Minggu, Oktober 25, 2020

Tentang Jimat CPNS

Tumpeng Nasionalisme di Negeri Seberang

Sudah kian sepuh saja Republik Indonesia. Hari ini, 17 Agustus 2017, Indonesia genap menginjak 72 tahun usia kemerdekaannya. Perjalanan NKRI mengisi kemerdekaan sejauh ini...

Siapa Merebus Sentimen Sosial Kita

Indonesia kita kini berada dalam situasi di mana berbagai sentimen sosial sedang direbus habis-habisan. Sentimen sosial ini begitu riuh, direbus sebagai isu-isu sensitif atau...

Satu Hari dalam Setahun untuk Ibu

Cinta tak pernah kehabisan kata. Ia bisa ditulis dengan huruf apa saja. Sebab, ada yang lebih penting dari sekadar dapat dibaca, yaitu bisa diberi...

Women’s March Melawan Patriarki

Bulan Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, tepatnya pada 8 Maret. Hari Perempuan Internasional merupakan peringatan pencapaian perempuan dari bidang politik hingga sosial dan...
Avatar
Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

Pembeli memilih buku di kawasan Taman Pintar, DI Yogyakarta, Senin (18/9). Menurut pedagang setempat banyaknya pembukaan lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di sejumlah instansi pemerintahan, penjualan buku kumpulan soal ujian seleksi CPNS yang dijual Rp 40 ribu – Rp 115 ribu meningkat sekitar 50 persen dibanding hari-hari biasa. ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Berita calon pegawai negeri sipil (CPNS) timbul tenggelam. Sekalinya timbul, begitu dicari, diburu, hingga banyak yang rela menunggu. Kemudian, tenggelam lagi, hilang lagi. Lalu muncul tiba-tiba, seperti jerawat saja. Kemunculannya banyak memberi harapan, peluang, juga kecemasan. Siapa yang paling bisa diandalkan, pejabat, sanak saudara, atau hanya nasib?

Meski kehidupan menjadi PNS tak melulu soal kemapanan, masih banyak saja yang berburu paling depan untuk menjadi bagian dari perang nasional ini. Ada yang bangga sebab bisa menaklukan soal-soal, meski soal-soal itu sama sekali tak berhubungan dengan disiplin ilmu yang mereka tuntut. Ada pula yang bangga karena nasib baik masih berpihak pada mereka yang tidak memiliki “siapa-siapa”.

Tak sedikit yang jumawa, meski itu bukan sepenuhnya hasil kerja kerasnya. Bagaimanapun, sosialisasi yang tengah dialihkan oleh pemerintah, menjadi CPNS seakan menjadi pilihan satu-satunya untuk mereka yang menginginkan zona nyaman. Rayuan menjadi entrepreneur yang bergelimang harta, posisi, juga eksistensi sampai saat ini belum sepenuhnya mampu mengalihkan anak mudanya untuk tidak ikut seleksi CPNS.

Seharusnya ini adalah tanggapan baik untuk pemerintah. Banyak anak muda yang tengah berebut jadi abdi negara, menjadi pelayan warga, juga bekerja atas dasar nasionalisme. Namun, sayang, tujuannya kini sungguh berbeda. Tawaran posisi yang dibeli dengan seharga uang sungguh merontokkan niat baik menjadi abdi negara. Kadang, bukan yang terbaik yang berhasil duduk di posisi strategis untuk membangun negeri ini bersama pemerintah. Justru banyak bibit kotor, korup, menyepelekan, malas yang menurun, yang mendapat tempat menjanjikan.

Kembali lagi, ini soal nasib. Nasib yang tak bisa ditukar atau bertukar. Akankah mereka yang tergusur karena tak lolos tes DNA dalam seleksi CPNS terpaksa pasrah pada nasib yang sia-sia?

Sejak Januari 2015 pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi resmi memoratorium perekrutan CPNS. Ketika itu Yuddy Chrisnandi, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), menyatakan moratorium berlaku hingga lima tahun ke depan. Namun tahun ini, dua tahun sesudahnya, pemerintah kembali membuka perekrutan CPNS. Terbukanya kesempatan ini dengan alasan bahwa pemerintah butuh anak mudanya untuk bersama-sama mewujudkan program Nawa Cita Presiden Jokowi.

