in

Singularitas dan Kecerdasan Spiritual


[sumber: astronkomputer.com]

Big bang terjadi sekitar 13,7 miliar tahun lalu sebagai awal proses terbentuknya alam semesta. Dengan ledakan itu terbuka ruang dan waktu; terbentuk materi dan energi. Muncul hukum-hukum fisika seperti gravitasi, elektromagnet, kekuatan nuklir. Dan selanjutnya muncul nebula, galaksi, tata surya, planet bumi, tumbuhan, hewan, hingga akhirnya: manusia. Namun, ada apa sebelum big bang?

Menurut fisikawan dan kosmolog, yang ada adalah: Singularitas. Poin ketika hukum-hukum fisika tidak ada; ruang-waktu-energi-dan materi menyatu, tak terdefinisi, tak bermakna. Konsep singularitas muncul bukan sebagai postulat, intuisi, atau hasil renungan filsafat, melainkan sebagai konsekuensi dari rumusan (hasil hitungan matematis) teori Relativitas Umum Albert Einstein. Dan kemudian diperkuat oleh berbagai temuan dan pengukuran dari sejumlah fisikawan, seperti Schwarzchild, Chandrasekhar, Roger Penrose, Stephen Hawking, dan masih banyak lagi.

Istilah singularitas juga dipakai dalam dunia teknologi informasi. Jika dalam kosmologi singularitas sebagai kondisi menjelang ledakan semesta (big bang). Dalam teknologi, singularitas merupakan kondisi menjelang ledakan kecerdasan (intelligence explosion).
Singularitas teknologi adalah hipotesis tentang manunggalnya manusia (homo sapien) dengan mesin super-cerdas yang memicu ledakan kecerdasan, dan melahirkan manusia jenis baru (homo deus)

Singularitas Teknologi

Sebagai istilah, singularitas teknologi pertama kali digunakan pada 1950 oleh pakar matematika John von Neumann, yang menyebutnya sebagai “akselerasi kemajuan teknologi yang begitu pesat dan kompleks, sehingga ras manusia–seperti yang kita kenali–tak mungkin berlanjut.” Istilah ini diamini kalangan saintis komputer dan ahli matematika lainnya, beberapa nama terkemuka pengusung hipotesis singularitas teknologi antara lain Irving John Good, Vernor Vinge, dan Ray Kurzweil.

Irving John Good, ahli matematika dari Inggris, pada 1965 memprediksi bakal ada “ledakan kecerdasan”. Dalam artikel Speculations Concerning the First Ultraintelligent Machine, ia menyebut akan tiba saatnya ketika mesin lebih cerdas dari manusia; dan mesin yang cerdas akan mampu merancang mesin yang lebih cerdas lagi, sehingga manusia tertinggal dan harus menyesuaikan diri dengan teknologi. 

Baca Juga :   Saracen yang Sinting dan Mengerikan

Vernor Vinge pada 1993 menulis The Coming Technological Singularity, menguraikan bahwa singularitas teknologi akan menandai berakhirnya era manusia. Komputer dan manusia menyatu menjelma menjadi manusia super-cerdas, masa depan akan terkesan ajaib dan sulit dibayangkan. “Post-human minds will imply a weirder future than we can imagine.” (http://mindstalk.net/vinge/vinge-sing.html).

Ray Kurzweil, saintis komputer dari MIT dan kini eksekutif di Google, secara spesifik menyebut jangka waktu progres teknologi komputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Menurutnya, pada 2020 komputer akan mampu meniru (mensimulasi) cara kerja otak; 2029 komputer menyamai kecerdasan manusia; 2045 singularitas akan terjadi.


Sekitar 28 tahun lagi, manusia akan menanam nano chips komputer ke dalam otak, mengkoneksikan ke dalam sistem penyimpanan cloud, dan meningkatkan otak manusia menjadi super-cerdas. “Singularitas memungkinkan manusia untuk mengatasi keterbatasan kemampuan otak dan keterbatasan fisik. Pasca-singularitas manusia dan mesin tak bisa dibedakan lagi.”

Terkesan seperti kisah science-fiction? Betul, kecuali bahwa prediksi Kurzweil ini bukan fiksi atau ramalan kosong, melainkan berbasis pada data perkembangan eksponensial teknologi. Prediksi Kurzweil diketahui akurat, dan bisa dilacak dari buku-buku yang ia tulis: The Age Of Intelligence Machine (1990), The Age of Spritiual Machine (1999); dan The Singularity is Near (2005).

Hipotesis singularitas Neumann, I.J Good, Vernor Vinge, dan Kurzweil bisa terlihat dan mulai terwujud. Teknologi cerdas kini merupakan realitas sehari-hari, selain ponsel (smart phone) dengan berbagai aplikasi cerdas, kini adalah era smart-TV, smart-car, serta berbagai mesin-smart lainnya. Manusia urban tidak lagi bisa lepas dari mesin-pintar untuk menjalankan aktivitas hidup sehari-hari, dari mencari informasi, mencari alamat, mencari jodoh, urusan belanja, transportasi, perbankan, kesehatan, dan sebagainya.

