OUR NETWORK

Memahami Pesan KH Yahya Cholil Staquf di Israel

Di Youtube, kita bisa mendapatkan cuplikan utuh percakapan antara KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dengan dengan Rabbi David Rosen (Rabbi David). Saya mencoba memahami pesan dalam video berdurasi 14:36 tersebut menggunakan Computer Assisted Qualitative Data Analysis (CAQDAS), melakukan koding semua kata kunci (keywords) wawancara tersebut dengan software MAXQDA.

Dari sini, saya mendapatkan gambaran permukaan—apa yang terlihat atau terdengar oleh awam, dari persentase kata kunci yang dipakai oleh Gus Yahya sebagaimana gambar 1.


Yahya-cholil-staquf-1

Di sini, tampak secara permukaan bahwa wawancara tersebut lebih banyak membicarakan atau mengenang Gus Dur (16,67 persen), kemudian disusul dengan pembahasan mengenai agama (13,64 persen), rahmah (12,12 persen), hubungan Yahudi-Islam (10,61 persen), konflik (9,09 persen) dan seterusnya hingga perdamaian, Israel dan Nabi Muhammad masing-masing 1,52 persen.

Namun, apa iya Gus Yahya cuma ingin mengenang romantisme Gus Dur sampai jauh-jauh ke Israel, saat hubungan Indonesia-Israel yang lagi hangat-hangatnya pascakejadian saling larang masuk warga negara Israel ke Indonesia dan sebaliknya?

Saya kemudian mencoba melakukan analisis wacana dengan melihat jejaring antarkata kunci yang muncul selama percakapan antara Gus Yahya dan Rabbi David, dengan mengolah matrix code relations browser transkrip percakapan dengan software Gephi.

Dari sini, saya bisa melihat kata kunci apa yang dipakai oleh Gus Yahya untuk menyambungkan pesan beliau dengan audiensnya saat itu, dengan secara khusus menghitung Betweenness Centrality Algorithm dari jejaring kata kunci yang ada, dan tampak sebagaimana gambar 2.

yahya-cholil-staquf-2

Di sini tampak bahwa dua kata kunci yang jadi sentral dalam percakapan untuk mendekatkan audiens dengan pesan Gus Yahya adalah Hubungan Yahudi-Islam dan Gus Dur. Dan sebenarnya ini bisa sangat dipahami mengingat pihak penyelenggara, America Jewish Committee (AJC), merupakan komunitas Yahudi Amerika, yang sudah akrab atau familiar dengan bahasan Hubungan Yahudi-Islam dan sosok Presiden sekaligus Guru Bangsa Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur—yang juga pernah hadir dalam acara serupa 16 tahun lalu di Washington.

Namun, sekali lagi bukan itu inti pesan Gus Yahya. Kedua kata kunci tersebut hanya pengantar, pintu masuk, sapaan.

Lalu apa inti pesan Yahya Cholil Staquf?


Dari jejaring kata kunci selama percakapan tersebut, dapat dihitung Closeness Centrality Algorithm di mana bisa diketahui kata kunci paling dekat dengan pesan sentral atau utama, sebagaimana yang tampak dalam gambar 3.

yahya-cholil-staquf-3

Di sini, bisa kita ketahui bahwa dua kata kunci paling sentral selama percakapan tersebut adalah “Rahmah” (kasih sayang) dan rekonsoliasi. Di sini Gus Yahya mengadvokasi pentingnya untuk memilih Rahmah (kasih sayang)—sekaligus lawan kata dari zalim (kebengisan/penindasan)—dan rekonsoliasi antara dua atau lebih pihak yang bertikai. Tentu saja, jika kita waras, kita pasti memahami bahwa penindasan atau kebiadaban terjadi saat kita memilih meninggalkan rahmah sebagai visi bersama, bukan hanya penindasan Israel terhadap Palestina, tapi juga penindasan yang terjadi di belahan dunia lainnya.

Dari modularity class algorithm, tampak pula bahwa klaster berwarna merah yang menghubungkan kata-kata kunci: rahmah, rekonsiliasi, perdamaian dan keadilan, merupakan klaster utama dari seluruh pesan yang ada, yang sejatinya sangat dekat dengan klaster oranye: hubungan Yahudi-Islam, kontekstualitas, agama, dan konflik.

Di sini pula tampak bahwa beliau hanya menjadikan klaster biru (Gus Dur, manusia, NU dan Israel) dan klaster hijau (Quran, Hadits dan sejarah) sebagai “bumbu-bumbu penyedap” dalam percakapan, alias basa-basi yang tampak seperti ngalor-ngidul alias random khas Nahdliyin.

Artinya, Gus Yahya sudah jauh-jauh sampai Israel masih tetap saja jadi wong NU. Ha-ha-ha.

Sampai di sini, saya harus mengakui dan harus banyak belajar dari keberanian Gus Yahya dan kepiawaian beliau untuk nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan—seperti yang diajarkan para wali saat menyebarkan Islam di Nusantara—langsung di jantung Israel.

Lalu, apakah ikhtiar Gus Yahya Cholil Staquf betul akan berdampak pada perdamaian Israel-Palestina? Embuh! Wallahu a’lam bi-s-showab.

Karena setahu saya: dengan cara konfrontatif selama ini, Israel justru semakin tak bergeming, semakin bengis terhadap saudara-saudara kita warga Palestina, dan siapa pun yang membela mereka.

Akhirnya, sampai sini, saya hanya bisa sekali lagi yakin bahwa doa adalah senjata umat Islam dan yakin betul bahwa tiada batas antara mereka yang tertindas dengan Gusti Allah, dengan sekali lagi menyerukan agar kita berdoa semoga Gusti Allah menolong saudara-saudara kita di Palestina, menghadirkan rahmah di bumi mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…