OUR NETWORK

Mengenang Emmanuel Subangun

Minggu siang (3 Desember 2017) ketika saya sedang kumpul-kumpul bersama teman SMA di sebuah kawasan Kota Tangerang, seorang kawan yang 26 tahun silam pernah bekerja bareng di Surabaya mengirim pesan lewat grup WhatsApp dan bertanya, “Benarkah Mas Emanuel Subangun meninggal?”

Saat itu saya belum dapat kabar dari mana pun, maka saya tidak bisa menjawab. Tapi selang beberapa menit kemudian, kawan saya yang mengajar di salah satu SMA swasta di Yogya memberi kabar resmi tentang kepergian Dr. Emmanuel Subangun yang ketika itu jenazahnya tengah disemayamkan di RS Panti Rapih Yogyakarta. Jenazah akan dikuburkan di tanah kelahirannya di Pohsarang, Kediri, Jawa Timur.

Emmanuel Subangun memang bukan selebritis yang sering tampil di layar televisi, sehingga wajahnnya dikenali oleh publik. Ia seorang dosen dan penulis saja, yang memulai kariernya sebagai wartawan Kompas. Karenanya, tentu nama tersebut asing bagi mahasiswa sekarang yang lebih akrab dengan pesan pendek (SMS) dan kemudian grup WA daripada membaca artikel koran atau majalah.

Maka, bisa dipastikan, mahasiswa sekarang tidak mengenal nama Emmanuel Subangun. Tapi bagi mahasiswa dekade 1980-1990-an mungkin ada yanng mengenalnya, terlebih mereka yang membaca koran Kompas dan majalah Prisma.

Sepengetahuan saya—setidaknya dari inisial di penulisan laporan—Emmanuel Subangun atau yang sering memakai inisial ESB merupakan orang yang turut mempelopori tradisi riset di Kompas. Sekali lagi, ini persepsi subyektif saya dari membaca laporan-laporan survei Kompas pada dekade 1980-an, saat itu sering ditulis dengan inisial ESB.

Dari penuturannya, dia termasuk salah seorang yang mempelopori kegiatan survei sebagai salah satu model liputan, bersama koleganya, J. Widodo, terutama setelah menyandang gelar doktor dari École des Hautes Études en Sciences Sociales (EHESS), Paris, Prancis (1987). Sedangkan salah satu tulisannya di Prisma yang cukup membekas dalam benak saya sampai sekarang adalah mengenai “Tidak Ada Mesias dalam Pandanan Hidup Jawa” (Prisma No. 1 Tahun 1977). Terima kasih kawan saya, Djatmiko Tanuwidjojo, yang telah memberikan info nomor Prisma ini.

Sebagai mahasiswa yang membaca Kompas saat itu, saya mengenal tulisan-tulisan ESB dengan baik, dan muncu kekagamuman pada pikiran-pikirannya. Dan di luar dugaan, melalui kawan saya, Bambang Sigap Sumantri (alumni Sosiologi UGM)—yang waktu itu (1987) bekerja di Litbang Kompas—kami (saya, ESB dan istrinya, Siti Adiati, pelukis yang merupakan salah satu aktivis Kelompok Seni Ruba Baru) bertemu dalam urusan kerja.

Saat itu Litbang Kompas mengadakan survei tentang masalah ekonomi pedesaan dan surveinya dilakukan di Gunungkidul. Guna memperdalam laporan, ESB datang ke Gunungkidul dan saya berkesempatan untuk menemaninya.

Menemani ESB keliling ke sejumlah wilayah di Gunungkidul untuk melihat kondisi wilayah Gunungkidull saat itu—yang masih gersang dan penuh bebatuan—itulah momentum awal perkenalan saya dengan ESB. Meskipun saya saa itu masih mahasiswa, perkenalan kami cukup lancar dan cair, karena saya bisa menyebutkan isi dari sejumlah tulisan ESB yang dimuat Kompas maupun Prisma, sehingga pembicaraan menjadi nyambung.

Wakau saya kuliah di Filsafat UGM, pergaulan saya dengan temenn-temen sosiologi cukup banyak dan saya juga membaca buku-buku sosiologi, sehingga ketika berbicara dengan seorang doktor yang baru pulang dari Prancis dan menulis disertasi tentang pedagang kaki lima (PKL), saya tidak terlalu gagu, dikit-dikit nyambung.

Setelah lulus dari Fakultas Filsafat UGM (Agustus 1990) saya main ke Jakara dan iseng-iseng mengontak ESB yang saat itu tidak di Kompas lagi, tapi menjadi Direktur di Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI) yang berkantor di Kuningan, Jalan Gatot Subroto, itu. Karena sudah mengenal saya sejak mahasiswa, maka ESB tidak pernah tanya ijazah dan nilai saya, tapi saya langsung menawari saya untuk memegang lembaga penelitian yang sedang dia rintis di Surabaya yang bernama CRI ALOCITA.

ALOCITA sebetulnya didirikan oleh ESB bersama Pastur Uroto Sastro dan sejumlah tokoh Katolik di Surabaya, sehingga cakupannya saat itu lebih ke internal. Belakangan, setelah saya di ALOCITA, ESB baru bercerita bahwa ada misi tertentu memasukkan saya yang orang abangan ke CRI ALOCITA, yaitu membawa ALOCITA keluar dari komunitas Katolik.

Bersyukur karena saya berlatar belakang aktivis dan penulis sejak mahasiswa, sehingga saya berkenalan dengan para aktivis di Jawa Timur tidak terlalu sulit, meski baru mengenal Surabaya saat itu juga. Saya berkenalan dengan temen-temen aktivis dari Universitas Airlangga, Universitas Jember, IKIP Surabaya (sekarang UNESA), dan para seniman di Surabaya, termasuk penyair Aming Aminudin.

