in

Selamat Jalan Simbol Perlawanan Rakyat Kendeng…


Kematian sesungguhnya adalah hal yang biasa dan pasti dialami setiap manusia. Tetapi, ketika itu terjadi di tengah orang-orang kecil yang sedang melakukan aksi unjuk rasa menentang industrialisasi yang dinilainya berpotensi merusak alam dan lingkungan, maka kematian itu terasa istimewa dan mengharu-biru.

Patmi (48 tahun), perempuan paruh baya sederhana yang menjadi peserta aksi #DipasungSemen2 yang notabene adalah petani Kendeng, tak bisa lagi meneruskan perjuangannya menolak pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Setelah ikut aksi mengecor kakinya dengan semen sejak Kamis, 16 Maret 2017, selang lima hari kemudian Patmi bersiap pulang ke kampung halamannya. Adapun aksi protes petani Kendeng tetap diteruskan sembilan orang temannya. Patmi yang ke kamar mandi pada pukul 02.30 WIB dan berencana membersihkan diri, tiba-tiba ia berteriak dan mengeluh sakit di bagian dada.

Meskipun ia sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, dokter menyatakan Patmi mengalami sudden death atau kematian mendadak. Patmi dinyatakan meninggal karena serangan jantung. Teman-teman seperjuangan Patmi tidak hanya terkejut. Mereka semua sedih dan merasa kehilangan sebagian roh perjuangan masyarakat Kendeng melawan industrialisasi.

Kematian Martir
Kematian Patmi barangkali tidak sespektakuler kematian Marsinah, seorang buruh di salah satu pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur, yang tewas karena menjadi korban tindakan oknum aparat. Tetapi, kematian orang kecil seperti Patmi di tengah momen upaya para petani menentang pendirian pabrik yang dinilai cacat hukum, tak pelak menjadikan ia tak ubahnya seperti martir.

Martir yang dalam bahasa Inggris martyr adalah sebuah kata yang berasal dari Bahasa Yunani, yang artinya “saksi” atau “orang yang memberikan kesaksian”. Kata martir ini umumnya dipakai untuk menyebut orang-orang yang rela berkorban, bahkan seringkali sampai mati, demi membela apa yang diyakini dan diperjuangkannya.

Dalam aksi yang digelar masyarakat Kendeng, Patmi mungkin hanya salah satu bagian saja dari aksi yang dilakukan masyarakat yang bersatu karena melawan tekanan dan pendirian pabrik yang dinilai berpotensi bakal merusak kelangsungan dan kelestarian lingkungan di sana yang kaya mineral itu. Tetapi, ketika Patmi sudah keburu meninggal, maka ia pun kini telah menjelma menjadi simbol perjuangan bagi rakyat Kendeng melawan korporasi dan kekuatan modal yang berkeinginan memarginalisasi penduduk lokal.


Air mata teman seperjuangan yang tertumpah, tidak sekadar menangisii hilangnya seorang sahabat, tetapi tumpahnya air mata rakyat Kendeng dan simpati para aktivis adalah energi yang menyiram kembali semangat perjuangan masyarakat Kendeng.

Di kawasan Pegunungan Kendeng, kita tahu paling-tidak terdapat 300 sumber air mata. Eksplorasi kawasan karst jika industrialisasi diizinkan masuk, dikhawatirkan akan berpotensi merusak kelestarian lingkungan, salah satunya sumber daya air yang selama ini dipergunakan warga setempat untuk keperluan konsumsi rumah tangga dan irigasi pertanian. Bahkan, PDAM Lasem dan Rembang hingga kini masih mengandalkan pasokan air tanah dari kawasan tersebut. Bisa dibayangkan, jika di kawasan itu pabrik semen beroperasi, niscaya sumber daya air itu akan terganggung kelanjutannya.

Aksi unjuk rasa yang dilakukan Patmi dan masyarakat Kendeng adalah salah satu contoh gerakan rakyat melawan persekutuan antara korporasi dan pemerintah yang didukung aparatur negara. Seperti diketahui, meskipun Mahkamah Agung jelas-jelas memenangkan gugatan warga lokal dan membatalkan izin lingkungan pembangunan PT Semen Indonesia, sepertinya keputusan itu hanya tersirat di atas kertas, karena dalam kenyataan langkah-langkah pembangunan pabrik tetap berjalan.

Tak heran dalam beberapa tahun terakhir masyarakat lokal terus menggelar aksi protes dan konsisten menolak pembangunan pabrik yang berpotensi merusak kelestarian lingkungan hidup mereka. Tidak mustahil, setelah kematian Patmi, aksi unjuk rasa yang digelar akan makin gencar dan gerakan sosial yang dikembangkan masyarakat juga akan makin solid. Kematian Padmi bisa menjadi simbol pemersatu masyarakat Kendeng.

Berbeda dengan kecenderungan di masa lalu di mana negara cenderung menafikan eksistensi masyarakat lokal dan para pemilik modal leluasa memarginalisasi eksistensi penduduk setempat, kini meningkatnya sikap kritis dan makin menyatunya rasa solidaritas sosial masyarakat niscaya akan membuat gerakan perlawanan masyarakat Kendeng menjadi lebih kuat dan massif.

Seperti dikatakan Tania Li (2002), ciri yang menandai kehidupan masyarakat lokal yang digerus industrialisasi biasanya adalah kaum yang terpinggirkan dan telah dipinggirkan serta ditradisionalkan oleh berbagai kebijakan negara—termasuk kekuatan industri yang muncul di bawah tema besar pembangunan. Dalam banyak hal mereka dipandang sebagai kaum terbelakang dan tertindas yang budayanya telah dilecehkan dan alamnya dieksploitasi melalui proyek-proyek pembangunan oleh pusat.

Dalam berbagai kasus, dengan asumsi bahwa keberadaan budaya dan pranata komunitas lokal dinilai tradisional, kuno, tidak efisien, menghambat pembangunan, dan merupakan indikator keterbelakangan, maka sering terjadi dalam proses rekayasa sosial, peran dan fungsi nilai, dan pranata-pranata setempat ditransformasikan atau sama sekali dihilangkan demi keberhasilan pembangunan nasional yang lebih menitikberatkan keberhasilan aspek ekonomi dan ukuran-ukuran yang bersifat kontraktual.

Faktor-faktor yang dinilai penting dan perlu ditransformasikan ke dalam kehidupan warga komunitas lokal umumnya adalah nilai-nilai baru yang mendorong semangat berkompetisi, etos wirausaha, bantuan modal usaha, dan teknologi modern. Dalam konteks ini, peran birokrasi dan negara—plus kekuatan komersial yang berdiri di belakangnya—umumnya adalah sebagai motor penggerak modernisasi; mulai dari peran sebagai penyedia dana untuk membiayai program modernisasi, melaksanakan, serta mengamankan proyek modernisasi yang mereka rencanakan.

Bisa dibayangkan, apa yang bakal terjadi jika di sebuah wilayah hadir sebuah perusahaan modern dengan seluruh pranata yang berbeda dan memarginalisasi penduduk lokal. Mulai dari soal rekrutmen pegawai, eksklusivitas gaya hidup para pendatang, pranata kerja, dan sebagainya.  Yang pasti, perusahaan memiliki kriteria dan mekanisme tersendiri —yang dalam banyak hal tidak mungkin dapat dipenuhi oleh masyarakat setempat yang kebanyakan secara sosial belum memiliki kemampuan dan basis sosial memadai.

Pembangunan dan industrialisasi yang menafikan eksistensi budaya dan pranata lokal bukan saja akan melahirkan resistensi dan perlawanan sosial masyarakat setempat, tetapi ujung-ujungnya niscaya akan bersifat kontraproduktif. Selamat jalan, Ibu Patmi, Pahlawan Kendeng!


Written by Bagong Suyanto

Bagong Suyanto

Guru Besar dan Dosen Kemiskinan di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR