Minggu, Oktober 25, 2020

Tragedi 1965 dan Sejarah yang Kalah

Habibie, Musik, dan Jasanya Pada Indonesia

Ada dua presiden RI yang sangat penting dalam karir artistik saya, yaitu KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan BJ Habibie. Banyak yang sudah...

Mendukung Atalanta, Agar Tercipta Dunia yang Adil

Awal Februari lalu, Aun Rahman dan Randy Aprialdi di Youtube Ligalaga,  memprediksi Juventus untuk menjuarai Serie A musim 2019/2020. Prediksi keduanya tepat. Keduanya juga memprediksi...

Hak Angket KPK yang Tidak Beretiket

Sebenarnya saya sudah sangat bosan menulis tentang berbagai kegaduhan yang disuguhkan para wakil rakyat di Senayan. Tetapi mereka agaknya tidak bosan-bosannya menghadirkan perilaku yang...

Kartini dan Politik (Partai) Wanita!

Salah satu bolong besar dalam pergerakan dan perjuangan politik perempuan, terutama dalam alam politik demokrasi liberal, barangkali adalah tidak adanya partai politik perempuan. Secara...
Rahadian Rundjan
Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.

pancasila-sakti
Monumen Pancasila Sakti, di Jakarta Timur, Senin (26/9). ANTARA FOTO/Risky Andrianto/

Sebuah pepatah Afrika mengatakan, “until lions have their historians, tales of the hunt shall always glorify the hunter.” Sampai yang namanya singa itu bisa menulis, para pemburu dapat menggembar-gemborkan aksi berburunya dan menjustifikasi pembunuhan terhadap si singa adalah perlu untuk melindungi orang lain dari kebuasannya.

Bayangkan ketika singa sudah bisa menulis. Ia bisa mendebat klaim para pemburu dan menceritakan kisah dari sudut pandangnya sendiri: bagaimana ketakutannya si pemburu menghadapi kekuatan alam liar, bagaimana hanya demi pemuasan nafsu semata membuat dirinya membunuh makhluk hidup yang tak berdaya, dan lain-lain. Sampai akhirnya terungkaplah mana sebenarnya makhluk hidup yang paling buas terhadap sesamanya.

Hal di atas paralel dengan pepatah, “sejarah ditulis oleh para pemenang”. Tidak tepat, untuk saya. Memang, layaknya hukum rimba, pihak yang menang dalam suatu konflik dapat sesuka hati mengglorifikasi dalil perjuangannya. Para pemimpin besar dalam sejarah dunia tahu betul pentingnya hal itu.

“Kita akan tercatat dalam sejarah entah sebagai negarawan-negarawan terhebat di dunia atau musuh-musuh mereka yang paling buruk,” ujar Hermann Goring, salah satu petinggi Partai Nazi pada tahun 1937, dua tahun sebelum Jerman membuka tirai Perang Dunia II. Kita semua tahu hasil akhirnya: Jerman kalah, Partai Nazi dikonotasikan sebagai inkarnasi iblis, dan orang-orangnya dicap sebagai para penjahat kemanusiaan paling biadab di dunia.

Namun, kelompok yang kalah tidak harus menjadi kelompok yang musnah. Ruang sejarah harusl disediakan bagi mereka. Idealnya, hal itu dilakukan dengan memberikan kebebasan bagi mereka untuk mencari tahu dan menyuarakan narasi sejarah alternatif tanpa direspons dengan tendensi agresif oleh pihak pemenang.

Kerukunan berdialog inilah yang masih sulit kita dapatkan di Indonesia. Terutama sekali menyangkut sejarah Tragedi 1965. Nampaknya bangsa ini masih belum dapat memahami bahwa tidak ada kata final dalam sejarah, yang selalu membuka ruang interpretasi seluas-luasnya selama itu didukung oleh data dan fakta yang mumpuni.

Sudah banyak contoh dalam sejarah, ketika pihak yang kalah justru lebih lantang dan menyuarakan narasi yang lebih lengkap daripada si menang. Misalnya, sejarah Perang Sipil Amerika (1861-1865), yang dalam beberapa dasawarsa awal pasca perang, lebih banyak ditulis oleh pihak Selatan (Konfenderasi) yang kalah.

Dengan semangat “The Lost Cause”, orang-orang Selatan menuliskan bahwa dalil perjuangan mereka bukan sekadar pro-perbudakan, tetapi juga usaha mempertahankan identitas masyarakat mereka. Pandangan-pandangan dari Selatan inilah yang di kemudian hari membuka lebih banyak fakta tentang Perang Sipil, mengimbangi versi Utara (Serikat) sebagai pihak yang menang.

Singkatnya, semakin banyak aspek yang muncul memicu terjadinya rekonsiliasi sejarah yang berhasil dan berperan dalam membentuk kedewasaan historis dan luasnya cakrawala pikir nasionalisme bangsa Amerika.

Memahami sejarah secara lebih utuh akan amat sulit apabila si menang melakukan eliminasi terhadap narasi sejarah si kalah. Seperti Tragedi 1965, tendensi ini adalah ciri khas Orde Baru. Seperti ditulis dalam Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, negara menjadi sentral dan wakil-wakil negara merupakan aktor sejarah satu-satunya yang memiliki legitimasi.

Karenanya, gema suara di sekitar Tragedi 1965 selalu berkisar tentang subyek-subyek besar: pembunuhan para jendral, pudarnya pamor Sukarno, munculnya Suharto, pelarangan Partai Komunis Indonesia dan ideologinya, dan lain-lain.

Hal itulah yang coba dilawan oleh pemerhati sejarah pasca Orde Baru, beserta pula pegiat hak asasi manusia. Luka sesungguhnya dari Tragedi 1965 adalah “pembersihan” terhadap upaya kudeta yang berujung pada tewasnya kurang lebih 500 ribu orang Indonesia, baik yang tertuduh sebagai antek PKI, golongan minoritas Tionghoa, atau bahkan orang tidak bersalah yang dibuat salah. Tragedi 1965 yang terjadi di masyarakat sudah saatnya dimunculkan untuk melihat dalamnya masalah ini mengingat besarnya kejahatan kemanusiaan yang terjadi.

Namun, sayang, pemerintahan reformasi, yang seharusnya bisa bersikap netral dan mengayomi perjuangan para pembawa narasi alternatif, justru bersikap sinis terhadap kelompok yang disebut terakhir. Elemen masyarakat yang menjadi korban, baik secara sosial, politik, maupun ekonomi, akibat Tragedi 1965 masih kesulitan untuk menuntut keadilan. Terlebih ketika tuntutan tak terbalas ini disambut lebih ganas oleh elemen fundamental dan ekstrim kanan.

Dalam Culture of Defeat, sejarawan Jerman, Wolfgang Schivelbusch, mengatakan bahwa kekalahan adalah pendorong utama bagi pihak yang kalah untuk menemukan dirinya kembali. Sedangkan pihak yang menang cenderung kaku dalam mempertahankan status kemenangannya, menjadi tidak kreatif, dan akhirnya jatuh. Itulah yang terjadi saat ini dalam isu Tragedi 1965.

Di zaman informasi ini, memoar, buku-buku seputar Tragedi 1965 dan tuturan kisah para korban yang viral sudah dengan mudah dapat diakses. Mengandalkan keterbukaan dan kreativitas dalam mengemas isu yang diperjuangkan, narasi sejarah yang sebelumnya kalah ini bangkit, baik di media massa, diskusi-diskusi publik maupun akademik.

Harapan saya adalah, fenomena peninjauan ulang terhadap sejarah ini akan berujung pada rekonsiliasi damai dan Tragedi 1965 tidak lagi gelap bagi publik Indonesia. Terlebih bagi generasi muda seperti saya yang tengah semangat-semangatnya membangun identitas keindonesiaannya: kami hanya tidak ingin dipropaganda dan dibuat bingung.

Terakhir, saya menyukai orang-orang yang telah mati. Dengan mempelajari mereka, saya pun paham bahwa sejarah bukan ditulis oleh para pemenang. Sejarah ditulis oleh mereka yang melek literasi dan mau menulis, entah ia kalah ataupun menang dalam sebuah konflik. Menulislah, dan kita akan menang.

Rahadian Rundjan
Penulis dan peneliti sejarah. Berdomisili di Bogor.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.