Senin, Januari 18, 2021

Trump di Twitter, Drama di Capitol Hill dan Kisah Banana Republic

Jorge Mendes: “Sahabat yang Dimintai Nasihat”

Ketika Jose Mourinho dan Nuno Espirito Santo berpelukan usai hasil imbang 1-1 antara Manchester United dan Wolverhampton Wanderers, diiringi gerundelan yang tertahan di langit-langit...

Kewarganegaraan Arcandra Tahar dan Nasionalisme Kita

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Acandra Tahar akhirnya diberhentikan secara hormat oleh Presiden Joko Widodo dengan alasan adanya kewarganegaraan ganda. Pemberhentiannya diumumkan oleh...

Bang Ben dan Cita-cita Museum Betawi

Pagi itu, saat saya berada di luar rumah, Enyak saya memanggil dengan keras, “Yud, kemari!!!” Dengan berlari, saya lalu menghampirinya. Enyak saya menunjukkan sebuah berita...

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...
Denny JA
Denny JA
Entrepreneur

Apa yang dapat kita pelajari dari sinetron politik satu hari itu? Ya, tanggal 6 Januari 2021, Gedung Capitol Hill, di Washington DC, tempat anggota legislatif Amerika Serikat bersidang diserang massa. Ini serangan massa yang pertama di gedung itu sejak tahun 1814. Sekitar 206 tahun lalu, area itu diserang oleh tentara Inggris. Tapi kini massa yang menyerang gedung itu warga Amerika Serikat sendiri.

Para pimpinan dan anggota senat dievakuasi. Massa sempat menguasai ruangan. Terdengar bunyi tembakan. Juga bunyi ledakan. Teriakan massa. Dan Empat orang tewas.

Ada massa yang sempat-sempatnya berfoto dan selfie di ruangan itu. Ada yang berani mencuri meja podium tempat anggota senat pidato. Ada yang membawa pulang bendera pusaka Confederate Battle yang dipajang di lantai dua.

Massa datang dengan spirit yang sama. Mereka ingin anggota Senat membatalkan kemenangan Joe Biden dalam Pemilu Presiden. Menurut mereka, Trump yang menang. Pemilu telah dicuri. Pencurinya radikal kiri Partai Demokrat. Dan Joe Biden? Biden hanyalah boneka yang bergerak untuk kepentingan Cina.

Dunia terpana. Bagaimana mungkin, pusat demokrasi dunia berubah menjadi Banana Republic?

Istilah Banana Republik ini term popular menggambarkan kondisi negara yang lembek dan lucu seperti buah pisang. Dalam banana republic, lembaga negara tak tertata. Yang berkuasa hanya para patron dan bandar. Mereka bisa sesuka hati memainkan politik.

Ini Amerika Serikat. Ini satu satunya super power yang kini berkuasa. Kok bisa Ia berubah seperti banana republic, walau satu hari saja?

-000-

Hari itu juga drama di Capitol Hill diakhiri. Senat melanjutkan sidang. Dan palu diketuk. Sah sudah. Joe Biden memperoleh sertifikasi kemenangan.

Bagi demokrasi Amerika Serikat yang kokoh, sinetron di Capitol Hill itu tak akan berlangsung lama.  Tapi tetap saja membuat semua terpana. Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Tapi kita melangkah lebih jauh. Esai ini lebih untuk hikmah. Apa yang dapat kita renungkan dari kisah di atas.

Inilah tiga lessons to learn. Pelajaran pertama, ini era ketika media sosial, khususnya Twitter bisa digunakan sebagai media instruksi politik. Donal Trump, sang presiden yang dikalahkan, menggerakan sentimen massa dari twitternya.

Peristiwa drama itu dimulai tanggal 19 Desember 2020. Saat itu, Trump memposting tweetnya:

“Big protest in DC. On Januari 6th. Be there. Be Wild!”

Sekitar 18 hari sebelum drama Capitol Hill, Trump sudah memberi aba- aba. Twitter menjadi mediumnya. Ia meminta pendukungnya siap siap berkumpul di Washington DC. 6 Des 2021. Tak lupa pesannya: Be Wild! Liarlah!

Followers Trump di twitter itu 88 juta. Sejak lama Trump menggunakan akun twitternya untuk komunikasi publik. Ia acap umumkan rencana kebijakan. Ia juga sangat sering menyerang lawan politik lewat twitter.

Melalui akun twitter itu pula, berulang-ulang Trump membakar pendukungnya bahwa sebenarnya Trump yang menang pemilu presiden.

“Kita menang besar.” “Tapi kemenangan kita dicuri.” “Hati hati dengan pencuri pemilu: kelompok kiri radikal.” “Jangan menyerah.” “Kita akan dapatkan kembali kemenangan kita.”

Melalui twitter pula, Trump kemudian menenangkan massa pendukungnya yang menyerbu Capitol Hill.

Tanggal 6 Januari 2021 itu, Trump mentweet beberapa kali.

Jam 3:13 pm

“I am asking everyone in Capitol Hill remain peaceful. No violence! Remember, we are the party of law and order.

