Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Obama, Diaspora, dan Peningkatan Martabat Indonesia

Larang Pangan di Asmat

Berita terbaru mengiris hati ialah tercatat 61 anak meninggal dunia akibat kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk selama empat bulan terakhir di...

5 Tahun Terusir: Syiah Sampang, Kesetiaan dan Absennya Negara

Ustaz Tajul Muluk dan AAn Anshori dalam refleksi "5 Tahun Warga Sampang Menjadi Pengungsi di Negeri Sendiri" Pada 22 Maret lalu saya berkumpul dengan...

Tentang Perilaku yang Merusak Karya Seni

Karya seni sedang populer di Indonesia, sayangnya popularitas itu disertai cerita tentang rusaknya berbagai karya seni dan para pengunjung yang hanya sibuk melakukan swafoto...

Menikah dan Prestasi: Membandingkan Apel dan Meja Kerja

Selamat datang di Indonesia, yang menghadirkan drama lebih panjang dari sesi sidang Jessica Wongso, Cinta Fitri, dan drama per-mantan-an seleb twit Arman Dhani. Negeri...
Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberi sambutan dalam Kongres Diaspora Indonesia ke-4 di Jakarta, Sabtu (1/7). Dalam sambutannya, Obama berbicara tentang sejumlah hal, antara lain demokrasi, kepemimpinan, persamaan hak, dan toleransi. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

Pada 1-4 Juli ini Kongres Diaspora Indonesia (Congress Indonesian Diaspora/CID) ke-4 digelar di Kasablanka Hall, Jakarta. Ini Kongres Diaspora Indonesia terbesar sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Selain Presiden AS ke-44 Barack Obama, dalam kongres bertema “Bersinergi Bangun Negeri” ini akan hadir sekitar 40 pembicara dari berbagai keahlian dan profesi, antara lain Co-Founder Marvell Technology Group Sehat Sutardja; Direktur Dialog Antaragama Vatikan, Romo Markus Solo Kewuta, SVD; Presiden Nusantara Foundation yang juga Imam Masjid New York, Shamsi Ali; aktris Hollywood Tania Gunadi; dan penyanyi pop Anggun Cipta Sasmi.

Menurut Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global (IDNG), Dino Patti Djalal, CID akan menjadi ajang festival of ideas yang dinamis. Tapi, pertanyaan yang harus dijawab adalah, untuk apa? Kalau sekadar untuk gagah-gagahan terlebih dengan kehadiran Obama, tidak akan banyak gunanya.

Sesuai tema yang diusung, CID kali ini seyogianya berperan maksimal mensinergikan seluruh kekuatan diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia, semata-mata untuk membangun negara (Indonesia).

Saat ini, jumlah diaspora Indonesia termasuk 10 besar di dunia dengan rincian 6-8 juta berstatus WNI dan sekitar 10-15 juta sebagai warga keturunan Indonesia. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, rasionya masih tergolong kecil. Tapi, untuk bisa berperan maksimal, jumlah seharusnya tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah seberapa besar kualitas peranan mereka dalam ikut serta memajukan bangsanya.

Yang menjadi masalah, selain jumlahnya yang kecil, peranannya juga masih kecil. Dari puluhan juta diaspora tersebut, hanya sekitar dua juta orang saja yang memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia. Itu pun sebatas remitansi sekitar 8 miliar dolar AS pada tahun 2016. Bandingkan, misalnya, dengan diaspora Tiongkok yang mampu menghasilkan devisa bagi negaranya 780 miliar dolar per tahun, atau India yang mencapai 180 miliar dolar per tahun.

Mengapa peran diaspora belum maksimal? Ada kesan kuat, diaspora Indonesia hanya diwakili para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di sektor domestik, terutama para pembantu rumah tangga, atau bahasa kerennya Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) yang kompetensi dan martabatnya kurang diperhitungkan.

Padahal, jika mau dilacak dan didata secara serius, tidak sedikit di antara diaspora Indonesia yang bekerja di sektor-sektor penting seperti para ilmuwan yang terlibat dalam berbagai proyek penelitian bidang sosial, agama, dan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di berbagai perguruan tinggi, atau tenaga profesional di perusahaan-perusahaan multinasional bidang farmasi, energi, teknologi informasi, finansial, dan lain-lain.

Peranan mereka belum maksimal, selain karena faktor sinergi yang belum kuat, juga masih ada yang tidak merasa bagian dari Indonesia. Karena itu, selain sinergi, penguatan semangat nasionalisme menjadi penting. Kondisi Indonesia yang masih terpuruk di mata dunia internasional, membuat sebagian diaspora merasa tidak percaya diri atau bahkan merasa malu untuk menjadi bagian dari Indonesia (dalam bahasa Dino Patti Djalal, diaspora Indonesia terlalu low profile)

Maka, peningkatan martabat Indonesia menjadi penting. Menuntut diaspora meningkatkan martabat Indonesia harus dibarengi dengan upaya pemerintah Indonesia sendiri dalam meningkatkan martabat bangsa dan negaranya. Semangat nasionalisme akan muncul dengan sendirinya pada saat mereka merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Selain soal devisa, yang perlu dimaksimalkan dari fungsi diaspora adalah diplomasi dan representasi kebangsaan untuk mengangkat citra dan martabat Indonesia di mata dunia. Diaspora harus ikut bertanggungjawab dalam “memasarkan” Indonesia di dunia internasional, melalui julur pendidikan, seni budaya, kewirausahaan, pariwisata, dan lain-lain.

Dalam hal ini peranan pemerintah menjadi sangat penting. Ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Pertama, dalam jangka pendek, pemerintah harus proaktif mengkonsolidasikan kekuatan diaspora untuk kepentingan nasional, misalnya dengan menerbitkan Kartu Diaspora Indonesia. Dengan memiliki kartu ini, setidaknya mereka senantiasa merasa bagian dari Indonesia, meskipun, misalnya, status kewarganegaraannya bukan WNI.

Kedua, dengan melakukan investasi sumber daya manusia. Pemerintah jangan hanya mau memetik devisa berupa remitansi dari para diaspora, khususnya TKI. Pemerintah harus melakukan investasi dengan cara menyiapkan calon TKI yang terampil dan profesional secara sistematis, terukur, dan gratis, untuk ditempatkan di negara-negara yang membutuhkannya.

Ketiga, mengingat fungsi dan peranannya yang sangat strategis, kiranya perlu dibentuk Kementerian Diaspora. Secara kelembagaan, desk diaspora yang ada di Kementerian Luar Negeri sudah tidak memadai. Sudah banyak contoh negara yang memiliki kementerian diaspora yang dampaknya sangat positif untuk meningkatkan fungsi dan peranan diaspora bagi negaranya.

Keempat, dengan memberlakukan dwi kewarganegaraan. Setidaknya, ada 44 negara di dunia yang memberlakukan dwi kewarganegaraan. Kebijakan ini terbukti mampu meningkatkan remitansi hingga 78%.

Sayangnya, untuk kasus Indonesia, dwi kewarganegaraan menjadi kebijakan yang terus ditunda karena dianggap akan mengikis rasa kebangsaan. Padahal, bagi diaspora, kebijakan ini justru akan menguatkan rasa bagian dari Indonesia karena bisa memberikan kesempatan untuk bekerja lebih luas, biaya kuliah lebih murah, dan kesempatan-kesempatan lain dalam pengembangan profesi melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi.

Baca juga:

Nasionalisme Menteri Susi Pudjiastuti

Titik Balik Nasionalisme

Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.