Senin, Januari 18, 2021

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Menimbang KPK Daerah

Ketua KPK Agus Rahardjo dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti berbincang saat jumpa pers kegiatan Latihan Bersama Peningkatan Kapasitas Aparat Penegak Hukum Dalam Penanganan Tindak...

Kitab Babon, Akademisi Barat dan Islam Nusantara: Bercermin pada Tahqiq al-Risalah Imam Syafi’i-Joseph Lowry

Saya sudah beberapa kali membaca dengan seksama kitab al-Risalah terutama yang berbahasa Arab karena kitab ini merupakan sumber penting dalam tradisi madzhab Syafii. Julukan...

Bukan Batavia atau Jakarta, tapi Pa Shia (Kalapa)

Tulisan ini membahas riwayat penyebutan dari orang Tionghoa, yang sudah berbilang abad, jauh sebelum masa penjajahan Belanda. Orang Tionghoa menyebutnya Kalapa bukan Batavia! Meski...

Surat Cinta untuk Ananda, Permata Zaman Milenial

Ananda terhormat, Kenalkan. Aku adalah seorang pegiat konten dan pejuang literasi. Di penghujung tahun ini, aku sengaja menulis surat terbuka untukmu dengan sebuah keyakinan, bahwa...
Amir Uskara
Amir Uskara
Dr. HM Amir Askara, MKes adalah Ketua Fraksi PPP DPR RI

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW — kini tengah ramai penyebaran covid di pesta walimah (walimatul urs/mantenan) dan ceramah agama.

Kedua hal terakhir ini terangkat ke permukaan setelah muncul “kasus kerumunan” di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebelum itu, ada juga kasus kerumunan massa saat maulid Nabi Muhammad di Tebet Jaksel dan Mega Mendung, Kabupaten Bogor. Ketiganya saling terkait.

Pertama, kasus Petamburan. Ini berkaitan dengan acara mantenan putri Habib Rizieq Shihab (HRS), ketua FPI (Front Pembela Islam) 14 Novemver 2020 di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tamu yang hadir jumlahnya ribuan orang — bahkan ada yang memperkirakan sepuluh ribuan orang.

Yang jadi masalah, “kerumunan orang-orang” itu sebagian tak mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Mereka tak memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (social distancing). Padahal Jakarta sedang dalam kondisi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Kedua, kerumunan massa pada acara Maulid Nabi di Tebet (13/11) yang juga dihadiri HRS. Kerumunan massanya lebih banyak dari yang di Petamburan. Masalahnya lagi-lagi, penguunjungnya sebagian besar tidak mematuhi protokol kesehatan.

Ketiga, kasus maulid nabi di Megamendung, Bogor. Ini pun terjadi tanggal 13 November 2020. Usai maulid nabi di Tebet, Jaksel, HRS langsung ke Megamendung, Bogor. Yang hadir banyak sekali, ribuan orang. Lagi-lagi para hadirin sebagian tidak mematuhi Prokes.

HRS, sengaja atau tidak, telah mengumpulkan massa di tengah pandemi corona. Setelah ‘penjemputan’ di Bandara Soetta Selasa 10 November 2020, imam besar Front Pembela Islam (FPI) ini, berceramah di acara maulid nabi di Tebet dan Megamebdung, Bogor (13/11/2020). HRS juga berencana menggelar tablig akbar di sejumlah provinsi dalam rangka konsolidasi ‘revolusi akhlak’ yang digagasnya. Jika hal itu terjadi, ancaman ledakan kasus COVID-19 nyaris tak terhindarkan.

HRS memang secara terbuka mengundang orang-orang untuk berkerumun di komunitasnya. “Kami ajak semua umat untuk koordinasi dan konsolidasi untuk revolusi akhlak,” kata Rizieq dalam maulid Nabi Muhammad SAW di Petamburan, Jakarta, Minggu (15/11/2020).

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD, dalam konferensi pers Senin (23/11/020), menyatakan penyesalannya atas pelanggaran protokol kesehatan secara masif saat dan usai kepulangan HRS di Jakarta. HRS selama sekitar 3,5 tahun “menetap” di Saudi Arabia. Pelanggaran Prokes tersebut sangat berbahaya. Apalagi terjadi secara massal. Karena akan menyebabkan penularan covid tidak terkendali. Itulah sebabnya Mahfud memperingatkan seluruh kepala daerah dan aparat keamanan untuk menindak tegas aksi pengumpulan massa dalam skala besar. Mahfud pun meminta tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan contoh yang baik dalam mencegah penularan COVID-19.

“Kepada aparat keamanan, pemerintah meminta untuk tidak ragu dan bertindak tegas, dalam memastikan protokol kesehatan dapat dipatuhi dengan baik. Pemerintah juga akan memberikan sanksi kepada aparat keamanan yang tidak mampu bertindak tegas dalam memastikan terlaksananya protokol kesehatan,” kata Mahfud.

Anehnya HRS tak peduli dengan imbauan pemerintah. Ia malah menyatakan akan melawan setiap usaha menghalangi acara tersebut. “Jangan coba-coba ada pihak yang menghalangi tablig akbar kami atau menghalangi konsolidasi kami,” katanya. “Kali ini kami tidak akan menoleransi siapa pun yang menghalangi.” Ujar HRS.

Buntut kasus kerumunan massa saat penjemputan HRS di bandara Soetta; kerumunan massa saat peringatan maulid nabi di Tebet dan Megamendung; dan pernikahan Najwa Shihab putri HRS, dua Kapolda dicopot. Pertama Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana dan Kapolda Jawa Barat Irjen Rudy Sufahriadi. Keduanya dianggap lalai dalam menegakkan protokol kesehatan di tengah upaya Polri membangun Kepercayaan publik. Kapolda penggantinya, Irjen Mohamad Fadil Imran (Metro Jaya) langsung menyelidiki kasus kerumunan di Petamburan dan Tebet. Sedangkan Kapolda baru Jabar Irjen Ahmad Dofiri menyelidiki kasus kerumunan di Megamendung, Bogor. Ini untuk penegakan hukum terkait pandemi corona. Sekaligus menepis isu bahwa negara kalah menghadapi
pelanggar hukum massal tersebut.

Semua bentuk kerumunan di atas, ternyata dampaknya cukup mencemaskan publik. Kerumunan di Tebet, misalnya, menyebabkan 5 orang terdeteksi positif covid dari 97 orang yg diselidiki sampai 20 November. Ini artinya, lebih dari 5 persen sampel positif. Padahal jumlah orang yg hadir dalam acara maulid nabi di Tebet itu ribuan orang. Mereka berasal dari mana-mana. Dan tak ada catatan untuk di-tracing.

Sementara itu, data Jumat sore 20 November, hasil swab antigen untuk Megamendung usai maulid Nabi, adalah 20 positif covid dari 559 orang yang dites, kata Doni Monrdo, Ketua Satgas Covid Nasional. Ini artinya, dari sampel tersebut yang terpapar covid 3,6 persen. Sedangkan di Petamburan, yang terpapar covid sampai 22 November 2020 mencapai 30 orang.

Dari berita disebutkan jumlah hadirin di tiga acara yang dihadiri HRS tersebut mencapai ribuan orang. Bahkan konon puluhan ribu. Dengan demikian, jika test itu berlanjut, niscaya jumlah yang positif covid makin banyak lagi.

Betul, munculnya tiga cluster peyebaran covid di Tebet, Megamendung, dan Petamburan di atas, secara kuantitatif, sangat kecil dibandingkan merebaknya cluster secara nasional dan jumlah kasus positif harian seluruh negeri. Tapi bila dilihat pengaruhnya, munculnya tiga cluster tersebut berdampak sosial sangat besar.

Kenapa? Kasus tiga cluster itu, sepertinya menggambarkan, betapa sebagian umat Islam — penduduk mayoritas negara Indonesia — masih menganggap remeh pandemi covid yang telah meruntuhkan ekonomi dunia dan menimbulkan kecemasan manusia sejagad itu. Mereka lupa, bahwa satu orang yang positif corona, selama inkubasi bisa menularkan covid — jika tanpa karantina — kepada sedikitnya 36 orang. Bisa lebih kalau mobilitas orang positif covid itu tinggi. Bayangkan, berapa banyak orang tertular dampak penularan covid yang ditimbulkan dari puluhan ribu orang yang tak peduli pandemi sejak penjemputan HRS di bandara? Lalu pengumpulan massa di Tebet, Megamendung, dan Petamburan?

Berikutnya, betapa sulitnya tracing terhadap massa yang berkerumun di tiga tempat tersebut. Mereka berasal dari mana-mana dan tidak tercatat. Ini akan menyulitkan satgas untuk memetakan penyebaran kasus positif akibat kerumunan tadi. Juga menyulitkan satgas covid untuk melacaknya.

Satu hal lagi yang sangat merisaukan, masyarakat melihat contoh pengabaian Prokes sekaligus hukum — di tiga titik cluster itu, seakan-akan tak ada pandemi. Hal terakhir inilah yang membuat para relawan yang membantu satgas covid gusar. Karena usahanya untuk menyadarkan masyarakat terhadap bahaya covid selama 8 bulan sejak April (saat pandemi diumumkan menerpa Indonesia), terasa sia-sia. Padahal mereka, 30-an ribu relawan, berjuang siang malam tanpa bayaran, membantu pemerintah menyadarkan masyarakat akan bahaya covid. Tiga kasus di atas menyebabkan relawan frustrasi. Sebagian dari mereka sampai mengundurkan diri sebagai relawan. Karena merasa sia-sia kerja kerasnya.

Saat ini, ujung November 2020, belum ada tanda-tanda penurunan tingkat pandemi di Indonesia. Bahkan jumlah kasus positif terus bertambah. Kini jumlahnya sudah melebihi setengah juta orang. Jelas ini sangat mencemaskan. Jika semua pihak tidak kerjasama mengatasi pandemi, kondisinya akan makin gawat. Karena itu, tak ada jalan lain, pemerintah dan rakyat harus kerjasama untuk mengatasi pandemi secara serius dan disiplin. Tanpa kompromi.

Amir Uskara
Amir Uskara
Dr. HM Amir Askara, MKes adalah Ketua Fraksi PPP DPR RI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.