Senin, Januari 18, 2021

Ulama Salafi, Tajam Penanya Bukan Keras Mikrofonnya

Perang Media di Mina

  Belum usai tangis sanak saudara korban tragedi Mina yang menewaskan hampir seribu orang, peristiwa tersebut telah memunculkan “tragedi” lanjutan: pertempuran opini tentang apa sebenarnya...

(Bukan) Ekonomi Berbagi: Catatan untuk Rhenald Kasali

Ketika para sopir taksi dan kendaraan umum memarkir kendaraan di berbagai sudut Jakarta Selasa (22/3) lalu, dan kemudian terlibat tindakan-tindakan anti-sosial dan destruktif, di...

Konstitusionalisme Pemakzulan Presiden

Upaya pemakzulan Donald Trump memasuki babak baru. Setelah melalui tahapan di Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representative) yang telah dimulai sejak tanggal 18 Desember 2019. Maka...

Riyanto “Melawan” Fatwa MUI

Dini hari Natal kemarin, melalui akun pribadi saya: @Husen_Jafar, saya cuitkan penggalan film berjudul "?" (Tanda Tanya) karya Hanung Bramantyo yang tayang 2011 lalu....
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Peradaban dibangun oleh budaya baca—literat. Bukan pidato di panggung sambil jari menunjuk berharap applaus. Lebih serem lagi, ngaku failasuf produksinya meme.

Peradaban Yunani kuno dibangun oleh kecerdasan Aristoteles, Socrates, Plato dkk—buah pikirnya masih terus relevan: Demokrasi, Moobcrasi, Republik, Monarchy, Oligrarchy, Diktatur, Gladiator, Zoon Politicon; dan lainnya adalah pikiran-pikiran bening yang terus di ulang-ulang hingga hari ini karena tidak kehilangan relevansi.

Mereka adalah para pemikir—failasuf yang tak lekang karena panas dan tak lapuk karena hujan. Tradisi baca tulis pada masa Yunani sungguh menakjubkan—para failasuf itu layaknya nabi atau suluh yang mencerahkan. Dari para failasuf itulah peradaban modern berpijak.

Berbeda dengan tradisi Yunani Kuno, peradaban Microsoft justru sebaliknya, Walter J Org penulis buku, Literaty and Orality—menyebut bahwa kelisanan primer (primer orality) adalah peradaban paling bawah—meski hidup dalam jaman Revolusi Microsoft tapi tetap saja menggunakannya sebagai bahasa cakap.

Tradisi share dan copas justru lebih mengemuka dibanding tradisi baca (iqra) dan tulis (qalam) sebagaimana diajarkan Islam. Tradisi baca dan tulis melahirkan peradaban—tradisi kopas dan share melahirkan kawanan hoax.

Ulama Salaf adalah para cendekiawan, penulis dan pembaca yang baik—mereka biasa berjam-jam dan berlama-lama di pespustakaan melakukan riset, tahqiq, mensyarah hingga menterjemah. Ulama salaf menghasilkan kitab bukan meme.

Setidaknya artikel, manuscript atau suhuf yang dikodifikasi menjadi kitab. Ada ratusan kitab dan syarh lahir dari buah pikir ulama-ulama terdahulu—(mutaqodimin.). Dari tulisan-tulisan merekalah peradaban Islam dibangun.

Kita mengenal ulama-ulama salaf dari tiga generasi emas pertama—karena karyanya—semisal Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin Yaman, Abdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, kemudian generasi Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Bukhari , imam Muslim, Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Abu Hasan al Asyari, al Hasan Bashri, Nafi bin Hurmuz mereka disebut ada karena tulisannya bukan dari pidato nya. Kita bisa bayangkan ‘tanpa karya mereka’ entah darimana kita mengenal Islam.

Para ulama salaf mewakafkan dirinya menjadi bagian peradaban Islam mulia—mereka tercerahkan (raushnfikir) dengan tradisi literasi yang kokoh sebagai pusat episentrum kemajuan.

Para ulama salaf memberikan uswah—tentang tradisi membaca dan menulis—terbuka dan inklusif terhadap perubahan dan dinamika—tidak taqlid dan fanatik buta pada masyayikhnya saja. Tradisi inilah yang menjadikan masa salaf menjadi generasi emas, generasi teladan sebagai sumber moral dan etik.

Ke-salaf-an tidak dibangun sebatas simbol pakaian atau atribut, hanya agar bisa ‘berlagak’ salaf — prilaku nyalaf atau Salafi hanya lah simbol bukan substansi—jargon Salaf kembali pada al Quran dan as Sunah adalah kekokohan akademik, kekuatan literasi dan karya nyata sebagai bukti amal saleh. Puluhan perpustakaan, pusat riset dan nizamiyah kokoh berdiri menjadi bukti kerja keras para ulama salaf yang serius dan sungguh-sungguh.

Para salaf juga akrab dengan pikiran-pikiran dunia luar—bahkan banyak menterjemahkan karya karya failasuf Yunani—mereka berdiskusi, memberi catatan kecil, mentahqiq dan memberi syarh. Tradisi mana kemudian menghilang dan berubah menjadi tradisi lisan dan visual yang rendah. Hanya semacam kawanan orator yang sedang lomba pidato tapi miskin literasi. Maka betapapun ribuan atau jutaan applause yang di dapat hanya riuh seperti buih tanpa bekas.

Dalam sebuah narasi yang bagus Buya HAMKA bertutur indah:

“Lapangan siasat bukan medanku, Aku dikenal seorang pujangga.
Yang bersayap terbanglah laju. Aku kan tetap pahlawan pena”

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.