Minggu, Maret 7, 2021

Yang Cerdas dan Yang Atheis

Misteri BLBI dan Jeruk di Gedung Kejagung yang Terbakar

Mengejutkan! Tetiba gedung Kejaksaan Agung (Jagung) di Jakarta Selatan, Sabtu (23/8/020), terbakar nyaris ludes. Anehnya, respon publik terhadap peristiwa itu, macam-macam tapi nyinyir. Umumnya,...

Agar Kejahatan terhadap Anak Tak Terulang Lagi

Di manakah sebetulnya ruang yang benar-benar aman dan nyaman bagi anak-anak? Pertanyaan ini layak dikemukakan, sebab setiap hari kasus penganiayaan dan tindak kekerasan terhadap...

Ancaman Baru Radikalisme ISIS

Militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mempublikasikan video propaganda berdurasi 20  menit yang menampilkan anak-anak Indonesia hasil didikan ISIS. Dalam video itu anak-anak...

Pilpres 2019 dan Relasi Habaib 212 – Nahdliyin

Pilpres 2019 akan menjadi kontestasi yang secara kental melibatkan unsur habaib dan nahdliyin. Hal itu berkaitan dengan dukungan Habib Rizieq Shihab (HRS) kepada Prabowo...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Benarkah orang yang cerdas, makin atheis? Prof. Richard Lynn, akan mengulasnya.

Pakar psikologi dari Universitas Ulster Inggris, Prof. Richard Lynn, belum lama ini – melalui penelitiannya tentang degradasi kepercayaan kepada Tuhan pada orang-orang modern – menyimpulkan: keyakinan terhadap agama orang-orang modern saat ini sudah sangat menurun.

Penurunan ini, tulis Lynn, sebetulnya sudah terlihat mulai abad 20 dan kecenderungannya terus berlanjut. Penyebabnya, tambah Lynn, karena meningkatnya kecerdasan manusia. Lynn mengungkapkan, sewaktu masih di sekolah dasar, kebanyakan manusia masih percaya kepada Tuhan. Namun ketika menginjak dewasa, saat mana kecerdasan mereka meningkat, mulai banyak yang ragu akan keberadaan Tuhan. Para akademisi, ungkap Lynn, lebih kecil kemungkinannya percaya kepada Tuhan dibanding orang-orang lainnya.

Penelitian Lynn juga didukung oleh hasil survei Royal Society, Inggris. Di kalangan akademisi Inggris, berdasarkan survei Royal Society, hanya 3,3 persen orang yang percaya kepada Tuhan. Sedangkan di masyarakat umum, yang percaya kepada Tuhan 68,5 persen. Polling lainnya oleh American National Academy of Science terhadap masyarakat akademisi Amerika Serikat pada tahun 1990 menunjukkan, hanya 7 persen di antara mereka yang percaya kepada Tuhan.

“Kenapa lebih sedikit akademisi yang percaya kepada Tuhan dibandingkan populasi umum?,” Tanya Lynn. Ini terjadi, kata Lynn, semata-mata karena faktor kecerdasan (IQ). Beberapa studi dan polling yang dilakukan oleh Gallup – sebuah lembaga survei paling terkenal di AS — mengenai kepercayaan kepada Tuhan di masyarakat umum memperlihatkan bahwa mereka yang mempunyai IQ lebih tinggi cenderung tidak percaya pada Tuhan, kata Lynn kepada majalah Times Higher Education. Menurut Lynn, keyakinan beragama telah menurun di 137 negara berkembang pada abad ke-20. Pada saat yang sama, masyarakat di negara-negara tersebut menjadi lebih pintar.

Namun demikian, kesimpulan Lynn ditentang profesor lainnya. Menurut Profesor Gordon Lynch, direktur lembaga Centre for Religion and Contemporary Society di Birkbeck College, London, Lynn telah melupakan kompleksnya faktor-faktor sosial, ekonomi dan sejarah. Penelitian Lynn terhadap kepercayaan manusia terhadap Tuhan terlalu simplistis.

Kepercayaan manusia terhadap Tuhan tidak semata-mata merupakan korelasi negatif terhadap IQ, tapi juga terjadi karena berbagai pengalaman hidup manusia. Pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang makin cerdas, justru makin tinggi kepercayaannya kepada Tuhan. Ini artinya, kalau kecerdasan dijadikan tolok ukur tingkat kepercayan kepada Tuhan, kajian Lynn tersebut masih perlu diperdebatkan.

Sejarah Keimanan Barat

Untuk memahami pandangan Lynn, hasil survei Royal Society, American National Academy of Science, dan Gallup, mungkin kita perlu memahami sejarah perkembangan kepercayaan kepada Tuhan di masyarakat Barat.

Karen Armstrong dalam bukunya yang amat terkenal, ”The History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity, and Islam” (Ballantine Books, New York, 1993), menyatakan bahwa kepercayaan kepada Tuhan mengalami gelombang-gelombang perubahan yang signifikan pada umat manusia.

Namun demikian, tulis Armstrong, abad ke-15 dan ke-16, merupakan abad-abad paling krusial dalam perubahan pandangan masyarakat beragama di Barat yang pengaruhnya sampai sekarang masih sangat besar. Pada zaman tersebut, agama Kristen di Barat, tidak hanya berhasil mengejar ketertinggalannya dari kebudayaan-kebudayaan lain, tapi juga menaklukkannya.

Dua abad ini, tulis Armstrong, telah menjadi saksi bagi Renaissance di Eropa, penemuan ”dunia baru”, dan awal revolusi ilmiah yang menimbulkan pengaruh sangat menentukan bagi perjalanan nasib seluruh dunia. Pada akhir abad ke-16, Barat mulai menciptakan bentuk peradaban yang sangat berbeda, termasuk konsepsi tentang Tuhan.

Di tengah keberhasilan revolusi industri dan pemikiran sekular, orang-orang Barat merasa tidak puas terhadap bentuk agama abad pertengahan yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka di dunia yang baru. Para reformis mengumandangkan kegelisahan ini dan menemukan cara baru dalam memahami Tuhan. Akibatnya Eropa terpecah, ada yang tetap mempertahankan konsep Ketuhanan lama dan ada yang mengikuti reformasi kepercayaan kepada Tuhan.

Kaum pembaharu – baik dari kalangan Katolik maupun Protestan, tulis Armstrong, sama-sama mengimbau para penganutnya untuk meninggalkan kesetiaan lahiriah kepada orang-orang suci, malaikat, dan memusatkan perhatian kepada Tuhan semata. Namun demikian, pada abad-abad berikutnya, beberapa di antara mereka kembali merasa tidak puas terhadap kehadiran Tuhan dan mereka mulai berpikir tentang ketiadaan Tuhan (atheism).

Sepanjang sejarah manusia, seperti ditulis Armstrong, orang-orang membuang atau menolak suatu konsepsi tentang Ketuhanan jika konsepsi itu terasa tidak lagi menjawab kebutuhan mereka.

Penolakan itu, terkadang berupa penghancuran terhadap berhala seperti dilakukan orang Israel kuno saat merobohkan berhala-berhala di Kanaan, atau ketika para nabi menghancurkan dewa-dewa pagan yang jadi keimanan masyarakatnya. Namun yang paling radikal adalah pemberontakan terhadap keberadaan Tuhan oleh Friedrich Nietzsche pada akhir abad ke-19.

Pada tahun 1882, Niezsche melakukan taktik yang sama seperti kaum reformis Eropa lainnya ketika mendeklarasikan Tuhan sudah mati. Nietzsche menggambarkan kematian Tuhan dengan sebuah tamsil tentang ”orang gila” yang lari ke pasar sambil berteriak-teriak, aku mencari Tuhan…aku mencari Tuhan.

Orang-orang di pasar pun ribut. Ketika orang-orang bertanya kemana Tuhan yang dicarinya – apakah melarikan diri atau pindah ke tempat lain – ”orang gila” itu sambil menatap mereka menjawab: ”Kalian telah membunuhnya. Ya, aku dan kalian telah membunuh Tuhan,” kata ”si gila”. Saat itu, dia disebut gila karena sendirian. Tapi jika semua orang berpandangan seperti ”si gila” — maka orang yang menganggap Tuhan itu hidup dan berkuasa, dialah yang pantas disebut orang gila.

Nietzsche menyadari bahwa ide kematian Tuhan tersebut akan mengguncang kesadaran manusia yang selama ini mempercayai sebuah fenomena yang disebut Tuhan. Padahal, kata Niezsche, sejak sains mendominasi pemikiran manusia dan membuktikan kebenaran teori-teorinya secara obyektif dan verifikatif, ide tentang Tuhan sebetulnya bertentangan dengan sains.

