris oleh Manchester United dengan harga 100 juta Pound.

Di bawah Dortmund, ada RB Leibzig. “Klub jadian-jadian” ini, yang jadi perhatian karena pemain-pemain muda yang dihasilkannya, menunjukkan bahwa apa yang mereka tampilkan sejak muncul di level tertinggi sepakbola Jerman dua tahun lalu bukan sekadar kejutan. Maklum, Ralf Ragnick, seorang mahaguru di sepakbola Jerman, ada di belakang permainan mereka.

Lalu di mana Bayern Munchen? Mereka ada di peringkat keenam, telah kalah dua kali, dan tertinggal empat poin dari pemimpin klasemen. Kabar baiknya: biasanya tetap Munchen yang juara—seperti sebelum-sebelumnya. Kabar buruknya: Munchen punya segalanya untuk berhak tidak sabar, dan karena itu Niko Kovac bisa saja kehilangan pekerjaannya jika kekalahan ketiga datang. Kabar yang lebih buruk: Jupp Heynckes sudah menyatakan pensiun (lagi).

Apakah juara baru juga bisa muncul di Spanyol? Melihat klasemen, dan menemukan bahwa pemuncak klasemennya bukan Barcelona bukan pula Real Madrid, bukan pula Atletico Madrid, sungguhlah menarik. Sevilla memberi harapan akan munculnya kembali masa-masa ketika Deportivo La Coruna dan Valencia jemawa, dan Liga Spanyol pun jauh dari sekadar lomba dari dua raksasa, pacuan dari hanya dua kuda.

Tapi yang paling menarik adalah munculnya Alaves dalam persaingan, klub yang tiga tahun lalu masih ada di Segunda, dan lima tahun lalu ada di Segunda B. Mereka yang ingatan sepakbolanya tak pendek akan segera mengenang bahwa tim inilah, bersama Liverpool, membuat final Piala UEFA 2000-2001, yang berakhir dengan skor dahsyat 5-4, menjadi salah satu final terbaik dalam sejarah sepakbola.

Jadi, apakah akan ada juara baru? Ah, liga masih lama … meskipun itu terlihat tak lebih lama dibanding waktu yang dibutuhkan Madrid untuk bisa mencetak gol lagi.

“Ronaldo tak lagi dibutuhkan!” begitu tulis sebuah baner di Bernabeu.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…