in

Mengapa Kita Saling Membenci?


 

Mengapa kita membenci? Mengapa kita menebarkan kebencian? Mengapa kita ingin saling membenci? Jika orang-orang sudah saling membenci, apa yang akan kita peroleh?

Maaf, saya menggunakan kata ganti orang pertama jamak “kita” dalam urusan membenci ini. Sebab, sepertinya kita lebih mudah tak menyukai daripada menyukai. Kita lebih mudah pula jatuh benci daripada jatuh cinta. Apalagi akhir-akhir ini kebencian menjadi tema sentral berbagai hal ketika tema cinta justru sebaliknya. Bicara cinta itu lebay. Bicara cinta itu lemah. Tidak gagah!

Menyinggung soal cinta tanah air saja, kita langsung dihadapkan pada persoalan klasik: apa dalilnya? Sementara itu, tak ada yang melontarkan pertanyaan serupa pada benci tanah air. Kita sesungguhnya sepakat bahwa pasti tidak ada dalil atau dasar apa pun untuk membenci tanah air, tapi entah mengapa masih saja ada yang membenci tanah airnya sendiri. Entah itu diam-diam atau terang-terangan. Entah itu pura-pura mencintai atau bahkan jujur membenci. Sepertinya, sebegitu mudah menemukan alasan membenci, semudah menemukan kekurangan orang lain.

Cinta memang cenderung membutakan. Sampai-sampai, atas nama cinta, tidak ada lagi yang tampak selain keindahan. Tak ada lagi benar-salah. Segalanya jadi benar, pada satu waktu, dan segalanya jadi salah, pada waktu yang lain. Dalam #FatwaRindu, saya menulis, “Tak ada yang salah ketika jatuh cinta, tak ada yang benar ketika jatuh rindu.”

Sebetulnya, dalam urusan benci-membenci pun tak beda. Ia yang membenci akan menempuh segala cara, meski salah, demi tujuan yang ingin dicapainya. Di matanya, yang ada hanya kebenaran, tidak yang lain.

Baca Juga :   Melayani Pemudik atau Pencari Gengsi?

Lalu, apa salahnya membenci? Bahkan, menurut saya, pembenci adalah pecinta terbaik. Ia menghabiskan sebagian besar, jika bukan seluruh, waktunya untuk selalu memikirkan yang dibencinya itu. Namun, jika dirasakan baik-baik, mengapa terasa ada yang salah ya dari membenci? Ya, itu karena kita manusia. Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk membenci, tetapi untuk mencintai. Seseorang yang dicintai Allah niscaya mendapatkan rahmat, tapi seseorang yang dibenci Allah memeroleh laknat. Kita pun, sebagai manusia, lebih suka dicintai daripada dibenci, kan?

Itu artinya membenci sama halnya dengan mengingkari fitrah kemanusiaan manusia. Meski cinta dan benci seolah-olah sama, seperti yang saya uraikan sekilas di atas, tetap saja satu dan lainnya itu jauh beda. Di dalam cinta terkandung kasih sayang dan kelembutannya. Sedangkan di dalam benci terkandung abai dan kekasarannya. Jika karena cinta tiada yang tampak selain kebaikannya, maka karena benci tiada yang terlihat selain keburukannya. Tidak berlebihan jika ada ungkapan kita tidak perlu menerang-nerangkan kebaikan kita pada pembenci karena ia takkan percaya.


Alih-alih membawa cahaya, kebencian lebih dekat pada kegelapan. Ada seorang sufi yang berpesan, “Baik mengetahui apa-apa yang disukai Sang Kekasih. Namun, lebih baik jika kau tahu apa-apa yang tidak disukainya. Sebab, yang tidak disukai itu dekat dengan kemarahan. Dan kemarahan itu dekat dengan kemurkaan.”

Bahkan, di dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, Allah berfirman, “Barangsiapa memusuhi Kekasihku, maka Aku mengumumkan perang kepadanya.” Saya tidak sanggup membayangkan: perang dengan Allah?

