in

Menyalakan “Perdamaian” Indonesia


gusmus-romo
Keakraban Romo Aloysius Budi Purnomo Pr dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). [foto Ist]
“Karena MANUSIA itu dimuliakan Tuhan, maka tetaplah menjadi MANUSIA, mengertilah MANUSIA dan memanusiakan MANUSIA”.

Gus Mus (Mustofa Bisri) dalam Mata Najwa, 4 Januari 2017.

Mengusung tema “Menyalakan Indonesia”, edisi Mata Najwa kali ini seolah membangkitkan optimisme ke-Indonesiaan yang akhir-akhir ini sempat direcoki dengan berbagai peristiwa dan wacana negatif. Kaleidoskop peristiwa dalam negeri di penghujung 2016 disesaki dengan menyeruaknya isu intoleran yang membuat muram wajah harmoni kehidupan pluralisme di Indonesia.

Gerakan protes masif “dadakan” berplat 212 dan 412, kemudian disusul kejadian bom di gereja Samarinda, polemik poster pemudi muslimah di baliho Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta, dan pelarangan kebaktian umat Kristen di Gedung Sabuga Bandung menjadi sederetan fakta intoleransi menyedihkan di tanah air.

“Menyalakan Indonesia” hendak melawan arus negatif tersebut, mengembalikan wacana keindonesiaan kembali pada jalur kebangsaan yang kokoh damai dalam keberagaman.
“Menyalakan Indonesia” diisi dengan tayangan-tayangan pilihan edisi sebelumnya yang mengulas berbagai kisah karya nyata para sosok dan anak bangsa yang menjaga simpul-simpul perdamaian negeri, merawat benih-benih toleransi, dan mengharumkan nama ibu pertiwi hingga ke kancah internasional.

Berangkat dari keresahan segregasi dan stereotipe, Ayu seorang guru muda mendirikan Gerakan Sabang Merauke yang menginisiasi pertukaran pelajar lintas iman lintas budaya setanah air. Gerakan ini bertujuan menghasilkan anak-anak agen perdamaian yang menyebarkan nilai toleransi. Karena toleransi tidak cukup hanya diajarkan, namun perlu dirasakan secara langsung.

Baca Juga :   Keluarga Kita dan Rumah yang Retak

Pengalaman dari Indonesia timur juga sarat akan pesan-pesan positif. Jacky Manuputty dengan kampanye “provokator damai”-nya yang mempererat simpul perdamaian pasca konflik di Ambon. Melalui program live-in lintas iman, komunitas Islam dan Kristen di Ambon semakin menyadari pentingnya persaudaraan dalam toleransi.

Begitu pula Sani Tawainela menjembatani segregasi anak-anak beda keyakinan melalui olah raga sepakbola. Ditambah lagi sederetan prestasi anak Papua di ajang Olimpiade Internasional.


Penampilan kolaborasi Gus-Mus dan Romo Aloysius Budi Purnomo juga sangat menyentuh hati. Alunan saxophone Romo bernada shalawat diiringi untaian sajak Gus Mus yang mendobrak keangkuhan dan arogansi manusia. Keresahan Gus Mus sebagai warga dunia, warga Indonesia, dan warga Islam ialah menyaksikan semakin banyaknya “orang pintar baru” bersifat jumawa dan “kemaruk: rakus”. Orang-orang inilah yang lemah pedoman tapi berbahaya jika memiliki banyak pengikut.

Gus Mus mengingatkan, yang paling bertanggungjawab atas baik-buruknya Indonesia ini adalah umat Islam, karena Muslimlah yang mayoritas. Sayangnya justru belum menunjukkan kegagahan sebagai mayoritas yang mengayomi dan melindungi minoritas. Kebesaran hati kaum mayoritas dibutuhkan agar tercipta harmoni kehidupan dalam keberagaman Indonesia.

