OUR NETWORK

Setelah NU-Muhammadiyah Ngopi Bareng

Bagaimana masa depan interaksi Muhammadiyah-NU? Hari-hari ini sudah muncul gagasan Muhammadi-NU, atau MuNU, yakni interaksi dan keselarasan antargenerasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Seperti apa?

Pada Jum’at lalu (23/03/2018), Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. H. Haedar Nashir beserta jajaran Pengurus Pusat Muhammadiyah berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Kunjungan ini menjadi penanda silaturahmi kebangsaan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama.

Dalam kunjungan tersebut, Ketua Umum PP Muhammadiyah diterima oleh Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj beserta jajaran pengurus. Dalam pertemuan itu, PBNU dan PP Muhammadiyah menyampaikan pernyataan bersama.

Pertama, NU dan Muhammadiyah akan senantiasa mengawal dan mengokohkan konsensus para pendiri bangsa Indonesia, bahwa Pancasila dan NKRI merupakan bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, NU dan Muhammadiyah secara pro-aktif terus melakukan ikhtiar-ikhtiar bagi peningkatan taraf hidup dan kualitas hidup warga untuk mengembangkan pendidikan karakter yang mengedepankan akhlakul karimah.

Ketiga, NU dan Muhammadiyah menyeru kepada pemerintah agar bersungguh-sungguh dalam upaya mengurangi kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran, serta upaya yang terukur agar kesenjangan ekonomi dan sosial segera teratasi dengan baik.

Keempat, mengimbau kepada seluruh warga NU dan Muhammadiyah agar bersama-sama membangun iklim yang kondusif. Kelima, pada tahun politik ini menjadikan ajang demokrasi sebagai bagian cara berbangsa untuk melakukan perubahan.

Peristiwa ini bukan sekadar kunjungan biasa, namun menjadi kunjungan penting yang sangat bermakna dalam interaksi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Sangat bermakna karena dalam sepanjang sejarahnya, komunikasi struktural maupun kultural antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengalami pasang surut dalam panggung interaksi kebangsaan di negeri ini. Proses panjang sejarah dan konteks sosial politik turut menjadi penyebab dinamika antar dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini.

Muhammadiyah, yang didirikan pada 18 November 1912, merupakan organisasi yang dicitrakan modern dan dinamis. Dalam lebih satu abad pergerakan Muhammadiyah, pelbagai peristiwa besar, prestasi organisasi maupun kontribusi terhadap bangsa telah ditorehkan. Muhammadiyah memiliki konsentrasi besar pada bidang pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan.

Di penjuru Indonesia, ratusan universitas, ratusan rumah sakit-klinik kesehatan, dan ribuan sekolah telah memberi arti yang signifikan. Namun, sementara ini, Muhammadiyah juga mengalami gesekan internal yang tidak mudah: bagaimana organisasi puritan ini dipurifikasi oleh gerakan-gerakan politik dan sosial, yang sering menggunakan kader-kader Muhammadiyah sendiri.

Sementara itu, dalam gerak organisasinya. Nahdlatul Ulama yang didirikan pada 26 Januari 1926 mengalami trasformasi signifikan. Jika sebelumnya NU tercitrakan sebagai organisasi tradisional dan “kalah modern”, ternyata menjelang satu abad berdirinya, ia mengalami pergeseran citra yang konstruktif. Sejak awal pendiriannya, NU merespons perkembangan internasional dalam konteks geo-strategi politik Islam, dengan mengusung nilai-nilai toleran dan moderat.

Jika selama ini NU terkesan jauh dari modernitas, ternyata menjelang satu abadnya, “kaum sarungan” ini mampu mendorong kader-kader terbaiknya untuk menjadi modern, tanpa kehilangan identitas. Ini merujuk pada kaidah al-muhafadzatu ‘ala al-qadimi as-shalih, wal-akhdzu bil jadidi al-ashlah [menjaga nilai-nilai lama yang baik, serta mengambil hal-hal baru yang lebih baik].

Dalam konteks ini, di era komunikasi digital, generasi muda Nahdliyyin lebih terlihat siap untuk mengombinasikan khazanah nilai-nilai pesantren dengan media digital. Di pelbagai platform media sosial, muncul beragam “ngaji virtual” dari kader-kader pesantren, yang mengkaji teks kitab kuning dengan pendekatan kontemporer.

Pasang Surut Kebersamaan

Interaksi Muhammadiyah-NU mengalami dinamika dalam sejarah kebangsaan negeri ini. Kontestasi di Majelis Islam ‘Ala Indonesia (MIAI) menjadi bagian dari pasang surut interaksi aktor Muhammadiyah dan kiai-kiai NU. Pasca kemerdekaan, kontestasi antar tokoh yang berlatar belakang Muhammadiyah dan NU sangat terasa, di lingkaran kekuasaan Soekarno dan berlanjut ke Soeharto.

Rivalitas pengaruh di Masyumi sepanjang 1945-1952 sangat terasa, yang diteruskan ketika fusi partai dalam lingkaran Partai Ka’bah: Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, di panggung kontestasi kekuasaan, Presiden Soeharto lebih memberi ruang bagi tokoh-tokoh Muhammadiyah di mesin birokrasi, sebagai pejabat hingga menteri. Sebaliknya, tokoh-tokoh NU dan kiai-kiai pesantren tersingkir dari pemerintahan.

Selama sekitar tiga dekade, peran tokoh politik NU di panggung kekuasaan sangat kecil, bahkan tidak mendapatkan ruang dalam akses politik pemerintahan. Inilah yang membedakan akselerasi Muhammadiyah dan NU pada masa kekuasaan Soeharto.

Masa reformasi menandai interaksi yang lebih menarik, dalam komunikasi personal maupun struktural antara tokoh-tokoh Muhammadiyah dan NU. Sepak terjang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Prof. M. Amien Rais berpengaruh besar pada masa awal reformasi. Interaksi kedua tokoh ini juga berdampak pada hubungan Muhammadiyah dan NU yang dinamis: kadang sangat mesra, dan sesekali mengalami ketegangan.

Dalam arus wacana, konsep Islam Berkemajuan dan Islam Nusantara menjadi representasi gagasan yang menarik minat publik. Islam Berkemajuan merupakan respons Muhammadiyah terhadap globalisasi.

Istilah Islam Berkemajuan belum terdengar nyaring sebelum 2009. Penanda istilah ini bergulir setelah terbit buku Kyai Ahmad Dahlan dalam Catatan Pribadi Kyai Syuja (2009). Buku ini menjelaskan secara mendasar apa karakter Islam yang dikembangkan Muhammadiyah. Pada Muktamar 2010, istilah Islam Berkemajuan dipakai dan dipopulerkan untuk mengidentifikasi karakter keislaman Muhammadiyah.

Islam Berkemajuan sering dianggap sebagai “Islam kosmopolitan”, yakni kesadaran bahwa Muhammadiyah menjadi bagian dari warga dunia yang memiliki rasa solidaritas kemanusiaan universal, dan rasa tanggung jawab universal kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan dan pemisahan jarak yang bersifat primordial dan konvensional (Tanfidz Muhammadiyah, 2010).

Dalam catatan Najib Burhani, Muhammadiyah menggunakan istilah Islam kosmopolitan karena menyadari bahwa kelahirannya merupakan produk interaksi Timur Tengah dan Barat yang dikemas menjadi sesuatu yang otentik di Indonesia (Burhani, 2015).

Sementara, Islam Nusantara merupakan penggalian gagasan Islam ala NU yang merespons perkembangan global dengan nilai-nilai kultural yang selama ini menjadi basis pengetahuan pesantren. Dengan demikian, Islam Nusantara menjadi karakter, penanda, dan wajah bagi Islam moderat ala NU yang berusaha memberi alternatif bagi model berislam komunitas Muslim internasional.

Intinya, Islam Berkemajuan maupun Islam Nusantara sama-sama sebagai respons atas perkembangan keislaman global yang membutuhkan referensi model keislaman pasca konflik berkepanjangan di negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah.

Lalu, bagaimana masa depan interaksi Muhammadiyah-NU? Dalam beberapa perbincangan, sudah mulai muncul gagasan Muhammadi-NU, atau MuNU, yakni interaksi dan keselarasan antargenerasi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Terutama generasi muda Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang secara gagasan sering berinteraksi dalam kontestasi wacana yang setara, baik dalam konsep gerakan, pendidikan, maupun komunikasi digital.

Muhammadiyah dan NU mempunyai tantangan yang sama untuk menjaga Indonesia, terutama dari serangan kelompok radikal, teroris jaringan internasional, hingga kelompok ideologis yang mengancam kedaulatan negeri ini.

Dalam konteks ini, bukankah sangat menarik membincang konsep sekaligus menciptakan gerakan bersama dari gagasan Islam Nusantara yang Berkemajuan? Artinya, ngopi bareng dua ormas besar semacam ini tentu harus terus dirawat, baik secara formal maupun informal.

Kolom terkait:

Islam Moderat: Indonesia, Arab Saudi, dan Turki

Islam dan Arab: Menimbang Pribumisasi Islam Gus Dur

Muhammadiyah dan Tantangan Islam Moderat

Islam Otentik ala Gus Dur dan Dawam Rahardjo

Kiai Hasyim Muzadi dalam Kenangan (Aktivis) Muhammadiyah

Munawir Aziz
Peneliti Islam dan kebangsaan yang kini sedang riset di United Kingdom. Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Penulis buku "Gus Dur dan Jaringan Tionghoa Nusantara" (2017).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…