Sabtu, Januari 16, 2021

Vaksin Demi Kesehatan Rakyat

Soal Starbucks, Ustadz Abdul Somad Kurang Gaul dan Kurang Piknik

Alkisah, ada orang yang sudah enak di surga, eh, tiba-tiba ditarik dan dipindah ke neraka. Lho kok bisa? Ternyata, usut punya usut, orang tadi...

Pilihan “Tiket” Basuki

Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta adalah pusat perhatian. Etalase dari semua aktivitas ekonomi dan politik kenegaraan. Saya kira hampir semua penduduk negeri ini dalam...

Membantah Klaim-klaim Penegakan Khilafah

HTI adalah sebuah organisasi politik transnasional yang berupaya mewujudkan mimpi di siang bolong menegakkan sistem politik khilafah di berbagai belahan dunia, tak terkecuali yang...

Sejarah Peluh dan Keluh di Hari Buruh

Di tanah pembuangan bernama Boven Digul, Marco Kartodikromo melaporkan peristiwa penting dan bermakna di hari buruh. Marco, jurnalis dan sastrawan, mengisahkan geliat kaum pergerakan....
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Pemerintah berjuang penuh demi kesehatan rakyat. Keseriusan untuk menemukan vaksin Covid-19 adalah langkah yang sangat tepat. Karena vaksin merupakan solusi yang menjadi harapan rakyat Indonesia untuk keluar dari berbagai krisis yang diakibatkan oleh pandemi ini

Upaya diplomasi untuk mendapatkan akses global terhadap vaksin gencar dilakukan. Pada Agustus lalu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi bersama Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi China untuk menjalin kerjasama terkait pengadaan vaksin dari Sinovac Biotech.

Indonesia melalui PT Bio Farma meraih komitmen 40-50 juta dosis dari Sinovac hingga Maret tahun depan, dari total keseluruhan mencapai 260 juta dosis. Bio Farma yang merupakan salah satu BUMN farmasi telah menggelar uji klinis fase 3 terhadap vaksin Sinovac melibatkan 1.620 orang relawan.

Selain dengan Sinovac, Retno dan Erick juga bertemu dengan pimpinan Sinopharm dan Cansino Biologics. Sinopharm sedang melakukan uji klinis fase 3 di Uni Emirat Arab (UEA) bekerjasama dengan G42. Indonesia mengirim tim reviewer untuk memantau perkembangan uji klinis tersebut.

Baru-baru ini Retno dan Erick terbang ke Inggris untuk mendapatkan komitmen pengadaan vaksin dari AstraZeneca sebanyak 100 juta dosis. Selain itu Indonesia melalui Bio Farma menjalin kerjasama multiteral pengembangan vaksin dengan Coalition for Epidemic Preparedness Innovation (CEPI).

Berlanjut di Swiss, kerjasama multilateral serupa dilakukan dengan masuknya Indonesia ke dalam COVAX Facility dari Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI) yang menjamin akses vaksin Covid-19 bagi negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah dengan cara subsidi.

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus secara khusus mencuit di akun Twitter dalam bahasa Indonesia, mengapresiasi langkah solidaritas Indonesia untuk bekerjasama dengan partner multilateral untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

Sementara itu Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan kembali menemui 3 produsen vaksin terkemuka China. Ketiga vaksin dari Sinovac, CanSino, dan Sinopharm telah diupayakan di berbagai negara untuk mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use authorization, EUA).

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diketahui berwenang untuk mengeluarkan izin EUA meskipun uji klinis fase 3 belum selesai dilakukan, dengan tetap mengevaluasi risikonya. Pemerintah berencana mempercepat vaksinasi mulai awal November di sejumlah kota seperti Depok dan Bogor.

Presiden Jokowi sendiri menyatakan agar jangan tergesa-gesa melakukan vaksinasi. Jajaran pemerintah diminta untuk memperbaiki komunikasi publik dalam berbagai aspek.

Menurut Presiden, vaksinasi merupakan masalah yang kompleks karena menyangkut persepsi masyarakat. Hal-hal terkait kualitas, distribusi, implementasi di lapangan, harga, hingga soal kehalalan vaksin perlu dijelaskan dengan baik. Keterbukaan informasi menjadi sangat penting.

Aspek kehalalan vaksin termasuk yang menjadi perhatian Presiden, mengingat Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Pada 2018 Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap vaksin campak measles-rubella (MR) karena mengandung babi. Walaupun pada akhirnya membolehkan karna dasar kedaruratan yang diperbolehkan oleh Syar’i.

Organisasi Islam modernis terbesar Muhammadiyah pernah memfatwakan mubah (boleh) penggunaan vaksin polio yang mengandung enzim babi, sepanjang belum ada vaksin lain. Pertimbangannya, babi maupun polio sama-sama bersifat mafsadah (kerusakan), maka dipilih yang lebih ringat mudaratnya.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin menjamin pelibatan MUI termasuk dalam kunjungan ke China untuk melihat kualitas dan kehalalan vaksin Sinovac dan CanSIno. Sedangkan vaksin Sinopharm sudah dinyatakan tidak bermasalah oleh majelis ulama di Abu Dhabi (UEA), menurut penjelasan direksi Bio Farma.

Di tengah masih kuatnya teori konspirasi dari kelompok-kelompok anti-vaksin, peran MUI dan ormas-ormas Islam menjadi sangat penting untuk membantu pemerintah dalam sosialisasi vaksin. Bahkan masih banyak yang menganggap Covid-19 tidak ada dan hanya konspirasi semata.

Para ulama dan pemuka agama harus berperan kuat dalam memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa vaksin Covid-19 merupakan situasi darurat di tengah polemik apakah vaksin tersebut sudah tersertifikasi halal atau belum.

Demikian pula soal rencana vaksinasi darurat, harus ada penjelasan yang transparan kepada publik. Jangan sampai karna ketergesa-gesaan akan mempengaruhi rencana dan tahapan yang telah disiapkan pemerintah. Sosialisasi dan Kepercayaan menjadi kunci keberhasilan program vaksinasi.

Bagaimanapun, vaksin merupakan opsi utama dalam pemulihan ekonomi. Kesulitan hidup dan ekonomi rakyat sudah sangat berat akibat Covid-19. Perlu dukungan dari semua kalangan, termasuk untuk terus menjaga kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan pada semua aktivitas.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.