in

Ngopi Bareng Bang Rizal Panggabean

Yang Pertama dan Terakhir


Samsu Rizal Panggabean (31 Mei 1961 – 7 September 2017)

Kepergian Bang Rizal—sapaan akrab saya untuk Samsu Rizal Panggabean—menyadarkan saya akan satu hal. Bahwa ternyata pertemuan saya dengannya pada Sabtu siang (12 Agustus) itu adalah yang pertama sekaligus jadi yang terakhir.

Kamis (7/9) sekitar pukul 05.20 WIB, fakta memilukan itu hadir. Setelah dirawat lanjutan pada Minggu (3/9) pasca operasi jantung, beliau akhirnya dinyatakan berpulang. Naasnya, ia tak hanya meninggalkan istri dan dua orang putra, tapi juga banyak pengagumnya seperti saya. Innalillah…

Ah, tak perlu kiranya mengungkit momen memedihkan itu terlalu jauh. Selain tak bernilai, mengingat itu hanya akan menambah pundi perih. Yang pergi biar berlalu. Kenang saja yang masih tertinggal. Begitu yang saya patrikan.

Tapi, entah mau menyebut diri sebagai yang beruntung atau sial; beruntung sebab sudah sempat ngopi bareng dengan Bang Rizal walau sesaat; sial karena itu adalah yang terakhir; saya tak tahu. Yang pasti, kesempatan langka itu memberi-menambah kesan tersendiri bagi saya, juga saya yakin bagi siapa pun yang pernah bertemu dengan beliau.

Maka, mungkin patut pula untuk sejenak menghatur terima kasih pada kawan Aceng Husni Mubarok. Berkat dia, akademisi yang sebelumnya saya kenal hanya lewat karya-karya tulisnya itu, pada akhirnya bisa saya temui. Melihatnya langsung. Tatap muka. Berbincang lepas.

Waktu itu, namanya ngopi, pertemuan kami bertiga hanya sekadar ajang bincang-bincang santai. Tak banyak hal serius yang menjadi topik bahasan. Cukup bicara soal yang remeh-temeh. Yang tertanyakan darinya untuk saya pun seputar aktivitas keseharian, seperti “kuliah di mana”, “ambil jurusan apa”, dan lain sejenisnya.

Baca Juga :   Mari Bercinta di Hari Valentine

Meski sesaat dan terkesan biasa-biasa, ada hal utama yang dapat saya petik. Bahwa penghargaan saya sejak dulu atas dedikasi tingginya sebagai akademisi terlengkapi secara apik dengan balutan kebersahajaan. Itu sangat nyata dan tampak pada diri Bang Rizal. Ia hidup sewajar-wajarnya. Sederhana sekali untuk ukuran seorang “Guru Besar” di salah satu universitas ternama di Kota Pendidikan ini.

Dedikasi tanpa Batas

Bang Rizal memang dikenal sebagai akademisi yang punya dedikasi tinggi di bidang profesinya. Berposisi sebagai pengampu keilmuan resolusi konflik, dedikasi tingginya itu ia tunjukkan, tidak saja sebatas pendiseminasian teori, tapi sekaligus memberikan contohnya langsung ke dalam praktik.

Tentu kita masih ingat bagaimana upayanya membebaskan 10 warga negara Indonesia yang pernah disandera kelompok separatis Filipina, Abu Sayyaf?


Memang, upaya pembebasan ini ditempuh dengan berbagai macam cara sebelum akhirnya membuahkan hasil. Setidaknya, ada 5 tim yang berturut-turut berpacu dengan waktu hanya untuk membebaskan WNI yang merupakan awak kapal PT Patria Maritime Lines (PML); dibajak sejak 26 Maret 2016.

Di antara tim-tim itu, ada bentukan PT PML sendiri yang bertugas menjalin komunikasi awal dengan penyandera; tim Kementerian Luar Negeri yang bertugas merajut hubungan diplomatis secara formal dengan pemerintah setempat; ada tim gabungan aparat intelijen Indonesia-Filipina; tim bentukan Mayjen TNI Kivlan Zein sebagai pengkoordinir tim-tim lainnya; dan terakhir adalah bentukan Yayasan Sukma.

