OUR NETWORK

Tolong Tahan, Ini Ujian!

Sifat media sosial juga bisa membuat para pengguna menyalahgunakannya untuk kepentingan-kepentingan yang tidak terpuji. Sebagai ruang publik baru, medsos menjadi arena atau tempat peperangan kelompok-kelompok yang bertikai.

Hidup di zaman now ketika media sosial (medsos) demikian mendominasi, bahkan bisa membuat para penggunanya sangat tergantung, di samping dijejali oleh berbagai kenyamanan hidup, juga ketidaknyamanan sekaligus. Ibarat pisau bermata dua, mungkin begitulah dunia medsos bisa dianalogikan: bisa untuk memotong daging (positif), tetapi juga membunuh manusia (negatif).

Salah satu bentuk ketidaknyamanan yang kerap dihadirkan melalui medsos adalah tersebarnya berita-berita hoaks, postingan yang mengandung ujaran kebencian (hate speech), dan ungkapan saling menghina antar satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hampir setiap waktu para pengguna medsos menemukan hal tersebut, dan celakanya kadang-kadang mereka tidak menyadari bahaya itu semua.

Tersebarnya berita-berita hoaks secara masif diperparah pula oleh kecenderungan sebagian pengguna medsos yang suka menyalin tempel (copy-paste) pesan-pesan yang diterimanya. Kerap kali sebuah pesan yang diterima, disalin tempel begitu saja, tanpa meneliti terlebih dahulu kesahihan isinya, kredibilitas sumbernya, dan lain-lain. Akibatnya, berita-berita hoaks pun tersebar sedemikian masif melalui medsos.

Ambiguitas Ruang Publik Baru

Dulu filsuf Jurgen Habermas dikenal dengan gagasannya tentang ruang publik (public sphere) sebagai ruang berlangsungnya proses demokrasi. Public sphere hadir sebagai ruang kebebasan setiap warga negara untuk mengekspresikan apa pun pemikirannya tanpa takut ancaman. Di sini tidak ada intervensi negara dalam bentuk apa pun sehingga warga leluasa. Habermas merujuk kafe sebagai salah satu contoh ruang publik.

Kini ada ruang publik yang jauh lebih bebas dari yang dimaksudkan oleh Habermas di atas. Inilah yang disebut Manuel Castells dalam karyanya. The New Public Sphere: Global Civil Society, Communication Networks, and Global Governence, (2008) sebagai ruang publik baru (new public sphere). Istilah itu merujuk pada media sosial. Medsos benar-benar saat ini telah menjelma menjadi ruang publik yang memiliki semua karakteristik yang dimiliki ruang publik ala Habermas.

Karakteristik lain yang menjadi kelebihan medsos adalah sifatnya yang tak mengenal batas (borderless), tidak perlu pengenal atau identitas yang jelas (anonimitas), dan bisa diakses oleh siapa saja yang telah memiliki akun. Dengan sifat ini, siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, bisa dengan mudah mengakses dan menyuarakan segala sesuatu yang ada di dalam pikirannya secara bebas dan tanpa takut.

Namun, sifat medsos tersebut pada saat yang sama juga bisa membuat para pengguna menyalahgunakannya untuk kepentingan-kepentingan yang tidak terpuji. Orang, misalnya, bisa dengan leluasa memposting sesuatu yang mengandung berita-berita hoaks, menimbulkan kebencian, atau menghina orang lain.

Dalam konteks inilah, medsos sebagai ruang publik baru pada gilirannya menjadi arena atau tempat peperangan kelompok-kelompok yang bertikai. Hari ini kita dengan mudah menemukan postingan-postingan yang saling mencela dan menghina antarberbagai kelompok di masyarakat.

Kata-kata yang diungkapkannya pun kerap kali jauh dari etika dan sopan santun, bahkan kadang-kadang nama-nama binatang pun digunakan. Salah satunya, kecebong, yang kerap diasosiasikan kepada sekelompok orang.

Menahan Diri

Di antara sekian banyak ungkapan yang memperlihatkan kecenderungan saling mencela dan menghina adalah yang terjadi antara pendukung dan pengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Ungkapan-ungkapan para pengkritik Jokowi sering kali terasa keras dan kasar, tetapi pada saat yang sama juga dibalas dengan tidak kalah keras dan kasarnya oleh para pendukung mantan Walikota Solo itu.

Contohnya saat isu tentang keberadaan Muslim Cyber Army (MCA) yang telah diungkap oleh kepolisian beberapa waktu lalu. Ada di antara pengkritik Jokowi yang menyebut itu sebagai rekayasa. Menurut mereka, keberadaan MCA itu buatan pemerintah sendiri lalu ditangkap oleh pemerintah sendiri. Tujuannya tak lain agar mendapatkan simpati masyarakat.

Namun, pernyataan pengkritik Jokowi tersebut dibalas pula oleh para pendukungnya, misalnya dalam kasus isu PKI. Para pendukung presiden ketujuh tersebut melihat bahwa isu tersebut adalah rekayasa kelompok yang memang tidak menyukai Jokowi. Mereka membuat sendiri isu PKI dan kemudian menyebarluaskannya sendiri dan heboh sendiri. Tujuannya tentu menurunkan citra Jokowi.

Ini hanya salah satu contoh saja, betapa keberadaan media sosial belakangan ini cenderung disalahgunakan untuk kepentingan-kepentingan sesaat. Misalnya untuk kepentingan politik kekuasaan seperti yang terlihat dengan jelas pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Betapa medsos ketika itu dipenuhi oleh berbagai berita hoaks, ujaran kebencian, dan ungkapan saling menghina antarsatu kelompok dengan kelompok yang lain.

Sayangnya, kecenderungan seperti itu agaknya tidak segera mereda seiring dengan berakhirnya Pilkada DKI 2017 tersebut. Bahkan ada pihak yang justru menghendaki agar kasus tersebut diulang kembali untuk momen-momen politik berikutnya, termasuk puncaknya Pilpres 2019. Maka, tidak heran jika sampai saat ini berseliweran terus berita-berita hoaks, ujaran kebencian, dan ungkapan saling benci dan hina.

Salah satu cara memberantas atau setidaknya meminimalisasi menyebarnya berita-berita hoaks dan sejenisnya, selain selalu melakukan klarifikasi—atau dalam bahasa agamanya tabayyun—adalah menahan diri. Menahan diri untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang tidak jelas kebenarannya dengan cara salin tempel, atau menerima informasi secara taken for granted.

Kita mesti menyadari bahwa apa yang tengah berlangsung di ruang publik baru ini sesungguhnya merupakan ujian bagi demokrasi. Demokrasi dalam pengertian bukan sekadar menekankan kebebasan, melainkan juga keadaban, termasuk keadaban dalam berkomunikasi di dunia maya. Maka, kebebasan dan keadaban sepatutnya berjalan saling beriringan.

Dengan demikian, terhadap para pengguna medsos yang kerap menyebarkan berita-berita hoaks atau ujaran-ujaran kebencian, sepatutnya dikatakan kepada mereka, “tolong tahan, ini ujian!” Semoga kita termasuk yang lulus dalam ujian tersebut.

Kolom terkait:

Hoaks Baik bagi Demokrasi? Tunggu Dulu!

Siapa Merebus Sentimen Sosial Kita

Melawan Politik Kebencian

Khutbah: Antara Kebebasan dan Ujaran Kebencian

Melawan Hoax ala Ibnu Khaldun

Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…