in

Mudik ke Kampong dengan Kemenangan


Sejumlah kendaraan melintasi jalur Exit Tol Brebes Timur di Brebes, Jawa Tengah, Minggu (18/6). Memasuki H-7 Idul Fitri, kendaraan mudik yang melintasi Tol Brebes Timur terpantau ramai lancar. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Mudik ke kampong atau kampung adalah perilaku sosial khas kaum urban yang berfungsi sebagai penemuan kembali kerinduan yang membuncah di sela-sela kesibukan. Di berbagai peraduannya, kaum urban akan memuarakan segala penat yang berlangsung di berbagai dunia kerjanya. Aneka ragam profesi yang dijalani sejenak dihentikan demi menyegarkan ikatan kekerabatan dan persaudaraan di kampung halaman yang lama menghilang.

Kaum urban yang berbaur dengan sanak keluarga dan handai taulan, tentu akan bercerita banyak hal tentang pengalaman hidup yang berlangsung di perantauan. Di antara penggalan-penggalannya terselip sebuah kisah haru tentang sebuah pertaruhan yang berlangsung tajam demi perbaikan nasib yang diimpikan dirinya dan orang-orang yang merindukan keberhasilan. Maka, ujung dari segala cerita yang disampaikan adalah bagaimana sebuah kemenangan bisa diperoleh dengan baik dan bisa bermanfaat bagi semua orang.

Dalam hal ini, kemenangan adalah konsekuensi logis dari sebuah usaha dan kerja keras yang dilakukan selama bertahun-tahun. Ia tidak akan hadir secara simultan melalui pencitraan hanya karena ingin memenuhi kepuasan orang lain. Sementara di balik itu, ada sebuah kekecewaan yang disimpan lantaran minimnya proses jibaku yang dilakukan ketika berhadapan dengan berbagai tantangan.

Bagi setiap orang yang mengekspresikan kemenangan yang tidak sepadan antara proses yang dilakukan dengan hasil yang dicapai, maka ia sedang berada pada titik kamuflase yang suatu waktu akan terkuak ke permukaan, saat sanak keluarga dan handai taulan yang menyaksikan hal tersebut akan larut dengan kekecewaan. Hal ini sebagaimana menimpa banyak kaum urban yang terjerat dengan korupsi lantaran untuk menaklukkan kekalahan menggunakan segala cara yang tidak ber-perikemanusiaan dan ber-perikeadaban.

Baca Juga :   Kecelakaan Dengan Korban Anak Saat Mudik Terus Bertambah

Perilaku tuna-kebaikan seringkali menjadi cara untuk menghimpun kekuatan sebagai modal bertindak semena-mena dengan pekerjaan yang dilakukan. Banyak nilai keadaban yang ditanggalkan demi sebuah kesuksesan yang akan diceritakan kepada semua orang. Ironisnya, seonggok materi yang diberikan dianggap sebagai sarana kemurahan hati yang bisa menjalin sebuah kedekatan emosional.

Mereka lupa bahwa kampung halaman sebenarnya adalah ”dunia perawan” yang terlalu awam untuk disuguhi dengan pemberian yang tidak jelas muasalnya. Hanya karena ingin melunakkan kekalahan, mereka keliru memahami kemenangan dengan cara yang tidak etis. Bahkan, patut disadari, segala sesuatu yang diperoleh dengan cara yang curang, sesungguhnya sedang “mencuri” hak orang-orang di kampung halaman yang selalu memperlakukan hidupnya dengan kejujuran.

Di sinilah salah kaprah itu terjadi. Demi sebuah kemenangan yang ingin dibawa ke kampung halaman, ada bias kesadaran yang selalu dipertaruhkan. Seolah-olah menjadi kebenaran empiris, segala bentuk keburukan menjadi jalan dan cara untuk memperoleh keuntungan. Padahal, keburukan itu adalah jebakan yang suatu saat akan mengantarkannya kepada kenistaan.

Titik Balik Kesadaran
Mudik Lebaran adalah laku sejarah kemanusiaan yang membawa pesan tentang pentingnya sebuah kehormatan. Sebuah jati diri yang ditempa di kampung halaman sebelum memutuskan untuk merantau di negeri orang, kaum urban harus menyadari bahwa semangat kejujuran menjadi modal utama yang harus dipertahankan dalam situasi apa pun. Karena kehormatan adalah sebuah dimensi—meminjam istilah Erich Fromm dalam The Revolution of Hope—yang tidak hanya berkaitan dengan cara untuk mengetahui apa yang diperlakukan untuk hidup, melainkan juga ingin memahami apa yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

Baca Juga :   Selamat Lebaran, Selamat Liburan

Mudik juga menjadi titik balik kesadaran tempat bercermin semua orang yang menginginkan sebuah peluapan kerinduan kepada sanak keluarga dan handai taulan. Perihal kemenangan dan kekalahan adalah “hukum alam” yang ditentukan oleh sebuah proses yang dilakukan. Dalam proses tersebut, ada banyak persyaratan yang harus dilakukan.

Pertama, berlaku sabar dalam menjalani roda kehidupan di perantauan. Dalam arti upaya mengingat-ingat (iling) pesan moral yang disampaikan sanak keluarga dan handai taulan tentang “hidup seperti air mengalir” perlu disikapi dengan kewajaran. Karena ada suatu masa, di mana kerja keras dan doa tulus yang dilakukan akan membuahkan hasil kemenangan yang diharapkan.

Kedua, berlaku benar dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Dalam arti kewaspadaan adalah alat kontrol untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa memancing diri kita kepada cara dan sarana yang menggiurkan. Apalagi, secara sosiologis, hidup di perantauan banyak area kerentanan yang kadang menjebak kita kepada kejahatan. Karenanya, bila kita lengah dan abai dengan nilai-nilai prinsipil yang disampaikan orang tua, guru, dan para sesepuh kita, bukan tidak mungkin, untuk memenuhi kemenangan, ada banyak celah keburukan yang akan dilakukan.

Maka, perlu pemahaman menyeluruh tentang sebuah kemenangan yang akan dibawa mudik. Jadi, kemenangan tidak sekadar berkaitan dengan nilai-nilai faktual yang seringkali mengedepankan pembenaran dan kepentingan melalui perumusan aturan, namun ia harus melekat pula dengan nilai-nilai substansial yang mengedepankan kejujuran dan etika sosial.


Baca Juga :   AFI dan Kerinduan Kita atas Perempuan Jahiliyah

Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR