OUR NETWORK

Tentang Gus Mus, Quraish Shihab, dan Buya Syafii

Dalam kolom ini, saya menulis tentang tiga sosok ulama yang masih hidup, yang datang dari tiga komunitas terbesar di negeri ini. Mereka adalah KH A. Mustofa Bisri atau Gus Mus dari Nahdlatul Ulama (NU), M. Quraish Shihab dari kalangan Habib, dan A. Syafii Maarif atau Buya Syafii dari Muhammadiyah.

Bagi saya, ketiganya adalah salah satu teladan terbaik di masing-masing komunitasnya saat ini. Ketiganya semacam wajah lain ulama. Tak berpenampilan layaknya ulama, namun memenuhi segala syarat untuk disebut ulama. Mereka seolah antitesa dari “ustaz selebriti” yang seringkali hanya memenuhi syarat dari segi tampilan saja.

Akhir-akhir ini ketiganya menghebohkan publik. Gus Mus dan Quraish Shihab bikin heboh di acara “Mata Najwa”. Bisa jadi itu adalah salah satu kenangan terbaik dari “Mata Najwa” untuk kita. Di acara itu, keduanya tampil sebagai dua sahabat dengan sederet kisah yang penuh keteladanan. Bernasihat tapi tetap sempat bercanda. Bicara agama yang meneduhkan. Mendalam, tapi dirangkai dengan kata-kata yang “awam”.

Bicara Qur’an dan Sunnah secara kontekstual, seolah wahyu dan hadis itu turun dan terucap saat ini dan di sini. Keduanya meneladani Nabi Muhammad secara begitu “canggih”, karena mampu menyerap keteladanan beliau tapi membungkusnya dengan semangat keindonesiaan. Karenanya, saya cenderung menyebut keduanya (juga Buya Syafii sebagaimana saya akan ulas di paragraf selanjutnya) sebagai seorang “Neo-Modernis Islam”: kalangan yang mampu membuat Islam merespons tuntutan zaman yang selalu bergerak me-modern, dengan tetap mempertahankan dan berdiri di atas nilai-nilai dasar dan substansial Islam itu sendiri.

Buya Syafii dan Gus Mus.

Adapun Buya Syafii kemarin bikin heboh dengan kesederhanaannya: pagi-pagi buta, ia naik KRL dari Jakarta ke Bogor untuk menghadiri “Peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila” yang diinisiasi oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila. Banyak yang bertanya, kenapa ia begitu? Walaupun sebenarnya tak perlu bertanya jika kita mengenal Buya Syafii. Ia memang begitu.

Kalau Anda bertanya karena ia adalah tokoh, maka etokohan, sebagaimana pada Gus Mus dan Quraish Shihab, sama sekali tak membuat mereka kemudian menjadi “menara gading”. Gus Mus menolak jabatan Rais Aam NU pada Muktamar NU ke-33. Adapun Quraish Shihab tak mau dipanggil “Habib”. Ketiganya sama-sama bersahaja, rendah hati. Di sini, mereka seolah mencibir politisi yang berebut “kursi”.

Ketiganya memang sama-sama tak takut ataupun sedih untuk bersuara yang tak populis. Mereka rela jadi “korban”: dicibir, dituduh yang bukan-bukan, bahkan hingga disesatkan. Lantaran visi mereka adalah merangkul “yang lain”, yang tak terangkul oleh ulama-ulama arus utama. Mereka menyuarakan toleransi, melindungi yang berbeda, dan membentengi yang tertindas. Sudah banyak yang menjadi “duta” Rahim-Nya: merahmati mereka yang sama. Sedangkan mereka menjadi bagian dari “duta” Rahman-Nya: merahmati mereka yang beda.

Apa yang heboh dari ketiganya itu sebenarnya adalah sesuatu yang “sederhana”. Memang begitulah semestinya seorang ulama. Sama seperti ketika di “Mata Najwa”, Gus Mus menegaskan bahwa tak ada “Islam Moderat” karena Islam itu memang harus moderat. Kalau tak moderat berarti bukan Islam. Ulama pun begitu: ia wajib bersahaja, dan kalau tak bersahaja berarti bukan ulama.

Maka, yang sebenar-benarnya “heboh” adalah kondisi kita: umat Islam, bangsa Indonesia. Kita yang tengah gersang akan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Kita yang terus dipertontonkan keislaman dan keindonesiaan yang tak semestinya, sehingga begitu melihat yang sejati, ia seolah “asing” dan karenanya menghebohkan.

Kini, di tengah kondisi kita yang sedang “sakit” ini, bahkan mungkin sedang parah-parahnya, di saat bersamaan ketiganya sudah tua. Gus Mus dan Quraish Shihab sudah berkepala tujuh. Buya Syafii Maarif bahkan sudah berkepala delapan. Najwa Shihab di “Mata Najwa” pernah mewakili tanya kita: “Bagaimana jika mereka tiada nanti?”

Quraish Shihab menjawab bahwa kematian tak pernah akan benar-benar memisahkan kita dengan mereka.

Para ulama, ketika mereka mati, mereka akan tetap “hidup” sebagaimana janji Allah dalam QS. Ali Imran: 169. Dalam konteks sektoral, Quraish Shihab akan tetap “hidup”, di antaranya dengan karya-karyanya dan Pusat Studi Al-Quran (PSQ)-nya. Gus Mus dengan karya-karyanya dan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin-nya. Buya Syafii Maarif dengan karya-karyanya dan Maarif Institute-nya.

Namun, dalam konteks luas, konteks kenegaraan dan keumatan, umat dan rakyat ini perlu membangun sebuah “kurikulum” untuk menyiapkan generasi selanjutnya seperti mereka. Kata kuncinya adalah kedalaman ilmu, keluasan wawasan, dan kebesaran hati.

Tanpa ulama seperti mereka, kita akan benar-benar gagap di tengah tantangan ke depan, ketika kejumudan dan modernisme berada di antara kita. Kejumudan bisa menggiring kita pada ekstremisme, dan modernisme bisa menjebak kita pada kegersangan.

Akhirnya, kita bersama mendoakan ketiganya sehat selalu dan panjang umur. Amin!

Baca juga:

Gus Mus, Guru Bangsa Kita

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

Quraish Shihab, Sunni-Syiah, dan Umat yang Terbelah

Husein Ja'far Al Hadar
Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…