in

LGBT Bukan Penyakit dan Identitas Seksual


Membaca tulisan “LGBT Juga Manusia” menimbulkan kegelisahan, terutama bagi saya sendiri. Sebab, dalam tulisannya, Riduan Situmorang menyatakan bahwa LGBT itu merupakan penyakit. Tidak jelas, penyakit seperti apa yang hendak dia katakan. Tetapi, sebelum jauh membahas, saya ingin menyarankan si penulis perlu membaca, menelusuri, menjejaki bahkan melakukan riset mendalam tentang kajian LGBT, gender education, gender equality, dan sejenisnya sebelum membahas lebih jauh lagi.

Saya merasa perlu memberikan tanggapan agar tidak menimbulkan kesesatan berpikir dan keresahan di khalayak publik: apakah si penulis pernah bertanya langsung kepada orang-orang yang mengaku bagian dari LGBT? Apakah pernah bertanya kepada orang yang mengaku gay atau lesbian? Kalau belum pernah, dia terlalu berani menyodorkan sebuah argumen, tetapi minim pengetahuan soal LGBT. Dia berani pula menyatakan bahwa LGBT itu adalah penyakit.

Barangkali dia tidak bisa membedakan mana penyakit, mana kelainan, dan mana disorientasi. Si penulis terjebak dalam pemaknaan LGBT itu dari satu sudut pandang saja.

Sebaiknya si penulis terlebih dahulu memahami perbedaan antara gender (kelamin) dan orientasi seks. Kelamin atau gender pada umumnya dibedakan dalam 2 jenis: laki-laki dan perempuan. Walau ada manusia yang terlahir dengan kelamin ganda, campur tangan medis biasanya akan memperjelas bentuk kelaminnya menjadi laki-laki atau perempuan setelah melalui beberapa tes medis, meski sering sekali terjadi kekeliruan yang menyebabkan orang tersebut mengalami gender disorder.

Orientasi seksual sendiri adalah kecenderungan kesukaan seksual seseorang terhadap orang lain. Orientasi seksual dibedakan menjadi homoseksual, heteroseksual, dan biseksual. Jadi, sebenarnya ada perbedaan besar antara gender dan seksualitas: “Gender is between your ears and sex is between your legs”. Spektrum seksualitas itu besar sekali, kadang sampai di luar penalaran kita.

Bicara tentang isu LGBT, saya jadi teringat dengan kasus pemutaran sebuah film pada tahun 1961 oleh Kepolisian di Inglewood, California. Kepolisian mengeluarkan sebuah film berjudul Boys Beware sebagai peringatan kepada anak laki-laki remaja tentang bahaya homoseksual. Dengan suara yang menyadarkan, perwira tersebut memperingatkan bahwa pria seperti karakter Ralph, yang menawarkan wahana dan pujian kepada remaja, bisa memiliki motif tersembunyi dan memiliki penyakit.

“Ralph sakit, penyakit yang tidak terlihat seperti cacar tapi tak kalah berbahaya dan menular. Sebuah penyakit pikiran. Begini, Ralph adalah seorang homoseksual, ” kata narator itu. Persis seperti yang dituduhkan oleh si penulis tadi bahwa lagi-lagi LGBT adalah penyakit.

Dalam dunia medis dan ilmu kedokteran ada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) untuk menentukan kondisi kejiwaan seseorang, termasuk di dalamnya adalah kasus LGBT. DSM telah mengalami beberapa kali perubahan dan isi yang mana pada buku edisi ke-3 menyatakan bahwa LGBT bukan kelainan mental—bahkan penyakit seperti yang dituduhkan penulis.

Buku DSM yang terbaru adalah edisi ke-5. Kalau dulu di dalam DSM (Diagnostic and Statistic Manual of Mental Desorder), homoseksulitas dianggap sebagai penyimpangan yang termasuk kedalam gangguan jiwa, akhirnya setelah beberapa kali mendapat kritikan pada tahun 1974 APA (American Psychiatric Association) menghapus homoseksual dari salah satu kelainan jiwa atau kelainan seks.

Perubahan paradigma psikologi dalam melihat homoseksualitas ini berdampak sangat besar dalam diskursus legalitas homoseksual dan LGBT secara umum. Setelah diklasifikasi oleh APA dari DSM, LGBT dianggap sebagai perilaku yang alamiah dan normal.

Susan Cochran, psikolog dan ahli epidemiologi di University of California, Los Angeles, ikut bicara dalam panel yang diselenggarakan oleh WHO untuk meninjau klasifikasi gangguan psikologis dan perilaku yang terkait dengan orientasi seksual dan perkembangan. Para ahli juga mengeluarkan sebuah laporan minggu ini yang mengatakan bahwa tidak ada bukti ilmiah untuk mendukung penyakit terkait orientasi seksual.

“Tidak masuk akal untuk memasukkan sesuatu ke dalam sebuah buku dan berkata, ‘Ini adalah penyakit,’ jika tidak ada bukti bahwa itu adalah penyakit,” kata Cochran.


Meski menjadi gay atau lesbian tidak lagi diklasifikasikan sebagai kelainan rujukan terhadap homoseksualitas karena kelainan jiwa dikeluarkan dari direktori WHO pada tahun 1990, sebagai gantinya muncul kategori baru penyakit “gay-associated”. Misalnya, jika remaja homoseksual bingung dengan identitas seksualnya, dia dapat diklasifikasikan sebagai orang sakit mental berdasarkan pedoman WHO saat ini, kata Cochran. Atau jika pria yang sudah menikah bangun suatu hari dan menyadari bahwa dia gay dan ingin meninggalkan istrinya, dia bisa didiagnosis menderita gangguan hubungan seksual.

Dokter mungkin bisa membenarkan penggunaan “terapi reparatif” dalam merawat orang gay yang menderita depresi atau kecemasan. Perlakuan konversi ini dipahami secara luas sebagai sesuatu yang tidak etis dan berbahaya bagi individu dan sama sekali tidak efektif dalam mengubah orientasi seksual seseorang.

Laporan itu dimaksudkan untuk menginformasikan sebuah dialog internasional mengenai isu-isu yang berkaitan dengan LGBT—kemungkinan akan menimbulkan perdebatan, karena WHO berurusan dengan kepercayaan budaya dan berbagai temuan ilmiah di banyak negara. Bahkan lebih dari sekadar menyoroti keputusan antara standar politik dan budaya negara-negara yang berbeda, klasifikasi gangguan mental terkait homoseksualitas adalah isu hak asasi manusia.

Komisaris tinggi PBB untuk hak asasi manusia mengatakan bahwa individu LGBT berhak atas perlindungan yang sama seperti orang lain, termasuk tempat berlindung dari “penyiksaan, penangkapan dan penahanan sewenang-wenang,” menurut laporan WHO. Organisasi profesional internasional, seperti World Association for Sexual Health and the International Planned Parenthood Federation, juga telah menegaskan bahwa hak seksual, termasuk hak yang berkaitan dengan ekspresi orientasi seksual, merupakan bagian integral dari hak asasi manusia, seperti tertulis dalam laporan WHO.

Kembali ke topik permasalahan, seperti diungkapkan oleh penulis ,“Saya lagi-lagi mengetengahkan ini tidak bermaksud agar kita melegalkan LGBT. Saya hanya ingin agar kita menyembuhkan mereka. Mereka juga manusia, sama seperti kita. Mereka butuh penerimaan, atau barangkali, butuh kekuatan untuk bertobat!”

Pernyataan penulis sarat ambiguitas. Alih-alih mengatakan LGBT adalah penyakit dan berusaha menyembuhkannya. What the hell? Atas dasar apa penulis menyebut LGBT itu penyakit? LGBT itu bukan penyakit, tidak perlu ada wacana-wacana penyembuhan. Lagipula, dia tidak cukup meyakinkan pembaca, termasuk saya, dengan menawarkan sebuah tesis serta penelitian lanjutan. Mengapa LGBT harus disembuhkan? Bagaimana caranya? Konseling? Dia terlalu menggampangkan sesuatu, sehingga dengan mudah mengatakan: semua bisa dilakukan dengan konseling. Terlalu naif!

Selama studi di Taiwan, saya memiliki banyak teman yang bergabung dengan komunitas atau klub LGBT. Tidak heran jika Taiwan adalah surganya LGBT. Teman-teman saya itu banyak yang mengaku gay, lesbian tetapi bukan berarti mereka melakukan perilaku aneh yang membuat saya merasa jijik.

Saya tak berkewajiban pula merekomendasikan mereka melakukan penyembuhan. Saya tidak berhak menyatakan itu. Pelabelan bahwa mereka terserang penyakit, disorientasi seksual, abnormal atau vonis-vonis sejenis, jelas tidak berdasar. Jika mereka mau, mereka bisa saja melakukan semacam terapi atau penyembuhan. Itu hak mereka.

Secara singkat, filsuf Michel Foucault dalam bukunya, The History of Sexuality (1976)—pada salah satu babnya tentang “Pendekatan feminis”— menulis tentang bagaimana negara berusaha memanipulasi, mengatur, dan mengendalikan semua aspek tubuh: dalam kaitannya dengan gender, seksualitas, kegilaan, kriminalitas dan masalah medis, untuk menyebutkan beberapa. Semua ini dimotivasi oleh pencarian penyebab “kelainan” mencari jawaban atas pertanyaan tentang apa yang membuat beberapa tubuh sakit atau tidak taat.

Meski Foucault dan banyak orang mempertanyakan apa itu tubuh normal, membentuk kembali tubuh dalam upaya membentuk kembali diri dan identitas diri sekarang cenderung tidak dipandang sebagai abnormal. Hal ini biasanya terkait dengan munculnya kondisi postmodern, ketika kepercayaan dan kepastian yang dipegang umum kemudian dipertanyakan. Telah terjadi ledakan minat, perubahan bentuk seperti menusuk, memotong dan realokasi fisik tubuh, yang biasa kita sebut “perubahan jenis kelamin.”

Banyak orang merasa bahwa identitas seksual mereka terjebak dalam tubuh anatomis yang salah. Tidak ada yang tetap atau stabil. Ini memiliki implikasi besar bagi sosiologi gender. Sebagaimana penulis mempertanyakan: “Masalahnya, apakah kita tak bisa menyelamatkan mereka dari takdirnya?” Jawabnya: saya kira kita perlu tahu, yang bisa mengubah takdir seseorang ada dirinya sendiri, bukan orang yang mengubah takdir kita atau takdir orang lain.

Sejatinya, LGBT itu sendiri juga hasil karya Tuhan. Benar atau tidaknya tindakan atau perilaku mereka, biarkan saja Tuhan yang menghakimi. Kita tidak perlu melukai atau menciderai sesama manusia.

Jadi, kesetaraan gender akan tercapai bila setiap orang bisa menghormati hak-hak orang lain untuk hidup. Berhak memilih hidupnya seperti apa. Saya menghargai eksistensi mereka sejauh mereka tidak mengganggu ketenteraman publik. Dan, sejauh yang saya teliti dan pelajari, bertemu dengan para pegiat kesetaraan gender, klub LGBT, termasuk berdialog dengan orang-orang yang merupakan bagian dari LGBT, tidak ada masalah sama sekali.

Kolom terkait:

Mengapa LGBT Begitu Dibenci?

Komunitas LGBT: Terdakwa atau Korban?

Ketika LGBT Dibenci Lebih dari Yahudi [Catatan Gender 2016]

Tasrif Award, LGBT, dan Menteri Lukman Saifuddin

Homofobia di Universitas Andalas


Peminat gender studies. Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR