Senin, April 12, 2021

Upaya Megawati Meredam Mega Golput

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Awas! Ada Musang Pro Koruptor Di KPK

Tidak kurang dari 384 orang siap “bersitungkus lumus” untuk memenangkan bursa pemilihan calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejauh yang dapat diamati, daftar...

Kapan Indonesia Punya De Lijn?

"Sampai ketemu di stasiun pukul 13.00," tulis lelaki yang belakangan menjadi teman kencan saya melalui Whatsapp.   Ya, saya tahu prolog dari tulisan ini menjijikkan. Tapi,...

Perasaan Suporter dan Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2016

Buat sebagian orang, "kalah" bukanlah kata kerja, melainkan kata sifat. "Kalah" memuat banyak unsur yang biasanya sama sekali tak diinginkan: marah, jengah, memalukan; menjadi...

Di Indonesia, golput selain dinyatakan haram dan mendapat cemooh. Juga distempel sebagai pemalas, benalu, dan bahkan sakit jiwa! Lebih dari itu, seorang menteri sampai mengeluarkan ancaman bahwa golput dapat dipidana dengan UU ITE karena tindakannya dianggap mengacau. Termutakhir, orang yang pernah digadang untuk memimpin people power di era kekuasaan Soeharto yang tiada akhir, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, menyatakan kalo golput merupakan tindakan pengecut, tidak punya harga diri, dan tidak layak menjadi WNI.

Luar biasa. Dari seorang moralis seperti Frans Magnis, walaupun kemudian pernyataan “hinaan” tersebut dicabut karena menjadi tidak enak hati atas betapa emosionalnya dia, golput dianggap sebagai orang yang tidak bermoral. Dari menteri hukum, Wiranto, golput dikatakan sebagai kejahatan yang harus berbuah pemenjaraan. Dan akhirnya, Megawati Soekarnoputri, tokoh yang dapat dikatakan memiliki saham suara terbanyak di negeri ini, ibu dari semua wong cilik Indonesia, menyatakan bahwa golput tidak layak lagi hidup di Indonesia.

Serius, bagian terakhir itu yang paling menyakitkan. Benarkah golput sebiadab itu sehingga kewarganegaraannya dianggap tidak layak?

Mohamed Salah atau populer dengan sebutan Mo Salah, pesepakbola yang menjadi legenda hidup Mesir yang merumput di Liverpool tidak perlu menjadi capres fiktif seperti Nurhadi-Aldo untuk mampu menjadi runner up di pilpres Mesir tahun 2018. Dengan sistem contreng pulpen, cara yang lebih maju tapi justru sudah ditinggalkan Indonesia yang lebih percaya pada keampuhan paku, para pemilih membubuhkan nama Mo Salah di kertas suara.

Jumlahnya pun tidak bisa dibilang sedikit. Sekitar 7 persen dari pemilih terdaftar menuliskan untuk kemudian memberikan contrengan di depan nama Mo Salah. Itu dilakukan setelah memberikan tanda silang di depan dua nama kandidat resmi, Abdel Fattah Al-Sisi dan Moussa Mostafa Moussa. Hasil akhirnya pun sebenarnya terbilang fantastis, nyaris sempurna. 97,08 persen pemilih mengantarkan Sisi untuk memimpin mesir.

Ada fakta yang membuat miris di balik kemenangan mencengangkan tersebut. Dari sekitar 59juta pemilih yang terdaftar, hanya 41,05 persen yang berangkat ke TPS. Sudah tingkat partisipasinya terhitung sangat rendah, masih juga dikurangi rusaknya kertas suara yang didominasi suporter Mo Salah. Dalam bahasa kekinian, pemenang pilpres Mesir tahun 2018 silam adalah golput! Angkanya pun luar biasa besar, hampir mendekati 62 persen!

Apa yang sebenarnya dilakukan rakyat Mesir, negara yang pertama kali mengakui kedaulatan Indonesia tersebut?

Aksi golput yang mereka lakukan merupakan bentuk protes. Tentu ini bukan hendak memotret peristiwa tersebut secara konspiratif dan juga simplistik. Untuk lebih tau detil potret demokrasi di Mesir setidaknya dalam satu dekade ini, silahkan membaca banyak informasi yang mudah didapat.

Faktanya, rakyat memang enggan untuk memilih calon yang sejak awal sudah terlihat nyata berupaya melanggengkan kekuasaan dengan cara apa pun, termasuk membungkam lawan-lawan politiknya. Terbukti dengan Moussa yang beberapa hari menjelang pemilihan justru mengendorse para pemilih untuk memberikan suara untuk Al-Sisi.

Bukan salah demokrasinya, jika satu tahun setelahnya, parlemen mesir membuat sejumlah keputusan amandemen konstitusi yang kontroversial terkait masa jabatan presiden. Ada upaya sangat kuat untuk mendudukkan Al-Sisi menduduki kursi kepresidanan setidaknya sampai tahun 2034, dengan pelaksanaan pilpres setiap 6 tahun, dari semula 4 tahun sekali. Situasi yang terbaca sudah sejak lama tersebut, benar-benar membuat pelaksanaan demokrasi di Mesir benar-benar memasuki masa suram.

Begitulah kutukan kekuasaan bekerja, selalu ada upaya untuk mempertahankan kursi maupun upaya untuk merebutnya. Dalam pandangan yang juga tidak menyederhanakan masalah maupun penuh konspirasi, hal yang kurang lebih sama tengah terjadi di Indonesia. Belum semuram Mesir memang, tetapi infrastruktur demokrasi yang telah dibangun dan diperjuangkan sejak era reformasi terkadang, kalau enggan dikatakan sering, membuat pikiran kita tidak dapat berkembang secara optimal.

Di Indonesia, jumlah partai yang lebih dari selusin di setiap pemilu, seolah demokrasi kita tengah di era yang gilang gemilang. Seolah kita tengah di masa keemasan bahwa dengan beragam platform yang ada, rakyat Indonesia diberi kebebasan untuk melaksanakan pesta demokrasi. Tetapi faktanya tidak seperti itu.

Ambang batas pencalonan presiden yang terlalu tinggi memungkinkan partai yang menjadi peserta pemilu walau berbeda platform, dan mungkin ideologi, bermain mata tanpa kenal ruang dan waktu.  Bukan saja di level daerah, tapi juga secara nasional. Tanpa merasa perlu bertanya kepada konstituennya.

Belum kita dihadapkan pada duel klasik yang seperti tidak mengenal waktu dan akhir, Jokowi vs Prabowo.  Di panggung debat keduanya saling mengaku teman, jadi wajar sebenarnya kalau kita akan jalan di tempat. Pihak yang disebut pertama tidak mampu menyelesaikan serangkaian pelanggaran HAM seperti yang telah dijanjikannya. Sementara pihak kedua telah dilaporkan, dinyatakan melanggar HAM, tetapi tetap dinyatakan “layak pilih” oleh KPU.

Perihal golput, jika ditinjau dengan literatur demokrasi di mana pun merupakan hak tersebut. Karena sebagian besar penolaknya tidak akan pernah paham bahwa pelaksanaan demokrasi tidak sekedar mengandalkan retorika lesser of two evil. Secara personal orang boleh saja setuju bahwa Jokowi lesser evil.

Hanya saja narasi tersebut tetap ditolak oleh kaum golput yang sebenarnya melantangkan, “tidak memilih Jokowi, apa lagi Prabowo”. Pelabelan “Jokowi lebih baik” oleh Frans Magnis dan Wiranto dapat dimaklumi, walaupun alasannya sangat mungkin berbeda. Jika Magnis atas pertimbangan moral, maka Wiranto merasa lebih aman jika Jokowi tetap berkuasa. Siapa sih tidak mengerti soal rivalitas di tubuh angkatan darat di masa orde baru?

Megawati, orang yang dibesarkan saat demokrasi di Indonesia mendapatkan cobaan terburuknya. Justru yang paling sulit dipahami.  Bagaimana dia bisa sesengak itu terhadap golput?

Dia dibesarkan oleh golput begitu orde baru tumbang. Indikasinya jelas, selama orde berkuasa, PDI selalu mendapat nomer 3 setelah Golkar dan PPP.  Saat akan membesar pun, dibenturkan dan dipecah menjadi PDI dan PDI-P. Ya, PDI bagaikan partainya orang kudisan. Terpinggirkan, mewadahi orang minoritas baik agama maupun ras. Bahkan bilamana perlu, dihembuskan mewadahi para interniran paska 1965.

Kemana suara golput begitu Indonesia memasuki era reformasi, pasca Soeharto lengser?

Sebagian besar masuk PDI-P. Partai yang melabeli dirinya partai wong cilik tersebut dengan cepat menguasai suara pemilih. Pada Pemilu 1999 tersebut, PDI-P memperoleh suara sebanyak 33,74 suara. Pertama kalinya dalam sejarah PDI-P mengandaskan Golkar dan PPP. Pencapaian yang fantastis. sementara 2 tahun sebelumnya di Pemilu 1997, PDI hanya menorehkan suara sekitar 3 persen suara.

Benar, orang simpati pada kesulitan dan kesempitan yang dialaminya saat mengawal PDI. Semua orang yang ingin menegakkan marwah demokrasi mendukung perjuangannya. Dia menjadi simbol perlawanan rakyat tertindas untuk menghadapi penguasa tiran. Tidak heran kalau orang bersimpati pada partai tersebut, untuk kemudian bahu membahu memenangkannya.

Padahal modal para pendukungnya terhitung tipis dan penuh permakluman. Walau pun dia seorang ibu rumah tangga, walau pun dia tidak punya pengalaman mengelola unit pemerintahan terkecil sekali pun, dan walau pun dia hanya seorang perempuan yang kebetulan terlahir sebagai anak dari laki-laki yang pernah menjadi tokoh paling berpengaruh di Indonesia, Soekarno! Tokoh yang sampai detik ini sering “dibangkitkan” dari kubur untuk mendongkrak perolehan suara.

Jadi kalau sekarang seorang Megawati berbicara soal harga diri, orang yang sudah memutuskan golput mau ngomong apa? Siapa yang sebenarnya bermasalah dalam persoalan ini, para penyokong golput atau justru dia yang tengah bermasalah dengan dirinya. Bagaimana dia bisa mengatakan para golput tidak layak menjadi WNI? Sementara dalam setiap pidatonya menggelorakan Merdeka.

Bagaimana bisa hal keliru memahami hal mendasar dalam demokrasi kok bicara merdeka? Sementara dia dengan kesadaran penuh memberikan dukungan untuk golput di tahun 1997. Mengapa tidak memilih PPP saja misalnya, untuk membuktikan Megawati bukan pengecut? Kalau benar bahwa pemilu itu sekadar memilih lesser evil.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.