OUR NETWORK

Survei Dan Peluang Para Kontestan

Maka survei Kompas “memaksa” kedua kontestan dan Tim Suksesnya untuk memenangkan kontestasi Pilpres yang sangat ketat dan super panas ini dengan bekerja keras, baik dan baradab, sehingga pemilu presiden menjadi wadah dalam memilih pemimpin dengan proses yang demokratis.

Warga negara Indonesia tengah menunggu tanggal 17 April 2019. Tanggal yang menentukan nasib petahana dan penantangnya dalam Pilpres, Jokowi dan Prabowo. Survei masih menempatkan Jokowi sebagai pihak yang unggul dari Prabowo, meski keunggulan itu semakin menipis.

Hasil survei Kompas, media massa yang dipandang paling independen dan kredibel di negeri ini, memberikan informasi bahwa keunggulan petahana semakin menyempit jaraknya terhadap penantangnya. Bagi kubu petahana survei ini perlu dicermati dan direspon dengan kuat di lapangan dengan formulasi bagaimana mempertahankan keunggulan elektabilitasnya dalam waktu pemungutan suara yang hanya kurang satu bulan lagi.

Bagi penantangnya, hasil survei Kompas menjadi bahan bakar untuk lebih bekerja dengan keras dalam meraih dukungan suara dalam election nanti. Ketertinggalan yang semakin pendek jaraknya antara Prabowo dengan Jokowi, tentu menimbulkan harapan bagi penantang dan para pendukungnya, bahwa kemenangan sudah di depan mata.

Memang, survei yang dilakukan Kompas menjadi rujukan penting, di tengah maraknya lembaga survei yang diragukan objektivitas hasil surveinya. Maka ketika Kompas memaparkan hasil surveinya, ditanggapi secara beragam dan ramai oleh berbagai kalangan. Tetapi banyak kalangan mempercayai bahwa hasil survei Kompas lebih objektif dan adil bagi kedua kontestan.

Tanggapan beragam itu didasarkan pada data bahwa, Jokowi digambarkan menurun dari 52.6 persen (Okt. 2018) ke 49.2 persen (Maret 2019). Prabowo dinyatakan menaik dari 32.7 persen (Okt. 2018) menuju 37.4 persen (Maret 2019).

Jokowi masih unggul 11.8 persen.

Maka tanggapan yang paling objektif dan penting bagi petahana dari hasil survei itu adalah bahwa Jokowi perlu hati-hati! Belum aman, angka itu belum dan bahkan jauh dari aman. Kerja kerja sistematis dan terstruktur, serta masif perlu dilakukan dengan terukur dan baik serta beradab. Rapat-rapat umum dalam kampanye menjadi ruang yang bisa dimanfaatkan secara maksimal. Karena ini diyakini dapat mempengaruhi jumlah suara yang masih belum menentukan pilihan sebesar 13,4 persen.

Bagi Prabowo dan tim suksesnya, jarak yang semakin pendek dalam kontestasi pilpres melawan petahana, merupakan insentif segar yang membuat nalar dan fantasi dalam merumuskan kerja dan ide kampanye untuk memenangkan pilpres semakin kuat dan bergairah.

Angka 13.4 persen memang sangat potensial untuk diperebutkan. Ditambah dengan peluang bahwa sangat mungkin terjadi mutasi pemilih terhadap pilihannya, maka kompleksitas berpikir dan bertindak para kontestan dan tim suksesnya akan semakin ketat dan sengit. Di sinilah kedua kontestan perlu mengambil langkah dan pendekatan yang elegan dan rasional serta beretika dalam mengambil peluang 13.4 persen suara yang masih mengambang. Jika melakukan kesalahan yang bisa menimbulkan hilangnya simpati dan trust dari massa mengambang itu, maka resiko raihan suara yang stagnan bahkan menurun bisa terjadi.

Karena rujukan Kompas dalam soal survei adalah rujukan yang dipandang paling independen (hasilnya dikritik dengan sangat keras oleh Denny JA, tetapi didukung oleh berbagai pihak yang cenderung independen, misalnya) maka jika dikalkulasikan secara matematis dengan memperhitungkan berbagai variabel yang mengiringi kontestasi, peluang 13.4 persen dari suara mengambang dan perolehan suara hasil survey, masih menempatkan petahana sebagai kontestan dengan peluang memenangkan Pemilu cukup layak dan terbuka.

Variabel yang mengiringi kontestasi itu antara lain adalah variabel waktu yang tinggal hanya kurang dari 1 bulan. Jika tidak ada perkembangan yang signifikan, satu bulan kurang menjadi waktu yang sempit untuk mengejar ketertinggalan dan sekaligus juga mengambil “kue” 13.4 persen.

Variabel lainnya, yang saling berhimpit dengan waktu 1 bulan adalah bagaimana “kue” 13.4 itu melakukan mutasi kepada kedua kontestan, akibat berbagai dinamika dan blunder yang bisa dilakukan keduanya dalam waktu relatif ke depan. Karena ini kontestasi yang sangat ketat, maka mutasi suara akan berlangsung dengan kurang lebih berimbang. Angkanya bisa 5,6,7 sampai 9 persen kepada kedua kontestan sangat mungkin. Artinya, bisa jadi Jokowi memperoleh tambahan 5 sampai dengan 9 persen dari kue itu. Tetapi bisa juga juga bahwa kue itu diambil oleh Prabowo.

Variabel terakhir, adalah bahwa “kue” 13.4 persen suara mengambang itu akan abstain dalam Pilpres alias Golput. Itu berarti suara akan stagnan dengan peluang mutasi yang kecil, pada posisi 49.2 persen untuk Jokowi dan 37.4 persen untuk Prabowo, berdasarkan survei Kompas.

Maka survei Kompas “memaksa” kedua kontestan dan Tim Suksesnya untuk memenangkan kontestasi Pilpres yang sangat ketat dan super panas ini dengan bekerja keras, baik dan baradab, sehingga pemilu presiden menjadi wadah dalam memilih pemimpin dengan proses yang demokratis. Pemilu tidak lain adalah cara masyarakat dan bangsa modern dalam menatap masa depan dirinya…

***

Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…