Rabu, Januari 20, 2021

Tentang Pernikahan Dini Anak Muda Masa Kini

Game of Thrones vs Ghost Fleet: Ketika Pembela Prabowo Bolos Pelajaran Bahasa

Kian hari, saya kian merasa yakin bahwa banyak kericuhan politik rakyat jelata di Indonesia pada era pasca-2014 terjadi karena seringnya kita dulu membolos pada...

Agama: Sumber Berkah atau Bencana?

Agama itu berkah atau bencana sangat tergantung pada penafsir agama dan pengalaman kaum beragama. Karena baik Alquran maupun Injil tidak bisa berbicara sendiri, dalam...

Perbaikan yang Bisa Dilakukan Untuk Pemilu 2024

Pemilihan umum (Pemilu) serentak telah terlaksana pada 17 April lalu. Saya berterima kasih dan mengapresiasi kepada seluruh penyelenggara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan...

Setelah Genjatan Senjata di Suriah Disepakati

Dua wanita berjalan diantara reruntuhan kota al-Shadadi, provinsi Hasaka, Suriah, Jumat (26/2). ANTARA FOTO/REUTERS/Rodi Said/djo/16 Setelah lima tahun terjadi perang saudara yang melelahkan, pemerintah Suriah...
Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Alvin-dan-Larissa
Larissa Chou dan Alvin Faiz (ilustrasi).

Membaca tulisan Ferena Debineva berjudul Menikah dan Prestasi: Membandingkan Apel dan Meja Kerja menuntun saya pada pemikiran yang lebih mendasar tentang pernikahan. Yang saya tahu, selalu saja persoalan pernikahan sangat pendek urusannya: jika tak urusannya ingin menjauhi zina, ya ingin memiliki keturunan anak. Singkatnya, nikah akan membuka ikhtiar kawin yang legal di masyarakat lalu mewujudkan eksistensi manusia di muka bumi ini. Padahal, jelas tak semudah itu.

Nikah itu ribet, dan kecuali pikiran Anda memang sempit, Anda merasa buru-buru nikah adalah hal yang baik. Dan sudah titahnya bahwa yang buru-buru itu tidak baik. Namun menyalahkan sepenuhnya kepada mereka yang nikah dengan cepat juga tak bisa sepenuhnya dibenarkan. Karena, selama ini pengetahuan kita tetang cinta—yang seringkali dikaitkan dalam urusan pernikahan itu—memang kurang.

Bukan hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Kalaupun ada, paling semisal novel-novel cinta yang tak menembak secara banal apa pemaknaan tentang cinta itu sendiri. Begitu pula dengan film dan lagu tentang cinta. Semuanya sendiri tak mendefinisikan secara konkrit dan matang tentang cinta sendiri.

Dan dari kontak fisik itu, semuanya kerapkali berakhir dengan hubungan seks. Padahal, “cinta” sendiri tak melulu soal “seks”, karena ada juga yang disebut dengan “cinta tanah air” atau “cinta keluarga” yang merujuk ke bentuk lain dair cinta. Tapi, secara umum cinta memang lebih dekat dengan dua insan. Kita menerka tanpa tahu sebenarnya cinta itu apa.

Lagi pula, jikapun memang cinta antara dua insan memang berakhir pada seks, itu jelas berbeda dengan seks itu sendiri. Sigmun Feud, misalnya, mengatakan bahwa seks sendiri tak memiliki objek. Tentu hal ini menggambarkan bagaimana hewan bisa kawin lalu pergi dan mengawini manusia lainnya.

Sementara cinta sendiri berbeda—ini sendiri mengaitkan tentang hubungan emosional dan membutuhkan objek. Kontak fisik adalah bahasa kita untuk mengungkapkan hubungan emosional kita terhadap yang dicintai. Ia meneliti semuanya dari psikoanalisis

Kemudian Freud menjelaskan dalam bukunya Group Psychology and the Analysis of the Ego bahwa libido adalah ekspresi kuantitatif dari semua energi yang dirangkum menjadi cinta. Sayangnya, Freud tak membedakan jenis cinta seperti apa yang sedang ia maksud. Hal ini mungkin juga menggambarkan gambaran umum tentang bagaimana cinta dan seks sendiri memang memiliki peran yang tumpang tindih.

Hal ini diperparah dengan tabunya dengan pengetahuan tentang seks yang kurang di masa pubertas misalnya. Remaja, yang sedang mencari jati diri, turut menyelam mencari sendiri pemaknaan tentang cinta itu sendiri. Ia mengerti kadang ia merasakan libido untuk mengawini lawan jenisnya. Atau hal yang lebih dari itu: sesuatu rasa yang menuntut kasih sayang dan rasa tertarik. Tapi di antara keduanya, selalu misalnya, dalam kehidupan laki-laki, membicarakan tentang ukuran dada dan lainnya akan menjadi sesuatu. Memiliki pacar seksi atau cantik menjadi ajang sebagai maskulinitas kemudian.

Hal ini tentu bisa dicegah bilamana informasi mengenai otoritas tubuh itu bisa dipelajari secara bijak. Membeberkan tentang kelamin dan bagaimana sepatutnya cinta itu ada dua hal yang, meski dekat dan seringkali tercampur, berada di dimensi yang berbeda. Seperti layaknya susu dan soda, keduanya adalah wujud yang berbeda—kendati bisa disatukan menjadi susu soda.

Jawaban tak memuaskan seperti, “nanti kalau sudah waktunya kamu sudah akan tahu…” membuat tiap remaja, dengan emosi yang menggebu-gebu dan hormon yang tak stabil, mengeksplorasi tubuhnya. Mencari apa yang disebut cinta dalam seks karena enggannya orangtua membicarakan tentang seks di depan anaknya.

Baru ketika mereka dewasa, hal-hal yang mengharuskan seseorang melakukan seks seperti “ingin menimang cucu” atau “menjauhi zina” menjadi suatu hal yang dianggap menjadi tujuan dari pernikahan.  Tak hanya perempuan, tapi juga laki-laki.

Padahal menikah tak melulu soal batang dan lubang. Ada soal finansial yang harus matang, ada ideologi yang meski tak harus searah tapi harus tetap bisa beriringan, ada mentalitas yang harus matang juga. Maka tak jarang kemudian, dalam kisah nikah muda biasanya akan berakhr dengan cepat. Karena adanya fase fluorescent adolescent—fase kaget saat seseorang menyadari bahwa pasangannya sangat jauh dari yang ia harapkan.

Dalam The Woman in Love, Simone de Beavoir mengatakan bahwa perempuan takkan menyerahkan dirinya begitu saja. Namun, ada serangkaian tes yang harus diberikan kepada sang laki-laki. Laki-laki yang akan dinikahinya, misalnya, harus memberikan rasa aman, rasa kagum, dan rasa sayang. Sehingga sang perempuan takkan merasa direndahkan bahwa ia telah bergantung pada laki-laki.

Nilai-nilai macam ini, kemudian dipermainkan oleh masyarakat dan diperparah dengan jual buku islami. Mengatakan nikah di masa belum mapan adalah omong kosong yang terlalu utopis untuk dijalani. Mengatakan bahwa nikah di masa muda akan berakhir dengan perjalanan tak terduga. Mengatakan bahwa menikah adalah tangga paling instan menuju ke surga sekaligus bebas dari cibiran masyarakat dan kekhawatiran orangtua. Yang saya tahu,  jika perjalanan itu berarti membunuh masa muda dan dipusingkan dengan perkara rumah tangga, itu betul.

Menikah membuat seorang perempuan harus terkait dengan suaminya. Kasarnya, untuk tunduk dan berada di satu level di bawah suaminya dalam budaya kita. Tentu membahagiakan jika rupanya seseorang rupanya sudah secara hati-hati untuk menikah. Namun, jika rupanya seseorang terburu-buru untuk menikah hanya untuk mendapat label halal saja? Ya, sebaiknya ke Majelis Ulama Indonesia saja, daripada pertimbangan setengah matang itu malah menjadi sesal yang abadi untuk selamanya.

Atau bertobatlah. Mengapa? Ya, selama ini pikiran Anda terlalu kotor karena hanya memikirkan nikah dari urusan lubang dan batang saja!

Arif Utama
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.