Di penghujung sesi, Mata Najwa menyuguhkan sederetan prestasi anak negeri, melalui musik, seni tari, sampai alunan ayat al-Qu’an nan merdu oleh qori’ belia Lalu Muhammad K. Hafizi. Seluruh kisah perjalanan inspiratif tersebut menegaskan bahwa nyala kobar semangat keindonesiaan masih bisa diselamatkan melalui tindakan dan prestasi nyata.

Baca Juga :   Membeli Pengalaman, Membeli Kebahagiaan

Pondasi Keindonesiaan
matanajwaSerangkaian kisah inspiratif dalam Mata Najwa edisi “Menyalakan Indonesia” tersebut sarat akan makna pentingnya internalisasi nilai dan manifestasinya melalui aktualisasi perilaku atau tindakan. Dalam rangka menjaga simpul-simpul perdamaian di tengah keberagaman yang menjadi pondasi keindonesiaan, dibutuhkan penguatan nilai yang memperkokoh kesadaran toleransi dan mencegah gesekan-gesekan konflik (dalam berbagai skala) berlatar perbedaan identitas, baik kebudayaan, etnisitas, maupun agama.

Dalam kaitan ini, ada tiga unsur yang patut direfleksikan bersama sebagai modalitas sosial tenun kebangsaan yang bisa memperkuat pondasi keindonesiaan. Pertama, komunikasi dialogis yang setara antar aktor (interpersonal) secara mendalam yang mengutamakan azas manfaat dan untuk mencapai kesepakatan bersama dengan kaidah menerima dan memahami satu sama lain (Hardjana 2007).

Dalam dialog harus berupaya menihilkan unsur superioritas dan paksaan yang menekan salah satu pihak. Selain itu, dalam dialog yang sehat sejatinya berlangsung dalam porsi yang pas dan berimbang. Maka, komunikasi dialogis lintas keberagaman dapat menjadi ruang-ruang bertemunya berbagai pemikiran yang akan menghasilkan pemahaman bersama untuk menjalankan harmonisasi kehidupan bermasyarakat.

Kedua, harmoni kehidupan akan semakin mungkin dicapai dengan dibudayakannya watak-watak empati dan kesediaan terlibat. Pelibatan empatik (empathic engagement) merupakan kapasitas seseorang untuk memahami dan bersinggungan melalui pengalaman melihat, mendengar, dan merasakan dari pihak lain (Bellet & Malloney 1991).

Karakter empati akan mengasah kepekaan individu dalam merespons interaksi manusia dan lingkungan sekitarnya secara tenang, santun, dan nir-kekerasan. Seperti kisah-kisah inspiratif di atas bahwa dengan merasakan dan mengalami secara langsung, maka internalisasi nilai akan lebih mudah dipahami dan dipraktikkan dalam realitas kehidupan.

Baca Juga :   Fatwa MUI di Antara Maulid dan Natal

Ketiga, keberagaman Indonesia dapat dikelola menjadi sumber daya luar biasa jika seluruh rakyatnya memiliki semangat bina-damai (peacebuilding). Bina-damai ialah proses panjang yang terus menerus guna menjaga perdamaian, mencegah kekerasan dan eskalasi konflik melalui cara-cara nir-kekerasan yang mencakup ranah kebutuhan dasar hidup (ekonomi, sosial, politik).

Bina damai juga dipahami sebagai konsep komprehensif yang mencakup, menghasilkan, dan melanggengkan serangkaian proses, pendekatan, serta tahapan yang dibutuhkan untuk mentransformasi konflik menuju perdamaian yang berkelanjutan (Lederach 1992).

Akhirnya, Indonesia benar-benar membutuhkan generasi yang cerdas berbudi pekerti, yang berpemikiran kritis namun santun, berinovasi dalam manfaat dan merayaan perbedaan dalam kebhinekaan. Bersama-sama seluruh anak negeri dari berbagai latar budaya, agama, baik laki-laki dan perempuan diharapkan menjadi generasi saleh yang dapat menjaga kobaran nyala perdamaian Indonesia.


Peneliti di Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Paramadina, Jakarta. Alumnus S2 Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR