OUR NETWORK

Kloning, Start Up Homo Deus?

Sepertinya manusia sudah berada di ambang pintu menuju ketuhanan manusia (homo deus) dengan berbagai macam platformnya. Jangan-jangan kita adalah generasi terakhir dari homo sapiens saat ini?

Kita sudah pernah mendengar kabar keberhasilan kloning makhluk hidup pertama (rintisan) di dunia. Kita sama-sama tahu pula makhluk itu adalah seekor domba yang diberi nama Dolly. Meminjam istilah milenial sekarang, bisa disebut Dolly adalah early start up cloning.

Selepas kabar keberhasilan kloning fenomenal tersebut, banyak reaksi bermunculan: ada yang berpengharapan, ada pula yang mencibir langkah tersebut. Yang berpengharapan melihat bahwa sudah terbuka jalan merekayasa (baca: menciptakan) makhluk hidup baru yang serupa, terlepas kepentingan apa yang mendasarinya. Yang mencibir khawatir dan resah akan terjadinya penisbian ataupun penihilan Tuhan berikut kekacauan sistem hidup dan kehidupan di muka Bumi.

Tapi, seiring berjalannya waktu, di tengah berbagai pro dan kontra, ambisi manusia untuk menciptakan kehidupan baru dari kehidupan yang telah ada sebelumnya rupanya tak pernah berhenti. Barangkali inilah yang dinamakan kreativitas dan inovasi sepanjang masa. Hanya kematian yang sanggup menghentikan proses berpikir kreatif dan inovatif manusia.

Sependek pemikiran saya, keberhasilan ini adalah gambaran nyata “manusia segambar/serupa dengan Sang Pencipta” sekaligus perwujudan nats alkitabiah “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”. Dua mantra ilahi inilah yang menjadi bahan bakar perkembangan kognisi dan teknologi manusia sampai hari ini. Karena manusia “segambar” dan “takut”, maka mereka selalu berpikir dan berpikir mempertahankan hidup dan kehidupannya.

Bukti nyata pencapaian perkembangan kognisi dan teknologi manusia teranyar ini adalah Zhong Zhong dan Hua Hua. Mereka, dua ekor primata non-manusia (monyet) pertama hasil kloningan, ini adalah bukti nyata pencapaian kemajuan teknologi rekayasa makhluk hidup di dunia. Mereka adalah salah satu spesies terdekat dan paling mirip secara DNA dengan manusia. Mereka, boleh jadi, adalah pintu masuk menuju proses terjadinya kloning pada manusia (detik.com, 25/1/2018)

Tak bisa dipungkiri bahwa konstruksi dan lansekap sosial masyarakat pun pastilah akan berubah mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru di dunia. Dinamisasi dalam hidup dan kehidupan manusia tak bisa dicegah. Ia akan terus bergerak menuju titik kulminasinya hingga akhirnya memunculkan kehidupan baru lagi. Begitulah proses ini akan terus berlanjut.

Evolusi dan Start Up

Sesungguhnya dunia dan segala isinya telah, sedang dan akan terus mengalami evolusi dalam segala matranya. Evolusi atau perubahan ini adalah abadi. Bahkan, Sang Pencipta sekalipun berevolusi sebagaimana dikatakan oleh Karen Amstrong dalam karyanya yang berjudul A History of God (2001: 464). Amstrong menggunakan istilah Tuhan (God) sebagai penggambaran dialektika agama dengan alam dan bangunan sosialnya.

Jelas bahwa pemikirannya terkait dialektika agama, alam, dan bangunan sosialnya saling terkait satu sama lain. Dan juga saling mempengaruhi. Dan jika Tuhan berevolusi, maka manusia pun pastilah berevolusi dalam segala aspek sesuai gambaran-Nya oleh karena pemahaman gambaran itu pun telah berubah dari sebelumnya.

Mari kita lihat contoh di sekitar kita. Perkembangan dan tuntutan zaman, pertambahan kapasitas otak manusia, munculnya kecerdasan buatan, teknologi yang makin canggih, kebutuhan akan rekayasa fisik dan nonfisik sebagai jawaban akan keterbatasan biologis manusia akan memungkinkan munculnya homo deus sebagai jawaban.

Oleh karena itulah, bisa disebut Zhong Zhong dan Hua Hua yang merupakan hasil terbaik pencapaian ilmuwan China dan dunia saat ini, seakan sebagai pintu masuk dari nubuatan yang telah ditulis oleh Yuah Noval Harari (2014) perihal munculnya manusia tuhan (homo deus) dalam buku larisnya yang bertajuk A Brief History of Humankind: Sapiens.

Dan yang lebih menohok lagi dari tulisan profetik Harari tersebut adalah pudarnya teori seleksi alam Charles Darwin yang tersohor itu untuk kemudian berganti dengan desain intelijen. Desain sekelas Sang Pencipta yang dikerjakan oleh manusia itu sendiri karena manusia sudah memiliki kemampuan yang sama dengan Sang Pencipta.

Hal ini memungkinkan terjadi seiring pesatnya perkembangan teknologi yang bisa kita lihat dan rasakan dalam hari-hari belakangan ini. Perkawinan antara teknologi dan imajinasi kognitif manusia tak terhindarkan lagi dalam kehidupan di planet bumi. Bahkan, Ray Kurzweil (1999) dalam bukunya The Age of Spiritual Machine mengatakan bukan tidak mungkin akan ada spiritualisasi mesin sebagai fenomena masa depan.

Kapan momen ini terjadi hanyalah masalah waktu belaka. Namun, jika kita cermati, sepertinya manusia sudah berada di ambang pintu menuju ketuhanan manusia (homo deus) dengan berbagai macam platformnya masing-masing dan barangkali kita adalah generasi terakhir dari homo sapiens saat ini.

Dan jika hari-hari belakangan ini kita kerap mendengar istilah rintisan bisnis atau start up business dalam kehidupan masyarakat milenial saat ini, maka sesungguhnya manusia itu sendiri adalah bisnis dari pebisnis lain. Dan boleh jadi bahwa kloning, tepatnya kloning monyet tersebut, adalah rintisan bisnis (start up) sapiens menuju terwujudnya homo deus yang dinubuatkan itu. Setuju?

Kolom terkait:

Ambil Mesinnya, Singkirkan Manusianya!

Singularitas dan Kecerdasan Spiritual

Kita pun Mulai “Menyembah” Media Sosial

Pegiat literasi di Toba Writers Forum (TWF), dan mahasiswa Pascasarjana Nommensen, Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…