Ya, permusuhan adalah buah dari bibit-bibit kebencian yang kita tebarkan. Diberi pupuk iri, disirami dengki, dicocoktanami dengan keculasan, tidak mengherankan jika tanaman kebencian tumbuh subur di ladang kehidupan kita dan pada akhirnya berbuah permusuhan yang pahit. Tapi, eit, nanti dulu. Mengapa masih saja saya menggunakan kata “kita”? Anda merasa tak pernah membenci? Tak pernah ikut-ikutan menebarkan kebencian? Bahkan tak pernah menginginkan orang-orang saling membenci? Jika memang ya, tentu kita semua selayaknya senang.

Baca Juga :   Rumah Tuhan dan Hal-Hal yang Terkunci

Lebih dari itu, kita semua selayaknya memang tidak membenci, apalagi saling membenci, sesama. Tapi, bukankah kita seharusnya membenci keburukan? Kita harus amar ma’ruf nahi munkar, kan? Ya! Tapi, memang sangat sulit menjelaskan betapa seharusnya yang dibenci adalah perbuatan buruknya, bukan pelakunya. Keburukannya, bukan manusianya.

Tak ada manusia yang terbebas dari bisikan setan ke dadanya, hatinya, dan tak ada pula yang luput dari bisikan nafsu ke kepalanya, akalnya. Oleh karena itulah, kita harus mengelola zikir dan pikir.

Oleh karena itu pula, Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Fungsi utama pelaksanaan agama adalah untuk mengingat dan mengingatkan. Mengingat Allah dengan segala KemahaanNya yang tak terbatas dan mengingatkan manusia kepada segala keterbatasannya. Namun, dalam hal mengingatkan, Allah memberi syarat: kita harus dalam keadaan ingat. Bukan dalam keadaan lupa dan lalai, apalagi dusta dan dzalim. Allah berfirman dalam Q.S. As-Shaf: 3, betapa Dia benci kepada orang beriman yang mengatakan apa-apa yang tidak dikerjakannya.

Kini, apa yang terjadi? Yang beriman dan yang tidak beriman bercampur menjadi satu dalam ujaran kebencian. Tidak hanya dalam ujaran tentang sesuatu yang tidak dikerjakan, namun bahkan dalam ujaran kebencian! Yang merasa benar cenderung menyalahkan, yang disalahkan pun tetap merasa benar sendiri.

Yang satu bagian mencintai kelompoknya sebegitu rupa hingga tak adil pada kelompok lain, pun sebaliknya: kebencian pada kelompok tertentu menjadikan kita tidak adil pada kelompok itu. Cinta sudah berkalang benci dan benci sudah berdalih cinta.

Baca Juga :   Membangun Politik Beradab, Bukan Biadab

Lebih suka merasa bagus, meski dengan menjelek-jelekkan liyan. Tidak suka disebut jelek, akan tetapi juga tidak suka pula membagus-baguskan liyan, apalagi yang berseberangan dengannya. Padahal, mengapa simbol Yin-Yang tidak belah tengah hitam-putih? Mengapa belah-lengkung? Sebab, yang hitam mengalami putih, bahkan di dalam hitam terkandung putih meski hanya setitik.

Pun sebaliknya: yang putih mengalami hitam, bahkan di dalam hitam terkandung putih, meski hanya senoktah. Pada orang arif dan bijak kita bisa bertanya hikmahnya lebih dalam.

Saya tidak bisa menutup tulisan ini sejak saya meyakini bahwa perbincangan soal cinta dan benci adalah cengkerama abadi. Namun, saya teringat Q.S. al-Baqarah: 216, “Boleh jadi kau membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, boleh jadi pula kau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kau tidak.”

Satu hal yang saya yakini pula, cinta memang menyakitkan, namun bukan untuk menyakiti. Bagaimana dengan benci? Apakah benci tidak menyakitkan? Apakah benci juga tidak untuk menyakiti? Anda tahu jawabnya.

Baca juga:

Jangan-jangan Kita Sendiri yang Intoleran?

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Sejarah Perbedaan Pendapat dalam Islam


Written by Candra Malik

Candra Malik

Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR