Jumat, Desember 4, 2020

Wartawan Kompas Tidur di Sajadah Kiai Fatah

Memimpin Kemerdekaan [Refleksi 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia]

Setiap kemerdekaan Indonesia diperingati, bayangan kita segera tertuju pada sepasang figur sentralnya: Soekarno dan Mohammad Hatta. Dalam suasana friksi antarfaksi di sekitar proklamasi, Soekarno-Hatta...

Perkosaan dan ”Kebangkitan Nasional” Bangsa Patriarkis

Berita perkosaan kian jadi santapan sehari-hari kini. Masih hangat nasib miris Yuyun, menyusul berita bocah 2,5 tahun yang diperkosa hingga tewas. Tak lama, ada...

Buruk Rupa Transportasi Jakarta

  Ratusan angkutan umum jenis taksi diparkir di ruas jalan Semanggi saat melakukan unjuk rasa di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (22/3). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja. Di Jakarta,...

Silakan Benci Ahok, tapi Berlaku Adillah!

Wa 'ainur ridha 'an kulli 'aibin kalilah Kama anna 'aenas sukhti tubdil masawiya (mata yang rela tumpul pada setiap kekurangan sedang mata yang marah menampakkan semua keburukan) Pepatah...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Budiarto Danudjaja kaget bukan main. Wartawan Kompas itu, ketika bangun, tempat tidurnya pindah. Atau ada yang memindahkan. Siapa yang memindahkan? Tak jelas sampai sekarang.

Alikisah, tanggal 8 Nov 2020, saya bertemu Kiai Abdul Madjid di rumah adiknya, Abdul Hamid. Pagi hari, sekitar pukul 8.30. Mas Madjid —demikianlah saya memanggilnya — masih pakai sarung dan kaos oblong. Dan seperti biasanya, di jemari kanannya terselip sebatang rokok yg masih berasap.

Merokok memang kebiasaan kiai generasi ‘lampau’. Kiai generasi kini, termasuk Ketum PBNU M Aqil Siradj, sudah tidak merokok lagi.

Mas Madjid tersenyum, melambaikan tangan. Saya mendekat dan bergabung mengepulkan asap rokok bersamanya.

Mas Madjid adalah anak kedua Kiai Fatah, pendiri Pesantren Al-Fatah di Siman, Lamongan, Jawa Timur. Abangnya adalah Kiai Muchid, yang saya panggil Mas Muchid.

Pada tahun 1987, bersama wartawan Kompas Budiarto Danudjaja, ditemani Abdul Hamid, saya melakukan penelitian hubungan NU dan politik. Karena konflik internal, PPP baru saja ‘digembosi’ NU dalam pemilu tahun itu.

Hasilnya, adalah tulisan saya dan Budiarto di Kompas selama 5 hari berturut-turut.
Nah, Mas Madjid, dalam kesempatan itu, berbaik hati mengantarkan kami ke beberapa pesantren. Salah satunya adalah Pesantren Langitan. Kiai Langitan inilah yg diangkat Kiai Abdurrahman Wahid pada tahun 1999 sebagai ‘supreme kiai’ atau ulama khosh. Sebutan ulama khosh oleh Gus Dur ini mendorong para pembesar Jakarta mengunjungi Langitan.

Dalam penelitian 1987 itu, kami menginap di pesantren Al-Fatah. Sajian makannya pedas nikmat. Terurama pepes ikan sili (bukan ‘silly’, lho?!).

Nah, pada suatu malam tahun 987 , Mas Madjid mengajak saya dan Budiarto duduk-duduk di tepi sawah.

‘Saya berencana membeli tanah-tanah persawahan ini,’ ujar Mas Madjid seperti mimpi.

Lalu, ia menyambung, ‘Saya berencana membangun universitas atau perguruan tinggi.’

Sejak itu, hubungan saya dengan keluarga Al-Fatah berkembang menjadi keluarga. Ibu Mas Madjid (kami memanggilnya Ibu Lamongan) menitipkan dua anaknya kepada saya: Abdul Hamid dan Kholid Novianto.

Kini Abdul Hamid bukan saja telah berkembang pesat, melainkan sudah punya menantu 8 November lalu. Di acara mantuan itulah saya bertemu kembali dengan Mas Madjid.

Sedangkan Kholid Novianto, lulusan jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI), bekerja di bawah saya sebagai peneliti Lspeu Indonesia pertengahan 1990-an hingga 2000-an. Kini, Kholid sedang menyusun disertasi di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta setelah menyelesaikan master dalam bidang ekonomi pembangunan di Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Disertasi Kholid ini berada di bawah bimbingan dua ekonom ternama: Tulus Tambunan dan Budi Santoso. Yang terakhir ini, melalui ekonom Didin Damanhuri, juga pernah bekerja dengan saya di Lspeu Indonesia.

Yang mengharukan adalah ketika Kiai Fatah sakit keras awal 1990-an. Saya sedang sekolah di Melbourne. Mendengar itu, melalui faksimili, saya berkirim surat dan mendoakan kesehatan beliau dari Melbourne.

Karena pesantren tidak punya mesin faks, surat itu saya kirimkan kepada redaksi koran Jawa Pos. Koran ini berbaik hati mengantarkan surat faksimili saya dari Surabaya ke Lamongan pada hari itu juga.

Mas Majid yang membacakan surat tersebut kepada sang ayah yang sedang terbaring sakit. ‘Makanya,’ kata Mas Madjid pada 8 November kemarin, ‘Jawa Pos mengirim karangan bunga dan takziah ketika ayah meninggal.’

Dan, masih dalam pertemuan 8 November kemarin, dengan sarung dan kaus oblongnya, ia berkata: ‘Jelek-jelek begini, saya sudah mendirikan universitas dan perguruan tinggi.’

Senyum simpulnya masih terbayang dlm ingatan saya. Memang, mimpi Mas Madjid pada 1987 — yang dicetuskan di pinggir sawah pada malam tak berbintan — itu telah menjadi kenyataan. Satu Perguruan Tinggi dan satu Universitas telah berdiri di kompleks Pesantren Al-Fatah, Siman, Lamongan.

Lalu, bagaimana dg Budiarto Danudjaja, sang wartawan Kompas yang menyertai penelitian saya pada 1987 tersebut?

Dia hanya sehari menginap di pesantren itu. Esoknya, pagi-pagi ia pamit pulang ke Jakarta.

Apa sebabnya? Di pesantren itu kami tidur di ruang perpustakaan dan i’tiqaf Kiai Fatah. Ketika pagi hari, Budiarto Danudjaja bangun, dia bertanya: ‘Siapa yang memindahkan saya?’

Rupanya, dia tidur di sajadah Kiai Fatah. ‘Kepindahan’ atau ‘terpindahkan’ tanpa sadar ketika tidur itulah yang tampaknya mendorongnya pamit ke Jakarta — walau penelitian belum berakhir.

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.