in

Tentang Jimat CPNS


Pembeli memilih buku di kawasan Taman Pintar, DI Yogyakarta, Senin (18/9). Menurut pedagang setempat banyaknya pembukaan lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di sejumlah instansi pemerintahan, penjualan buku kumpulan soal ujian seleksi CPNS yang dijual Rp 40 ribu – Rp 115 ribu meningkat sekitar 50 persen dibanding hari-hari biasa. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Berita calon pegawai negeri sipil (CPNS) timbul tenggelam. Sekalinya timbul, begitu dicari, diburu, hingga banyak yang rela menunggu. Kemudian, tenggelam lagi, hilang lagi. Lalu muncul tiba-tiba, seperti jerawat saja. Kemunculannya banyak memberi harapan, peluang, juga kecemasan. Siapa yang paling bisa diandalkan, pejabat, sanak saudara, atau hanya nasib?

Meski kehidupan menjadi PNS tak melulu soal kemapanan, masih banyak saja yang berburu paling depan untuk menjadi bagian dari perang nasional ini. Ada yang bangga sebab bisa menaklukan soal-soal, meski soal-soal itu sama sekali tak berhubungan dengan disiplin ilmu yang mereka tuntut. Ada pula yang bangga karena nasib baik masih berpihak pada mereka yang tidak memiliki “siapa-siapa”.

Tak sedikit yang jumawa, meski itu bukan sepenuhnya hasil kerja kerasnya. Bagaimanapun, sosialisasi yang tengah dialihkan oleh pemerintah, menjadi CPNS seakan menjadi pilihan satu-satunya untuk mereka yang menginginkan zona nyaman. Rayuan menjadi entrepreneur yang bergelimang harta, posisi, juga eksistensi sampai saat ini belum sepenuhnya mampu mengalihkan anak mudanya untuk tidak ikut seleksi CPNS.

Seharusnya ini adalah tanggapan baik untuk pemerintah. Banyak anak muda yang tengah berebut jadi abdi negara, menjadi pelayan warga, juga bekerja atas dasar nasionalisme. Namun, sayang, tujuannya kini sungguh berbeda. Tawaran posisi yang dibeli dengan seharga uang sungguh merontokkan niat baik menjadi abdi negara. Kadang, bukan yang terbaik yang berhasil duduk di posisi strategis untuk membangun negeri ini bersama pemerintah. Justru banyak bibit kotor, korup, menyepelekan, malas yang menurun, yang mendapat tempat menjanjikan.

Baca Juga :   Buzzer: Antara Bisnis dan Hati

Kembali lagi, ini soal nasib. Nasib yang tak bisa ditukar atau bertukar. Akankah mereka yang tergusur karena tak lolos tes DNA dalam seleksi CPNS terpaksa pasrah pada nasib yang sia-sia?


Sejak Januari 2015 pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi resmi memoratorium perekrutan CPNS. Ketika itu Yuddy Chrisnandi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), menyatakan moratorium berlaku hingga lima tahun ke depan. Namun tahun ini, dua tahun sesudahnya, pemerintah kembali membuka perekrutan CPNS. Terbukanya kesempatan ini dengan alasan bahwa pemerintah butuh anak mudanya untuk bersama-sama mewujudkan program Nawa Cita Presiden Jokowi.

Moratorium masih tampak pada seleksi CPNS tahun ini. Untuk pemerintah daerah (pemda), CPNS dibuka hanya ditujukan bagi Pemda Provinsi Kalimantan Utara. Penerimaan CPNS selama ditunda beberapa tahun kembali menawarkan tempat di pemerintahan untuk anak mudanya.

Proses seleksi telah bergulir. Jumlah pelamar membludak. Mereka mencoba peruntungan. Ada yang serius, ada yang sekadar urus, bahkan tak sedikit yang coba-coba. Ya…coba-coba berhadiah. Belajar kebut satu malam hingga doa-doa mujarab dari ibu, sanak saudara dipercaya ampuh melewati soal-soal CPNS yang katanya menegangkan itu.

Demi lolos tes awal CPNS, banyak peserta melakukan berbagai cara. Dari belajar mati-matian, berdiskusi hingga berbusa, les privat, uji coba tes online, hingga cara-cara yang tak masuk akal. Seolah mau bepergian ke tempat keramat, para peseta ini tak luput membawa jimat. Katanya, untuk pegangan. Tentu ini tak bisa dijerat. Ini menyangkut kepercayaan. Jika membawa jimat adalah tindakan keliru, hukum mana yang digunakan untuk menjerat?

Baca Juga :   Menjadi Cina di Indonesia

Sepanjang dalam jimat tidak ditemukan contekan, kertas-kertas jawaban mencurigakan, jimat bisa jadi sebagian kekuatan peserta untuk menjawab pertanyaan. Rupa jimat-jimat peserta seleksi CPNS pun beragam dan lucu-lucu. Ada gulungan kain bermotif batik, biji buah yang ditusuk peniti, batu akik yang digulung uang kertas, dan berbagai jimat berbungkus kain hitam maupun putih. Lokasi penemuan di Kalimantan, Sulawesi, dan Yogyakarta.

Apapun motif di balik membawa jimat, peserta turut mempertontonkan ketakutan juga ketidakpercayaan dirinya. Bukan jimat yang membuat mereka bisa menaklukan soal-soal kebangsaan, Pancasila, dan segala isinya. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah belajar sungguh-sungguh dan berdoa serius.

Jimat-jimat yang, konon, ajaib ini ditemukan saat pemeriksaan terhadap para peserta. Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni menggunakan metal detector dan meraba fisik (body check) sesuai jenis kelamin petugas dengan peserta. Peserta yang kedapatan membawa jimat masih boleh mengikuti ujian. Namun jimat-jimat itu disita dan baru boleh diambil setelah peserta menyelesaikan ujian. Sebab, yang boleh dan legal masuk hanya alat tulis beserta tubuh peserta.

Soal jimat, sepertinya masyarakat Indonesia, semodern apa pun itu masih ada riak-riak kepercayaannya pada benda mati itu. Buktinya, jimat penggandaan uang, jimat kebal, jimat asmara, masih laku keras di pasaran. Entah jimat memiliki nilai magis atau hanya sebatas sugesti, meminta masyarakat untuk tidak percaya lagi kekuatan jimat masih sulit dilakukan.

Baca Juga :   Belajar pada Abdul Sattar Edhi [Catatan Sosial 2016]

Tahun 2014 lalu, seorang perempuan bernama Kahiyang Ayu harus gigit jari. Meski jimat yang dimilikinya bukan jimat sembarangan, ia juga gagal menjadi CPNS. Jimat itu adalah Presiden, orang nomor 1 di negeri ini yang merupakan ayahnya. Tiga tahun lalu putri Presiden Joko Widodo ini jadi buah bibir. Ia gagal mendapatkan kursi di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Solo.

Kahiyang tidak lolos seleksi calon pegawai negeri sipil karena hasil nilai ujian tahap seleksi kompetensi dasar masih di bawah ambang batas (passing grade). Cerita Kahiyang menjadi gambaran bahwa memang harus berjuang untuk bisa lolos tes awal maupun tes-tes CPNS selanjutnya.

Mungkin ada di antara peserta pembawa jimat yang dititip orang tuanya. Jimat itu bernama doa. Jimat tak berbentuk namun selalu teruntuk. Selalu mujarab.


Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR