OUR NETWORK

Tawaran Lain Memandang HMI

Sejumlah aktifis mahasiswa dari HMI, PMII dan PMKRI yang tergabung dalam " Kelompok Cipayung " melakukan aksi unjuk rasa di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (2/3).Dalam aksi itu, mereka menghimbau masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dengan baik dan tepat serta tidak melakukan golput ataupun terlibat dalam politik uang. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/ed/pd/14.
Sejumlah aktifis mahasiswa dari HMI, PMII dan PMKRI yang tergabung dalam ” Kelompok Cipayung ” melakukan aksi unjuk rasa di Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (2/3).Dalam aksi itu, mereka menghimbau masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dengan baik dan tepat serta tidak melakukan golput ataupun terlibat dalam politik uang. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah.

Ini tulisan ketiga saya tentang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) setelah setahun lalu saya menulis untuk komisariat yang merupakan rahim tempat saya dilahirkan bertepatan dengan milad HMI, 5 Februari, atau H-9 Hari Valentine, 14 Februari. Yang kedua saat Balitbang PB HMI mengundang seluruh kader dan alumninya untuk mengumpulkan esai jelang kongres yang saat ini sedang berjalan dan mendapat serangan bergelombang dari haters dan followers-nya dengan grand tema Strategi Kebudayaan HMI. Ya, semacam menanggapi sentimen negatif dan pembusukan masif dari orang/kelompok satiris, yang (sebenarnya) sayang sama HMI.

Percayalah, membubarkan atau mengganti HMI dengan produk lain seperti saran Abangda PuthutEA tidak sesederhana seperti madridistas mendesak pemecatan terhadap Rafael Benitez. Sekadar catatan dari saya, bagi orang yang pernah berproses dan kecewa di HMI, dan hari ini ikut menjelek-jelekkan HMI, apa iya seperti itu juga cara Anda menjelek-jelekkan mantan sendiri di hadapan gebetan baru?

Organisasi ini sudah telanjur ter/men-cemplung-kan diri dalam perjalanan panjang sejarah bangsa ini. HMI sudah telanjur diberi label Harapan Masyarakat Indonesia oleh para pendiri bangsa. Sejarawan UGM Kuntowijoyo menyebut HMI sebagai salah satu identitas politik umat Islam. HMI juga sudah telanjur menjadi bagian dari jalur ide dan jalur politik saat gelombang reformasi berjejal dan republik ini hamil tua (lagi).

Membelokkan akronim HMI menjadi Habis Makan Ilang tidak salah, tapi ya sebagai netizen mestikah semua orang menjadi reaksioner atas portal berita yang hanya berdasar laporan via telepon atau ujaran Abangda Indra J. Piliang dengan cara-cara stringer. Saya orangnya tidak tegaan, Mas, untuk menuduh para begawan literasi ini sebagai–meminjam istilah Guy Debord–Society of The Spectacle, sisa mengganti media televisi dengan gadget.

Apa iya HMI harus pernah mengemis ke Tempo untuk minta dilipsus tokohnya sekelas Lafran Pane, pendiri HMI di Yogyakarta, 5 Februari 1947, silam bersama tokoh Muhammadiyah lainnya yang ikut mendirikan HMI biar sejajar dengan lipsus Semaoen atau Wijhi Tukul? Ya gak, dong, toh di ruang-ruang kultur dan perkaderan resmi HMI belajar sejarah itu niscaya.

Sebagai orang yang (bersyukur banget) pernah belajar di HMI, saya ingin bercerita sedikit tentang HMI, mengingat karir ber-HMI saya tidak semoncer kawan sepantaran dan adik-adik saya yang saat ini masih setia menjaga marwah organisasi ini.

Jadi begini, Ahmad Wahib pernah berujar di bukunya, Pergolakan Pemikiran Islam (anak liberal, gak liberal-liberal amat, dan pernah liberal pasti pernah baca) bahwa proses di HMI bukanlah sebuah proses yang selesai. Titik. Jadi, sangat keliru saat Anda berharap HMI, karena saking sepuhnya, bisa menjalankan kongres dengan damai, aman, tidak gontok-gontokan ide.

