Sabtu, Januari 16, 2021

Wartawan Kompas Tidur di Sajadah Kiai Fatah

Menantang Logika Pemerintahan Jokowi tentang Industri Sawit

Dua pekerja menata kelapa sawit di atas truk di perkebunan kelapa sawit Mesuji Raya, OKI, Sumatera Selatan, Selasa (9/2). ANTARA FOTO/ Budi Candra Setya Awal...

Jokowi dan Nasib Pertanian 2015

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla belum sepenuhnya bisa melepaskan diri dari model pembangunan pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Di sektor pertanian pendekatan...

Soal Katolik dan Anjing itu

Akhir-akhir ini saya melihat demikian banyak posting tentang perempuan Katolik yang bersepatu dan membawa anjing masuk ke masjid. Kabarnya, dia diberitahu bahwa suaminya sudah...

Bagaimana Ramadhan Menjadi Bulan Paling Agung

Menjelang puasa Ramadhan seperti sekarang, para penceramah mulai menghimpun bahan-bahan untuk mendakwahkan keutamaan bulan suci ini. Mereka akan mengulang-ulang apa yang disampaikan tahun lalu...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Budiarto Danudjaja kaget bukan main. Wartawan Kompas itu, ketika bangun, tempat tidurnya pindah. Atau ada yang memindahkan. Siapa yang memindahkan? Tak jelas sampai sekarang.

Alikisah, tanggal 8 Nov 2020, saya bertemu Kiai Abdul Madjid di rumah adiknya, Abdul Hamid. Pagi hari, sekitar pukul 8.30. Mas Madjid —demikianlah saya memanggilnya — masih pakai sarung dan kaos oblong. Dan seperti biasanya, di jemari kanannya terselip sebatang rokok yg masih berasap.

Merokok memang kebiasaan kiai generasi ‘lampau’. Kiai generasi kini, termasuk Ketum PBNU M Aqil Siradj, sudah tidak merokok lagi.

Mas Madjid tersenyum, melambaikan tangan. Saya mendekat dan bergabung mengepulkan asap rokok bersamanya.

Mas Madjid adalah anak kedua Kiai Fatah, pendiri Pesantren Al-Fatah di Siman, Lamongan, Jawa Timur. Abangnya adalah Kiai Muchid, yang saya panggil Mas Muchid.

Pada tahun 1987, bersama wartawan Kompas Budiarto Danudjaja, ditemani Abdul Hamid, saya melakukan penelitian hubungan NU dan politik. Karena konflik internal, PPP baru saja ‘digembosi’ NU dalam pemilu tahun itu.

Hasilnya, adalah tulisan saya dan Budiarto di Kompas selama 5 hari berturut-turut.
Nah, Mas Madjid, dalam kesempatan itu, berbaik hati mengantarkan kami ke beberapa pesantren. Salah satunya adalah Pesantren Langitan. Kiai Langitan inilah yg diangkat Kiai Abdurrahman Wahid pada tahun 1999 sebagai ‘supreme kiai’ atau ulama khosh. Sebutan ulama khosh oleh Gus Dur ini mendorong para pembesar Jakarta mengunjungi Langitan.

Dalam penelitian 1987 itu, kami menginap di pesantren Al-Fatah. Sajian makannya pedas nikmat. Terurama pepes ikan sili (bukan ‘silly’, lho?!).

Nah, pada suatu malam tahun 987 , Mas Madjid mengajak saya dan Budiarto duduk-duduk di tepi sawah.

‘Saya berencana membeli tanah-tanah persawahan ini,’ ujar Mas Madjid seperti mimpi.

Lalu, ia menyambung, ‘Saya berencana membangun universitas atau perguruan tinggi.’

Sejak itu, hubungan saya dengan keluarga Al-Fatah berkembang menjadi keluarga. Ibu Mas Madjid (kami memanggilnya Ibu Lamongan) menitipkan dua anaknya kepada saya: Abdul Hamid dan Kholid Novianto.

Kini Abdul Hamid bukan saja telah berkembang pesat, melainkan sudah punya menantu 8 November lalu. Di acara mantuan itulah saya bertemu kembali dengan Mas Madjid.

Sedangkan Kholid Novianto, lulusan jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI), bekerja di bawah saya sebagai peneliti Lspeu Indonesia pertengahan 1990-an hingga 2000-an. Kini, Kholid sedang menyusun disertasi di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta setelah menyelesaikan master dalam bidang ekonomi pembangunan di Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Disertasi Kholid ini berada di bawah bimbingan dua ekonom ternama: Tulus Tambunan dan Budi Santoso. Yang terakhir ini, melalui ekonom Didin Damanhuri, juga pernah bekerja dengan saya di Lspeu Indonesia.

Yang mengharukan adalah ketika Kiai Fatah sakit keras awal 1990-an. Saya sedang sekolah di Melbourne. Mendengar itu, melalui faksimili, saya berkirim surat dan mendoakan kesehatan beliau dari Melbourne.

Karena pesantren tidak punya mesin faks, surat itu saya kirimkan kepada redaksi koran Jawa Pos. Koran ini berbaik hati mengantarkan surat faksimili saya dari Surabaya ke Lamongan pada hari itu juga.

Mas Majid yang membacakan surat tersebut kepada sang ayah yang sedang terbaring sakit. ‘Makanya,’ kata Mas Madjid pada 8 November kemarin, ‘Jawa Pos mengirim karangan bunga dan takziah ketika ayah meninggal.’

Dan, masih dalam pertemuan 8 November kemarin, dengan sarung dan kaus oblongnya, ia berkata: ‘Jelek-jelek begini, saya sudah mendirikan universitas dan perguruan tinggi.’

Senyum simpulnya masih terbayang dlm ingatan saya. Memang, mimpi Mas Madjid pada 1987 — yang dicetuskan di pinggir sawah pada malam tak berbintan — itu telah menjadi kenyataan. Satu Perguruan Tinggi dan satu Universitas telah berdiri di kompleks Pesantren Al-Fatah, Siman, Lamongan.

Lalu, bagaimana dg Budiarto Danudjaja, sang wartawan Kompas yang menyertai penelitian saya pada 1987 tersebut?

Dia hanya sehari menginap di pesantren itu. Esoknya, pagi-pagi ia pamit pulang ke Jakarta.

Apa sebabnya? Di pesantren itu kami tidur di ruang perpustakaan dan i’tiqaf Kiai Fatah. Ketika pagi hari, Budiarto Danudjaja bangun, dia bertanya: ‘Siapa yang memindahkan saya?’

Rupanya, dia tidur di sajadah Kiai Fatah. ‘Kepindahan’ atau ‘terpindahkan’ tanpa sadar ketika tidur itulah yang tampaknya mendorongnya pamit ke Jakarta — walau penelitian belum berakhir.

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.