Banner Uhamka
Minggu, September 20, 2020
Banner Uhamka

Setelah NU-Muhammadiyah Ngopi Bareng

Operasi Tangkap Tangan dan Keserakahan Pejabat

Entah karena bebal atau karena kelengahan, kita kembali dikejutkan dengan kasus operasi tangkap tangan (OTT) pejabat negara. Kali ini pejabat negara yang mengalami nasib...

Kekerasan Seksual, Seutuh-utuhnya Teror

Pemerkosaan adalah kejahatan seksual. Satu hal ini—dan kekejiannya—tak perlu lagi dipertanyakan. Namun, apakah ia selalu dilakukan oleh orang-orang yang tak sadarkan diri? Yang dikuasai...

Dimas Kanjeng Taat Pribadi Itu Kita!

Judul ini merupakan kombinasi dari judul dua karya: artikel Emha Ainun Nadjib di Kompas edisi 4 Mei 2003 berjudul "Pantat Inul adalah Wajah Kita...

Belajar dari Gerakan Women’s March Washington

Tiba gilirannya suara perempuan Indonesia bergema, setelah awal tahun diawali dengan suara pergerakan perempuan yang massif dan menyeruak di berbagai penjuru dunia. Pada 4...
Avatar
Munawir Aziz
Peneliti Islam dan kebangsaan yang kini sedang riset di United Kingdom. Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Penulis buku "Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara" (2017).

Pada Jum’at lalu (23/03/2018), Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir beserta jajaran Pengurus Pusat Muhammadiyah berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Kunjungan ini menjadi penanda silaturahmi kebangsaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah diterima oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj beserta jajaran pengurus. Dalam pertemuan itu, PBNU dan PP Muhammadiyah menyampaikan pernyataan bersama.

Pertama, NU dan Muhammadiyah akan senantiasa mengawal dan mengokohkan konsensus para pendiri bangsa Indonesia, bahwa Pancasila dan NKRI merupakan bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, NU dan Muhammadiyah secara pro-aktif terus melakukan ikhtiar-ikhtiar bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas hidup warga untuk mengembangkan pendidikan karakter yang mengedepankan akhlakul karimah.

Ketiga, NU dan Muhammadiyah menyeru kepada pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam upaya mengurangi kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran, serta upaya yang terukur agar kesenjangan ekonomi dan sosial segera teratasi dengan baik.

Keempat, mengimbau kepada seluruh warga NU dan Muhammadiyah agar bersama-sama membangun iklim yang kondusif. Kelima, pada tahun politik ini menjadikan ajang demokrasi sebagai bagian cara berbangsa untuk melakukan perubahan.

Peristiwa ini bukan sekadar kunjungan biasa, namun menjadi kunjungan penting yang sangat bermakna dalam interaksi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Sangat bermakna karena dalam sepanjang sejarahnya, komunikasi struktural maupun kultural antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengalami pasang surut dalam panggung interaksi kebangsaan di negeri ini. Proses panjang sejarah dan konteks sosial politik turut menjadi penyebab dinamika antar dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

Muhammadiyah, yang didirikan pada 18 November 1912, merupakan organisasi yang dicitrakan modern dan dinamis. Dalam lebih satu abad pergerakan Muhammadiyah, pelbagai peristiwa besar, prestasi organisasi maupun kontribusi terhadap bangsa telah ditorehkan. Muhammadiyah memiliki konsentrasi besar pada bidang pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan.

Di penjuru Indonesia, ratusan universitas, ratusan rumah sakit-klinik kesehatan, dan ribuan sekolah telah memberi arti yang signifikan. Namun, sementara ini, Muhammadiyah juga mengalami gesekan internal yang tidak mudah: bagaimana organisasi puritan ini dipurifikasi oleh gerakan-gerakan politik dan sosial, yang sering menggunakan kader-kader Muhammadiyah sendiri.

Sementara itu, dalam gerak organisasinya. Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 26 Januari 1926 mengalami trasformasi signifikan. Jika sebelumnya NU tercitrakan sebagai organisasi tradisional dan “kalah modern”, ternyata menjelang satu abad berdirinya, ia mengalami pergeseran citra yang konstruktif. Sejak awal pendiriannya, NU merespons perkembangan internasional dalam konteks geo-strategi politik Islam, dengan mengusung nilai-nilai toleran dan moderat.

Jika selama ini NU terkesan jauh dari modernitas, ternyata menjelang satu abadnya, “kaum sarungan” ini mampu mendorong kader-kader terbaiknya untuk menjadi modern, tanpa kehilangan identitas. Ini merujuk pada kaidah al-muhafadzatu ‘ala al-qadimi as-shalih, wal-akhdzu bil jadidi al-ashlah [menjaga nilai-nilai lama yang baik, serta mengambil hal-hal baru yang lebih baik].

Dalam konteks ini, di era komunikasi digital, generasi muda Nahdliyyin lebih terlihat siap untuk mengombinasikan khazanah nilai-nilai pesantren dengan media digital. Di pelbagai platform media sosial, muncul beragam “ngaji virtual” dari kader-kader pesantren, yang mengkaji teks kitab kuning dengan pendekatan kontemporer.

Pasang Surut Kebersamaan

Interaksi Muhammadiyah-NU mengalami dinamika dalam sejarah kebangsaan negeri ini. Kontestasi di Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) menjadi bagian dari pasang surut interaksi aktor Muhammadiyah dan kiai-kiai NU. Pasca kemerdekaan, kontestasi antar tokoh yang berlatar belakang Muhammadiyah dan NU sangat terasa, di lingkaran kekuasaan Soekarno dan berlanjut ke Soeharto.

Rivalitas pengaruh di Masyumi sepanjang 1945-1952 sangat terasa, yang diteruskan ketika fusi partai dalam lingkaran Partai Ka’bah: Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, di panggung kontestasi kekuasaan, Presiden Soeharto lebih memberi ruang bagi tokoh-tokoh Muhammadiyah di mesin birokrasi, sebagai pejabat hingga menteri. Sebaliknya, tokoh-tokoh NU dan kiai-kiai pesantren tersingkir dari pemerintahan.

Selama sekitar tiga dekade, peran tokoh politik NU di panggung kekuasaan sangat kecil, bahkan tidak mendapatkan ruang dalam akses politik pemerintahan. Inilah yang membedakan akselerasi Muhammadiyah dan NU pada masa kekuasaan Soeharto.

Masa reformasi menandai interaksi yang lebih menarik, dalam komunikasi personal maupun struktural antara tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU. Sepak terjang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Prof. M. Amien Rais berpengaruh besar pada masa awal reformasi. Interaksi kedua tokoh ini juga berdampak pada hubungan Muhammadiyah dan NU yang dinamis: kadang sangat mesra, dan sesekali mengalami ketegangan.

Dalam arus wacana, konsep Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara menjadi representasi gagasan yang menarik minat publik. Islam Berkemajuan merupakan respons Muhammadiyah terhadap globalisasi.

Istilah Islam Berkemajuan belum terdengar nyaring sebelum 2009. Penanda istilah ini bergulir setelah terbit buku Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja (2009). Buku ini menjelaskan secara mendasar apa karakter Islam yang dikembangkan Muhammadiyah. Pada Muktamar 2010, istilah Islam Berkemajuan dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah.

Islam Berkemajuan sering dianggap sebagai “Islam kosmopolitan”, yakni kesadaran bahwa Muhammadiyah menjadi bagian dari warga dunia yang memiliki rasa solidaritas kemanusiaan universal, dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional (Tanfidz Muhammadiyah, 2010).

Dalam catatan Najib Burhani, Muhammadiyah menggunakan istilah Islam kosmopolitan karena menyadari bahwa kelahirannya merupakan produk interaksi Timur Tengah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia (Burhani, 2015).

Sementara, Islam Nusantara merupakan penggalian gagasan Islam ala NU yang merespons perkembangan global dengan nilai-nilai kultural yang selama ini menjadi basis pengetahuan pesantren. Dengan demikian, Islam Nusantara menjadi karakter, penanda, dan wajah bagi Islam moderat ala NU yang berusaha memberi alternatif bagi model berislam komunitas Muslim internasional.

Intinya, Islam Berkemajuan maupun Islam Nusantara sama-sama sebagai respons atas perkembangan keislaman global yang membutuhkan referensi model keislaman pasca konflik berkepanjangan di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah.

Lalu, bagaimana masa depan interaksi Muhammadiyah-NU? Dalam beberapa perbincangan, sudah mulai muncul gagasan Muhammadi-NU, atau MuNU, yakni interaksi dan keselarasan antargenerasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Terutama generasi muda Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang secara gagasan sering berinteraksi dalam kontestasi wacana yang setara, baik dalam konsep gerakan, pendidikan, maupun komunikasi digital.

Muhammadiyah dan NU mempunyai tantangan yang sama untuk menjaga Indonesia, terutama dari serangan kelompok radikal, teroris jaringan internasional, hingga kelompok ideologis yang mengancam kedaulatan negeri ini.

Dalam konteks ini, bukankah sangat menarik membincang konsep sekaligus menciptakan gerakan bersama dari gagasan Islam Nusantara yang Berkemajuan? Artinya, ngopi bareng dua ormas besar semacam ini tentu harus terus dirawat, baik secara formal maupun informal.

Kolom terkait:

Islam Moderat: Indonesia, Arab Saudi, dan Turki

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

Muhammadiyah dan Tantangan Islam Moderat

Islam Otentik ala Gus Dur dan Dawam Rahardjo

Kiai Hasyim Muzadi dalam Kenangan (Aktivis) Muhammadiyah

Avatar
Munawir Aziz
Peneliti Islam dan kebangsaan yang kini sedang riset di United Kingdom. Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Penulis buku "Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara" (2017).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Konflik Yaman dan Kesepakatan Damai Israel-UEA

Kesepakatan damai Israel-UEA (Uni Emirat Arab), disusul Bahrain dan kemungkinan negara Arab lainnya, menandai babak baru geopolitik Timur Tengah. Sejauh ini, pihak yang paling...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.