Moratorium masih tampak pada seleksi CPNS tahun ini. Untuk pemerintah daerah (pemda), CPNS dibuka hanya ditujukan bagi Pemda Provinsi Kalimantan Utara. Penerimaan CPNS selama ditunda beberapa tahun kembali menawarkan tempat di pemerintahan untuk anak mudanya.

Proses seleksi telah bergulir. Jumlah pelamar membludak. Mereka mencoba peruntungan. Ada yang serius, ada yang sekadar urus, bahkan tak sedikit yang coba-coba. Ya…coba-coba berhadiah. Belajar kebut satu malam hingga doa-doa mujarab dari ibu, sanak saudara dipercaya ampuh melewati soal-soal CPNS yang katanya menegangkan itu.

Demi lolos tes awal CPNS, banyak peserta melakukan berbagai cara. Dari belajar mati-matian, berdiskusi hingga berbusa, les privat, uji coba tes online, hingga cara-cara yang tak masuk akal. Seolah mau bepergian ke tempat keramat, para peseta ini tak luput membawa jimat. Katanya, untuk pegangan. Tentu ini tak bisa dijerat. Ini menyangkut kepercayaan. Jika membawa jimat adalah tindakan keliru, hukum mana yang digunakan untuk menjerat?

Sepanjang dalam jimat tidak ditemukan contekan, kertas-kertas jawaban mencurigakan, jimat bisa jadi sebagian kekuatan peserta untuk menjawab pertanyaan. Rupa jimat-jimat peserta seleksi CPNS pun beragam dan lucu-lucu. Ada gulungan kain bermotif batik, biji buah yang ditusuk peniti, batu akik yang digulung uang kertas, dan berbagai jimat berbungkus kain hitam maupun putih. Lokasi penemuan di Kalimantan, Sulawesi, dan Yogyakarta.

Apapun motif di balik membawa jimat, peserta turut mempertontonkan ketakutan juga ketidakpercayaan dirinya. Bukan jimat yang membuat mereka bisa menaklukan soal-soal kebangsaan, Pancasila, dan segala isinya. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah belajar sungguh-sungguh dan berdoa serius.

Jimat-jimat yang, konon, ajaib ini ditemukan saat pemeriksaan terhadap para peserta. Pemeriksaan dilakukan dalam dua tahap, yakni menggunakan metal detector dan meraba fisik (body check) sesuai jenis kelamin petugas dengan peserta. Peserta yang kedapatan membawa jimat masih boleh mengikuti ujian. Namun jimat-jimat itu disita dan baru boleh diambil setelah peserta menyelesaikan ujian. Sebab, yang boleh dan legal masuk hanya alat tulis beserta tubuh peserta.

Soal jimat, sepertinya masyarakat Indonesia, semodern apa pun itu masih ada riak-riak kepercayaannya pada benda mati itu. Buktinya, jimat penggandaan uang, jimat kebal, jimat asmara, masih laku keras di pasaran. Entah jimat memiliki nilai magis atau hanya sebatas sugesti, meminta masyarakat untuk tidak percaya lagi kekuatan jimat masih sulit dilakukan.

Tahun 2014 lalu, seorang perempuan bernama Kahiyang Ayu harus gigit jari. Meski jimat yang dimilikinya bukan jimat sembarangan, ia juga gagal menjadi CPNS. Jimat itu adalah Presiden, orang nomor 1 di negeri ini yang merupakan ayahnya. Tiga tahun lalu putri Presiden Joko Widodo ini jadi buah bibir. Ia gagal mendapatkan kursi di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Solo.

Kahiyang tidak lolos seleksi calon pegawai negeri sipil karena hasil nilai ujian tahap seleksi kompetensi dasar masih di bawah ambang batas (passing grade). Cerita Kahiyang menjadi gambaran bahwa memang harus berjuang untuk bisa lolos tes awal maupun tes-tes CPNS selanjutnya.

Mungkin ada di antara peserta pembawa jimat yang dititip orang tuanya. Jimat itu bernama doa. Jimat tak berbentuk namun selalu teruntuk. Selalu mujarab.

Avatar
Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.