Minggu, Oktober 25, 2020

Telolet, Klakson, dan Ironi Jalanan Kita

Tatkala Didik Kempot Tiada dan Nasib Seniman Jalanan

Terus terang saya tidak bisa membayangkan seperti apa nasib tim manajemen Didi Kempot setelah pencipta dan penyanyi itu -- dulu ia seorang pangamen --...

Hotman Paris Hutapea Sebagai Seorang Superman

Membuka akun Hotman Paris Hutapea adalah kebahagiaan. Ia adalah oase akal sehat. Bahwa hidup bukan melulu soal politik.

Agama Sipil dan Sesat Pikir “NKRI Bersyariah”

Ada pendapat lama yang mengatakan bahwa Islam tak sama dengan Arab dan sebaliknya. Artinya, dua istilah itu tak pernah sebangun. Berhijab ataupun bergamis tak...

Membangkitkan Minke di 11 Tahun Kematian Pram

Karya jurnalistik kita, hampir semua, membosankan. Semua ceritanya jauh dari kisah tentang kehidupan bebas. Isinya hanya tentang manusia korup sudah sejak dunia pikirannya. Para...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

Sejumlah pelajar sekolah menuliskan pesan " Om Telolet Om " agar pengemudi bus membunyikan klakson di Jalan Sudirman, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/12). Fenomena " Om Telolet Om " yang menjadi "trending topic" di media sosial tersebut menjadikan sebagian warga latah ikut turun ke jalan untuk merekam suara klakson bus "telolet" dan kemudian mengunggahnya ke internet. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/aww/16.
Sejumlah pelajar sekolah menuliskan pesan “Om Telolet Om” agar pengemudi bus membunyikan klakson di Jalan Sudirman, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (21/12). Fenomena “Om Telolet Om” yang menjadi trending topic di media sosial menjadikan sebagian warga latah ikut turun ke jalan untuk merekam suara klakson bus “telolet” dan kemudian mengunggahnya ke internet. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/aww/16.

Klakson berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu “klazo” yang artinya “menjerit”. Ia adalah simbol teguran paling keras di jalan. Maka, jika ia masih dimodifikasi lagi agar lebih menyalak, ia tak lagi terdengar sebagai “jeritan”, tapi “umpatan”.

Dalam jeritan, asumsinya adalah terjadi kesalahan fatal pada kendaraan lain, sehingga perlu jalan terakhir berupa jeritan untuk menegurnya. Adapun jika klaksonnya telah dimodifikasi lebih menyalak, maka apa pun yang keluar darinya, kesalahan pasti justru kembali pada penekannya, bukan lagi objek klakson itu.

Persis seperti knalpot. Orang memaklumi bunyinya karena memang begitulah seharusnya agar motor beroperasi. Tapi, jika ia telah dimodifikasi lebih menyalak, maka tentu itu akan mengundang kemarahan orang-orang di sekitarnya. Saya termasuk yang sering tak mampu menahan amarah mendengar bisingnya knalpot modifikasi hingga terlontar spontan dan begitu saja doa buruk untuk pengendaranya.

Kebodohan pengendara motor berknalpot bising itu seolah menular ke saya, atau sebagian orang yang terpaksa ke mana-mana dengan headset di jalanan agar tak jadi korban kebisingan klakson dan knalpot. Akhirnya, jadilah lingkaran setan kebodohan di jalanan Jakarta seperti kerap kita saksikan setiap harinya.

Maka, dari klakson dan knalpot, kita sebenarnya bisa tahu karakteristik pemiliknya: sopan atau bodoh. Dalam laporan Kompas disebutkan bahwa di Jepang, Eropa, atau Amerika, jarang sekali orang membunyikan klakson lantaran tingginya rasa solidaritas dan disiplin berlalu lintas, sehingga praktis klakson hanya digunakan untuk menghalau hewan yang nyasar ke jalanan.

Saya masih merasakan “iklim” semacam itu di Jogjakarta beberapa tahun lalu saat saya berkunjung ke sana beberapa hari dan menikmati jalanannya dengan motor sewaan untuk memburu buku-buku kuno di sana.

Tapi, di Jakarta, dengan klakson, kita seolah saling menuding hewan orang-orang di jalanan. Tan… ton… tan… ton. Semua yang di depan kita diposisikan seolah hewan yang nyasar ke jalanan, dan karenanya terus klakson berbunyi menghalau mereka. Kita merasa jalanan seolah milik engkong kita. Kita perkosa jalanan ibu kota. Sehingga lengkaplah derita ibu kota: polusi udara, polusi suara pula!

Apalagi tentang ironi lampu merah. Saat lampu masih merah, klakson bersorakan menyuruh yang disiplin untuk melanggar garis batas lampu merah. Mungkin, pikirnya, “yang penting tak tabrakan, meski membahayakan.” Di sana, kita seolah menuduh bodoh aturan yang dibuat dengan prinsip kehati-hatian. Pikirnya, tak usah berhati-hati. Buatlah garis tepat di ujung depan, tanpa perlu space aman. Tak perlu pula lampu kuning. Di Jakarta, kuning berarti jalan, bukan siap-siap atau hati-hati.

strobo-motor
“Om Mikir Om” [ilustrasi]
Bahkan, di detik-detik akhir lampu yang masih merah, klakson sudah bersahutan memaksa kita untuk menerobos. Mereka yang di belakang mengajak atau bahkan memaksa yang di depan (yang mungkin saja disiplin dan pintar, juga sopan dan sadar diri) untuk berbodoh-bodoh ria seperti mereka. Persis seperti disindir Remy Sylado dalam salah satu puisinya berjudul “Di Jalan Raya Kota”:

Di Jakarta, seorang profesor dikata-katai goblok
Oleh seorang sopir angkot yang cuma tamat SD Inpres
Karena tiba-tiba motor profesor itu mogok di tengah jalan
Dan jalanan macet berkilo-kilo
Klakson dipencet bertubi-tubi.

Meminjam sindirian Goenawan Mohamad (GM) dalam salah satu Catatan Pinggir-nya (16 Oktober 1982), jika di Jogjakarta prinsip di jalanan adalah “alon-alon waton kelakon” (perlahan-lahan asal tercapai), maka di jalanan Jakarta, peribahasa itu berubah jadi “alon-alon waton klakson” (perlahan-lahan asal klakson). Artinya, sebagian kita mungkin tak sedang terburu-buru, tak sedang mengejar apa-apa, juga tak sedang ngebut.

“Mereka seperti bergegas, namun sebenarnya beringas,” tulis GM. Sehingga klakson bukan hanya gagal kita pahami, tapi kita alihfungsikan semau kuasa dan nafsu kita.

Di Indonesia, klakson memang sudah telanjur sering gagal dipahami. Jangankan secara filosofis, bahkan fungsional. Bagaimana tidak, wong kita nyetir tanpa SIM atau bikin SIM dengan nyogok tanpa ujian, kok. Bahkan, setelah gagal dipahami, ia dimaknai ulang dengan makna yang mengerikan hingga menggelikan.

Pertama, di sini, klakson bisa saja dibunyikan justru di gelap dan sepinya malam. Di dalam terowongan atau tempat khusus lainnya. Mengapa? Takhayul! Biasanya dihubungkan dengan angkernya tempat tersebut, dan klakson diyakini seperti semacam pengusir hantu.

Kedua, seperti yang populer saat ini: “Om Telolet Om”. Klakson dibunyikan lantaran permintaan segerombolan anak kecil atau remaja. Untuk apa? Hiburan!

Ketiga, yang ini biasa kita dapatkan dari segerembolan suporter bermotor sepulang nonton sepakbola. Mereka menjadikan klakson sebagai irama yang sayangnya tak indah, tapi bising dan sangat menganggu, seperti ironisnya nasib persepakbolaan negeri ini.

Ada ragam ironi di jalanan negeri ini, khususnya ibu kota. Ada emak-emak yang hidupkan lampu sein kanan namun beloknya ke kiri hingga yang marah-marah di jalanan Jatinegara, karena merasa dirinya lebih pintar dan berkuasa ketimbang polisi. Ada rombongan konvoi mobil jenazah yang entah kenapa harus buru-buru hingga seringkali membahayakan pengendara lain.

Ada orang yang menganggap kopiah bisa menggantikan helm atau hadir pengajian berarti bebas melanggar semua aturan, bahkan menyetop jalanan. Banyak yang kebut-kebutan, tapi negeri ini—jangankan naik podium—ikut balap motor GP saja tak pernah. Dan masih banyak lagi.

Yang pada intinya menegaskan bahwa rasionalisme, apalagi etika, telah lenyap dari jalanan kita. Sehingga, mungkin yang dibutuhkan kita sebenarnya adalah: “Om Mikir Om!”

Baca

Kota yang Fasis

 

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.