Jumat, Februari 26, 2021

Tentang Prostitusi Online

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Vokalis band pop Giring ‘Nidji’ Ganesha mencoba peruntungannya di bidang politik. Nidji bukanlah satu-satu kaum muda yang menjatuhkan keputusan memasuki gelanggang politik. Sebelumnya, yang paling...

Pragmatisme Partai Politik Tidak Selalu Negatif

Menjelang perhelatan politik pemilu legislatif (Pileg) dan pemilu Presiden (Pilpres), pragmatisme menjadi fenomena yang sangat lekat dengan proses politik. Penentuan siapa yang diusung atau...

Menunggu Jawaban Partai Nasionalis

Nama Michael Buehler menjadi percakapan politik luas, isu Perda Syariah kembali menyita perhatian publik. Ini semua gara-gara pidato politik Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia,...

Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang eksekusi pidana mati Freddy Budiman cs, menghiasi laporan utama berbagai media cetak dan elektronik. Setelah itu, berita yang...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Dalam kasus prostitusi, yang diminta untuk agung, bersih, dan suci adalah kaum perempuan. Oleh karena itu, mereka yang paling banyak direndahkan dan dimintai pertanggungjawaban. Sementara si laki-laki, yang wajar kalau dikasih ikan asin, yang wajar kalau lihat dada bernafsu, nyaris tak tersentuh, karena memang secara terberi, oleh Tuhan Yang Maha Esa, mereka diciptakan penuh nafsu dan binal. Maka tak menarik mencari tahu siapa laki-laki yang punya uang sekian puluh juta untuk menggunakan jasa prostitusi.

Barangkali yang membuat prostitusi itu menakutkan bagi lelaki di Indonesia, karena perempuan bisa menentukan harga tubuhnya sendiri. Mereka punya kuasa atas tubuhnya dan menentukan siapa-siapa yang berhak memakai, si laki-laki tak bisa memaksakan kehendaknya tanpa ada harga yang harus dibayar dan ini membuat mereka tak nyaman. Selama ini perempuan mesti tunduk karena itu fitrah, karena itu perintah agama, karena itu norma.

Peradaban kita mengajarkan laki-laki itu keren kalau tidur dengan banyak perempuan. Maka saat ada penangkapan prostitusi, pihak aparatus negara yang diwakili petugas hukum sibuk mencari siapa lagi pelacur yang menjual jasa layanan seksualnya? Bukan mencari tahu siapa pejabat publik, ustadz, pendeta, pengusaha, atau laki-laki yang menggunakan jasa itu. Karena si pembeli tidak salah, si penjual yang salah. Atau karena mereka perempuan jadi salah?

Yang kerap kita lupakan dari relasi seksual transaksional bernama prostitusi, ada dua pihak yang berkepentingan. Satu membutuhkan uang, sementara yang lain membutuhkan kepuasan. Tapi dalam pembagian beban tanggung jawab ketika terjadi penggrebekan, publik fokus pada si perempuan, sementara si laki-laki bisa dengan bebas menyembunyikan identitasnya tanpa harus dihakimi.

Sebagian kita, yang intelektual maupun tidak, berkelakar tentang apa yang bisa didapat dari 80 juta. Sembari merendahkan perempuan lain yang mungkin tidak pernah ikut jaringan prostitusi, kita mengomentari tubuh, wajah, hingga kelakuan orang lain. “Ah, 80 juta mah cari anak kuliah bisa tiap hari gratis”. “Ah, 80 juta mending ke sono murahan dikit, bisa 10 kali”. Seolah 80 juta tadi jadi harga yang pantas untuk merendahkan ibu, adik perempuan, atau istri kita.

Sebagian dari kita memang diberikan mukjizat oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk berkomentar demikian keji pada orang lain yang berbuat dosa tapi ketahuan. Hingga melupakan pada satu waktu, seorang manusia suci pernah berkata: “Orang yang tidak berdosa di antara kalian hendaklah dia menjadi yang pertama melempar perempuan itu dengan batu.”

Tapi mengapa kita demikian benci pada perempuan? Mengapa kita punya obsesi kemurnian untuk membuat mereka selalu suci, selalu bersih, dan selalu baik? Sementara yang laki-laki tak punya usaha mencakapkan diri dengan menahan birahinya untuk tidak tegang setiap melihat kulit putih perempuan yang ada? Apakah menjaga kesucian tanggung jawab perempuan sementara laki-laki baru diminta bertanggung jawab setelah tak mampu menahan nafsunya?

Ini mengapa ide tentang sekolah ibu jadi penting. Mungkin maksud pemerintah, sementara ibu sibuk belajar untuk jadi budak suami, ayah bisa jajan di luar sana tanpa ketahuan. Bukankah yang perlu dididik adalah perempuan? Karena yang menjual jasa kan perempuan? Laki-laki hanya membeli. Bukan salah yang beli dong.

Kita mengenal berbagai jenis sebutan untuk perempuan yang bekerja sebagai penyedia jasa seks komersial. Mulai dari alku, ayam kampung, baktau, barua, batau, bondon, bunga latar, bunga raya, cabo, gongli, hostes, jaruman, jobong, kembang latar, kupu-kupu malam, lanji, loki, loktong, lonte, lucah, moler, pandiang, pekcun, pendayang, penghibur, perek, pinang muda, pramunikmat, pramuria, purel, sengseong, sundal, wanita tunasusila, cocor merah, munci, perempuan geladak, perempuan jalang.

Sementara laki-laki si pengguna jasa?

Karena laki-laki nakal itu wajar, sementara perempuan harus santun, harus suci, harus menjaga diri. Dalam persoalan prostitusi, publik tak pernah peduli terhadap laki-laki. Jika ia seorang pejabat yang tertangkap tidur dengan perempuan yang bukan istrinya, kita sibuk mengomentari ukuran penis. Bukan bertanya, apakah pajak publik yang disalurkan melalui uang dinas digunakan untuk ngelonte? Apakah si pejabat menggunakan statusnya untuk mendapatkan layanan prostitusi?

Tentu kita tidak berpikir sejauh itu, kebanyakan dari laki-laki yang kemudian berkomentar tentang peristiwa ini fokus pada satu hal. Dan itu bukan pada perlindungan identitas si perempuan atau pengungkapan jaringan jual beli manusia atas nama layanan prostitusi, tapi siapa yang punya rekaman video senggama tersebut. Mutu peradaban kita yang mengklaim telah mempersiapkan perjalanan ke Mars atau bersiap hijrah dengan janggut dan celana cingkrang, toh masih kalah dengan keinginan menonton video 3gp minim estetik berisi artis yang sedang senggama.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Berita sebelumnyaMencari Indonesia Di Alor
Berita berikutnyaBersih-Bersih Noda Pemilu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.