Minggu, Maret 7, 2021

Surat Cinta untuk Ananda, Permata Zaman Milenial

Menakar Jokowi Memberantas Korupsi

Setiap tahun kasus korupsi di negeri ini semakin menjadi-jadi. Korupsi dengan berbagai rupa, macam, dan modusnya. Sudah bermacam rupa, gaya, dan profesi pula orang-orang...

Survei Dan Peluang Para Kontestan

Warga negara Indonesia tengah menunggu tanggal 17 April 2019. Tanggal yang menentukan nasib petahana dan penantangnya dalam Pilpres, Jokowi dan Prabowo. Survei masih menempatkan...

Gagal Menjadi Manusia Baru

Dengan meminjam gaya bahasa Soe Hok Gie pada harian Kompas terbitan 17 Agustus 1969, saya akan memulai artikel opini ini: “Tanpa kita sadari di...

Infodemi Covid-19 yang Menyesatkan Sangat Membahayakan Masyarakat

Di era pandemi yang mencemaskan dunia, banyak sekali muncul informasi tentang pandemi (infodemi) yang menyesatkan. Seorang herbalis dari Kandahar, Afganistan bernama Hakim Alokozai, misalnya,...
Deden Ridwan
Deden Ridwan
Alumnus Jurusan Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta (1997), termasuk 100 Tokoh Terkemuka Alumni UIN Syarif Hidayatullah—buku yang disunting Prof. Dr. Sukron Kamil (2020). Dia pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda (2002-2003). Hidupnya dihabiskan di dunia industri kreaif, baik sebagai penulis, pegiat buku dan konten profesional maupun produser. Film terbarunya, Lafran, Demi Waktu, segera tayang (2021). Kini Deden menjadi founder & CEO Reborn Initiative.

Ananda terhormat,

Kenalkan. Aku adalah seorang pegiat konten dan pejuang literasi. Di penghujung tahun ini, aku sengaja menulis surat terbuka untukmu dengan sebuah keyakinan, bahwa kita bersama bisa saling dukung demi kemajuan negara dan bangsa. Karena anak muda selalu berpikiran terbuka, maju, dan progresif. Apalagi sejarah membuktikan bahwa Republik ini berdiri, tumbuh, berkembang dan maju seperti sekarang, lantaran ditopang pemuda tecerdaskan, tangguh, dan energik seperti kalian.

Hari ini kondisi kita jauh lebih maju tinimbang ketika generasi awal Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Saat Republik berdiri, angka buta huruf latin masih berkisar sembilan puluh lima persen. Kita membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin Republik muda pada waktu itu. Mereka harus menggerakkan roda kemajuan dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi perjuangan, tapi tak mampu menuliskan namanya sendiri.

Kini, melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita sendiri memutarbalikkan fakta itu hingga tinggal tujuh persen saja yang buta huruf latin. Tidak banyak bangsa besar di dunia, yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini. Jelas, itu prestasi kolosal yang membanggakan.

Kalianlah permata zaman milenial ini. Kalau Bung Hatta bisa menguasai belasan bahasa utama manusia pada zaman sebelum kemerdekaan—di mana mendapatkan sebuah buku saja sudah merupakan kemewahan, maka hari ini kalian harus bisa mengungguli Bapak Koperasi Indonesia itu dengan terobosan-terobosan kreatif.

Satu dasawarsa silam, menjadi pintar itu mahal luar biasa. Sekolah dan kampus terbaik hanya ada di luar negeri. Sekarang, aplikasi belajar dalam jaringan, mudah diakses dari sembarang tempat. Kapan saja sekehendak hati kalian. Para tetua bangsa kita, telah membuktikan dirinya sanggup menunggangi zaman bergerak. Agus Salim yang brilian itu, misalnya, disegani petinggi dunia lantaran kecemerlangan inteleknya. Ia punya badan boleh kecil. Namun nyalinya tak bisa dianggap remeh.

