OUR NETWORK

Sumpah Pemuda Milenial dan Gen Z

Gerakan yang serupa kini meletup di penjuru dunia, dari Hongkong, Chile, hingga Irak didominasi anak-anak muda.

Proses alih generasi adalah sesuatu yang alamiah dalam perubahan sosial kemasyarakatan. Sosiolog Karl Mannheim merumuskan secara modern generasi sebagai sebuah konsep. Yaitu, penggolongan sosial berdasarkan kesamaan rentang usia, dengan pengalaman yang sama atas tonggak-tonggak besar peristiwa dalam sejarah.

Apa yang menjadi kehebohan beberapa waktu belakangan tentang istilah “generasi milenial” berawal dari pembabakan generasi yang dibuat oleh William Strauss dan Neil Howe. Teori generasi Strauss-Howe mengandaikan adanya siklus dalam peralihan generasi di Amerika tiap 20-22 tahun, sebagai bagian dari siklus besar dalam kurun 80-90 tahunan.

Berbagai istilah disematkan kepada generasi yang lahir pada rentang tahun 1980 hingga 2000-an. Penamaan generasi milenial dikaitkan dengan perubahan milenium ketiga dalam kalender Masehi. Disebut pula generasi Y, sebagai kelanjutan dari penamaan sebelumnya generasi X atau “generasi MTV”. Atau generasi net, masa di mana internet lahir dan merasuki nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan.

Lembaga riset Pew Research Center membeberkan serangkaian peristiwa mulai dari serangan atas menara kembar Word Trade Center hingga krisis kredit perumahan (subprime mortgage) yang memberi karakteristik terhadap generasi milenial. Berbeda dari generasi sebelumnya yang cenderung anti-negara, generasi milenial lebih mendukung surveillance yang dilakukan negara dalam memerangi terorisme.

Kondisi krisis ekonomi menciptakan perasaan ketidakpastian (insecure), hingga generasi milenial lebih memilih pekerjaan-pekerjaan anti-mainstream yang tidak rutin dan rigid berdasarkan jam kantor. Mereka sibuk berkecimpung di dunia start up atau kerja-kerja yang fleksibel, bisa dikerjakan dari rumah atau kafe.

Alih-alih memikirkan masa depan dengan mengambil KPR, mereka lebih memilih experience dengan traveling, menikmati tinggal di rumah-rumah adat di Sumba atau Raja Ampat. Wisata instagrammable menjadi kata magis bagi pelaku industri untuk mengajak datang berbondong-bondong. Setidaknya bagi mereka yang belum mampu berpose dengan latar menara Eiffel atau sudut keramaian di Times Square .

Pembabakan generasi ala Amerika itu kemudian diasumsikan berlaku global, tak pandang apakah itu anak muda di Wonosobo, di negara konflik Suriah, atau bahkan menyusup ke Korea Utara. Sementara itu, tiap negara mengalami pembabakan sejarah yang lebih bersifat lokal. Narasi sejarah kita membagi perubahan sosial berdasarkan kelahiran angkatan yang didorong oleh kaum muda.

Adalah anak-anak muda ningrat yang mengenyam bangku pendidikan modern era Politik Etis di Jawa mengembangkan kesadaran kritisnya terhadap kolonialisme. Mereka mendirikan organisasi pertama Budi Utomo, yang diikuti berbagai organisasi lainnya dari Sarekat Islam hingga Partai Komunis Indonesia. Pemuncaknya adalah Sumpah Pemuda, yang melahirkan Indonesia sebagai konsep sebuah bangsa.

Kaum muda menjadi garda depan pendobrak ketika elite-elite tua memilih jalan yang lebih hati-hati dalam memerdekakan bangsa. Kaum muda pula yang melawan kecenderungan otoriter Orde Lama dan tekad Orde Baru untuk mengoreksinya. Arus demokratisasi pada 1998 didorong pula oleh lapisan aktivisme kaum muda yang menginginkan kebebasan sipil dan menolak praktik ekonomi berbau KKN.

Generasi milenial, atau kini lahir pula generasi berikutnya (gen Z) menjadi tulang punggung dari keberadaan kaum muda saat ini. Berbeda dari angkatan sebelumnya yang lahir dari aktivisme organisasi korporatis ala kelompok mahasiswa Cipayung, mereka lebih asyik dengan model kerelawanan sosial berbasiskan komunitas.

Lihat saja bagimana sosok selebritas media sosial Karin Novilda atau yang beken dengan nama Awkarin menggalang dana lewat Kitabisa dalam aksi sosial pemadaman karhutla, misalnya. Atau musisi Ananda Badudu yang menjadi trigger dalam aksi-aksi mahasiswa yang fenomenal dalam penolakan terhadap sejumlah RUU bermasalah pada akhir September lalu.

Di kutub yang lebih politis, Tsamara Amany jadi figur yang aktif mengkritisi politisi tua. Meskipun gagal mengirimkan kursi ke Senayan, sejumlah anak muda kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hadir di parlemen lokal dari Nias Selatan hingga Yahukimo, dari Sumba Tengah hingga Singkawang. Mereka kini getol memelototi proses penganggaran yang dilakukan eksekutif atas nama suara rakyat.

Pada masanya kaum muda di seluruh dunia menjadi komponen penting dalam penguatan identitas kebangsaan dan kesadaran untuk mencapai kemerdekaan. Di Tanah Air, figur muda seperti Bung Karno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim beradu gagasan menyerukan untuk merebut kemerdekaan. Gerakan yang serupa kini meletup di penjuru dunia, dari Hongkong, Chile, hingga Irak didominasi anak-anak muda.

Bagi penulis, momen peringatan Sumpah Pemuda  adalah kesadaran revolusioner guna menguatkan solidaritas kebangsaan, persatuan, dan kemajuan. Sumpah Pemuda merupakan komitmen untuk menjadi bagian dalam upaya membangun kesadaran pemuda dalam ikut memajukan dan menyejahterakan rakyat.

Sumpah Pemuda harus dimaknai pada nilai dan etos dalam hidup keseharian untuk ikut berkarya dan menjaga daya kritis dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Sumpah Pemuda jangan hanya menjadi sebatas ritual yang kehilangan nilai utamanya. Pemuda harus terus-menerus menjadi kelompok kritis terhadap kekuatan-kekuatan politik yang tidak berpihak kepada rakyat.

Bacaan terkait

Ketika Nasionalisme dan Merah-Putih Hanya Tameng

Apa yang Film Bumi Manusia Suguhkan untuk Generasi Milenial?

Menumbuhkan Jiwa Nasionalis di Era Milenial

Militerisme dan Nasionalisme Baris-berbaris Pendidikan Kita

Heboh Awkarin, Idolaque!

Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…