OUR NETWORK
Memulangkan Trotoar pada Khitahnya
Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Koalisi Pejalan Kaki menggelar aksi simpatik di kawasan Menteng Pulo, Jakarta, Jumat (21/7). Aksi tersebut bertujuan untuk menuntut dikembalikannya fungsi trotoar bagi pejalan kaki. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/17.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar “Bulan Tertib Trotoar” selama Agustus 2017. Digelarnya Bulan Tertib Trotoar tentu merupakan hasil dari beberapa tahun terakhir DKI Jakarta mematut diri di depan cermin. Sebelum Pemprov DKI Jakarta turun tangan, berbagai lapisan masyarakat sudah lebih dulu turun ke jalan-jalan untuk menyelamatkan trotoar. Mereka bergerak secara independen maupun bernaung di bawah komunitas pejalan kaki.

Kesadaran terhadap hak pejalan kaki mulai bergaung sekitar tahun 2012, ketika terjadi insiden “Avanza maut”—sebuah mobil menabrak sembilan pejalan kaki di Jakarta Pusat. Dua tahun kemudian terangkatlah beberapa gerakan sukarela para pejalan kaki yang merasa haknya dirampas kendaraan bermotor. Ketika itu Koalisi Pejalan Kaki rutin menjaga trotoar supaya tidak digunakan para pengendara motor.

Aksi semacam itu berlangsung awet hingga sekarang. Malah cakupannya melebar. Dewasa dan anak-anak bergabung, kota-kota yang tadinya tak peduli urusan pejalan kaki pun, masyarakatnya jadi aktif bergerak menyelamatkan hak-hak pejalan kaki.

Kondisi trotoar dewasa ini memang memprihatinkan. Tak hanya di Jakarta, trotoar di berbagai pelosok negeri banyak yang sudah beralih fungsi menjadi tempat pedagang kaki lima, parkir liar kendaraan bermotor, bahkan menjadi jalur motor yang menghindar dari kemacetan.

Kegiatan Bulan Tertib Trotoar patut kita apresiasi. Dua ratus empat puluh kendaraan ditertibkan karena parkir di trotoar pada hari pertama pelaksanaannya. Menurut Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, masalah utama ada pada perilaku masyarakat. “… Perilaku supaya benar-benar kalau menggunakan jalan itu harusnya sesuai dengan fungsinya.”

Para pejalan kaki boleh berlega hati karena tandanya pemerintah mulai melakukan hal konkret terkait pedestrian. Sebab, selama ini, meski isu pedagang kaki lima di kota-kota besar sering mencuat, sedikit kasus saja yang dikaitkan dengan hak pejalan kaki. Sisanya didorong oleh alasan estetis dan kemacetan.

Masalah pejalan kaki jarang sekali masuk ke dalam bagian dari isu nasional. Memang, tak ada data pasti mengenai jumlah pejalan kaki di Indonesia, namun pengguna kendaraan bermotor di Indonesia kian masif dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, data menunjukkan angka 98,9 juta untuk sepeda motor, dan 13,5 juta untuk mobil penumpang.

Jalan Kaki, untuk Apa?

Melihat perkembangan kepemilikan kendaraan bermotor, kita bisa membayangkan betapa masyarakat Indonesia sungguh tergantung pada kendaraan. Sebagian besar dari kita lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maupun umum ketimbang berjalan kaki. Mirisnya lagi, orang Indonesia terbukti merupakan penduduk paling malas berjalan kaki sedunia.

Dalam penelitian tercatat, orang Indonesia berjalan dengan rata-rata 3.513 langkah per hari. Jurnal Nature mempublikasikan temuan tersebut. Sejumlah ilmuwan dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, menguji ponsel dari ratusan ribu orang di seluruh dunia untuk melaksanakan penemuan itu. Mereka memantau dan mendata 700.000 orang menit per menit. Orang-orang yang dipantau adalah para pengguna Argus, sebuah aplikasi pemantau aktivitas di telepon pintar.

Padahal, jalan kaki adalah aktivitas penting. Pertama, penting bagi kesehatan. Berbagai ilmuwan dari universitas dan rumah sakit sudah banyak meneliti tentang hal itu. Dengan berjalan kaki, sirkulasi darah dalam tubuh lancar, risiko patah tulang berkurang, baik untuk kesehatan jantung dan menurunkan kolesterol, dan berbagai manfaat menyehatkan lain.

Manfaat lain, jalan kaki juga membuat pikiran lebih tenang dan rileks. Bahkan, jalan kaki dapat mengurangi gejala depresi hampir seefektif obat antidepresan. Dibarengi dengan terapi obat-obatan, jalan kaki bisa sampai pada taraf mengontrol dan mengobati depresi berat.

Bersamaan dengan pikiran yang tenang dan rileks, daya refleksi bisa semakin kuat. Dalam salah satu metode meditasi kesadaran atau vipassana khas Buddha, jalan kaki digunakan dengan tujuan membangun kesadaran sepanjang waktu. Ucap Buddha, “Seorang bhikkhu menggunakan pemahaman yang jernih saat berjalan bolak-balik.”

Dalam hidup, pemahaman jernih—atau pemahaman yang benar atas realitas—tentulah penting. Pemahaman jernih dapat membuat konsentrasi manusia terbangun dengan kokoh.

Tentu tak hanya Buddhisme yang mempraktikan meditasi jalan kaki ini. Dalam berbagai agama dan keyakinan, jalan kaki kerap dijadikan kegiatan yang dianjurkan untuk tujuan kesehatan maupun refleksi tentang lingkungan, diri, bahkan keimanan.

Dalam sebuah kisah spiritual, Fransiskus, seorang santo dari Asisi, ketika di suatu musim dingin ia mempraktikan meditasi jalan. Di bawah pohon kenari, Fransiskus dari Asisi berhenti sejenak. Di sana, ia berdoa, “Pohon kenari, beritahu padaku sesuatu tentang Tuhan.” Tiba-tiba, ia melihat pohon itu berbunga, mekar, semarak.

Pengalaman personal dan subjektif dapat diperoleh dengan membiasakan diri berjalan kaki. Pertemuan dengan hal-hal di sekitar dapat dipikirkan masak-masak, diolah sedemikian rupa. Itulah alasan banyaknya ziarah spiritual yang harus dilakukan dengan berjalan kaki.

Jalan kaki dan berpikir itu dua hal yang lekat. Di mata manusia yang berjalan, alam jadi lebih dekat dan dikenali. Kenal, maka kelak akan sayang. Manusia yang berjalan juga dapat bertemu sesama, merasa lebih saling membutuhkan dan melengkapi secara sosial. Maka, relasi sosial yang baik terjamin. Jalan kaki—dalam suasana yang ideal—mengundang simpati dan empati, menyingkirkan pikiran-pikiran buruk, dan mendorong pemikiran-pemikiran baru.

Awal tahun 2017 lalu, terbit sebuah buku Indonesia yang berasal dari refleksi ketika berjalan kaki. Buku itu—berjudul Jalan Pulang—ditulis secara indah oleh Maria Hartiningsih. Sang penulis adalah jurnalis senior yang telah menerima berbagai penghargaan jurnalistik. Jalan Pulang adalah buku bernas yang ditulis secara sederhana. Isinya berkisah tentang pengalaman berjalan kaki di sepanjang Camino Santiago, juga di Lourdes, Plum Village, Oran, dan Mostaganem. Sungguh tak tertutup kemungkinan ada karya besar lahir dari langkah kaki.

Jalan kaki memang sehat bagi perkembangan manusia, bagi proses humanisasi. Jalan kaki sebagai kenikmatan akan dirasakan kalau keadaan jalan aman dan nyaman. Semakin banyak orang nikmat berjalan kaki, semakin trotoar dihargai keberadaannya. Maka, pejalan kaki dan trotoar sama-sama harus dilindungi.

Sekali lagi, Pemprov DKI Jakarta patut diapresiasi dengan upaya besar yang dilakukan terhadap para perampas hak pejalan kaki—menegur PKL, menderek, menilang kendaraan, dan sebagainya. Kita sama-sama lihat, sejauhmana keseriusan pemerintah menghargai jalan kaki. Semoga tak sebatas aksi di permukaan semata.

Jalan kaki bukan hanya aktivitas yang membawa masyarakat ke tempat tujuan, tapi pejalan kaki juga bisa jadi peziarah. Mereka berperan dalam mengamati perkembangan kota. Trotoar dan jalan sebagus apa, udara sebersih apa, kota sehijau apa, warga kota seramah apa, hanya pejalan kaki yang punya daya untuk mengawasi itu semua. “Ke sana” bisa jadi bukan tujuan sebenarnya. Yang terpenting adalah proses menuju “ke sana”, begitu tersurat dalam Jalan Pulang.

Lagi pula, filsuf Nietzsche menulis, “Pemikiran-pemikiran bernilai hanya dicapai dengan jalan kaki.” Lewat Bulan Tertib Trotoar ini, mari kita amati pihak yang berwenang, sebarkan ide tentang kota yang nyaman, dan mulai berjalan kaki. Sudah waktunya kita mengembalikan trotoar pada fungsinya: memulangkan jalan kaki pada khitahnya.

Baca juga:

Kota yang Fasis

Risma dan Surabaya: Mencari Kota yang Ramah

Gebrakan Ridwan Menata Pedagang Kaki Lima

Aura Asmaradana

Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, “Solo Eksibisi” – Kumpulan Cerita Pendek (2015)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…