Ananda terpandang,

Negara kita pun sedang bersalin rupa menuju digitalisasi birokrasi. Semua itu untuk menutup kemungkinan terkecil penyelewengan kekuasaan. Rakyat sudah cerdas. Seluk-beluk jejak pemimpinnya bisa ditelusuri melalui informasi-data di langit maya. Sebagai kelompok pemilih terbesar, kalian harus memanfaatkan peluang zaman baru ini untuk kemajuan kita bersama.

Kita bisa merajut mimpi itu mulai dari Sabang sampai Merauke yang indah dan molek. Mari kita kejar ketertinggalan dengan penguasaan pada internet yang mumpuni. Kita mesti berusaha mewujudkan cita-cita bangsa tersebut dengan segala daya-upaya. Meski untuk itu, kita tak bisa sendirian, harus kolaboratif: bergerak gotong-royong, seperti kalian rindukan. Kalian adik-adik milenial tercinta, bantulah kami yang tua-tua ini menuai padi di sawah masa depan kita.

Daftar masalah yang belum terselesaikan juga masih panjang. Langkah yang harus kita mulai adalah meratakan akses bagi setiap anak bangsa pada pendidikan berkualitas. Kuncinya, mengonversi kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan.

Garda terdepan dalam soal ini adalah para pemuda. Kalian harus tetap berdiri optimistik di depan para orangtua. Dalam impitan tekanan ekonomi akibat pandemi ini, kalian harus tetap bisa hadir di hati jutaan anak-anak negeri. Memperjuangkan, memotivasi, dan menghibur mereka.

Hati kalian pasti bergetar jika kelak impianmu merujud kenyataan. Setiap ucapan terima kasih adalah tanda atas kebajikan hidup ini. Kalian perlu meyakini, pada pundak-pundak kekar yang sudah kalian tempa, kami titipkan persiapan masa depan bangsa supaya lebih cerah, terhindar dari kehancuran.

Ananda tercinta,

Maka dari itulah, kita mesti memulainya dengan meringankan pajak bagi kaum muda. Kita harus terus memperjuangkan penghapusan pajak penghasilan bagi para pekerja awal karier dan keluarga muda yang berpenghasilan di bawah Rp 15 juta. Anak-anak muda yang baru meniti karier dan keluarga muda, perlu diberi kelonggaran agar kalian lebih semangat dalam bekerja.

Kita juga wajib memperjuangkan internet gratis bagi pelajar dan mahasiswa guna keperluan pendidikan anak-anak negeri. Kalian harus mendorong agar internet gratis tersedia di ruang publik seluruh pelosok negeri, terutama di kota-kota, terbentang di setiap ufuk nagari. Bahkan, setiap desa harus segera terdigitalkan, di mana warga bisa mengakses internet gratis di balai desa atau kelurahan.

Kita mesti meningkatkan kemampuan anak muda dengan memperjuangkan anggaran beasiswa untuk seluruh pemuda di pelosok negeri dalam bidang industri kreatif, agar bangsa ini bisa punya lebih banyak animator, video editor, game developer, dan pelbagai jenis profesi pendukung ekonomi kreatif lainnya.

Kita juga mesti berjuang mendorong pengakuan atas profesi baru seperti content creator, influencer, YouTubers, dan lain-lain, agar bisa dicantumkan dalam kolom profesi KTP. Pengakuan ini penting agar anak-anak muda yang menggeluti profesi baru tersebut bisa mengajukan kredit pinjaman ke bank untuk mengembangkan usahanya. Tak lupa, kita mesti mendorong pembangunan satu gedung kesenian standar internasional, olahraga, dan bioskop di setiap kabupaten/kota di Indonesia. Dengan cara itu, nilai-nilai budaya, seni, dan olahraga yang menghiasi bantala kita tetap terawat sebagai benteng pertahanan tangguh.

Ananda terkasih,

Kalianlah kekuatan terbesar yang bisa mengembalikan politik ke tempat terhormat. Kalian mesti terlibat berjuang. Demi mendekatkan kembali politik dengan nilai-nilai kebajikan agar lahir negarawan muda yang seluruh pikiran dan tindakannya didasarkan atas kepentingan bangsa dan negara Indonesia, bukan sekadar kepentingan politik pribadi jangka pendek.

Ketahuilah. Jika kalian bersikap pasif, apalagi antipatif terhadap proses kehidupan politik, tunggulah kehancuran negeri ini. Karena kehidupan politik akan semakin dikuasai generasi tua dan pragmatis yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok.

Meskipun, aku sadar. Kalian kurang tertarik politik karena tak suka kompetisi. Kalian lebih suka kolaborasi. Namun, aku yakin kalian bisa memaknai politik secara baru, sesuka kalian. Ya, politik kehidupan (life-politics), berbasiskan gagasan dan cerita yang menyenangkan.

Indonesia baru. Impian kita. Hasil baru tidak mungkin dicapai melalui cara lama. Agar bisa bangkit, negeri ini perlu lokomotif-lokomotif baru dalam pelbagai sektor kehidupan. Dan, lokomotif-lokomotif itu adalah kalian sendiri: ide baru, gagasan baru, cara baru, orang baru, dan mesin baru.

Tentu tidak mudah menjalankan hal baru itu. Hanya bersama kalian, terutama anak muda dan perempuan Indonesia yang selama ini merasa jauh dari politik, bangsa ini bisa begerak cerdas dan cepat ke depan. Jadi, partisipasi kalian dalam politik-gagasan-kolaboratif yang mengasyikkan sekaligus meyakinkan, sangat dibutuhkan.

Sadarlah. Di pundak kalian, nasib bangsa ini ada. Pegang teguh prinsip. Jangan sekali-kali kalian melepaskan jati diri. Teruslah berpikir untuk maju, tanpa harus menjadi Barat. Kita punya Pancasila, saripati kepribadian tinggi bangsa. Jadikan Pancasila sebagai pandangan hidup kalian. Hadirkan terus Pancasila dalam diri kalian. Rasakan langsung manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Maka, silahkan maknai Pancasila itu sesuai jiwa kalian!

Berlandaskan ruh dan nilai yang terkandung dalam Pancasila, niscaya kalian akan bisa menggenggam dunia. Dengan Pancasila, kita yang berpusparagam ini bisa disatukan. Ada kalimatun sawa’ yang memadukan kita. Itu makna sejati dari Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda, tetapi tetap bersaudara. Apalagi, jika ruh dan nilai dari Pancasila itu, terutama sila kelima, bisa kita tegakkan. Karena akar masalah dari riuh-rendah kehidupan politik akhir-akhir ini sungguh bermula dari ketidakadilan.

Indonesia kita yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini adalah anugerah. Perbedaan bukanlah petaka. Justru sebaliknya, karunia tiada tara dari Tuhan Yang Mahakuasa. Jaga itu, syukuri itu. Saling hormat-menghormati di antara kita sesama anak bangsa. Hapus intoleransi. Tak boleh ada yang merasa paling benar sendiri, paling unggul sendiri. Kalian semua sama, anak-anak negeri. Buat bangga ibu pertiwi.

Sekarang, kalian hidup di era terkini, dengan berkah kemajuan teknologi informasi. Nyaris, tak ada hari tanpa bermedia sosial. Ada Facebook, Twitter, Instagram, WhatsApp, dan banyak lagi. Jadikan itu untuk mengasah diri, menimba banyak ilmu, berjejaring, tanpa sedikit pun mencerabut akar jati diri. Kalian harus tetap menjadi anak-anak muda Indonesia yang kritis, santun, dan beradab. Tak boleh saling mencaci, atau mengebiri. Tetaplah menjadi anak yang manis, dan terkasih. Tempat menitipkan impian untuk memajukan negeri.

Deden Ridwan
Deden Ridwan
Alumnus Jurusan Aqidah-Filsafat, Fakultas Ushuluddin IAIN Jakarta (1997), termasuk 100 Tokoh Terkemuka Alumni UIN Syarif Hidayatullah—buku yang disunting Prof. Dr. Sukron Kamil (2020). Dia pernah belajar di Universitas Leiden, Belanda (2002-2003). Hidupnya dihabiskan di dunia industri kreaif, baik sebagai penulis, pegiat buku dan konten profesional maupun produser. Film terbarunya, Lafran, Demi Waktu, segera tayang (2021). Kini Deden menjadi founder & CEO Reborn Initiative.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.