Respect our great men and women in blue. Thank you”

Jam 4:17, Trump kembali mentweet pesan video sekitar 1 menit atas desakan banyak pihak.

Antara lain, Ia mengatakan:

“You have to go home now. We have to have peace. We have to have law and order.”

“I know how you feel. But go home and go home in peace.

Ini memang era politik digital. Hanya dengan handphone di tangan, siapapun bisa melakukan sendiri: mengirim instruksi politik. Mengirim pesan ke publik luas! Apapun isi tweet, pesannya akan sampai kepada siapa saja, dimana saja. Pelajaran pertama: Politik digital semakin efektif

Pelajaran kedua, demokrasi yang sudah kokoh melahirkan pembelanya sendiri. Tanpa diminta. Tanpa komando. Ramai- ramai pihak yang sadar bersikap. Trump sudah keterlaluan. Ia membahayakan aturan main demokrasi. Ia harus disetop.

Maka, twitter langsung menggembok akun Trump. Sampai batas waktu yang ditentukan, Trump tak bisa lagi mengirim pesan lewat akun itu.

Facebook juga mengikuti jejak twitter. Hingga transisi kekuasaan presiden ke Joe Biden berlangsung, Trump tak bisa menggunakan akun facebooknya. (1)

Maka, elit bisnis pun bereaksi. Ada 13 senator yang militan membela Trump untuk menolak hasil pemilu presiden.

Kaum pebisnis ini memberi peringatan. Mereka akan mencatat politisi yang potensial merusak tata lembaga demokrasi. Mereka akan bersatu untuk menolak menyumbangkan dana bagi kampanye para politisi itu. (2)

Maka, mantan presiden pun bereaksi. Obama, Bush, Clinton dan Carter membuat pernyataan publik. Mereka menyadarkan kolega dan rakyat Amerika Serikat, agar tak kehilangan jati diri Amerika.

Negara itu besar karena memelihara respek kepada prosedur dan hasil pemilu. Maka, wakil presiden Trump: Mike Pence pun bereaksi. Ia dikenal sangat setia kepada Trump. Lagi pula, Ia memegang posisi kunci. Ia adalah pimpinan senat untuk memutuskan serifikasi bagi kemenangan lawan politiknya.

Tapi ketika tradisi demokrasi dipertaruhkan, Pence bersikap. Ia menyatakan tak ingin melawan kehendak rakyat. Nyata sudah. Memang Joe Biden yang menang pemilu. Wakil presiden Trump, Mike Pence pun melegalkan kemenangan Joe Biden.

Maka, media pun ramai ramai mendorong transisi kekuasaan presiden secara damai. Ini pelajaran kedua: Self Correcting System dalam demokrasi. Dalam iklim kebebasan, akan lahir sendiri para pembela apa yang benar dan apa yang adil. Itulah keindahan demokrasi.

Pelajaran ketiga; Donald Trump di tahun 2016 menang secara demokratis. Bahkan Adolf Hittler pun di puncak kekuasaan menang secara demokratis. Karena satu dan lain hal, bahkan demokrasi dapat memilih pemimpin yang salah. Kharisma, kemampuan retorik, populisme pemimpin, dan psikologi kolektif masyarakat yang sedang down, dapat menjadi penyebab memilih pemimpin yang salah.

Pelajaran ketiga lebih soal warning: hati- hati memilih pemimpin. Sang pemimpin yang terpilih bisa mengangkat hidup kita. Tapi Ia juga berkuasa merusak tradisi baik yang sudah tertanam sejak lama. Makin berpengaruh pemimpin itu, jika buruk, makin hebat pula daya rusaknya.

-000-

Selesai sudah drama di Capitol Hill. Selesai sudah kisah banana republik sehari di Amerika Serikat. Selesai sudah era Donald Trump.

Keluar dari kisah di atas, bertambah referensi kita untuk semakin hati-hati. Terutama hati-hati dengan tokoh yang gemar memainkan sentimen massa. Baik tokoh itu sekuler. Ataupun tokoh itu pandai berkedok agama.

CATATAN

1. twitter dan facebook juga snapchat menggembok akun Donald Trump

https://www.cnet.com/google-amp/news/trump-blocked-from-twitter-facebook-snapchat-after-violence-on-capitol-hill/

2. Elit bisnis juga bersikap melawan Trump dan pendukung

https://www.google.co.id/amp/s/financialpost.com/financial-times/they-dont-like-the-idea-america-is-a-banana-republic-diehard-trump-republicans-on-collision-course-with-u-s-business/wcm/2bfbb66b-4f7c-4fd5-a66e-b5ba5eb0a0d4/amp/

3. Empat mantan presiden AS bersikap

https://www.katc.com/news/national-politics/former-u-s-presidents-react-to-chaos-on-capitol-hill-sickening-and-heartbreaking-sight?_amp=true

4. Bahkan wakil presiden Trump, Mike Pence, juga bersikap berbeda dengan Trump

https://www.nytimes.com/2021/01/05/us/politics/pence-trump-election-results.amp.html

Asal tulisan dari Facebook DennyJA_World https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3536993063063484/?d=n

Denny JA
Denny JA
Entrepreneur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.