OUR NETWORK

Tokoh Dunia Kreatif Dukung PSI

Orang-orang cerdas dari dunia kreatif ini faham betul apa yang mereka butuhkan untuk terus berkarya dan maju, mereka sadar apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki politik yang carut marut.

Selama dua minggu ini ramai beredar testimoni tokoh publik untuk partai anak baru yang dipelopori dan diisi anak anak muda, Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Isi testimoninya beragam dari mulai harapan, pujian, tantangan dari mulai tokoh intelektual publik, sutradara, penulis, musisi, jurnalis, aktivis perempuan, pegiat literasi, pegiat sosial dan lain lain.

Mereka adalah Nia Dinata, Goenawan Mohamad, Mochtar Pabottingi, Ayu Utami, Dee Lestari, Laksmi Pamuntjak, Ananda Sukarlan, Mari E. Pengestu, Tompi, Hanung Bramantyo, Henry Manampiring, Olga Lydia, Glenn Fredly, Ernest Prakasa, Heru Hendratmoko, Tunggal Pawestri, Denny Siregar, Iffa Suraiyya, Tretan Muslim, Coki Pardede, Yosi Project Pop, Natalia Soebagdjo. Mereka berani bersuara mendukung untuk memenangkan Jokowi dan memilih Partai Solidaritas Indonesia — PSI.

Dari sekian banyak tokoh publik tersebut kebanyakan dari kalangan dunia kreatif. Pertanyaannya, apa yang menggerakkan para tokoh dunia kreatif ini mendukung sebuah partai baru? Pastinya bukan uang, mereka para tokoh kreatif ini dikenal sebagai figur yang cerdas, independen, dan tidak bisa dibeli dengan uang. Dalam pemilu 2014 lalu, mereka juga tokoh non-politik pertama yang tanpa sungkan menyatakan dukungan buat Jokowi.

Orang-orang ini adalah individu independen yang dengan percaya diri — mengekspresikan sikap politik. Tidak berusaha menutupinya dengan mencitrakan diri netral. Bagi mereka, sikap politik itu wajar diekspresikan, apalagi menghadapi sesuatu yang krusial, pertaruhan tentang masa depan politik Indonesia, tentang masa depan mereka, masa depan kita semua.

Orang-orang cerdas ini secara instingtif merasa terancam: mereka tak ingin Prabowo menang. Sementara Jokowi sudah bekerja dengan keras dan mendukung iklim kebebasan dan dunia kreatif, jadi kenapa masih sungkan memperlihatkan dukungan politik. Apalagi, mereka melihat di bagian dunia lain, para tokoh tanpa sungkan memberikan dukungan kepada Obama, atau mengambil sikap oposisi terhadap Trump. Mereka mempunyai kesadaran bahwa politik itu sesuatu yang biasa, harus disikapi dengan wajar: politik bukan Perang Badar!

Kalaupun keliru — dan itu manusiawi — toh bisa dikoreksi lima tahun kemudian. Bukankah demokrasi menyediakan instrumen berupa reward and punishment kepada pejabat publik terpilih? Pemilu, mengutip Goenawan Mohamad, adalah kesempatan bagi rakyat mengontrak orang yang akan bekerja demi kepentingan mereka lima tahun ke depan. Kalau performanya buruk — karena korupsi, suka bolos kerja, diam saja melihat intoleransi, ya kontraknya jangan diperpanjang.

Mereka, para tokoh kreatif ini mendukung PSI karena merasa ini partai yang masih baru, segar, dan bersih. Sehingga ada kesempatan untuk memulai sesuatu yang baik di sana. Tentu saja, salah satu alasan utama adalah sikap PSI yang paling depan menentang kelompok intoleran — musuh utama dunia kreatif.

Gejala intoleransi dan politisasi agama yang meluas, mendorong teman-teman dari dunia kreatif mendukung PSI. Mereka merasa ada sesuatu yang sedang mengancam. Ruang kebebasan berekspresi yang menyempit, patung-patung dirubuhkan atau dipakaikan baju, desakan sensor atas film, musik, dan buku.
Mereka, para tokoh kreatif ini sadar bahwa kebebasan adalah syarat dasar manusia untuk bisa berkreasi. Dan kreatifitas, dalam sejarah dunia adalah pendorong utama kemajuan peradaban.

Orang-orang cerdas dari dunia kreatif ini faham betul apa yang mereka butuhkan untuk terus berkarya dan maju, mereka sadar apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki politik yang carut marut. Karena itu mereka menyatakan sikap: “Menangkan Jokowi –Pilih PSI”

Fajrina Maya
Produser Cokro.Tv

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…