Bagi manusia yang hidup di tahun 2017, yang sehari-hari berinteraksi dengan mesin cerdas, semua ini kelihatan “biasa saja”. Tapi bayangkan, perspektif manusia tahun 1970-an, yang masih hidup dengan teknologi analog, melihat perkembangan teknologi cerdas saat ini. Sama halnya, manusia tahun 2017, bakal sulit membayangkan seperti apa fitur teknologi cerdas yang menyatu dengan manusia, pasca tahun 2045.

Baca Juga :   Demokrasi, Hoax, dan Media Sosial

Bahwa komputer bisa lebih cerdas dari manusia sudah terbukti dengan kemenangan komputer IBM, Deep Blue, melawan juara catur dunia Garry Kasparov pada 1997. Pertanyaannya bukanlah apakah mesin bisa lebih cerdas dari manusia, tapi kapan itu terjadi (not if, but when).

Siginifikansi dan Konsekuensi

Kecerdasan mesin dalam hal ini kemampuan untuk mempelajari, memahami, dan merespons situasi. Secerdas apa pun, mesin merupakan entitas yang tidak sadar. Kesadaran adalah kualitas unik yang hanya dimiliki manusia. Penyatuan kesadaran manusia dengan kecerdasan mesin, bagi ilmuwan penganut singularitas, akan meningkatkan kemampuan manusia sekaligus melenyapkan berbagai kelemahaannya.

Dalam hipotesis singularitas, manusia hibrid (atau transhuman) akan mampu merekaya gen dan memahami cara kerja bio-molekul dalam tubuh manusia. Nantinya, manusia bukan cuma dapat menaklukkan berbagai penyakit kronis atau genetis, seperti kanker atau alzheimer, melainkan juga mampu memperpanjang harapan hidup, bahkan melawan kematian.

Alam semesta dan kehidupan terus berevolusi; bertransformasi dari subatomik ke fisik, dari biologis ke budaya, dari DNA-multiseluler ke teknologi-telepon seluler. Teori evolusi Charles Darwin hanya menyentuh aspek biologis, menjelaskan bagaimana mahluk hidup dalam waktu yang sangat panjang berubah, beragam dan menjadi seperti yang kita lihat, dan kemudian melahirkan sistem kognitif (kecerdasan dan kesadaran) pada manusia. Teori evolusi Darwin mendapat tafsir baru yang jangkauannya jauh melebihi sekadar bidang biologi.

Ray Kurzweil dalam buku The Singularity Is Near membagi perkembangan alam semesta dalam 6 era evolusi informasi: Pertama, fisika dan kimia: pada awal terbentuknya alam semesta, informasi tersimpan dalam level subatomik. Kedua, biologis: dengan terbentuknya bumi, informasi tersimpan dalam molekul-molekul DNA mahluk hidup. Ketiga, otak: proses evolusi melahirkan mahluk yang semakin kompleks, dengan kemampuan mengolah dan menyimpan informasi di otak.

Baca Juga :   Perang Hestek: Arena Demokrasi Digital?

Keempat, teknologi: manusia mampu menciptakan teknologi informasi dari manual ke digital (saat ini kita berada di penghujung era ini). Kelima, manusia dan teknologi cerdas menyatu: biologi dan teknologi bergabung melahirkan mahluk super cerdas. Keenam, semesta tersadar: era ketika mahluk unggul super-cerdas berekspansi ke seluruh alam semesta.

Evolusi adalah proses menghimpun dan mengolah informasi, dari level tak sadar subatomik ke level sadar (dalam otak manusia). Alam semesta, sebagaimana mesin, adalah entitas yang cerdas namun tidak sadar (intelligence but unconscious). Proses evolusi bermiliar-miliar tahun, sedikit demi sedikit melahirkan kesadaran, pada manusia. Dengan kesadarannya manusia menginterpretasikan dan mencoba menjelaskan alam semesta, mencari jawab: “bagaimana semua ini ada”, dengan kisah mitos, ajaran agama, renungan filsafat, dan akhirnya melalui metode sains dan teknologi.

Bagaimana kita merekonsiliasi perspektif agama, spiritualitas, atau ketuhanan (yang masih dianut mayoritas manusia) dengan perkembangan teknologi ini. Apakah mesin cerdas yang melampaui kepintaran manusia ini termasuk dalam “skenario” Tuhan. Logikanya, tentu saja, karena tidak ada yang dapat melawan kodrat, tidak ada peristiwa atau perubahan terjadi tanpa sepengetahuan dan seizin-Nya. Khususnya jika Tuhan disepakati sebagai “asal-muasal semua yang ada”. Barangkali kita memerlukan pemahaman baru makna agama dan spiritualitas dengan lebih cerdas. Beragama tanpa dogma.

Pada mulanya adalah kata, dan kata bersama Tuhan, dan kata-kata adalah Tuhan (In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God), demikian kitab suci mengabarkan tentang awal penciptaan alam semesta. Tidak jauh berbeda, sains memiliki kredo proses penciptaan: Pada mulanya adalah informasi, dan informasi berkembang bersama kehidupan, dan informasi adalah kehidupan.


Written by Lukas Luwarso

Pengamat media dan komunikasi, penghayat kecerdasan spiritual.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR