Senin, Oktober 26, 2020

“Ndeso” itu Pujian, Bukan Penistaan

Sesat Pikir Deddy Corbuzier Soal Kuliah Tidak Penting

Beberapa hari lalu (22/8), pesulap tersohor Deddy Corbuzier mengunggah video di kanal Youtube-nya dengan judul 8 Alasan Kuliah Tidak Ada Gunanya (tidak lagi menjadi...

Pre Sweet 17 Tahun dan “Kegilaan” Remaja Lainnya

  Kesukaan remaja saat ini memang unik. Di antara yang unik itu, ada yang mengejutkan, membuat terbahak, ada pula yang menginspirasi. Setelah heboh profesi blogger,...

NU dan Luapan Emosionalisme Kaffah

Nahdlatul Ulama (NU), organisasi sosial-keagamaan yang didirikan oleh para kiai pesantren di Surabaya tahun 1926 silam, pada 31 Januari 2018 ini memasuki usia ke-92....

Kaesang Sayang, Kaesang Malang

Lapor melapor menjadi sebuah aktivitas viral belakangan ini. Mental “baper” dan cenderung tak masuk akal semakin menambah beban kerja polisi. Dari artis, mendadak artis,...
Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.

Kaesang Pangarep dan Presiden Jokowi [Foto: © 2016 storibriti.com/Dok. YouTube]
Sebelum jauh-jauh bicara soal kata “ndeso” dan penistaan, mari bicara soal kata “ndeso” itu sendiri dulu. Perkara ulasan ini nanti akan atau takkan ikut dipertimbangkan dalam pembicaraan soal kasus Kaesang, Si Anak Presiden, itu urusan belakang.

Secara bahasa, “ndeso” itu bahasa Jawa. Artinya, “desa”. Itu saja! Dari segi arti, ia netral. Ia merupakan kata benda, bukan kata sifat, yang bisa positif atau negatif. Maka, jelas tak ada unsur penistaan–juga pujian–pada kata itu sebagai kata.

Lalu, secara sosio-kultural, ada konotasi negatif yang telanjur dilekatkan pada kata “ndeso” itu. Konotasinya kira-kira: terbelakang, kuno, bodoh, tempramen, dan semacamnya.

Yang pertama dan kedua disebut sebenarnya bahkan tak negatif. Tak sedikit orang suka barang-barang kuno, desain kuno (klasik), dan lain-lain. Juga tak jarang orang ingin kembali ke belakang lantaran romantika masa lalu yang nyaman: dulu ingin maju dan ketika maju baru tahu bahwa ternyata kemajuan itu justru keterbelakangan, yang disebut zaman pencerahan itu justru zaman kegelapan yang sejati.

Contoh lain, tak sedikit orang mengira urbanisasi ke kota mencari harta karena bakal ada jaminan kebahagiaan. Tapi baru sadar di kota bahwa kebahagiaan bukan diukur dengan uang, dan karenanya ingin kembali ke desa lantaran justru di sanalah dulu itu dirinya menemukan kebahagiaan sejati tapi tak sadar.

Kemungkinan besar konotasi negatif itu muncul di kota lantaran tingkah pola negatif oknum orang-orang desa yang merantau ke kota tanpa tujuan jelas seperti mau kerja tapi tak punya skill alias modal nekat. Jika benar, konotasi itu berarti salah sejak dasar: menilai orang desa kok di kota. Kalau mau tahu orang desa ya pergi ke desa, teliti pola hidup, paradigma, dan lain-lainnya, baru simpulkan.

Yang di kota itu hanya sedikit dan bisa jadi tak merepresentasikan “kedesaan”-nya. Yang di kota itu, tentu tak semua karena ada juga yang karena mau belajar, misalnya, ada yang memang KW-2 di desa, tak mampu bersaing dan membangun bisnis di desa, maka merasa harus merantau ke kota.

Padahal, di desa saja tak mampu dan tak punya mental bersaing, apalagi di kota. Maka, terbentuklah oknum orang desa yang negatif itu: mental inferior, dan semacamnya. Disebutlah mereka yang oknum, sedikit, dan sama sekali tak representatif itu sebagai “ndeso”.

Tapi, kalau Anda hidup di desa, justru kata “kota” yang konotasinya negatif. Kira-kira konotasinya: sombong, egois-individualis, dan semacamnya. Karena memang konotasi itu produk lingkungan sosio-kultural.

Kembali ke soal “ndeso”, kalau kita survei, orang ndeso itu berkiprah, berprestasi, dan unggul, baik mereka yang sudah tinggal di kota maupun yang tetap di desa. Yang di kota, misalnya kita lihat para Presiden RI saja: Sukarno, orang Kampung Pandean (Surabaya), Suharto, orang Dusun Kemusuk (Yogyakarta), BJ. Habibie adalah orang Dusun Lanrae, Gus Dur, orang Kampung Denanyar (Jombang), Megawati orang Kampung Ledok Ratmakan (Yogyakarta), SBY orang Desa Treman (Pacitan), dan Jokowi adalah orang Desa Kragan (Karanganyar).

Atau, dari sisi lain, lihatlah mudik. Tradisi itu ada karena rata-rata yang di kota itu ya orang desa. Dan setiap tahun mereka mudik: kembali ke udik, mengingat, dan menyerap kembali kearifan-kearifan “ndeso”-nya untuk dibawa sebagai pegangan di kota. Maka, kita bahkan bisa menyangsikan “entitas” kota itu sebenarnya apa? Adakah? Kalau toh yang di kota itu ya sebenarnya orang-orang desa juga, hanya saja berjas dan tidur di kamar ber-AC.

Adapun yang di desa: mereka yang bertani menjaga isi bakul nasi orang-orang kota, mereka yang nelayan menjaga lauk orang-orang kota, mereka yang menjaga kelestarian gunung dan alam secara keseluruhan, dan lain-lain.

Soal Islam? Orang-orang “ndeso” itu jangan ditanya komitmen dan kiprahnya dalam menjaga ajaran dan tradisi Islam. Kata Gus Dur, yang jaga NU itu ya kiai-kiai kampung. Jadi, kalu soal Islam, Islam yang ndeso itu unggul ketimbang Islam perkotaan.

Kata Emha Ainun Najib alias Cak Nun, yang kemudian jadi salah satu judul karyanya, Indonesia Bagian dari Desa Saya. “Modernisasi” yang menjadi ciri paling khas per-kota-an, sering cuma jadi kedok penjajahan: menggulung dan memorak-porandakan bangunan harmonis masyarakat Indonesia. Justru desa yang tata, titi, tentrem dalam budaya kebersamaan, kerukunan, dan kebersahajaanlah yang menjadi pilar Indonesia.

Karena itu, dengan ungkapan “Indonesia Bagian dari Desa Saya”, Cak Nun mengajak masyarakat Indonesia untuk sadar kembali bahwa desa yang memiliki pola hidup bersahaja, rukun dalam kebersamaan, toleran dalam keberagamaan, tidak mudah mengumbar keserakahan adalah wujud otentik masyarakat Indonesia. Maka, sesungguhnya desalah yang sanggup menampung Indonesia, bukan kota.

Simak juga pengakuan Mustofa Bisri alias Gus Mus, orang-orang seperti Gus Dur sukses membangun Indonesia di kota karena “ke kota ia membawa kemanusiaan, kerendahan hati, kerukunan, atta’awun, solidaritas kemanusiaan seperti di desa. Tempat minumnya terbuat dari kendi. Kendi terdiri dari tanah dan air. Orang desa seperti Gus Dur tidak pernah melupakan Tanah Air”.

Maka, “ndeso” itu sejatinya pujian, bukan penistaan atau hinaan. Kalau peradaban kota mengkonotasikannya negatif, ya itu justru akan jadi masalah tambahan bagi paradigma oknum orang-orang kota itu sendiri: mencerabut yang sejati, menanam yang palsu.

Lalu, apa orang desa harus dan akan marah? Tentu tidak! Karena orang desa sangat paham pada masalah-masalah paradigmatik oknum orang kota, orang desa itu terlalu sibuk ngurusi dan membenahi diri mereka sendiri. Orang desa itu tak gampang marah (karena kalau marah hanya perkara konotasi gitu berarti membenarkan konotasi negatif tersebut), dan orang desa itu mudah memaafkan.

Baca juga:

Kaesang Sayang, Kaesang Malang

Mengenal Muhammad Hidayat, Sang Pelapor Kaesang

Ibrahim Ali-Fauzi
Pelancong yang kadang cuma ngupi-ngerumpi di pojok @geotimes dan Thamrin School of Climate Change and Sustainability, Jakarta. Kasir di Kepiting++ Management: ngejepit tanpa jeda.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.