OUR NETWORK

Titik Temu: Menyadari Perbedaan, Menyudahi Pertikaian

Dengan sering bertemu, akan tumbuh rasa saling memahami dan saling menghormati; akan luruh ego, prasangka, dan saling menghakimi. Semudah itukah?

Titik temu adalah frasa yang dipopulerkan Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang diambil dari al-Qur’an Surat Ali ‘Imran (3) ayat 64: “Katakanlah (Muhammad): ‘Wahai para pengikut kitab suci, marilah menuju persamaan ajaran antara kami dan kamu sekalian, yaitu bahwa kita tidak beribadah kecuali kepada Allah dan tidak pula mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Dia, serta sebagian dari kita tidak mengangkat sebagian yang lain sebagai ‘tuhan-tuhan’ selain daripada Allah’. Tetapi kalau mereka berpaling (dari ajakan ini), maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah olehmu semua bahwa kami ini adalah orang-orang yang pasrah (kepada Allah).”

Persamaan ajaran (kalimatun sawa) diartikan Cak Nur sebagai “titik temu” agama-agama yang, meski dari segi nama dan kitab suci yang berbeda-beda, hakikatnya sama, yakni ajaran untuk beribadah dengan penuh kepasrahan dan kepatuhan pada Tuhan.

Mengapa harus ada titik temu? Karena masing-masing pengikut kitab suci kerap merasa dirinyalah yang paling benar, paling mulia, dan paling luhur, dan paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Klaim-klaim semacam ini, jika tidak dipertemukan dalam satu titik, bisa menimbulkan perselisihan, konflik, bahkan perang dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap kebenaran agama.

Konflik sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari karena kita memang ditakdirkan berbeda satu sama lain. Bahkan dalam diri kita sendiri, pada jiwa yang sama, ada perbedaan-perbedaan, ada kontradiksi antara nafsu/kecenderungan untuk berbuat baik dan nafsu/kecenderungan untuk berbuat jahat, atau antara sukma nurani dan sukma dzulmani.

Mengapa kita ditakdirkan berbeda-beda? Al-Qur’an menyebutnya untuk saling mengenal (ta’aruf). Saling mengenal bisa berfungsi untuk saling memahami, saling berempati, dan bisa juga untuk saling berbagi tugas, untuk saling melengkapi. Jika Tuhan menghendaki, bisa saja kita diciptakan sama. Tapi, bisa dibayangkan betapa beku dan membosankannya hidup kita. Tuhan tidak akan berbuat sejahat itu!

Celakanya, dalam kehidupan sosial politik kita, perbedaan justru lebih sering untuk berbuat jahat. Perbedaan menjadi trade mark untuk menonjolkan diri, dan bahkan untuk merendahkan pihak lain yang berbeda. Padahal, berbeda itu bukan berarti yang satu “lebih” dari yang lain. Dalam semua perbedaan, ada kelebihan masing-masing, tergantung bagaimana cara memerankan dan memfungsikannya.

Perbedaan yang paling rawan adalah dalam soal agama dan kepercayaan (keyakinan). Karena persepsi umum yang dibangun adalah kami benar dan yang lain salah. Kami mulia yang lain hina. Kami  selamat dan yang lain tersesat. Kami masuk surga, mereka masuk neraka. Bahkan, yang lebih gawat lagi, hanya kami yang layak hidup, dan mereka harus mati (dibunuh).

Padahal, jika agama diyakini sebagai jalan menuju Tuhan, maka perbedaan itu untuk menunjukkan betapa banyak jalan menuju Tuhan. Kalau kita analogikan dalam kehidupan sehari-hari, jalan itu bisa berupa jalan darat, jalan laut, jalan udara, dan untuk jalan darat bisa juga dalam bentuk rel. Terserah mana yang akan kita pilih. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Yang harus kita ingat, bahwa setiap jalan yang dipilih, ada aturan main yang harus ditaati dan ada moda transportasi yang lebih tepat. Baik aturan main maupun moda transportasinya, tidak bisa ditukar-tukar. Yang sering menimbulkan masalah, banyak di antara kita yang menggunakan aturan main moda transportasi yang kita pilih untuk menilai atau mengoreksi moda transportasi yang dipilih orang lain.

Seperti moda transportasi, agama juga memiliki aturan main—yang dalam Islam disebut syariat—yang berbeda satu sama lain. Syariat dalam suatu agama tidak bisa digunakan untuk mengukur atau menilai syariat agama yang lain. Masing-masing agama memiliki cara beribadah dan bahkan memiliki “simbol” Tuhan yang berbeda-beda. Pada saat pemeluk suatu agama mencela atau menyalahkan cara beribadah atau menghina “simbol” Tuhan pemeluk agama lain, sudah pasti akan menjadi masalah.

Memang, agama yang rumit dan penuh dengan ketidakpastian itu tidak bisa disamakan dengan moda transportasi yang bisa dipahami dengan cara yang sederhana. Tapi, analogi ini perlu saya kemukakan untuk sekadar memberikan gambaran betapa pentingnya memahami perbedaan.

Hilangnya kesadaran akan peran dan fungsi perbedaan akan menimbulkan benturan dalam kehidupan sosial kita, bahkan hanya disebabkan karena perbedaan persepsi, antar orang perorang, atau antar kelompok, bisa jadi baku hantam.

Maka, kesadaran untuk saling memahami, untuk saling berbagi tugas dan fungsi, serta kesadaran untuk saling melengkapi itulah yang harus ditumbuhkembangkan. Cara yang paling sederhana dan bisa dilakukan siapa saja adalah dengan sering bertemu, berbagi gagasan dan pengetahuan, atau sekadar berbagi cerita (curhat) dengan orang-orang yang berbeda.

Lihatlah contoh perbedaan-perbedaan yang ada dalam tubuh kita, mengapa tangan kiri tidak menyalahkan atau memusuhi tangan kanan, mengapa kepala tidak bertikai dengan kaki, mengapa tulang tidak melukai daging, dan lain-lain, karena di samping berada dalam satu tubuh juga karena masing-masing bekerja sesuai peran dan fungsinya.

Yakinlah, dengan sering bertemu, akan tumbuh rasa saling memahami dan saling menghormati. Dengan sering bertemu akan luruh ego, prasangka, dan saling menghakimi. Dengan sering bertemu akan terbangun titik temu untuk menyadari perbedaan dan pengakhiri pertikaian.

Bacaan terkait

Keragaman Agama Itu Sunnatullah

Catatan dari Notre Dame: Belajar Menghargai Perbedaan Keyakinan

Kebhinekaan Itu Sunnatullah, Hentikan Politisasi Pluralisme!

Dalam NKRI Tak Ada Orang Kafir!

Menteri Lukman dan Politik Takfir

Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…