Selasa, Januari 26, 2021

Wabah, Membela Eksistensi Tuhan di Hadapan Ateisme (Bagian II))

Mas Kus adalah Korban

Salah satu ritual yang hampir saya lakukan setiap pagi adalah mengecek HP, siapa tahu ada kabar penting yang menggembirakan. Kabar gembira di pagi hari...

Bekal Makan dan Miskonsepsi Feminisme

Pada akhir bulan lalu, tepatnya tanggal 26 Juni 2020 sebuah utas berjudul “Bekal Buat Suami Hari Ini” dikirim oleh akun @rainydecember dan menjadi sebuah...

Berburu Dukun Santet Bernama Radikalisme

Belakangan ini banyak orang risau tentang apa yang mereka sebut sebagai radikalisme dan lunturnya kesadaran akan kebhinekaan. Termasuk di kampus-kampus. Secara spesifik, orang menyebut ancaman...

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...
A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.

Wabah, Jalan Terang Menuju Ateisme

Fenomena Covid-19 menghentak iman banyak kaum beragama! Apakah kepercayaan kepada Allah masih bisa dipertanggungjawabkan di hadapan fakta penderitaan dan ketidakdilan ini? Fakta menunjukkan bahwa manusia makin tunggang langgang di tengah gempuran wabah Covid-19.

Manusia telah bahu membahu mengatasi penderitaan ini namun usaha ini tampak absurd dan manusia merasa sunyi dan kesepian dalam perjuangannya. Telah sekain banyak suara teriakkan minta tolong membumbung naik ke hadapan Allah, namun Allah tampak diam saja. Doa-doa dipanjatkan, sujud takjub dan takzim mengalir deras kepada sosok yang bernama Tuhan itu namun Dia seperti tak memedulikannya.

Di hadapan kematian ribuan manusia yang tak berdosa ini, Tuhan yang disembah itu masih bermoralkah? Seorang manusia bahkan bisa berperilaku lebih baik daripada Allah karena memiliki hati dan niat untuk membantu, bersolider. Allah yang sungguh-sungguh mahakuasa dan mahabaik itu hendaknya tidak berdiam diri dan nampak lemah dan lelah semacam itu. Atau Tuhan sedang berpura-pura?

Dalam arti ini penolakkan Allah untuk ikut beritervensi dalam kehidupan manusia merupakan suatu perilaku yang tidak bermoral. Bagaimana mungkin Dia hanya diam sambil menyaksikan kematian dan penderitaan manusia setiap saat? Kendati manusia itu makhluk terbatas namun ia lebih bermoral daripada-Nya karena manusia berontak terhadap situasi penderitaan dan kematian. Sikap Allah yang membiarkan penderitaan ini terjadi sama dengan ketiadaan Allah. Tuhan sama sekali tidak adil dan lebih baik mengatakan Dia tidak ada daripada ada!

Kendatipun, mungkin, bagi seorang yang beragama, bisa lugas mengatakan bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Tapi bagi seorang ateis, klaim itu adalah lelucon absurd! Mana buktinya? Bukankah setiap hari manusia menderita? Maka, “berhentilah berdoa kepada Tuhan yang tidak bermoral itu dan percayalah kepada sains atau kebebasan manusia. Keduanya akan menuntunmu ke titik terang.”

Memastikan Pemikiran yang Memadai

Pertanyaan, apakah Allah itu ada, bukan sekadar melukiskan kekecewaan manusia terhadap Allah melainkan menukik lebih radikal pada upaya ingin membunuh Allah. Namun pertanyaan ini bisa langsung kena sergap: membunuh Allah itu, mungkinkah? Dengan cara apa, manusia bisa membunuh Allah? Bukankah ia akan jatuh kembali pada suatu proyeksi absurd? Berikut akan dijernihkan sejumlah hal.

Pertama, penderitaan–Covid-19–menerangkan adanya kebaikan sempurna. Realitas adanya penderitaan–Covid-19–pada hakikatnya bukanlah kejahatan melainkan hanya “keadaan kurangnya kebaikan” (privatio boni). Artinya ada suatu realitas kebaikan sempurna. Penderitaan ini menjadi semacam pentunjuk ke arah adanya suatu kebaikan sempurna itu. Dengan demikian realitas penderitaan harus ditempatkan dalam keseluruhan “ada”. Penderitaan ini memang diperlukan demi kebaikan yang lebih terang dan lebih besar itu.

Kedua, realitas negatif diperlukan demi kematangan peradaban dan manusia. Sejarah menunjukan bahwa peradaban terbentuk dan mengalami kematangan karena manusia berhasil mengatasi aneka realitas buruk. Peradaban dan kebudayaan umat manusia adalah produk upaya manusia mengatasi realitas-realitas negatif yang menerpa dan menyusahkannya.

Ketiga, realitas negatif sebagai sarana Tuhan menjalankan karya-Nya. Misalnya Firaun bertobat setelah anak sulungnya meninggal kena tulah dari Tuhan (Kel 12. 29). Artinya, apa pun yang dialami, penderitaan ataupun kejahatan, harus diterima karena sesuai dengan keadilan Tuhan. Orang mengakui kemahakuasaan dan keadilan Allah dengan menyaksikan adanya penderitaan dan kejahatan di dunia ini. Argumentasi ini sering dipakai oleh orang beriman untuk membenarkan wabah hari ini.

Keempat, penderitaan dan kejahatan lahir dari kebebasan manusia. Penderitaan ini bukan berasal dari Allah karena bertentangan dengan hakikat Allah yang mahabaik dan mahaadil. Tidak mungkin dari-Nya lahir yang buruk (Allah itu summum bonum). Penderitaan di dunia ini disebabkan oleh manusia yang salah menggunakan kebebasannya. Sikap dan tindakan pongah manusia sendirilah menghasilkan penderitaan dan keburukkan.

Lalu bagaimana dengan kematian bayi yang tak berdosa? Agustinus, seorang filosof cum teolog Kristen abad pertengahan, memecahkan masalah ini dengan teorinya tentang dosa asal. Baginya dosa asal kena pada setiap orang tanpa terkecuali. Maka, penderitaan anak-anak kecil (yang belum memiliki dosa pribadi) dimengerti sebagai hukuman atas dosa asal yang juga melekat pada anak-anak. Hanya dengan itu, keadilan Allah bisa dibelah.

Namun keempat argumen tersebut dinilai tidak mencukupi dan kurang radikal. Diperlukan jawaban yang lebih integral berhadapan dengan masalah penderitaan. Sebab persoalan penderitaan tetap tersembunyi baik bagi orang beragama ataupun kaum ateis. Penderitaan sebagai realitas negatif tidak terselami dan melibati upaya penjernihan yang tidak mudah.

Oleh karena itu, pertama, berhadapan dengan persitiwa penderitaan, manusia diharapkan mampu menerima penderitaan itu sebagai fakta yang ada dan akan selalu ada terlepas dari apakah anda ateis ataupun beragama. Sebab sungguhpun kaum ateis menolak eksistensi ada-Nya tidak menjadi jaminan bahwa ia akan bebas dari fakta penderitaan ini. Penderitaan tidak punya urusan dengan siapa anda dan status anda. Penderitaan ada sebagai fakta ontologi dari eksistensi manusia sebagai pengada riil. Ia melekat pada struktur ontologi manusia.

Oleh karena penderitaan itu fakta yang tak bisa ditolak. Kedua, di hadapan fakta penderitaan, manusia perlu mangaktifkan sikap yang lebih terbuka dan menerimanya secara realitis. Hanya dengan bersikap realistis, penderitaan bisa ditanggung dan diterima saat penderitaan itu menimpa kita. Dengan menanggung dan menerima penderitaan secara realistis, kita bisa memerangi dan mengatasinya dengan sekuat tenaga dan segala daya kemampuan kita.

Akhirnya, ketiga, pokok yang cukup penting adalah mengolah dan mengintegrasikan penderitaan itu dengan kehidupan manusia secara total. Penderitaan diterima dan diakui sebagai bagian faktual dari cara mengada manusia. Hanya dengan itu, ada kemungkinan bagi manusia untuk bisa mentransendensi diri melampaui sekadar realitas negatif: melepaskan diri dari situasi deterministik dan menyentuh pokok lain, yang bagi orang beriman sebut pengharapan.

A. Jefrino Fahik
Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta. Anggota penulis pada komunitas LSF Nahdliyyin.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.