Selasa, Maret 9, 2021

Jejak Samar Tiki-Taka di Timnas Spanyol

Jokowi, Pengampunan Pajak, dan Kemiskinan

Pemerintahan Joko Widodo resmi memberlakukan pengampunan pajak (tax amnesty) sejak 18 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017. Payung hukumnya telah ditetapkan, yaitu Undang-Undang Nomor...

Kyai Ma’ruf dan Pembangunan Kesejahteraan Papua

Sore tadi saya melakukan audiensi kepada Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, di rumah dinas beliau di Jakarta, untuk mendengar arahan dan masukan beliau terkait...

Menolak Modernisasi Bukan Ketertinggalan

Sejumlah wartawan memotret unjuk rasa Aliansi Masyarakat Peduli Tata Ruang Yogyakarta berjudul "Manusia Semen" di DPRD DIY, Senin (29/2). Massa meminta Pemerintah Yogyakarta memperhatikan...

Jika Tsamara Jadi Menteri

Harian KOMPAS edisi Sumpah Pemuda 2018 pernah menobatkan perempuan ini sebagai tokoh politik anak muda dan menampilkan detail sosoknya di halaman depan. Pada Pemilu...
Mahfud Ikhwan
Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

Akhirnya, Spanyol mengalaminya juga. Patriark sepakbola paling baru itu, pujaan para penggemar sepakbola yang lahir di era ’90-an, tersungkur di lubang yang pernah dijeblosi tim macam Inggris, Portugal, Irlandia, dan Perancis. Mereka terantuk kejadian tak mengenakkan, kekisruhan tak perlu, bahkan aib, jelang pentas akbar impian para pemain dan semua pencinta sepakbola. Mereka harus memecat pelatih, Julen Lopetegui, dua hari sebelum Piala Dunia 2018.

Dalam sejarah Piala Dunia, tim-tim yang mengawali kiprahnya dengan kisruh atau masalah macam ini biasanya pulang lebih awal dari seharusnya. Bahkan, gagal total, seperti yang dialami Perancis delapan tahun lalu. Apakah Spanyol akan mengalami hal-hal buruk macam itu?

Mengacu hasil di babak grup, saya kira para pemimpi yang mendukung Inggris (yang berharap akan menghadapi mereka di semifinal), juga tim-tim macam Brasil, Argentina, Perancis, atau rekan segrup mereka Portugal, yang boleh jadi sudah membayang-bayangkan final, masih harus menunggu.

Satu kemenangan (atas Iran) dan dua hasil imbang (satu dengan Portugal, satunya lagi dengan Maroko), saya kira belum bisa dipakai untuk menilai. Kecuali, mungkin, mempertegas satu hal: sebuah era telah benar-benar selesai.

***

Seminggu jelang Piala Dunia Meksiko 1970, kapten tim Inggris, Bobby Moore, ditangkap polisi Kolumbia, sesaat setelah pertandingan ujicoba Inggris melawan Los Cafeteros. Ia dituduh mengutil emas di pertokoan Bogota. Ketika tim bertolak menuju Meksiko, kapten mereka masih tertinggal di Bogota dan mesti berurusan dengan para penyidik. Tim itu guncang. Bisa melewati babak grup, juara bertahan itu akhirnya tewas di tangan tim yang mereka kalahkan di final edisi sebelumnya, Jerman Barat. Meski bisa dipastikan bahwa pencuri itu adalah pemain lain yang bukan Moore, cerita itu tak bisa ditarik lagi, dan sejarah sepakbola Inggris tak pernah bisa lebih baik lagi setelahnya.

Dua dekade kemudian, tim yang sama kembali mengalaminya. Dianggap sebagai salah satu tim paling berbakat yang pernah mereka punya, tim itu “dihancurkan” oleh cara sembrono Glenn Hoddle, pelatihnya sendiri, dalam memperlakukan pemain. Hanya selang hari sebelum pertandingan pertama di Perancis 1998, Hoddle dengan dingin memulangkan salah satu pemain paling berbakat di tim, juga yang paling dicintai rekan-rekannya, dan dipuja para pemain muda: Paul Gascoigne.

Menyaksikan Gazza menangis dan mengamuk, jiwa tim itu terganggu. Orang-orang mungkin akan mengingat sepakan kecil Beckham kepada Simeone di perempat final melawan Argentina sebagai pangkal kegagalan Inggris. Sebenarnya, itu puncaknya.

Portugal mengalami aibnya di Meksiko 1986. Kacau sejak berangkat, tim itu amburadul ketika sampai di Meksiko, tepatnya di pusat latihan mereka: Saltillo. Mereka menuntut bonus, mogok latihan, dan menolak memakai atribut sponsor. Lebih buruk lagi, mereka keluar malam dan ketahuan main perempuan. Beruntung bisa lolos babak grup, mereka segera terkirim pulang di babak berikutnya, dan tak pernah diingat lagi.

Di Saipan, kapten tim Irlandia Roy Keane melakukan pemberontakan tunggal kepada timnya dalam persiapan jelang Piala Dunia Korea-Jepang 2002. Sementara, delapan tahun kemudian, di Cape Town, sebagian besar anggota timnas Perancis, di bawah komando kapten Patrice Evra, membangkang kepada pelatihnya, Raymond Domenech, setelah secara sepihak memulangkan striker Nicolas Anelka. Jika Irlandia terhenti di babak 16 besar, Perancis ada di kerak klasemen, pulang dengan muka bercoreng.

Di Sochi, dua hari sebelum pertandingan pertama Piala Dunia Rusia 2018, dengan mata nanar, ketua PSSI Spanyol Luis Rubiales memutuskan memecat Julen Lopetegui, setelah beberapa jam sebelumnya Real Madrid mengumumkannya sebagai pelatih baru di tim itu. Diiringi rumor bahwa sebagian pemain tak menghendaki pergantian Lopetegui, pelatih pengganti Fernando Hierro berjanji melakukan perubahan sekecil mungkin.

***

“Perubahan kecil” yang dijanjikan Hierro mudah dimengerti. Ia tahu, ia tak ditunjuk untuk memperbaiki keadaan; ia mesti mencegah yang lebih buruk terjadi. Ya, seperti yang Rubiales bilang: itu waktu yang sulit untuk mengambil keputusan; itu jelas waktu yang jauh dari tepat untuk membuat perubahan.

Kalimat yang bernada sama sebenarnya juga diucapkan Lopetegui, Juli 2016, ketika ditunjuk jadi pelatih baru Spanyol. “Spanyol tak butuh revolusi,” katanya, mengacu kepada tim yang ditinggalkan Del Bosque. Tapi, bagaimana ia tidak mengubah tim yang sangat berorientasi Barca tinggalan Del Bosque itu sementara Barca sendiri secara gradual telah berubah? Lagi pula, kenapa tim itu tak boleh berubah?

Meski menjuarai tiga turnamen besar secara beruntun, tim yang sama juga telah jelas-jelas gagal di dua turnamen besar terakhir. Kita semua menjadi saksi, bagaimana tim itu ditembak jatuh oleh gol pesawat terbang milik Robin Van Persie di Brasil empat tahun silam. Dua tahun kemudian, di Saint-Denis, taktik Antonio Conte dan gol voli Grazioano Pelle, benar-benar telah menjinakkannya. Dan, semua orang bilang, sebuah era telah selesai.

Koneksi Barca memang masih bertahan di tim itu. Ada Gerard Pique, Jordi Alba, Sergio Busquet, dan Andres Iniesta, juga Thiago Alcantara—jika mau sedikit memaksa. Namun, bagaimana tim ini sekarang menumpukan dirinya pada Isco, dan memenuhi sisi sayapnya, dari belakang hingga depan, dengan pemain-pemain Real Madrid (Nacho, Daniel Carvajal, Marco Asensio, Lucas Vasquez), menunjukkan di mana perubahan itu—disengaja atau tidak. (Dan kenapa para direktur Madrid di Bernabeu menginginkan Lopetegui sebagai pengganti Zinedine Zidane boleh jadi bisa memberi penjelasan tambahan.)

Di sisi lain, tak ada yang lebih menunjukkan perubahan itu melebihi bagaimana tim itu bekerja.

Dua di antara tiga gol Spanyol ke gawang Portugal kiranya berbicara banyak. Gol pertama Costa jelas tak akan mengingatkan kita pada satu pun dari 8 gol yang dicetak Spanyol di Afrika Selatan, saat mereka menjadi juara dunia. Tak ada tiki-taka di sana. Tak ada puluhan umpan yang mengawalinya. Tak ada kepungan sepanjang pertandingan. Dan jelas, itu bukan sebuah gol tap oleh seorang nomor 9 palsu. Jika mau mencari padanan Spanyol-nya, gol itu mungkin sedikit mengingatkan kita dengan gol Fernando Torres, 6 tahun lalu, di semi final Liga Champions 2012—ke gawang Barcelona.

Gol ketiga dari Nacho? Jika Marcelo menonton pertandingan itu, saya kira ia akan tersenyum. Sebab, gol itu akan mengingatkannya akan gol-golnya, juga rekan-rekan setimnya sesama bek sayap. Dan Nacho, kebetulan adalah rekannya di Madrid.

Jika tilikan atas bagaimana gol-gol dicetak itu terkesan mengada-ada, coba cek bagaimana Spanyol kemasukan gol-golnya, terkhusus dua gol dari bola mati Ronaldo di pertandingan pertama, dan dua gol yang dicetak Maroko di pertandingan ketiga. Zidane, dengan senyum di wajahnya, mungkin akan menyebut itu sebagai chaos.

***

Seburuk apa pun keadaan psikologis tim Spanyol setelah dipecatnya Julen Lopetegui, tim ini tetap terlalu bagus untuk terdepak dari babak grup. Dan itulah yang kemudian terjadi. Bahkan, jika pun sulit juara, tak ada yang akan membantah bahwa materi tim ini sangat pantas untuk sampai final. Dan, meskipun tulisan ini menegaskan bahwa remah-remah sisa kejayaan era Del Bosque telah sampai di titik penghabisan, saya sama sekali tak mengatakan bahwa tim ini tak akan bisa berbuat apa-apa.

Tiki-taka dan jejak Barca di timnas Spanyol mungkin tinggal samar-samar, menua bersama usia dan rambut Iniesta. Tapi jelas sudah, itu bukan satu-satunya sistem, dan satu-satunya cara, untuk merebut trofi. Madrid, di bawah Zidane, telah menunjukkannya. Dengan chaos, mereka menjuarai Liga Champions tiga tahun beruntun.

Spanyol, dengan Hierro di bangku cadangan, dan tim Lopetegui di lapangan, boleh jadi telah memutar haluan.

Mahfud Ikhwan
Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.