Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Memahami Pesan KH Yahya Cholil Staquf di Israel

Kontroversi Kriminalisasi Seks di Luar Nikah

Aliansi Cinta Keluarga (AILA) mengusulkan revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) untuk mengkriminalisasi pelaku seks di luar nikah. Ada beberapa revisi yang mereka usulkan....

Setelah Palmyra Bebas dari ISIS

Di pengujung Mei 2015, tepat satu tahun lalu, mata dunia tertuju pada sebuah kota bernama Palmyra di Suriah. Perang berkecamuk di pinggiran sebuah kota...

Perubahan Paradigma atau Sekadar Bualan Para CEO? [Bag-1]

Tanggal yang Bakal Terus Diingat Dunia Bisnis Lewat beberapa hari setelah pertengahan Agustus 2019, tepatnya di tanggal 19, dunia bisnis dikejutkan lewat sebuah pernyataan yang...

Indonesia Darurat Gorengan

  Kalau makanan dianggap sebagai representasi kelas, gorengan adalah berandal yang mengobrak-abrik semua konsepsi jadi-jadian itu. Dari rapat kantor sampai tongkrongan di ujung gang, gorengan...

Di Youtube, kita bisa mendapatkan cuplikan utuh percakapan antara KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan dengan Rabbi David Rosen (Rabbi David). Saya mencoba memahami pesan dalam video berdurasi 14:36 tersebut menggunakan Computer Assisted Qualitative Data Analysis (CAQDAS), melakukan koding semua kata kunci (keywords) wawancara tersebut dengan software MAXQDA.

Dari sini, saya mendapatkan gambaran permukaan—apa yang terlihat atau terdengar oleh awam, dari persentase kata kunci yang dipakai oleh Gus Yahya sebagaimana gambar 1.

Yahya-cholil-staquf-1

Di sini, tampak secara permukaan bahwa wawancara tersebut lebih banyak membicarakan atau mengenang Gus Dur (16,67 persen), kemudian disusul dengan pembahasan mengenai agama (13,64 persen), rahmah (12,12 persen), hubungan Yahudi-Islam (10,61 persen), konflik (9,09 persen) dan seterusnya hingga perdamaian, Israel dan Nabi Muhammad masing-masing 1,52 persen.

Namun, apa iya Gus Yahya cuma ingin mengenang romantisme Gus Dur sampai jauh-jauh ke Israel, saat hubungan Indonesia-Israel yang lagi hangat-hangatnya pascakejadian saling larang masuk warga negara Israel ke Indonesia dan sebaliknya?

Saya kemudian mencoba melakukan analisis wacana dengan melihat jejaring antarkata kunci yang muncul selama percakapan antara Gus Yahya dan Rabbi David, dengan mengolah matrix code relations browser transkrip percakapan dengan software Gephi.

Dari sini, saya bisa melihat kata kunci apa yang dipakai oleh Gus Yahya untuk menyambungkan pesan beliau dengan audiensnya saat itu, dengan secara khusus menghitung Betweenness Centrality Algorithm dari jejaring kata kunci yang ada, dan tampak sebagaimana gambar 2.

yahya-cholil-staquf-2

Di sini tampak bahwa dua kata kunci yang jadi sentral dalam percakapan untuk mendekatkan audiens dengan pesan Gus Yahya adalah Hubungan Yahudi-Islam dan Gus Dur. Dan sebenarnya ini bisa sangat dipahami mengingat pihak penyelenggara, America Jewish Committee (AJC), merupakan komunitas Yahudi Amerika, yang sudah akrab atau familiar dengan bahasan Hubungan Yahudi-Islam dan sosok Presiden sekaligus Guru Bangsa Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur—yang juga pernah hadir dalam acara serupa 16 tahun lalu di Washington.

Namun, sekali lagi bukan itu inti pesan Gus Yahya. Kedua kata kunci tersebut hanya pengantar, pintu masuk, sapaan.

Lalu apa inti pesan Yahya Cholil Staquf?

Dari jejaring kata kunci selama percakapan tersebut, dapat dihitung Closeness Centrality Algorithm di mana bisa diketahui kata kunci paling dekat dengan pesan sentral atau utama, sebagaimana yang tampak dalam gambar 3.

yahya-cholil-staquf-3

Di sini, bisa kita ketahui bahwa dua kata kunci paling sentral selama percakapan tersebut adalah “Rahmah” (kasih sayang) dan rekonsoliasi. Di sini Gus Yahya mengadvokasi pentingnya untuk memilih Rahmah (kasih sayang)—sekaligus lawan kata dari zalim (kebengisan/penindasan)—dan rekonsoliasi antara dua atau lebih pihak yang bertikai. Tentu saja, jika kita waras, kita pasti memahami bahwa penindasan atau kebiadaban terjadi saat kita memilih meninggalkan rahmah sebagai visi bersama, bukan hanya penindasan Israel terhadap Palestina, tapi juga penindasan yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Dari modularity class algorithm, tampak pula bahwa klaster berwarna merah yang menghubungkan kata-kata kunci: rahmah, rekonsiliasi, perdamaian dan keadilan, merupakan klaster utama dari seluruh pesan yang ada, yang sejatinya sangat dekat dengan klaster oranye: hubungan Yahudi-Islam, kontekstualitas, agama, dan konflik.

Di sini pula tampak bahwa beliau hanya menjadikan klaster biru (Gus Dur, manusia, NU dan Israel) dan klaster hijau (Quran, Hadits dan sejarah) sebagai “bumbu-bumbu penyedap” dalam percakapan, alias basa-basi yang tampak seperti ngalor-ngidul alias random khas Nahdliyin.

Artinya, Gus Yahya sudah jauh-jauh sampai Israel masih tetap saja jadi wong NU. Ha-ha-ha.

Sampai di sini, saya harus mengakui dan harus banyak belajar dari keberanian Gus Yahya dan kepiawaian beliau untuk nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan—seperti yang diajarkan para wali saat menyebarkan Islam di Nusantara—langsung di jantung Israel.

Lalu, apakah ikhtiar Gus Yahya Cholil Staquf betul akan berdampak pada perdamaian Israel-Palestina? Embuh! Wallahu a’lam bi-s-showab.

Karena setahu saya: dengan cara konfrontatif selama ini, Israel justru semakin tak bergeming, semakin bengis terhadap saudara-saudara kita warga Palestina, dan siapa pun yang membela mereka.

Akhirnya, sampai sini, saya hanya bisa sekali lagi yakin bahwa doa adalah senjata umat Islam dan yakin betul bahwa tiada batas antara mereka yang tertindas dengan Gusti Allah, dengan sekali lagi menyerukan agar kita berdoa semoga Gusti Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, menghadirkan rahmah di bumi mereka.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.