OUR NETWORK

Mudik: Antara Tradisi dan Konsumerisme

mudik-brexit
Kendaraan pemudik berhenti saat antre keluar ke jalur Pantura di pintu keluar Brebes Timur, Jawa Tengah, Sabtu (17/6). Tol Pejagan-Brebes Timur pada H-8 mengalami lonjakan volume kendaraan dan diperkirakan puncak arus mudik terjadi pada H-2 Lebaran. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/aww/17.

Secara “harfiah”, mudik bisa disederhanakan sebagai perilaku masyarakat rantau pulang ke kampung halaman. Tapi, ia tidak sama dengan perantau yang pulang ke kampung halaman karena panggilan pulang ibunya yang sedang sakit, atau saudara kandungnya akan segera melaksanakan pesta pernikahan. Dan menjelang Lebaran, fenomema mudik mulai terasa.

Dalam istilah Umar Kayam (2002), mudik diartikan sebagai manifestasi dialektika kultural yang sudah eksis berabad-abad lamanya. Aspek kultural dalam tradisi mudik inilah yang “memaksa” perantau untuk melepas dahaga rindu dengan teman, tetangga dan sanak keluarganya.

Senada dengan Kayam, Emha Ainun Najib (1994), mengatakan bahwa mudik sebagai pemenuhan tuntan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal-usulnya. Artinya, pemudik menyadari bahwa dirinya berasal dari suatu akar kehidupan seperti etnik, alam semesta sampai Tuhannya, hingga aspek budaya.

Untuk memenuhi dahaga rindu kepada kampung halaman, menghadirkan sukma di tanah lapang asal-usulnya, tak jarang yang terjadi mereka justru terjebak dalam perilkau konsumtif. Kepulangannya ke kampung halaman bukan lagi untuk menghadirkan sukmanya ke akar kehidupan asal-usulnya. Yang terjadi adalah mereka menjadikan mudik sebagai arena sosial untuk menunjukkan keberhasilannya di kampung rantau, bahkan jika diperlukan memanipulasi keberhasilannya itu sendiri. Alhasil, aspek kultural dan kerohanian dalam diri si pemudik, tetiba sirna.

Mereka menggunakan simbol-simbol untuk melegitimasi keberhasilannya di kampung rantau. Dengan beragam cara seperti baju baru, jam tangan, telepon seluler keluaran perdana, hingga menyewa mobil dan menggunakan transportasi mahal untuk sampai ke kampuang halaman. Bahkan tak jarang ada yang memoles bahasa kampung halaman dengan gaya bahasa yang biasa dilakukan di kampung rantau, tak terkecuali dengan perialku sosialnya di kampung halamannya.

Kekuatan Maha Dahsyat

Ajang pamer di atas kerapkali tidak muncul dari ruang hampa. Ajang pamer tidak muncul atas kesadaran dan kebutuhan mereka para pemudik, yang artinya ada kondisi sosial yang mendorong perilaku tersebut. Ada “kekuatan maha dahsyat” yang mendorong pemudik untuk rela pulang dengan transportasi mahal, hingga merental mobil dan membeli pernak-pernik untuk melengkapi penampilan yang lebih “kekinian” dan “modern”.

“Kekuatan maha dahsyat”, demikian ungkapan Latief Wiyata, yang berasal dari sistem ekonomi kapitalistik. Latief Wiyata dalam bukunya, Mencari Madura (2013), mengatakan para produsen dari semua produk, khususnya barang-barang untuk kebutuhan sekunder, tersier dan seterusnya sengaja dan terus menerus diproduksi secara massal dengan skala masif.

Tidak berhenti di situ, para produsen juga terus memproduksi dan mereproduksi citra dan jenis-jenis barang tertentu agar menjadi simbol-simbol yang bermakna keberhasilan hidup seseorang.

Di titik inilah, tradisi mudik kerap menghadirkan dimensi yang dibumbui dengan perilaku konsumeristis yang ditandai dengan perang identitas kelas melalui citra keberhasilan. Aktivitas mudik yang sebelumnya didorong oleh kebutuhan (need) untuk memenuhi kembalinya diri di kampung halaman, asal-usulnya, bertemu dengan teman, tetangga dan sanak famili, kini dikendalikan oleh dorongan keinginan (want) yang tak tepuaskan demi hasrat identitas (Melayani Pemudik atau Pencari Gengsi?).

Kebuasan hasrat konsumtif inilah yang oleh Miller sebagaimana dikutip Yasraf Amir Piliang dalam Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna (2003), dikatakan sebagai proses objektivikasi, yakni pelibatan hubungan di antara subjek (yang dalam hal ini manusia, dan biasanya bersifat kolektif), kebudayaan sebagai bentuk eksternal, dan artifak sebagai objek ciptaan manusia.

Dalam konteks ini, si subjek mengeksternalisasikan dirinya melalui penciptaan objek-objek, yang dimaksudkan sebagai diferensiasi (pembedaan dengan objek-objek sebelumnya), dan lalu menginternalisasikan (mengembalikan pada diri) nilai-nilai ciptaan tersebut melalui proses sublasi atau pemberian pengakuan.

Menurut Miller, proses sublasi ini tidak pernah puas dengan hasil cipatannya sendiri karena ia selalu membandingkan hasil ciptaan tersebut dengan pengetahuan atau nilai absolut, yang justru beranjak lebih jauh tatkala ia didekati atau diacu.

Melalui proses objektifikasi sebagaimana dijelaskan di atas, yang muncul kemudian efek negatif yang bersifat kolektif. Ia tidak hanya tunggal dialami oleh para perantau yang melakukan mudik, tapi juga terhadap masyarakat kampung halaman tujuan mudik. Dalam hal ini, pemudik juga sekaligus berperan menjadi aktor tranformasi perilaku konsumtif yang diperolehnya dari kota ke kampung halamannya.

Masyarakat desa akan menunjukkan rasa terkesan dengan keberhasilan yang dibawa para pemudik. Ia akan bergerak menjadi kesadaran baru dalam perilaku sosialnya sehari-hari. Jadi, apa-apa yang dilakukan oleh pemudik, yang serba baru dan mewah itu, akan dianggap sebagai budaya yang laik dicontoh dan dipraktekkan.

Pelan tapi pasti, kultur guyub dan kesederhanaan, solidaritas dan empati sosial, akan luntur bahkan hilang, lalu digantikan dengan perilaku konsumtif yang serba mengidamkan keinginan (want) terpenuhi ketimbang kebutuhan (need) yang serba individualistik dan hedonistik.

Baca juga:

Lebaran dan Derita Panjang Pengungsi Sampang

Mudik dan Ironi Mereka yang Terusir

Ahmad Riyadi
Peneliti Sosial di Laboratorium Sosiologi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…