in

Malam yang Panjang di LBH dan Dendam Imajiner yang Lebih Panjang


Seorang perempuan tengah dievakuasi ke luar dari dalam Gedung YLBHI, Senin, dini hari (18/9) [Foto: kompas.com]

Minggu, 17 September 2017. Hari itu, saya kira saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan bersama orang terkasih. Seperti hari-hari Minggu pada wajarnya, romantis dan menjemukan. Manis dan klise.

Beberapa jam kemudian, tak jauh di hadapan saya adalah massa yang marah yang jumlahnya mencapai ribuan orang. Seribu lima ratus sampai dua ribu, kata Kapolda belakangan. Kami dan massa hanya dipisahkan oleh pagar yang nampak bisa roboh sewaktu-waktu, serta polisi yang jumlahnya tak bisa dibandingkan dengan kerumunan pengepung tersebut. Dari kejauhan yang tak seberapa itu, massa tak henti mengintimidasi kami dengan umpatan-umpatan yang sangat mengganggu.

“PKI nggak boleh ada di bumi Indonesia, woi!”

“PKI! Darah kalian halal!”

Hari yang agak tak biasa dalam hidup saya yang membosankan? Betul.

Malam itu, saya tak pernah berencana datang ke LBH Jakarta. Saya datang karena kekasih saya spontan ingin menengok kolega-kolega aktivisnya di sana. Mereka tengah ambil bagian dalam festival menyuarakan penolakan terhadap represi demokrasi. Pelaporan Dandhy Dwi Laksono karena membandingkan Megawati dan Aung San Suu Kyi. Penggerudukan LBH karena seminar sejarah. Berbagai kejadian terakhir memberikan alasan bagi para aktivis untuk cemas bahwa demokrasi tengah di ujung tanduk.

Sebelum festival berakhir, tiba-tiba saja para peserta dan penyelenggara diskusi menyorongkan pandangannya ke jendela. Beberapa orang kemudian menggeser meja dan kursi untuk membarikade pintu. Begitu saya menyadarinya, kami sudah dikepung oleh massa yang mengatasnamakan dirinya “rakyat” dan “umat Islam.”

Kawan-kawan dari LBH mengumpulkan dan meminta kami berlindung di lantai dua dan tiga. Ada ruangan-ruangan yang bisa digembok di atas sana. Beberapa kawan LBH yang lain berjaga-jaga di luar pintu. Mereka memantau massa, berkoordinasi dengan jaringan yang mungkin dapat membantu mengatasi situasi, serta menanti aparat untuk bernegosiasi agar mereka mau membubarkan massa.


Saya, yang turut keluar ke halaman, diminta bersama mereka yang juga ada di halaman untuk membentuk pagar manusia. Kami diminta berjaga-jaga kalau-kalau massa berhasil merangsek masuk. Di dalam gedung LBH, ada para wanita dan orang-orang sakit, orang-orang tua penyintas, serta ibu-ibu Kendeng. Massa, yang sudah tersulut amarahnya, merasa LBH menyembunyikan PKI di dalam gedung. Kami tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila mereka menggeruduk masuk.

Ketika berhadap-hadapan dengan massa dibatasi pagar itulah, saya mendengar berbagai caci-maki yang sudah Anda baca di atas. Wajah kami disoroti dengan senter berulang-ulang, dan mereka mengancam akan mengingatnya satu-persatu. Hidup kami tidak akan tenang, katanya. Mereka akan memburu kami. Teriakan “Allahuakbar” dipekikkan berkali-kali. Setiap kali ia dipekikkan, kami mendapati massa semakin membara.

Situasi ini berlarut-larut hingga beberapa jam. Bagian yang paling tak mengenakkan adalah, tidak ada tanda-tanda ia akan berakhir. Semakin larut, jumlah massa semakin banyak. Truk-truk baru berdatangan untuk menurunkan rombongan pengepung baru lagi. Ojek-ojek daring sekonyong-konyong saja melibatkan diri ke kerumunan dan memperkeruh suasana. Wajah-wajah berliput kebencian, yang menatap ke arah kami, semakin riuh.

