Minggu, Maret 7, 2021

Thoriqoh Musa dan Absurditas Kita

Prabowo Subianto Hanya Ingin Jadi Presiden

Prabowo Subianto adalah seorang pemimpin partai dengan perolehan suara urutan 3 pada Pemilu 2014. Tidak hanya itu, ia adalah pemimpin kelompok oposisi yang menguasai...

Natal dan Teologi Cinta

Dulu saat masih remaja, saya (dan mungkin sebagian besar kita) dijejali dengan doktrin kebencian terhadap agama lain, terutama Kristen. Kalau melintasi gereja dan melihat...

Catur: Seni Memahami Peradaban Islam 

Bermain catur identik dengan pengangguran, tidak pernah sembahyang, lalai akan kewajiban berusaha, dan pemalas. Maka, penegasan ulang atas fatwa haramnya bermain catur cenderung akan...

Noda, Menodai, dan Ternoda

Kaum minoritas cukup akrab dengan kata yang satu ini, karena sebagian orang menganggap sekadar menganut keyakinan yang berbeda dengan keyakinannya sebagai penodaan. "Noda" mengandung dua...
Setyo A. Saputro
Pekerja media di sebuah portal berita di Jakarta. Bisa dihubungi melalui alamat surel: setyoasaputro@gmail.com.

Maret 2019. Sebanyak 52 warga Desa Watubonang, Kabupaten Ponorogo, diam-diam hijrah ke Desa Kasembon, Kabupaten Malang. Sebelum berangkat, mereka menjual semua aset yang dimiliki. Jemaah Thoriqoh Musa ini percaya, kiamat akan segera datang. Dan, satu-satunya tempat yang bisa menyelamatkan mereka adalah Pondok Pesantren Miftahul Falahin Mubtadiin yang terletak di Desa Kasembon.

Kejadian ini mengingatkan saya pada sesuatu yang terjadi pada Mei 2015. Ketika itu, Lia Eden mengirimkan berlembar-lembar surat untuk Presiden Joko Widodo. Intinya, Lia dan jemaah Salamullah ingin meminjam lapangan Monas sebagai tempat pendaratan UFO. Konon, malaikat Jibril akan singgah di bumi dengan pesawat itu, untuk menjemput Lia dan membawanya ke luar angkasa.

Satu hal yang melemparkan ingatan saya terhadap fenomena itu, adalah tanggapan dari publik yang persis sama. Publik ramai-ramai mencibir dan menertawakan, seakan apa yang dilakukan jemaah-jemaah itu tak lebih dari sebentuk kedunguan yang paripurna. Sebuah absurditas yang melukai akal sehat.

Namun, masalahnya adalah, kebanyakan dari mereka yang menertawakan dan menganggap dua fenomena itu sebagai sesuatu yang absurd, sesungguhnya adalah orang-orang yang juga mengimani hal-hal yang tak kalah absurd.

Mereka adalah orang-orang yang percaya, bahwa manusia itu pada mulanya tak lebih dari segumpal lempung yang dikasih nyawa. Mereka adalah orang-orang yang percaya, bahwa pada suatu masa, ada seorang lelaki yang bisa membelah samudra dengan tongkatnya.

Mereka adalah orang-orang yang percaya, bahwa pernah ada seorang perawan yang tiba-tiba melahirkan bayi tanpa sebelumnya dibuahi lelaki. Mereka adalah orang-orang yang percaya, bahwa ketika bayi tadi tumbuh dewasa dan kemudian mati, bisa bangkit lagi setelah tiga hari. Dan sebagainya dan sebagainya.

Lalu, bagaimana bisa, satu jenis ketidakmasukakalan bisa tampak lebih masuk akal, ketimbang beberapa jenis ketidakmasukakalan yang lain? Jawabannya cuma satu, yaitu iman.

Sesuatu menjadi tampak masuk akal di mata kita, bukan karena dia memang benar-benar masuk akal, tapi karena kita mengimaninya sebagai kebenaran. Setidakmasukakal apa pun itu, selama kita yakin bahwa hal itu adalah sesuatu yang benar, kita akan melihatnya sebagai sesuatu yang masuk akal.

Suka tak suka, terkadang kebenaran itu tak bicara tentang sesuatu yang benar-benar benar. Terkadang kebenaran itu adalah perkara apa yang kita yakini sebagai yang benar.

Isi kitab suci A adalah benar, karena isi kitab suci A mengatakan bahwa isi kitab suci A adalah benar. Dari dulu, cara kerja iman memang seperti itu, dan akan selalu seperti itu.

Lalu, kenapa orang-orang beriman cenderung begitu mudah memercayai hal-hal yang sesungguhnya di luar nalar? Hal itu lantaran sesungguhnya, iman adalah semacam tanggapan manusia yang merasa disapa oleh Yang Maha.

Bagi seseorang yang beriman, Yang Maha bukanlah hipotesis ilmiah yang perlu dibuktikan kebenaran atau ketidakbenarannya. Mereka sama sekali tidak membutuhkan pembuktian, apakah benar manusia itu pada awalnya terbuat dari tanah liat, atau apakah kisah tentang seorang lelaki yang membelah lautan itu sungguh pernah terjadi.

Kerinduan manusia terhadap Yang Maha semacam ini, lahir dari kebutuhan manusia akan makna, sesuatu yang tak bisa terberikan oleh akal. Akal mungkin bisa membantu manusia menentukan bagaimana sebuah tujuan bisa dicapai, tetapi terkadang akal tidak menyuguhkan sebuah makna.

Karena itu, sebelum kita menertawakan hal-hal yang kita rasa tak masuk akal, ada baiknya kita mencoba berdiri di depan cermin, untuk kemudian membisikkan sebuah pertanyaan untuk diri kita sendiri, “Apakah aku memang cukup masuk akal untuk menertawakan hal-hal yang tampak tak masuk akal?”

Setyo A. Saputro
Pekerja media di sebuah portal berita di Jakarta. Bisa dihubungi melalui alamat surel: setyoasaputro@gmail.com.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.