Sains tidak hanya telah menggiring manusia pada pemahaman yang mustahil tentang ”penciptaan” seperti yang dipaparkan Tuhan dalam kitab-kitab suci, tapi juga tidak bisa menerima pengawasan dan kendali Tuhan terhadap peristiwa yang terjadi di bumi dan langit. Kematian Tuhan, bagi Nietzsche, adalah fase baru sejarah manusia menuju peradaban yang lebih tinggi, peradaban manusia yang dewasa.

Di era baru peradaban besar itu, kata Nietzsche, manusialah yang menggantikan Tuhan. Untuk itu, Nietzsche memproklamasikan kehadiran manusia super yang akan menggantikan kedudukan Tuhan. Proklamasi kematian Tuhan itu, kemudian dipertegas lagi oleh Freud yang menganggap bahwa kepercayaan kepada Tuhan adalah sebuah ilusi yang harus ditinggalkan manusia dewasa.

Kebutuhan terhadap Tuhan, kata Freud, adalah kerinduan masa kanak-kanak akan ayah yang kuat dan melindungi; akan kejujuran dan keadilan, dan kehidupan yang akan berlangsung selamanya. Tuhan adalah proyeksi dari keinginan-keinginan seperti itu, ditakuti dan disembah oleh manusia akibat rasa tak berdaya di dalam diri. Agama, dalam pandangan Freud, hanya dibutuhkan manusia dalam transisi anak-anak menuju dewasa.

Klise, Tapi …

Pendapat Prof. Richard Lynn dari Ulster University Inggris yang dikutip berbagai media Inggris belakangan ini sebetulnya klise dan khas ”Barat”. Ada kesesuaian dari pendapat Lynn, pandangan Nitzsche serta Freud. Dan kita tidak perlu kaget dengan hasil penelitian yang niscaya mengundang perdebatan tersebut.

Bagi dunia Islam, pendapat Lynn yang mendasarkan penelitiannya di Inggris dan AS tentu sulit diterima. Umat Islam tidak perlu merasa cemas dan bereaksi keras terhadap penelitian semacam itu. Meski demikian, penelitian itu, secara tersirat mengandung kritik terhadap umat beragama, khususnya Islam.

Umat Islam pasti menyangkal penelitian Lynn, menolak pendapat Nietzsche dan Freud. Jika demikian, pertanyaannya: sudahkan umat Islam bersikap dewasa dalam membentuk peradabannya?

Sebagai umat Islam Indonesia (baca: negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia), apa yang bisa kita katakan pada ”Dunia Barat” untuk membuktikan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan (iman kepada Allah) tidak berkorelasi negatif terhadap kedewasaan dan kecerdasan seseorang, bila ternyata dalam menghadapi sebuah perbedaan pandangan dan konsep tentang Tuhan serta Kenabian, umat Islam Indonesia sangat reaktif dan anarkis seperti anak-anak? Jawabnya cukup di hati masing-masing!

Kita berharap umat Islam dapat membantah pendapat Lynn, Nietzsche, dan Freud dengan cara dewasa pula dengan menunjukkan bukti bahwa makin cerdas dan dewasa umat Islam makin beriman kepada Tuhan. Manakala orang yang cerdas itu identik dengan orang yang cinta ilmu, bukankah dalam Al Qur’an (58:11) Allah berfirman : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Jika kemudian sikap orang-orang beriman seperti kanak-kanak yang dalam perdebatan maunya menang sendiri, meski argumentasinya mentah, pendapat Lynn, Nietzsche, dan Freud mungkin akan lebih mendapat tempat di pikiran orang modern. Sungguh tak terbayangkan di logika orang modern, ada kaum beriman yang menganggap bumi itu datar; membunuh orang yang tidak sehaluan jihad; dan yakin surga hanya untuk kelompoknya saja.

Anehnya, gagal paham tentang agama itu, kini merebak di kalangan “sarjana” yang malas berpikir. Baginya, bertaklid buta lebih enak karena tidak memeras otak. Bahkan mereka sering berhalusinasi akan menciptakan daulah dan khilafah di seluruh dunia atas nama kebenaran kitab suci!

Jika sudah seperti itu, apa yang harus “umat Islam” suguhkan kepada Dunia Barat? Nietzsche, Freud, dan Marx mungkin tersenyum sinis di kuburnya. “Jadi, betul kan pendapatku?” kata Lynn.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.