Kongres HMI sebelumnya di Makassar dan Palembang menjadi penentu lho adanya revisi Nilai Dasar Perjuangan yang hingga saat ini terjadi dikotomi NDP Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan NDP Makassar dalam forum-forum perkaderaan HMI. Patut diingat bahwa doktrin Nilai Dasar Perjuangan senantiasa menuntun kadernya untuk berdialektika di setiap prosesnya. Kongres HMI adalah salah satu ruang dari proses dialektika kader HMI yang tertuang dalam konstitusinya.

Demokratisasi informasi pasca Orde Baru membuat distribusi pengetahuan dan wacana bagi mahasiswa di luar Jawa tidak bergantung lagi pada input atau referensi dari Jawa. HMI salah satu organisasi kemahasiswaan yang mampu dengan cepat menjadi oase bagi kadernya yang haus akan pengetahuan. Dengan kekuatan organisasi yang merata di seluruh Indonesia (komisariat, koordinator komisariat, cabang dan badan koordinasi), arus pengetahuan terdistribusi secara merata. Jadi, melaksanakan Perkaderan Dasar atau Basic Training dan Intermediate Training, misalnya, bagi pengurus komisariat/cabang tidak bergantung pada berapa dana yang masuk dari Kanda, tetapi sejauhmana kekuatan dan analisis pengetahuan yang di-transaksi-kan antara peserta dan fasilitatornya.

Penjagaan kualitas kader HMI ini tak hanya di ruang-ruang perkaderan formal, lho. Artinya organisasi ini begitu fleksibel dengan segala cuaca, organisasi yang tahan banting–meminjam jargon band oldskul death metal Siksa Kubur di usia 18 tahun.

Kualitas kader HMI dilatih menjadi petarung politik dalam merebut kantong-kantong kekuasaan di kampus-kampus. Jadi, tidak heran jika kemudian kader-kader HMI inilah yang menjadi penjaga demokrasi dalam konstalasi politik/pilkada-pilkadaan di daerah-daerah tanpa menunggu survei-surveian dari para konsultan politik seperti Kanda Burhanuddin Muhtadi atau Yunarto Wijaya.

Selain menjadi petarung politik, kader HMI banyak yang memilih setia pada jalur ide. Jika Anda kenal Kanda Baharuddin Hafid yang segenerasinya sudah pada hidup mapan, hingga saat ini dia masih mengawal lho agenda-agenda perkaderan di wilayah Indonesia Timur.

Kalau berjualan buku mah itu profesi yang sangat sempit bagi kader HMI. Di SIGN Insitute atau Jasper Institute, ada puluhan kader HMI yang bermekaran bersama wacana kritis macam Michel Foucault, Jurgen Habermas, Thomas Kuhn tanpa melupakan kewajiban puasa dan salat lima waktu menerbitkan jurnal atau bahkan menerbitkan buku (tak hanya menjual buku). Atau jauh ke belakang, silakan tanya Miftahul Anwar (mahasiswa Fisip Universitas Hasanuddin angkatan 1999) ada berapa kelompok kajian/diskusi pelataran yang dia inisiasi sewaktu masih aktif di kampus.

O iya, hampir lupa. Dulu, sebelum negara api menyerang, *eh maksudnya organisasi sumbu pendek seperti FPI hadir di Makassar, masjid Ahmadiyah di Jalan Anuang itu aman-aman saja, lho. Dan HMI sebagai salah satu penjaga toleransi dan keberagaman di Makassar sampai sekarang.

Di tengah mabuknya anak-anak muda masa kini karena keranjingan ide-ide konsevatif produk impor atau khilafah, misalnya, kader HMI hari ini seenggaknya mewarisi pesan pendahulunya (M. Dawam Rahardjo) dalam tingkah laku dan kata bahwa “Komitmen HMI harus ditujukan pada merealisir ajaran Islam, dalam menjaga komitmen pada isu kebangsaan”.

Direktur Program PIKIR Kaltara (Pusat Kajian Masyarakat Perbatasan Kalimantan Utara), organisasi yang peduli pada isu-isu perbatasan, khususnya wilayah Kalimantan Utara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…