Senin, Oktober 26, 2020

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Menghilang ke Mana Kritisisme Jokowi dan Kita atas Pertamina?

Ramah pada Pertamina Sungguh menarik melihat bagaimana pemberitaan tentang tumpahan minyak berkembang.  Sudah lebih dari satu bulan sejak hari pertama tumpahan minyak terjadi pada 12...

Bali Democracy Forum (BDF) dan Transisi Demokrasi Myanmar

Tulisan ini dimulai dari inisiasi Indonesia dalam menyelenggarakan BDF (Bali Democracy Forum) sebagai forum antar negara yang membahas tentang demokrasi. BDF digagas berdasarkan pengalaman demokrasi...

Apakah Semua Umat Hindu Musyrikun dalam Pandangan Muslim? [Bag. 2-Habis]

Majma' al-Bahrain menekankan kesamaan ajaran keesaan Tuhan (tauhid) dalam ajaran Sufi Islam dan Vedanta Hindu seperti ditafsirkan dari kitab Upanisyad. Seperti dibahas Profesor Yohannan Friedman...

PSI Itu Baru, Muda, dan Kita

Kalimat apa yang rutin kita ucapkan di setiap momen atau peringatan yang bernuansa "baru"? "Semoga dapat momongan, ya", misalnya, kala memberi selamat pada pengantin...
Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon.

Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya keras, sulit ditebang, mereka meneriaki pohon tersebut. Itulah cara mereka mematikan pohon yang akarnya sangat kuat, batangnya keras, dan sulit ditebang.

Praktiknya: beberapa orang yang fisiknya kuat dan sehat memanjat pohon sampai atas. Ketika sampai di atas pohon, bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka berteriak sekuat-kuatnya. Mereka berteriak selama berjam-jam tiap hari, selama kurang lebih empat puluh hari.

Apa yang terjadi kemudian pada pohon itu, sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki perlahan-lahan daunnya mengering. Setelah itu dahan-dahannya rontok. Perlahan, pohon ia mati. Dan mudah ditumbangkan.

Apa yang dilakukan penduduk Kepulauan Solomon itu, bisa jadi pelajaran.

“Jangan suka berteriak di hadapan makhluk hidup. Apalagi anak-anak. Mereka akan mati. Mungkin bukan fisiknya yg mati seperti pohon besar di Kepulauan Solomon, tapi jiwanya yang mati.”

Saya masih ingat waktu kecil di SD punya teman. Namanya Samaun. Tiap hari ibunya berteriak, marah-marah kepadanya. Bahkan sering dilempar sendal, digebuk, dan macam-macam. Kalau sudah begitu, Samaun pun lari.

Apa yang terjadi kemudian? Setelah Samaun besar, umur 17-an ia adi anak nakal. Terus jadi preman. Suka merampok dan membunuh orang. Ia sendiri kemudian mati dibunuh orang.

Samaun tak punya hati. Jiwanya mati karena sering dibentak-bentak orang tuanya. Seperti cerita pohon yang mati setelah diteriaki tersebut.

Teriakan meninggalkan luka mendalam pada jiwa . Setiap kali kita berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, atau terluka — ingatlah dengan apa yang diajarkan penduduk kepulauan Solomon tadi. Mereka mengajarkan,
bahwa setiap kali kita berteriak, kita mematikan jiwa makhluk hidup. Jika jiwa itu terus menerus dimatikan,maka fisik pun akan mati.

Berteriak adalah tanda kemarahan. Apa pun bentuk teriakannya. Termasuk berteriak dengan kata Allahu Akbar. Saat orang-orang Hawarij berdemo di depan Ali bin Abi Thalib, mereka berteriak: Allahu Akbar. La Hukma Illah Allah. (Allah Maha Besar Tiada hukum selain hukum Allah).

Ali dianggapnya telah melakukan dosa besar karena tidak berhukum dengan Qur’an. Dosanya, kompromi pada tuntutan Bani Umayyah saat melakukan perundingan. Kaum Hawarij protes, mendemo Ali.

Mereka mengecam menantu Rasul itu — Ali halal darahnya karena memakai hukum selain Qur’an. La Hukma Illallah — tiada hukum kecuali hukum Allah. Kata demonstran Hawarij itu.

Ali pun menyatakan, teriakan kalian adalah suara setan. Kau bungkus teriakan setan yang haus kekuasaan dengan memakai kalimat Allah. Kalian sangat keji. Lebih keji dari orang kafir.

Kita tahu ujung ceritanya. Ali dibunuh oleh Ibnu Muljam, seorang hafiz yang di zaman Abu Bakar dan Umar sering diutus ke Mesir untuk mengajarkan Qur’an di bumi Piramid itu. Ali pun tewas.

Jauh sebelumnya, Sayidina Ali wanti-wanti: Jangan pernah marah! Jangan pernah marah! Kemarahan dan teriakan adalah manifestasi setan. Makanan ternikmat di dunia, kata Ali, menelan kemarahan. Jangan biarkan kemarahan berada di mulut dan hatimu. Telanlah. Bunuhlah kemarahan.

Dari pelajaran ini, kita bisa memahami perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun ketika mau menghadap Firaun.

Tuhan berfirman: “Pergilah kamu berdua ( Musa dan Nabi Harun) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia akan ingat dan takut.” (QS Thaha [20]: 43-44). Dengan bicara lemah lembut, ada harapan jiwa dah hati Firaun hidup kembali. Jika jiwanya hidup, ada potensi untuk beriman kepada Tuhan.

Dalam Islam, kita dilarang berteriak Uff (kata negasi atau teriakan) kepada ibu. Karena ibu adalah “kehidupan”. Di hati dan ucapan ibu ada persemaian kasih sayang. Jika seseorang berkata kasar atau berteriak kepada ibu, persemaian kasih sayang itu akan mati. Dan Tuhan melarang keras kita berkata Uff kepada ibu.

Dalam kehidupan sehari-hari, perkataan kasar atau teriakan hanya akan menghasilkan satu hal: pertengkaran. Selanjutnya, silaturahmi pun terputus. Terputusnya hubungan silaturahmi sama halnya dengan terputusnya rejeki. Dan terputusnya rejeki akan membawa kelaparan dan kematian — bukan hanya jiwa tapi juga raga.

Syaefudin Simon
Syaefudin Simon
Freelance Columnist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

Mencari Petunjuk Kekebalan Covid-19

Orang yang telah pulih dari Covid-19 mungkin khawatir tentang efek kesehatan yang masih ada, tetapi beberapa mungkin juga fokus pada apa yang mereka lihat...

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.