OUR NETWORK

Teruntuk Netizen: Ada Apa dengan Lucinta Luna?

Wahai netizen, memangnya apa relevansinya pengungkapan Lucinta yang (barangkali) seorang transgender dengan hidupmu yang begitu-begitu saja?

Warga internet atau mereka yang dikenal dengan sebutan netizen, pasti tidak asing mendengar nama Lucinta Luna. Nama penyanyi yang merupakan salah satu personel dari Duo Bunga ini mencuat dan tengah viral selama beberapa minggu karena identitas gendernya yang kontroversial.

Lucinta disebut-sebut sebagai seorang transgender yang sebelumnya bergender laki-laki. Hingga hari ini Lucinta tampil dengan penuh percaya diri sebagai seorang wanita, meski dengan cercaan yang menimpa dirinya.

Terlepas dari fakta benar atau tidaknya Lucinta adalah seorang transgender, patut diakui Lucinta adalah sosok wanita yang cantik dengan tubuh yang dapat dikatakan memenuhi standar body goals di tengah masyarakat zaman sekarang. Tanpa bermaksud menghakimi, bahkan Lucinta memiliki suara selayaknya wanita dan dikabarkan sempat dekat dengan beberapa pria yang notabene adalah seorang figur publik.

Bagi yang tidak mengetahui berita dan kontroversi soal Lucinta, dari sekilas mata mereka pasti akan memuji sosok wanita pelantun Lain di Mulut Lain di Hati ini.

Mencuatnya isu mengenai Lucinta yang seorang transgender ini diawali oleh sebuah akun gosip Instagram yang mengunggah foto dirinya dengan Mike Lewis, mantan suami Tamara Bleszynski. Sejak saat itu, para netizen yang maha mengetahui segalanya dengan giat mencari informasi serta latar belakang identitas wanita ini.

Segala macam bukti berhasil dikumpulkan oleh netizen, bahkan beberapa yang juga kemudian di-update secara terus-menerus oleh akun gosip lainnya; mulai dari bekas operasi Lucinta, foto-foto lama miliknya, hingga foto KTP yang diidentifikasi sebagai identitas asli Lucinta sebelum memutuskan untuk menjadi seorang wanita.

Berdasarkan komentar yang ditinggalkan netizen pada unggahan akun-akun gosip tersebut, dapat disimpulkan bahwa mereka cukup dongkol dengan arogansi Lucinta yang kian memamerkan dan cenderung menyombongkan kemolekan tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menjadi satu dari sekian alasan mengapa netizen menyerang Lucinta dengan sepenuh hati.

Menanggapi komentar dan nyinyiran para netizen yang menuduh dan memaksa dirinya untuk mengaku, Lucinta membantah informasi-informasi tersebut, kendati sekian banyak bukti telah beredar di jagat maya. Lucinta kukuh pada pernyataannya bahwa ia adalah seorang wanita tulen dan bukannya seorang transgender.

Diskriminasi dan “Main Hakim Sendiri Versi Netizen

Tanpa memperpanjang dan menambah spekulasi perihal benar atau tidaknya Lucinta pernah menjadi laki-laki atau memang dirinya adalah seorang perempuan, ada beberapa hal yang patut dijabarkan dan dipertanyakan mengenai netizen Indonesia menanggapi isu soal Lucinta ini.

Netizen Indonesia memang terkenal dengan mayoritas mereka yang bersumbu pendek dan mudah terombang-ambing oleh arus informasi. Mudah menghakimi tanpa menengok jejak digital dan perilaku daring mereka, berjempol enteng, dan parahnya memiliki terlalu banyak waktu luang untuk sekadar iseng dan meninggalkan komentar-komentar negatif di akun orang yang mungkin belum pernah mereka temui sama sekali–artis, figur publik, influencers, ataupun pejabat. Tapi, sayangnya, mental “jagoan” mereka ini lebih banyak ditunjukkan sambil berlindung di balik semi-anonimitas akun sekunder mereka.

Berkaitan dengan isu Lucinta sendiri, netizen sepertinya juga tidak bisa tenang melihat seseorang yang memiliki kelebihan. Memang, sifat manusia adanya yang cenderung iri dan dengki melihat keberhasilan atau kelebihan milik orang lain, dan hal ini jelas tercermin pada respons netizen terhadap Lucinta.

Lucinta yang memiliki wajah cantik dengan perawakan baik ini kemudian diserang dengan informasi-informasi masa lalu dirinya, dengan hal-hal yang tidak relevan, hujatan dan tuduhan atas nama kecemburuan.

Pertanyaan besarnya di sini adalah; wahai netizen, memangnya apa relevansinya pengungkapan Lucinta yang (barangkali) seorang transgender dengan hidupmu yang begitu-begitu saja?

Hal kedua berkaitan dengan pertanyaan di atas; tidak ada relevansi antara kejelasan identitas gender Lucinta dengan hidup para netizen. Tapi, sebaliknya, komentar negatif dan cemoohan netizen ini tentu berdampak besar untuk Lucinta sendiri. Bayangkan Anda memiliki preferensi seksual tertentu, yang mungkin memang masih dianggap tabu dan “berbeda” di negara ini, yang kemudian secara mendadak dikomentari dan dihakimi oleh seluruh jagat maya di republik ini.

Seandainya memang benar Lucinta adalah seorang transgender, akan sulit untuk mengakuinya secara terang-terangan mengingat reaksi netizen yang sedemikian diskriminatif dan cenderung “main hakim sendiri”.

Di samping itu, jika Lucinta mengakui dirinya adalah seorang transgender, lantas apa?

Isu lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Indonesia memang belum umum dibicarakan, tapi setidaknya kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak pernikahan sesama jenis diresmikan di Amerika Serikat pada 2015 lalu, seluruh negara di berbagai belahan dunia kemudian turut mengusahakan dukungan-dukungan terhadap isu LGBT di masing-masing negara mereka, termasuk Indonesia.

Isu dan gerakan-gerakan LGBT telah banyak dilakukan di Indonesia dengan lebih terbuka, meski masih dalam batasan tertentu. Namun, tak sedikit juga pihak-pihak yang tidak setuju akan gerakan ini bahkan kian mengkriminalisasi mereka yang berada dalam komunitas LGBT.

Mengingat Indonesia adalah negara dengan adat ketimuran dan mayoritas penduduknya beragama Islam, isu seputar ini mungkin akan sulit untuk berkembang lebih luas atau bahkan, lebih jauhnya, dilegalisasi oleh pemerintah. Namun demikian, netizen bahkan seluruh masyarakat tidak serta merta diizinkan untuk menghakimi dan mendiskriminasi mereka dengan identitas dan orientasi seksual yang berbeda.

Sebagai sesama manusia dengan hak-hak asasi yang setara, sikap menghargai orang lain perlu dijunjung tinggi sebagai juga bentuk penghargaan atas diri sendiri.

Terlepas dari sikap saling menghargai sebagai sesama makhluk, perihal dosa atau hal-hal lain berkaitan dengan agama adalah urusan mereka dengan Tuhan dan Penciptanya masing-masing. Sudah lebih baikkah kita hingga menghakimi mereka?

Kolom terkait:

Mengapa LGBT Begitu Dibenci?

LGBT Bukan Penyakit dan Identitas Seksual

Menguji Salib LGBTI di Gereja Kristen

Ketika LGBT Dibenci Lebih dari Yahudi [Catatan Gender 2016]

Sengkarut Tafsir MK Tentang LGBT

Blogger, Traveller, Mahasiswa Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…