Jumat, Januari 15, 2021

Mau Apa dengan Badan Siber?

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis...

Bisnis dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Lawan atau Kawan?

Jurnal terkemuka Sustainable Development telah mengeluarkan sebuah artikel early view. Judulnya, The Private Sector and the SDGs: The Need to Move Business as Usual....

Apa Kabar Pasal Penghinaan dalam Revisi UU ITE

Hampir sebulan Komisi I DPR RI menyetujui untuk membahas revisi Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Namun hingga saat ini...

Sukmawati dan Otokritik Dakwah Muhammadiyah

Sukmawati, dalam puisinya yang berjudul “Ibu Indonesia”, menganggap konde lebih cantik dari cadar, dan kidung Ibu Indonesia lebih merdu dari alunan azan. Puisi ini...
Rahma Sugihartati
Pengajar di Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga, Surabaya. Penulis buku "Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer" (2014)

Indonesia adalah salah satu negara yang termasuk rawan terjadinya kejahatan siber. Untuk itu, ketika Presiden Joko Widodo meresmikan pembentukan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), banyak pihak berharap ancaman kejahatan digital yang berpotensi merugikan masyarakat dan negara akan dapat dicegah.

Badan Siber adalah sebuah lembaga yang bertanggung jawab untuk menjaga keamanan negara di sektor digital, khususnya mencegah agar cyber crime tidak makin marak dan risiko masuknya malware dapat diminimalisasi

Berbeda dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) yang lebih menangani soal konten media, termasuk ancaman hoaks, Badan Siber lebih difokuskan untuk mendukung keamanan siber dan tidak menangani konten hoaks atau berita bohong. Menanggulangi serangan hacker yang tidak bertanggung jawab, menangani dampak wannacry, melakukan mitigasi, hingga melakukan pemulihan atau merevitaliasi kembali fasilitas negara yang terkena serangan malware adalah beberapa contoh tugas BSSN.

Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk sangat besar pengguna teknologi informasi, internet, dan telah pula memasuki era perekonomian daring (e-commerce), potensi masyarakat dan negara menjadi korban kejahatan digital memang sangat terbuka.

Di tahun 2018 ini, potensi Indonesia menjadi korban kejahatan siber menjadi lebih besar, karena kepentingan ekonomi, politik, dan berbagai ancaman terorisme niscaya akan saling tumpang-tindih. Memanfaatkan celah ketidakmengertian masyarakat awam dan kurangnya kesiapan negara untuk melindungi diri dari ancaman cyber crime niscaya akan menjadi pintu masuk para penjahat siber untuk memetik keuntungan.

Di Indonesia, ada sejumlah titik lemah yang berpotensi diserang para hacker dan penjahat digital. Pertama, berkaitan dengan meningkatnya transaksi keuangan melalui jaringan elektronik atau transaksi daring (e-banking) pada dunia perbankan di Indonesia. Selama ini, banyak bukti menunjukkan bahwa sistem perbankan di Indonesia dinilai masih rawan diretas oleh para pelaku kejahatan siber. Ancaman phising dan malware yang biasanya menyerang sistem komputer selama ini dilaporkan telah sering menganggu sistem perbankan di Indonesia.

Kasus rekening nasabah yang dibobol, penipuan penggunaan kartu kredit, dan lain sebagainya adalah berbagai kasus yang memperlihatkan bahwa sistem perbankan di Indonesia masih perlu diperkuat tingkat keamanannya. Kasus yang banyak terjadi umumnya adalah pembobolan akun nasabah bank yang diretas oleh para hacker, di mana salah satunya karena banyak perbankan di Indonesia yang menggunakan perangkat second.

Kedua, berkaitan dengan makin banyaknya jumlah pengguna teknologi informasi dan internet, yang tidak diimbangi dengan pengetahuan dan literasi digital yang memadai. Di Indonesia, ditengarai ada 120 juta lebih pengguna teknologi informasi, tetapi sebagian besar sayangnya masih belum melek teknologi. Ada sekitar 58% pengguna internet di Indonesia merasa aman-aman saja dengan teknologi informasi yang mereka pergunakan dan tidak merasa bakal mendapatkan serangan dari para hacker, sehingga hal ini tidak dianggap penting. Padahal, dalam kenyataan tingkat keamanan siber di Indonesia masih termasuk amburadul, di mana perlindungan terhadap informasi dan transaksi ekonomi daring masih sangat minimal.

Ketiga, berkaitan dengan keterbatasan dan minimnya keterlibatan aparatur negara dalam melindungi masyarakat dari risiko menjadi korban kejahagatn digital. Sebagian aparat umumnya masih menganggap ancaman tindak kejahatan yang lebih prioritas berasal dari tindak kejahatan konvensional, seperti pencurian, perampokan, dan lain-lain. Namun, mereka lupa bahwa bentuk tindak kejahatan yang paling berbahaya dewasa ini adalah tindak kejahatan siber.

Tidak sedikit warga negara asing yang masuk ke Indonesia dan memanfaatkan kelemahan sistem digital kita untuk kemudian melakukan tindak kejahatan siber. Lebih dari sekadar melakukan skimming dengan modus penggandaan kartu ATM, dewasa ini pelaku tindak pejahatan siber disinyalir telah menggunakan router untuk melakukan penyadapan jalur transaksi rekening. Ulah pelaku tindak kejahatan yang makin canggih inilah yang menjadi salah satu ancaman bagi masyarakat di Indonesia. Tren terbaru yang berkembang saat ini bukan lagi malware in the browser, tetapi malware as a browser, seperti aplikasi di smartphone yang mudah sekali bagi hacker untuk diretas.

Pertengahan tahun 2017 lalu, kita tentu masih ingat bahwa aparat kepolisian Indonesia telah menangkap seratus lebih WNA yang melakukan tindak kejahatan siber. Sebanyak 92 warga negara asing asal Cina ditangkap di Surabaya, sementara itu di Jakarta polisi dilaporkan juga menangkap 27 orang warga negara Cina dan lebih dari 30 orang warga negara Cina ditangkap di Bali dalam kasus yang sama.

Semua WNA itu ditangkap setelah Direktorat Tindak Kriminal Khusus Markas Besar Kepolisian RI dan Polda Metro Jaya mendapat laporan dari kepolisian Cina. Mereka melapor bahwa warga Cina yang berada di Indonesia telah banyak ditipu oleh sindikat cyber crime.

Badan Siber adalah lembaga yang berada langsung di bawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. Kehadiran Badan Siber dan Sandi Negara ini di luar negeri sebetulnya sudah sejak lama ada, seperti di Malaysia, Singapura, Australia, dan Thailand. Selain bertanggungjawab untuk menangkal serangan siber, badan ini juga memiliki otoritas untuk membuat regulasi terkait pengadaan infrastuktur jaringan internet.

Bagi Indonesia, pembentukan badan baru ini memiliki peran penting dan strategis, sebab diakui atau tidak Indonesia selama ini mendapat catatan sebagai salah satu negara yang marak dengan aksi kejahatan cyber. Hal ini tentu membawa dampak buruk bagi citra Indonesia di dunia internasional.

Di era masyarakat post-industrial, kehadiran Badan Siber diharapkan tidak hanya berkiprah dalam mengamankan informasi penting bagi negara, tetapi juga bisa berperan efektif dalam menangani dan mencegah munculnya ancaman cyber crime yang belakangan ini banyak menghantui kepentingan masyarakat dan kelancaran transaksi ekonomi daring.

Kolom terkait:

Kaleidoskop 2017: CELUP dan Kekacauan Fungsi Media Sosial

Hoaks yang Dibercandai

Akrobat Hoaks dan Tata Kelola Informasi Publik

Hoaks dan Nalar Kita

Ketika Media Sosial Menjadi Semakin Personal

Rahma Sugihartati
Pengajar di Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Universitas Airlangga, Surabaya. Penulis buku "Perkembangan Masyarakat Informasi dan Teori Sosial Kontemporer" (2014)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.