Kapolres sudah memberikan komitmennya untuk melindungi kami. Tetapi, klarifikasi polisi bahwa acara LBH tak ada sangkut-pautnya dengan PKI serta permintaan agar massa sudi membubarkan diri tenggelam tak bersisa di antara provokasi-provokasi yang bergaung. Apa yang menyemarak dari pengeras suara massa malah kecurigaan-kecurigaan bahwa polisi tengah melindungi kelompok yang keberadaannya dilarang di negara ini.

Singkat cerita, saya selamat sampai ke rumah. Tetapi, tidak tanpa polisi terlebih dulu mendorong mundur massa dengan pasukan anti huru-hara dan gas air mata agar kami dapat dievakuasi dari gedung LBH. Tidak tanpa kami terlebih dulu menyaksikan betapa gigihnya massa melawan balik polisi hanya karena menganggap mereka berpihak kepada PKI dan berusaha mengintai kami selepasnya.

Dan tidak tanpa saya terpana terlebih dulu dengan kekuatan dari satu kata: “PKI.”

Saya tahu, “PKI” adalah satu kata yang sangat gaib. Ia adalah satu mantra yang seketika diujarkan kontan menggoreskan amarah, kemasygulan, ketersinggungan banyak orang. Sepanjang puluhan tahun, negara mencangkokkan semua sentimen negatif yang mungkin ada terhadap partai ini pada setiap kesempatan yang dipunyainya, melalui segenap teknologi yang dimilikinya. Ketika kini apa-apa yang terpaut dengan PKI menuai ketakutan tak terkira, ini adalah perkembangan yang sebenarnya sangat bisa diterka.

Namun, ironinya bila dipikirkan, semakin jauh kita melangkah dari dekade 1960-an dan dari Orde Baru yang memang berkepentingan mencangkokkan propaganda ini, dendam kepada “PKI,” yang keberadaannya lebih banyak diimajinasikan alih-alih nyata, hanya semakin menderu-deru. Dan, lucunya, pembungkaman dengan menunjuk orang lain “PKI” bahkan bukan lagi dilakukan oleh negara melainkan oleh “masyarakat. Oleh orang-orang sekadar lewat yang tak tahu apa-apa atau termangsa pesan-pesan menakutkan yang berseliweran di gawai mereka.

Seribu lima ratus sampai dua ribu orang yang bergabung dalam pengepungan LBH massa tempo hari bukanlah jumlah yang sedikit. Dalam perjalanan panjangnya mengarungi sejarah Indonesia hingga ke masa-masa paling gelap serta paling otoriter sekalipun, baru tempo hari lembaga ini harus mengalami intimidasi dengan skala semasif itu.

Indikasi apakah ini? Masyarakat kita yang kian mudah terprovokasi? Radikalisme yang kian mengental? Rendahnya kemampuan menyaring informasi di era dengan kecepatan yang sangat tinggi? Semua hal tersebut mungkin saja benar. Akan tetapi, nampaknya lebih menggoda untuk mengatakan, dendam imajiner ini semakin bermanfaat. Ada mereka yang hidupnya menjadi semakin berarti dengan terjun dalam peperangannya—bahkan peperangan tanpa musuh yang berwujud sekalipun. Ada jejaring perkawanan yang semakin berdenyut dan bergairah berkat adanya krisis yang dibicarakan bersama.

Dan ada mereka yang mendapat kesempatan menduduki tangga sosial yang lebih tinggi darinya.

Hari spekatakuler, yang sebelumnya saya kira akan berakhir biasa-biasa saja tersebut, berakhir setelah kami dievakuasi polisi. Tetapi, hari-hari di mana hantu yang diimajinasikan orang-orang memantik kemarahan-kemarahan tak berarah masih akan bergulir lama. Sangat lama. Sepuluh tahun lagi? Dua puluh tahun lagi? Lebih, mungkin.

Kolom terkait:


Written by Geger Riyanto

Geger Riyanto

Esais, sosiolog. Mengajar Konstruktivisme dan Filsafat Sosial di Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR