OUR NETWORK

Memeriksa Lucinta Luna dengan Seksama

Sangat mungkin Lucinta termasuk sosok yang enggan memasuki (lagi) lorong pengap masa lalu yang menginjak-injak kehormatannya. Mereka yang merisaknya di sosial media, atas nama kejujuran, memang punya hak untuk itu, meski mereka tuna sensitivitas.

“Mas, habis ini ada wawancara eksklusif Lucinta Luna, lho. Aku mau nonton, ah,” ujar istriku kemarin siang. Aku pun tersenyum saja.

Lucinta Luna (panggil saja Cinta) tiba-tiba jadi diva di jagat sosial media. Perempuan ayu berhidung mancung ini ramai diperbincangkan warganet menyangkut statusnya. Oleh sahabatnya sendiri, Cinta dituduh berjenis kelamin pria, sebelum akhirnya bisa seperti ini.

Dalam sebuah acara obrolan di salah satu TV, aktris Nikita Mirzani sempat menyindir Cinta. Keduanya terlihat sempat bersitegang, sebelum akhirnya didamaikan. Sebenarnya, laki-laki atau perempuankah Cinta? Kenapa ia begitu kukuh dengan pendiriannya bahkan setelah seseorang mengunggah video dugaan operasi transformasi jati diri Cinta?

Dalam dunia identitas terkait gender dan seksualitas, terdapat dua konsep fundamental menyangkut diri seseorang; jenis kelamin dan gender. Seseorang yang lahir dengan penis, akan dianggap berjenis kelamin laki-laki. Siapa yang menganggap? Orang lain, khalayak umum. Sedangkan persepsi personal pemilik kelamin menyangkut identitasnya, saya anggap sebagai gender.

Kaprahnya, persepsi publik berjalan seiring dengan keyakinan seseorang  atas dirinya. Jika publik mengatakan seseorang itu laki-laki, maka ia biasanya meyakini dirinya adalah laki-laki.

Namun demikian, tidak sedikit individu yang meyakini identitas dirinya berbeda dengan yang diyakini khalayak umum. Ada situasi di mana publik menganggap seseorang adalah laki-laki namun ia justru meyakini sebaliknya, sebagai perempuan, atau sebaliknya.

Lingkungan tempat ia tumbuh sangat berpengaruh terhadap cepat-lambatnya transisi identitas ini. Seseorang tidak butuh waktu lama dalam masa transisi identitas jika diayun oleh lingkungan yang cukup adaptif.

Seperti halnya penumpang yang terperangkap di angkutan yang pengap, seseorang yang terjebak dalam ketidakcocokan jenis kelamin dan gendernya kerap ingin segera menghirup udara bebas. Tidak pengap, menjadi dirinya sendiri.

Kepengapan dan keterjebakan merupakan memori buruk, sebuah pengalaman kelam yang tidak mudah dikelola secara baik. Sangatlah wajar jika ada seseorang merasa sangat tidak nyaman mengingat kembali kejadian tidak mengenakkan yang pernah dia alami, apalagi diminta untuk mengalaminya lagi.

Sangat mungkin Cinta termasuk sosok yang enggan memasuki (lagi) lorong pengap masa lalu yang menginjak-injak kehormatannya. Itu sebabnya, barangkali, gadis ayu ini mati-matian mempertahankan harga dirinya yang sekarang.

Para pihak yang mendorong-dorongnya, bahkan merisaknya di sosial media, atas nama kejujuran, sungguhlah punya hak untuk itu, meskipun saya bisa katakan mereka tuna sensitivitas.

Sama tidak sensitifnya dengan kita yang memaksa pengidap dogphobia untuk mengaku bertemu anjing, padahal ia baru saja setengah mati menyelamatkan diri dari kejaran binatang ini.

Tanpa ada alasan yang jelas, ada banyak di antara kita yang merasa tidak aman sehingga perlu memperkosa hak untuk nyaman seseorang, memeriksa masa lalunya, seakan masa depan kita akan runtuh dan dirugikan kalau ia tidak berkata jujur sebagaimana yang kita tuntutkan.

Jika Cinta lebih memilih tidak mau mengingat masa lalunya, kerugian konstitusional apa yang akan kita tanggung? Tidak ada, selain keterlantaran puasnya ego yang meminta tumbal penelanjangan identitas Cinta.

Watak egoisme seperti ini merupakan ciri peradaban kumal yang patut kita pertimbangkan untuk diamputasi, diganti dengan peradaban baru yang penuh apresiasi. Jadi, laki-laki atau perempuankah Lucinta Luna ini? Wallahu a’lam.

Kolom terkait:

Teruntuk Netizen: Ada Apa dengan Lucinta Luna?

Kisah Aming dan Bunda Dorce yang Tak Terungkap

Jangan Ganggu Banci

Aming-Kevin dan Problem Multiplisitas Identitas

Belajar Gender dan Orientasi Seksual dari Pernikahan Aming

Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…