Selasa, Januari 26, 2021

Titik Balik Nasionalisme

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Berhasilkah Trump Memutar Siklus Pemilu AS?

Donald Trump hampir dipastikan maju sebagai calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik. Ia mengalahkan 17 kandidat lainnya. Trump tinggal menunggu calon dari...

Islam Bung Karno

Bung Karno lahir dari kedua orang tua yang berbeda agama. Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang bangsawan Hindu dari kasta Brahmana. Sementara ayahnya...

Pilpres 2019 Dimulai Saat Gubernur Jakarta Dilantik

Sepertinya pertarungan Pemilihan Presiden 2019 dimulai pada saat Anies Baswedan dan Sandiaga Uno usai dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta oleh Presiden...
Avatar
Abdallah Sy
Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

ahmadiyah

Cetak biru (blue-print) nasionalisme adalah pemersatu bangsa. Nasionalisme bukan sekadar alat, melainkan nafas pergerakan untuk kemerdekaan. Nasionalisme lahir sebagai perekat sosial untuk mendobrak sekat-sekat priomordialisme yang didasarkan pada ras, suku, agama, kepercayaan, dan golongan yang sangat beragam.

Baru-baru ini, spirit nasionalisme terkoyak dengan sikap intoleransi yang semakin subur di bumi pertiwi ini. Benedict Anderson (wafat; 2015), seorang pemikir kenamaan, mendedikasikan seluruh pikirannya untuk menilik secara dalam makna nasionalisme di Indonesia.

Dalam catatannya, Anderson menemukan bahwa nasionalisme tumbuh dari solidaritas yang dimiliki oleh para pemuda saat itu. Solidaritas menjadi spirit berdirinya sebuah bangsa dan secara resmi dideklarasikan pada 28 Oktober 1928.

Kini, kita saksikan bersama, semangat primordialisme itu muncul kembali dan mengoyak visi suci sumpah yang digelorakan para pemuda saat itu. Tak pelak lagi, kekerasan yang mengatasnamakan agama tumbuh kembali di tengah-tengah iklim demokrasi.

Selama lima tahun terakhir terjadi penyerangan terhadap Ahmadiyah di Cikeusik, Banten (2011), konflik Sunni dengan Syi’ah di Sampang, Madura (2013), pembakaran rumah ibadah di Singkil, Aceh (2015), dan pengeboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta (2016). Rentetan peristiwa tersebut semakin menguatkan bahwa sentimen primordialisme kembali menjajah alam pikir masyarakat.

Belum lagi sentimen ras tampak menguat ketika pesta demokrasi kembali dilkasanakan. Secara serampangan masyarakat kerap memainkan isu agama dan etnis, bukan rekam jejak yang menjadi ukuran. Katakanlah, peristiwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi cermin bagaimana kita merespons demokratisasi. Potret tersebut semakin menjelaskan bahwa kita belum dewasa dalam berdemokrasi.

Keliru jika masalah ini diabaikan oleh pemerintah. Kita bisa berkaca pada Pakistan, negara yang kuat secara militer namun lemah dalam menyikapi kasus intoleransi. Kita saksikan bersama, bom bunuh di Lahore di saat Hari Paskah (2016). Tidak berlebihan sebuah negara akan dianggap gagal jika terus-menerus mendiamkan masalah intoleransi tanpa adanya penanganan yang serius.

Bukankan kita sepakat bahwa Pancasila adalah ideologi negara yang final. Perdebatan yang didasarkan priomordialisme sudah dilampaui melalui perdebatan sengit para pendiri bangsa ini. Bukan tidak ada pertentangan pada saat itu, tapi kedewasaan sebagai negarawan mengantarkan pada satu titik kesepahaman, meminjam istilah Nurcholish Madjid (Cak Nur), “kalimatun sawa”. Titik temu masalah kepercayaan, misalnya, diselesaikan dalam pernyataan yang luar biasa: Ketuhanan yang Maha Esa.

Tak bisa dipungkiri, marwah Pancasila didistorsi oleh rezim Orde Baru selama tiga puluh tahun denga jargon “kesaktian Pancasila”. Hari ini, Ketuhanan yang Maha Esa diuji kembali dengan lahirnya “preman-preman berjubah” yang mengatasnamakan agama. Sentimen priomordialisme kini bangkit kembali.

Intoleransi merupakan ancaman serius bagi kebhinekaan kita. Setidaknya ada beberapa faktor masyarakat terprovokasi untuk melakukan tindak kekerasan. Pertama, ada kekecewaan mendalam yang dirasakan masyarakat karena pemerintah belum menjawab hak mereka sebagai warga negara: kesejahteraan.

Kedua, di tengah-tengah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial lainnya belum terselesaikan, oknum-oknum—untuk tidak menyebut seluruh—pemerintah gagal menegakkan keadialn hukum. Praktik korupsi dan kolusi masih menjamur di tengah-tengah kita. Praktis sebagian pejabat negara tersandera kasus korupsi.

Atas kekecewaan itulah, masyarakat acapkali mencari jalan pintas untuk mengekpresikan kekecewaan mereka dan kerap menggunakan cara-cara yang inkonstitusional. Pada titik ini, sadar atau tidak sadar, nasionalisme kita tergerus oleh sikap intoleransi. Ironisnya, nasionalisme akan menjelma kembali sebagai primordialisme.

Avatar
Abdallah Sy
Peneliti Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.