Perkenalan dengan mereka itulah yang menjadi modal saya untuk membawa CRI ALOCITA dari lingkaran internal Katolik. Sebelumnya, kalau ada tamu datang di CRI ALOCITA, kerap ditanya dari Stasi/Paroki mana. Namun setelah saya diberi mandat untuk memimpin CRI ALOCITA secara internal, pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya parokial itu tidak ada lagi.

Saya diberi mandat untuk membangun relasi dengan pihak luar seluas-luasnya agar CRI ALOCITA menjadi institusi yang independen, dan tidak terkesan parokial. Setelah membuka cabang di Yogya tahun 1993—sekarang hanya ada di Yogya saja—CRI ALOCITA sudah menjadi lembaga penelitian yang tidak berafiliasi dengan lembaga keagamaaan lagi, karena pembiayaannya ditopang dari hasil-hasil riset pasar yang dilakukan oleh ESB dengan lembaga riset (pasarnya) yang di Jakarta.

Sebelum ke Surabaya, saya memang magang dulu di YTKI selama satu bulan untuk membantu penelitian tentang buruh. Ketika itu saya sempat kos di Pulogadung, tempat para buruh kos, dan kemudian pergi ke Ciamis, Jawa Barat, untuk mengetahui kehidupan para buruh di kampung halamannya. Magang itu memberikan bekal pengetahuan kepada saya tentang masalah perburuhan, dan kelak ketika saya tanpa sengaja sering berdiskusi tentang isu-isu berburuan dan turut mengurus lembaga perburuhan hingga sekarang, melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh Fauzi Abdullah (almarhum), pengetahuan lapangan tersebut menjadi modal sosial saya.

Salah satu program CRI ALOCITA pada kurun waktu 1991-1992 itu adalah menyelenggarakan diskusi publik dengan mengundang para tokoh, seperti Emha  Ainun Najib, Dhaniel Dakidhae, Dr. Sjahrir, Frans Magnis Suseno, YB Mangunwijaya, dan sebagainya. Juga pernah mengundang Teater Gandrik untuk pentas di Surabaya dengan membawakan lakon “Bayi Tabung”.

Dengan kata lain, ESB, dengan perjalanannya sebaga jurnalis yang intelektual itu, pernah berkontribusi membangun atmosfir intelektual di Kota Surabaya. Upaya membangun atmosfir intelektual juga dilakukan dengan pernah beberapa kali menulis kolom khusus setiap minggu sekali di harian Surabaya Post yang waktu itu digawangi oleh Tjahjo Purnomo. Beberapa kolom itu kemudian menjadi embrio dari buku pertamanya yang berjudul Dari Saminisme ke Postmodernisme (1994).

Di Surabaya, ESB juga diserahi untuk mengelola majalah bulanan milik Keuskupan Surabaya yang dikenal dengan nama BUSOS. Lagi-lagi ESB ingin membawa majalah ini keluar dari lingkup parokial, maka dia meminta saya pula untuk menggawangi majalah tersebut selama dua tahun. Tema-tema liputan BUSOS pun kemudian lebih ke persoalan-persoalan sosial dan budaya.

Selain menggarap BUSOS, ESB juga menginisiasi penerbitan mingguan yang disebut Barsos (Barometer Sosial), yaitu hasil analisis isi berita-berita media massa cetak dalam satu minggu terakhir. Maksud dari penerbitan Barsos tersebut adalah memberikan pegangan kepada pebisnis maupun pengambil kebijakan dalam mengambil keputusan berdasarkan trend pemberitaan dalam semiggu terakhir. Harapannya, orang tidak harus membaca semua koran tiap hari, tapi dapat mengikuti perkembangan isu media massa dalam satu minggu terakhir dari Barsos.

Penerbitan mingguan ini bukan hanya berisi resume dari pemberitaan media massa saja, tapi juga disertai dengan analisis. Kalau saya refleksikan sekarang, pemikiran ESB saat itu sudah cukup maju, yaitu bagaimana membuat analisis isi yang dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan.

Namun, tampaknya karena sabar menghadapi perubahan yang amat lamban, maka CRI ALOCITA diputuskan pindah ke Yogya pada tahun 1993 dengan harapan lebih dinamis. Di Yogya ini  ESB melahirkan sejumlah buku baru, seperti Syuga Derrida (1995), Kapitalisme Gotong Royong (1997), dan Kaum Beriman di Tengah Krisis Nasional (1999), dan sampai  akhir hayatnya sesekali masih menulis opini di Kompas.

Salah satu ciri tulisan ESB adalah, bahasanya yang pendek-pendek dan cenderung meloncat-loncat, kurang sistematis. Hal itu dia akui sendiri karena, dulu sebelum dikirim ke redaksi, setiap kolom untuk Surabaya Post, saya diminta untuk menyuntingnya agar lebih runtut. Tulisannya yang loncat-loncat itu memperlihatkan kecepatan gerak otaknya yang tidak diimbangi dengan kecepatan gerak tangannya.

Selamat jalan Mas Bangun (begitu kami biasa memanggil ESB). Meskipun lama tidak komunikasi, pembelajaran saya padanya tidak akan pernah terlupakan dan itu adalah bagian penting dari sejarah hidup saya. Bahkan saya menikah dengan istri saya pun karena bekerja dengan ESB di Surabaya, sehingga komunikasi yang sempat terhenti dengan calon istri kembali nyambung setelah saya bekerja di Surabaya.

Darmaningtyas

Analis pendidikan yang juga Ketua INSTRAN (Inisiatif Strategis untuk Transportasi), Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…