Di tim terakhir itulah nama Samsu Rizal Panggabean tertera. Bersama sahabatnya, Ahmad Baidowi, pimpinan Sekolah Sukma Bangsa di Aceh, tim ini bisa dikatakan paling berpengaruh. Sebab, selain punya kecakapan berdiplomasi dengan kelompok Abu Sayyaf, tim ini juga dilengkapi dengan pemahaman luar-dalam soal terorisme di Filipina Selatan. Dan itu berdasar hasil penelitian Bang Rizal sebagai akademisi yang pernah menyelam jauh hingga ke sana.

Baca Juga :   Sampai Kapan Syiah Sampang Mengungsi di Negara Sendiri?

Itu satu hal, belum lagi dedikasi lainnya yang Bang Rizal juga pernah tunjukkan dalam mengentaskan konflik-konflik di dalam negeri. Di Aceh, Ambon, Poso, dan konflik-konflik yang terbilang sulit untuk diretas jalan perdamaiannya karena berbalut sentimen SARA, nama Bang Rizal nyaris tak pernah absen.

Maka, wajar belaka ia berturut-berturut mendapat penghargaan di bidang profesinya ini. Mulai dari Satya Lencana Karya Satya dari Presiden, penghargaan pengabdian dari lingkungan akademik di mana ia mengajar selama kurang lebih 25 tahun, hingga penghargaan berupa kenaikan pangkat demi pangkat.

Tapi, bagi saya sendiri, semua yang terakhir itu toh tak penting untuk diketahui. Lumrah diberikan kepada siapa yang menunjukkan dedikasi tingginya di bidang profesinya masing-masing. Sementara yang terpenting dari itu semua, yang sekaligus patut saya jadikan teladan, adalah tentang kebersahajaan beliau.

Luwes dan Bersahaja

Dibenarkan oleh salah seorang koleganya—bertemu dengannya di rumah duka kemarin—bahwa Bang Rizal semasa hidupnya lebih dikenal paling bersahaja. Semisal, ia lebih gemar pakai vespa buntutnya ke mana-mana, terutama ke kampus untuk mengajar, ketimbang harus menggunakan mobil pribadi.

Jelas saja, perihal ini sangat jarang saya temui, terlebih pada yang punya posisi strategis di lingkungan kampus. Tapi, bisa jadi itu satu strategi menghindari macet saja, misalnya, atau mungkin karena kecintaan akutnya pada sang motor buntut. Entahlah.

Kebersahajaannya ini pun kian terlengkapi dengan keluwesannya bertemu siapa saja. Tak pandang bulu. Ini diceritakan mahasiswanya, bagaimana luwesnya sang dosen di saat banyak yang terlalu terpaku pada hal-hal yang birokratis belaka.

Baca Juga :   Menyembuhkan Luka: Melerai Dikotomi Pribumi-Nonpribumi

“Hanya beliau yang paling gampang kami temui untuk urusan akademik. Beliau selalu memberi kesempatan, selalu memastikan bahwa urusan keilmuan adalah utama.” Demikian pengakuan terlontar dari beberapa mahasiswanya yang saya temui di rumah duka.

Bang Rizal pun dipandang sebagai orang paling teliti. Jangankan kekeliruan konsep atau perspektif dalam menilik suatu masalah, hingga ke hal-hal detail sekalipun, seperti kesalahan eja/tata bahasa, tetap Bang Rizal persoalkan.

“Meski kadang itu buat kami jengkel, tapi itu sangat membantu. Pelajaran berharga yang kami kenang dari beliau,” lanjutnya.

Koleganya yang lain, Hamid Basyaib, bahkan menyebut Bang Rizal sebagai orang yang tak ambisius, kecuali di bidang akademik. Tulis Hamid di salah satu catatan obituarinya untuk sang sahabatnya ini, Bang Rizal dipandang tak pernah sedikit pun mengesankan bahwa dirinya penting. Ia tak pernah menunjukkan ambisi politik maupun ekonomi, meski ia cukup paham bagaimana cara mencapainya.

Sungguh, lagi-lagi ada orang yang mengajarkan saya tentang bagaimana menjalani “hidup yang baik”. Bang Rizal adalah salah satu dari secuil sosok yang bisa saya teladani untuk urusan “yang baik” ini.

Duh! Rasanya baru kemarin kita ngopi bersama. Itu yang pertama, pun jadi yang terakhir. Selamat jalan, Bang Rizal. Damai di sana.

Kolom terkait:

Fatwa MUI yang Salah dan Tidak Perlu

Pelajaran Deradikalisasi dari Poso

Saya Percaya Amien Rais, tapi…


Written by Maman Suratman

Maman Suratman

Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR