Kamis, Oktober 29, 2020

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Bagian II))

Suharto, Pahlawan tanpa Tanda Layak

Sebentar lagi Suharto resmi akan dinobatkan menjadi pahlawan nasional. Saya jadi ingin bercerita sedikit. Tentang pahlawan kita itu, tentu saja. Saya ingin bercerita, ada hari-hari...

Pak Emil Salim dan Tarik Ulur Pemindahan Ibu Kota

Presiden Joko Widodo telah membuat keputusan politik untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Pulau Kalimantan. Ini keputusan yang berani di tengah kelesuhan ekonomi...

Sirkus Ahok di Media

Sebagai manusia, kita sangat sulit untuk tak berekspektasi. Dalam perandai-andaian, kita selalu berpikir "bagaimana ini" dan "bagaimana itu" sesuai dengan pengalaman dan kapasitas kepala...

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Tadi pagi dalam perjalanan dari bandara ke rumah duka ada seorang wartawan bertanya tentang Almarhum Bahtiar Effendy dan saya jawab ringkas: Almarhum Bahtiar Effendy adalah...
A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.

Wabah, Jalan Terang Menuju Ateisme

Fenomena Covid-19 menghentak iman banyak kaum beragama! Apakah kepercayaan kepada Allah masih bisa dipertanggungjawabkan di hadapan fakta penderitaan dan ketidakdilan ini? Fakta menunjukkan bahwa manusia makin tunggang langgang di tengah gempuran wabah Covid-19.

Manusia telah bahu membahu mengatasi penderitaan ini namun usaha ini tampak absurd dan manusia merasa sunyi dan kesepian dalam perjuangannya. Telah sekain banyak suara teriakkan minta tolong membumbung naik ke hadapan Allah, namun Allah tampak diam saja. Doa-doa dipanjatkan, sujud takjub dan takzim mengalir deras kepada sosok yang bernama Tuhan itu namun Dia seperti tak memedulikannya.

Di hadapan kematian ribuan manusia yang tak berdosa ini, Tuhan yang disembah itu masih bermoralkah? Seorang manusia bahkan bisa berperilaku lebih baik daripada Allah karena memiliki hati dan niat untuk membantu, bersolider. Allah yang sungguh-sungguh mahakuasa dan mahabaik itu hendaknya tidak berdiam diri dan nampak lemah dan lelah semacam itu. Atau Tuhan sedang berpura-pura?

Dalam arti ini penolakkan Allah untuk ikut beritervensi dalam kehidupan manusia merupakan suatu perilaku yang tidak bermoral. Bagaimana mungkin Dia hanya diam sambil menyaksikan kematian dan penderitaan manusia setiap saat? Kendati manusia itu makhluk terbatas namun ia lebih bermoral daripada-Nya karena manusia berontak terhadap situasi penderitaan dan kematian. Sikap Allah yang membiarkan penderitaan ini terjadi sama dengan ketiadaan Allah. Tuhan sama sekali tidak adil dan lebih baik mengatakan Dia tidak ada daripada ada!

Kendatipun, mungkin, bagi seorang yang beragama, bisa lugas mengatakan bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Tapi bagi seorang ateis, klaim itu adalah lelucon absurd! Mana buktinya? Bukankah setiap hari manusia menderita? Maka, “berhentilah berdoa kepada Tuhan yang tidak bermoral itu dan percayalah kepada sains atau kebebasan manusia. Keduanya akan menuntunmu ke titik terang.”

Memastikan Pemikiran yang Memadai

Pertanyaan, apakah Allah itu ada, bukan sekadar melukiskan kekecewaan manusia terhadap Allah melainkan menukik lebih radikal pada upaya ingin membunuh Allah. Namun pertanyaan ini bisa langsung kena sergap: membunuh Allah itu, mungkinkah? Dengan cara apa, manusia bisa membunuh Allah? Bukankah ia akan jatuh kembali pada suatu proyeksi absurd? Berikut akan dijernihkan sejumlah hal.

Pertama, penderitaan–Covid-19–menerangkan adanya kebaikan sempurna. Realitas adanya penderitaan–Covid-19–pada hakikatnya bukanlah kejahatan melainkan hanya “keadaan kurangnya kebaikan” (privatio boni). Artinya ada suatu realitas kebaikan sempurna. Penderitaan ini menjadi semacam pentunjuk ke arah adanya suatu kebaikan sempurna itu. Dengan demikian realitas penderitaan harus ditempatkan dalam keseluruhan “ada”. Penderitaan ini memang diperlukan demi kebaikan yang lebih terang dan lebih besar itu.

Kedua, realitas negatif diperlukan demi kematangan peradaban dan manusia. Sejarah menunjukan bahwa peradaban terbentuk dan mengalami kematangan karena manusia berhasil mengatasi aneka realitas buruk. Peradaban dan kebudayaan umat manusia adalah produk upaya manusia mengatasi realitas-realitas negatif yang menerpa dan menyusahkannya.

Ketiga, realitas negatif sebagai sarana Tuhan menjalankan karya-Nya. Misalnya Firaun bertobat setelah anak sulungnya meninggal kena tulah dari Tuhan (Kel 12. 29). Artinya, apa pun yang dialami, penderitaan ataupun kejahatan, harus diterima karena sesuai dengan keadilan Tuhan. Orang mengakui kemahakuasaan dan keadilan Allah dengan menyaksikan adanya penderitaan dan kejahatan di dunia ini. Argumentasi ini sering dipakai oleh orang beriman untuk membenarkan wabah hari ini.

Keempat, penderitaan dan kejahatan lahir dari kebebasan manusia. Penderitaan ini bukan berasal dari Allah karena bertentangan dengan hakikat Allah yang mahabaik dan mahaadil. Tidak mungkin dari-Nya lahir yang buruk (Allah itu summum bonum). Penderitaan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya. Sikap dan tindakan pongah manusia sendirilah menghasilkan penderitaan dan keburukkan.

Lalu bagaimana dengan kematian bayi yang tak berdosa? Agustinus, seorang filosof cum teolog Kristen abad pertengahan, memecahkan masalah ini dengan teorinya tentang dosa asal. Baginya dosa asal kena pada setiap orang tanpa terkecuali. Maka, penderitaan anak-anak kecil (yang belum memiliki dosa pribadi) dimengerti sebagai hukuman atas dosa asal yang juga melekat pada anak-anak. Hanya dengan itu, keadilan Allah bisa dibelah.

Namun keempat argumen tersebut dinilai tidak mencukupi dan kurang radikal. Diperlukan jawaban yang lebih integral berhadapan dengan masalah penderitaan. Sebab persoalan penderitaan tetap tersembunyi baik bagi orang beragama ataupun kaum ateis. Penderitaan sebagai realitas negatif tidak terselami dan melibati upaya penjernihan yang tidak mudah.

Oleh karena itu, pertama, berhadapan dengan persitiwa penderitaan, manusia diharapkan mampu menerima penderitaan itu sebagai fakta yang ada dan akan selalu ada terlepas dari apakah anda ateis ataupun beragama. Sebab sungguhpun kaum ateis menolak eksistensi ada-Nya tidak menjadi jaminan bahwa ia akan bebas dari fakta penderitaan ini. Penderitaan tidak punya urusan dengan siapa anda dan status anda. Penderitaan ada sebagai fakta ontologi dari eksistensi manusia sebagai pengada riil. Ia melekat pada struktur ontologi manusia.

Oleh karena penderitaan itu fakta yang tak bisa ditolak. Kedua, di hadapan fakta penderitaan, manusia perlu mangaktifkan sikap yang lebih terbuka dan menerimanya secara realitis. Hanya dengan bersikap realistis, penderitaan bisa ditanggung dan diterima saat penderitaan itu menimpa kita. Dengan menanggung dan menerima penderitaan secara realistis, kita bisa memerangi dan mengatasinya dengan sekuat tenaga dan segala daya kemampuan kita.

Akhirnya, ketiga, pokok yang cukup penting adalah mengolah dan mengintegrasikan penderitaan itu dengan kehidupan manusia secara total. Penderitaan diterima dan diakui sebagai bagian faktual dari cara mengada manusia. Hanya dengan itu, ada kemungkinan bagi manusia untuk bisa mentransendensi diri melampaui sekadar realitas negatif: melepaskan diri dari situasi deterministik dan menyentuh pokok lain, yang bagi orang beriman sebut pengharapan.

A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.