Jumat, Desember 4, 2020

Tentang Khilafah, Negerinya Para Khalifah

Belajar Demokrasi dari Desa Rantau Kermas

Di celah lereng perbukitan yang tertutup hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat, terdapat lembah sempit tempat sebuah desa berdiri sebagai enclave. Desa itu, Rantau Kermas,...

Apakah Muslim dan Kristen Menyembah Tuhan Yang Sama?

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan dan Masjid Al-Hikmah di Solo (ilustrasi). Ketika saya katakan “Muslim dan Kristen percaya dan menyembah Tuhan yang sama”, muncul tuduhan...

Darurat Kebebasan Pendirian Rumah Ibadah

Konflik yang berlatar belakang pendirian rumah ibadah semakin hari semakin marak terjadi di Indonesia. Setelah kasus Singkil dan Manokwari, yang terbaru terjadi pembakaran terhadap...

Menyambut Halloween: Agama Versus Kepercayaan di Indonesia

Sejak pekan lalu, saya dan teman-teman sibuk menyiapkan sebuah pesta Halloween. Ketika saya kabari pacar saya yang berasal dari Eropa Barat bahwa saya sedang...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Bila ditinjau khilafah dalam perspektif teologis dan ijtihadiyah, tidak ada korelasi antara Khilafah Nubuwah yang dijanjikan Rasulullah saw dengan khilafah ijtihadiyah versi para imam FPI dan HTI.

Jadi, usahlah heran jika FPI dan HTI imamnya beda meski mengusung bendera khilafah yang sama. Seperti halnya Taliban dan Mujahidin d Afghan berbeda dan terus berperang dibawah panji bendera khilafah.

Hipotesis saya adalah: Jadi benarkah semua ikhtilaf syariat Islam selalu dibarengi dengan konflik politik, termasuk khilafah, jabariyah, mu’tazilah, asyariyah, imamiyah bermula dari konflik politik yang diberi cap teologis?

Diskursus isbal, janggut, nawaitu dibaca jahr atau sirr, qunut pada shalat subuh, bacaan sayidina pada shalawat bukan semata ikhtilaf fiqh, sebab pada semua ikhtilaf itu terkandung simbol dan atribut untuk membedakan masing-masing kelompok manhaj: isbal itu Salafi, Nawaitu dibaca jahr itu NU, Dibaca sirr itu Muhammadiyah. Jadi hanya untuk membedakan manhaj secara politis.

Jadi ada baiknya bersabar membahas satu-satu agar terhindar dari tumpang tindih dan rancu berpikir. Syukur pula bisa memilah proporsional. Ibarat memisah minyak dan air, atau mencabut rambut dari tepung.

Khilafah teologis 

Khilafah teologis adalah yang dijanjikan Allah dalam Nubuwah, berbeda secara substantif dengan khilafah ijtihadiyah yang diikhtiarkan oleh temen-temen HT atau FPI.

Ada perbedaan teologis yang mendasar antara Khilafah yang dijanjikan berdasar Nubuwah dengan Khilafah ijtihadiyah yang di ikhtiarkan FPI dan HTI. Keduanya jelas beda meski namanya sama dan ini yang kerap disamarkan seakan apa yang HTI dan FPI perjuangkan sebagai ‘sesuatu yang wajib’ bagi setiap muslim beriman. Padahal pada keduanya jauh berbeda.

Khilafah dalam konteks teologis adalah bagian dari tanda-tanda besar kiamat yang absolut pasti terjadi –sebelum kedatangan Isa Al Masih dan Massih ad Dajjal, meski dalam Kitabullah tidak dijelaskan–namun kita bisa jumpai dalam beberapa teks sunah shahihah yang muktabar.

Sedangkan khilafah yang digagas oleh FPI dan HTI adalah khilafah ijtihadiyah sebagai model atau bentuk pemerintahan biasa. Seperti halnya kerajaan, republik atau bahkan monarki.

Khilafah Al-Minhaj An-Nubuwah 

Dijelaskan dalam surah an Nur: 55 secara mujmal bahwa Allah akan memberikan kekuasaan (ke-khilafah-an) kepada orang-orang beriman yang beramal saleh di muka bumi.

Kemudian beberapa penjelasan sunah sahihah tentang khilafah dalam konsep teologis. Nabi saw bersabda: “Khilafah pada masa umatku hanya 30 tahun setelah itu malak atau kerajaan. Masa 30 tahun itu adalah khalifah Abu Bakar as Siddiq 2 tahun, khalifah Umar Ibnul Khattab 10 tahun, khalifah Ustman bin Affan 12 tahun dan khalifah Ali bin Abi Thalib 6 tahun persis 30 tahun.

Itulah prediksi Nabi saw tentang khilafah.yang kemudian biasa disebut dengan Khilafah Al
Minhaj an Nubuwah (tegas: Khilafah Al Minhaj an Nubuwah menurut prediksi Nabi saw hanya berlangsung selama 30 tahun) setelah itu tidak ada lagi khilafah meski raja nya bergelar khalifah.

Dari Hudzaifah ra, Rasulullah saw bersabda, “Di tengah-tengah kalian ada Kenabian dan akan berlangsung sekehendak Allah. Lalu Allah akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian dan berlangsung sekendak-Nya.

Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang lalim yang berlangsung sekehendak Allah. Kemudian Allah akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Kerajaan yang Otoriter berlangsung sekendak Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika Dia menghendakinya. Kemudian akan ada Khilafah berdasar manhaj kenabian”. Kemudian beliau (Nabi SAW) diam. (Musnad Ahmad, No. 18406)

12 Khalifah 

Khilafah akan senantiasa berada di tangan orang Quraisy. Hukum di tangan orang Anshar. Dakwah di negeri Habasyah. Hijrah senantiasa di kalangan Muhajirin. Urusan dunia (khilafah) senantiasa dalam kebaikan selama diperintah oleh 12 orang khalifah. Semuanya dari ahli bait. Akan memerintah 12 orang khalifah yang adil. Dan bukan dari kalangan para Imam Syiah Itsna’ Asy’ari karena banyak di antara mereka berada di luar petunjuk.

Tidak menjadi persyaratan apakah 12 khalifah itu memerintah berurutan atau tidak. Empat di antaranya telah memerintah berurutan yaitu Abu Bakar ra, Umar bin Khattab ra, Ustman bin Affan ra, dan Ali bin Abu Thalib ra, putus beberapa waktu kemudian akan muncul lagi yang hanya Allah saja yang tahu.

Imam Mahdy 

Diantara 12 khalifah itu– satu diantaranya adalah Imam Mahdi, yang nama Kun-yah-nya sama dengan Nabi saw. Al Mahdi dari kami, ahli bait. Allah membuatnya saleh dalam satu malam. Allah menerima taubatnya, memberinya taufik dan bimbingan. Pemahaman yang mendalam. Ia akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya telah dipenuhi kezaliman dan kesewenangan.

Khalifah yang janjikan Allah tabaraka wa taala akan hadir dan memerintah sesuai kehendak Allah. Tak siapa pun mengingkari sebagai bagian dari tanda akhir zaman—bukan karena ikhtiar atau dipilih berdasar syura atau ijtima ulama apalagi bitingan (voting) oleh masyarakat banyak. Dan semuanya dari kalangan kaum Quraisy atau ahlul bait.

Jadi jelas, HT telah mereduksi dan melakukan penyamaran dua konsep khilafah itu (teologis dan ijtihadiyah) untuk kepentingan dan tujuan politiknya. Wallahu ta’ala a’lam

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.